Subculture

Dalam masyarakat ada banyak kelompok-kelompok yang sengaja dibentuk sebagai sebuah penolakan terhadap struktur yang tidak sesuai bagi sebagian orang. Selain itu juga kelompok tersebut dibentuk untuk mengaktualisasikan diri meskipun hal tersebut bertentangan dengan apa yang dimiliki dan dipercaya masyarakat pada umumnya. Bentuk aktualisasi diri bertentangan ini lah yang disebut dengan subkultur. Dimana sesuatu yang dilakukan oleh seseorang atau kelompok tertentu, berbeda dengan kehidupan sosial masyarakat secara umum.

Subkultur pada awalnya merupakan gerakan kelompok-kelompok tertentu yang sengaja dibentuk sebagai wujud kekecewaan terhadap struktur yang ada dalam masyarakat. Seperti masyarakat yang termajinalkan akibat adanya sistem kapitalisme dibidang ekonomi kemudian menciptakan subkultur sebagai sebuah perlawanan terhadap dominasi sistem kapitalis.

SUBKULTUR

Subkultur adalah suatu konsep yang terus bergerak yang bersifat konstitusif bagi objek studinya. Ia adalah suatu terminologi klasifikatoris yang mencoba memetakkan dunia sosial dalam suatu tindak representasi (an act of representation) (Thornton, 1997). Subkultur tidak hadir sebagai suatu objek autentik melainkan dikemukakan oleh para teoritisi subkultur (Redhead, 1990). Bagi cultural studies, kebudayaan dalam subkultur mengacu kepada ‘seluruh cara hidup’ atau ‘peta makna’ yang menjadikan dunia ini dapat dipahami oleh anggotanya. Kata ‘sub’ mengandung konotasi suatu kondisi yang khas dan berbeda dibandingkan dengan masyarakat dominan atau mainstream. Jadi, istilah subkultur autentik tergantung pada lawannya, yaitu istilah budaya dominan atau budaya mainstream yang diproduksi missal dan tidak autentik.

Atribut yang mendefinisikan ‘subkultur’, pada gilirannya, terletak pada bagian akses diletakkan pada perbedaan antara kelompok kultural/sosial tertentu dengan kebudayaan/masyarakat yang lebih luas. Titik berat diletekkan pada variasi dari kolektivitas yang lebih luas yang diposisikan secara sama, namun tidak problematic, sebagai sesuatu yang normal, rata-rata dan dominan. Subkultur dengan kata lain dipandang rendah dan atau menikmati satu kesadaran tentang ‘ke-lain-an’ (othernes) atau perbedaan. (Thornton, 1997: 5)

SUBKULTUR

Menurut Horton, pengertian dari awalan “sub” adalah lapisan bawah atau bawah tanah. Subkultur dipandang sebagai ruang bagi budaya menyimpang untuk mengasosiasikan ulang posisi mereka atau untuk meraih tempat bagi dirinya sendiri. Sehingga subkultur sendiri dapat dilihat sebagai perlawanan terhadap budaya dominan.

Subkultur memunculkan suatu upaya untuk mengatasi  masalah-masalah yang dialami secara kolektif yang muncul dari kontradiksi berbagai struktur sosial. Ia membangun suatu bentuk identitas kolektif dimana identitas individu bisa diperoleh diluar identitas yang melekat pada kelas, pendidikan dan pekerjaan. (Brake, 1985 : ix).

Brake kemudian membicarakan lima fungsi yang dapat dimainkan subkultur bagi para anggotanya, yaitu :

a)      Menyediakan suatu solusi ajaib atas berbagai masalah sosio-ekonomi dan struktural.

b)      Menawarkan suatu bentuk identitas kolektif yang berbeda dari sekolah dan kerja.

c)      Memperoleh suatu ruang bagi pengalaman dan gambaran alternatif realitas sosial.

d)     Menyediakan berbagai aktivitas hiburan bermakna yang bertentangan dengan sekolah dan kerja.

e)      Melengkapi solusi dan dilema identitas eksistensial.

Secara harfiah, subkultur terdiri dari dua kata. Sub yang berarti bagian, sebagian dan kultur kebiasaan dan pembiasaan. Tapi secara konseptual, subkultur adalah sebuah gerakan atau kegiatan atau kelakuan (kolektif) atau bagian dari kultur yang besar. Yang biasanya digunakan sebagai bentuk perlawanan terhadap kultur induknya tersebut. Bisa berupa perlawanan akan apa saja; agama, negara, institusi, musik, gaya hidup dan segala yang dianggap mainstream. Secara kasar itu bisa diartikan juga sebagai ‘budaya yang menyimpang’.

Kemudian secara sosiologis, subkultur merupakan sekelompok orang yang memiliki perilaku dan kepercayaan yang berbeda dengan kebudayaan induk mereka. Subkultur dapat terjadi karena perbedaan usia anggotanya, ras, etnisitas, kelas sosial, gender, estetika, religi, politik, seksual, atau kombinasi dari faktor-faktor tersebut. Anggota dari suatu subkultur biasanya menunjukan keanggotaan mereka dengan gaya hidup atau simbol-simbol tertentu. Sehingga, studi subkultur seringkali memasukan studi tentang simbolisme, seperti pakaian, musik dan perilaku anggota sub kebudayaan.

Dapat dikatakan bahwa pengertian subkultur adalah sebuah gerakan yang dilakukan oleh kaum marjinal terhadap budaya-budaya kaum dominan.

APLIKASI SUBKULTUR DI MASYARAKAT

Telah disebutkan di atas, bahwa subkultur merupakan sebuah gerakan yang dilakukan oleh kaum marjinal terhadap budaya-budaya kaum dominan. Tidak dapat dipungkiri subkultur berada di tengah masyarakat dengan kebudayaan dominannya. Sub kebudayaan ini dapat kita lihat melalui simbol-simbol yang dikenakan oleh kaum marjinal yang dimaksud. Simbol-simbol tersebut terlihat ‘berbeda’ dengan apa yang digunakan masyarakat pada umumnya.

Berikut ini adalah contoh subkultur di masyarakat, antara lain:

1)      Komunitas Punk

Punk merupakan sub-budaya yang lahir di London, Inggris. Pada awalnya, kelompok punk selalu dikacaukan oleh golongan skinhead. Namun, sejak tahun 1980-an, saat punk merajalela di Amerika, golongan punk dan skinhead seolah-olah menyatu, karena mempunyai semangat yang sama. Namun, Punk juga dapat berarti jenis musik atau genre yang lahir di awal tahun 1970-an. Punk juga bisa berarti ideologi hidup yang mencakup aspek sosial dan politik.

Gerakan anak muda yang diawali oleh anak-anak kelas pekerja ini dengan segera merambah Amerika yang mengalami masalah ekonomi dan keuangan yang dipicu oleh kemerosotan moral oleh para tokoh politik yang memicu tingkat pengangguran dan kriminalitas yang tinggi. Punk berusaha menyindir para penguasa dengan caranya sendiri, melalui lagu-lagu dengan musik dan lirik yang sederhana namun kadang-kadang kasar, beat yang cepat dan menghentak.

Punk lebih terkenal dari hal fashion yang dikenakan dan tingkah laku yang mereka perlihatkan, seperti potongan rambut mohawk ala suku indian, atau dipotong ala feathercut dan diwarnai dengan warna-warna yang terang, sepatu boots, rantai dan spike, jaket kulit, celana jeans ketat dan baju yang lusuh, anti kemapanan, anti sosial, kaum perusuh dan kriminal dari kelas rendah, pemabuk berbahaya sehingga banyak yang mengira bahwa orang yang berpenampilan seperti itu sudah layak untuk disebut sebagai punker.

Namun, komunitas punk dewasa ini, terkadang hanya bersifat simbolik. Artinya, mereka hanya mengenakan atribut-atribut sebagai identitas anak punk tanpa tahu nilai atau esensi dari komunitas punk yang sebenarnya merupakan penolakan terhadap budaya mainstreamnya.

2)      Geng Motor

Willis berpendapat bahwa geromolan sepeda motor, kebisingan pengendara yang selalu melaju mengekspresikan kebudayaan nilai dan identitas geng motor. Soliditas, daya tangkap, kekuatan sepeda motor cocok dengan sifat nyata dan penuh percaya diri dari dunia anak-anak muda anggota geng motor. Sepeda motor menegaskan komitmen para anggotanya terhadap hal-hal yang bersifat fisik, ketangguhan dan kekuatan sehingga kejutan dari akselerasi motor agresifitas dari orang-orang yang tak mengenal rasa takut cocok dan menyimbolkan kekuatan maskulin, eratnya persahabatan kekerasan bahasa, dan gaya interaksi sosial mereka.

Menurut Willis subkultur melakukan berbagai kritik penting dan mengemukakan sejumlah pandangan tentang kapitalisme kontemporer dan kebudayaannya. Cara anak-anak pengendara sepeda motor itu dalam menjinakkan brutalnya teknologi demi mencapai tujuan manusia secara simbolis menunjukkan kepada kita teror teknologi raksasa kapitalisme. Mereka mengekspresikan alienasi dan banyaknya kerugian yang diderita pada skala manusia. Karya subkultur yang kreatif, ekspresif, dan simbolis bisa dibaca sebagai bentuk perlawanan. Jadi pada dasarnya adanya geng motor yang merupakan wujud dari pertentangan terhadap mainstream, tidak semata-mata bersifat negatif yaitu tergantung dari visi dan misi masing-masing geng motor yang ada.

Pada kenyataan di lapangan, banyak geng motor yang memiliki visi dan misi negatif, misalnya penganiayaan, pembunuhan, perampokan, atau tindakan kriminal lainnya yang meresahkan masyarakat. Namun, ada juga geng-geng motor yang arif dan bijaksana dalam pelaksanaan komunitasnya. Sehingga, kita sebagai masyarakat jangan serta-merta memandang subkultur seperti geng motor ini dengan respon yang negatif.

3)      Komunitas Homoseks/ Lesbian

Homoseks merupakan salah satu bentuk penyimpangan seksual yang pelakunya adalah pasangan sesama laki-laki. Sedangkan lesbian adalah bentuk penyimpangan seksual yang pelakunya sesama perempuan. Homoseks dan lesbian ini tidak dapat dipungkiri keberadaannya di masyarakat. Para pelakunya dapat dikatakan sebagai kaum marjinal karena perilakunya yang dikategorikan sebagai penyimpangan di masyarakat.

Namun, para pelaku homoseks dan lesbian ini merasa tidak ada yang salah dengan perilakunya karena hal itu merupakan suatu kebutuhan dan dilakukan suka sama suka. Untuk itu, para pelaku homoseks dan lesbian ini membentuk sebuah komunitas yang menjadi salah satu bentuk subkultur di masyarakat. Secara tidak langsung, masyarakat menolak dengan adanya komunitas tersebut. Namun di sisi lain, komunitas seperti ini justru merupakan wadah untuk para pelaku penyimpangan homoseks atau lesbian agar tidak mengganggu masyarakat.

DAMPAK SUBKULTUR TERHADAP MASYARAKAT

Adanya subkultur-subkultur di tengah masyarakat tentu saja menimbulkan beberapa dampak, baik itu positif maupun negatif.

Dampak Negatif

Meresahkan Masyarakat pada Umumnya

Tidak dapat dipungkiri dengan adanya subkultur di tengah masyarakat menimbulkan keresahan tersendiri bagi warga masyarakat, sebab kebanyakan subkultur bersifat negatif dan dikonotasikan sebagai sekelompok orang yang berperilaku menyimpang. Misalnya, geng motor yang seringkali melakukan teror-teror terhadap masyarakat dan berbuat kriminal seperti penganiayaan.

Sebagai Aksi Pembangkangan

Artinya, sebagian masyarakat yang memiliki masalah dalam kehidupannya, baik itu masalah ideologi, suku, ras, agama, dan sebagainya yang kemudian membuatnya ingin masuk pada sebuah subkultur yang sesuai dirinya. Subkultur tersebut dirasa merupakan tempat dimana ia bisa merasakan kebebasan untuk berperilaku sesuai dengan pemikirannya.

Menimbulkan Konflik

Adanya subkultur-subkultur di masyarakat, merupakan celah atau kesempatan timbulnya sebuah konflik di dalam masyarakat. Dimana sebuah masyarakat menginginkan kebudayaan yang menyeluruh di masyarakat, namun terdapat sekelompok orang yang menginginkan dibentuknya subkultur agar dapat memunculkan identitasnya di masyarakat. Hal ini yang seringkali menimbulkan konflik, yang dipicu oleh ulah dari anggota subkultur itu sendiri.

Dampak Positif

Menciptakan Toleransi antara Budaya Dominan dengan Marjinal

Realita adanya subkultur di masyarakat sebenarnya dapat menciptakan rasa toleransi atau saling menghargai antara budaya dominan dengan marjinal. Jika suatu kebudayaan diakui di dalam masyarakatnya, maka sikap saling menghargai ini akan dapat diinterpresikan dalam masyarakat.

Sebagai Konstruksi bagi Pemerintah

Dengan adanya subkultur di tengah masyarakat, maka di balik fenomena ini dapat dijadikan cermin bagi pemerintah dalam menjalankan kekuasaanya, apakah sudah diterima dengan baik oleh masyarakat, atau justru mendapat penolakan oleh masyarakat. Pemerintah harus memerhatikan dengan cermat bagaimana kebudayan-kebudayaan yang berkembang pada masyarakat.

Kesimpulan

Secara sosiologis, subkultur merupakan sekelompok orang yang memiliki perilaku dan kepercayaan yang berbeda dengan kebudayaan induk mereka. Subkultur dapat terjadi karena perbedaan usia anggotanya, ras, etnisitas, kelas sosial, gender, estetika, religi, politik, seksual, atau kombinasi dari faktor-faktor tersebut. Anggota dari suatu subkultur biasanya menunjukan keanggotaan mereka dengan gaya hidup atau simbol-simbol tertentu. Sehingga, studi subkultur seringkali memasukan studi tentang simbolisme, seperti pakaian, musik dan perilaku anggota sub kebudayaan. Dapat dikatakan bahwa pengertian subkultur adalah sebuah gerakan yang dilakukan oleh kaum marjinal terhadap budaya-budaya kaum dominan.

Tidak dapat dipungkiri subkultur berada di tengah masyarakat dengan kebudayaan dominannya. Sub kebudayaan ini dapat kita lihat melalui simbol-simbol yang dikenakan oleh kaum marjinal yang dimaksud. Simbol-simbol tersebut terlihat ‘berbeda’ dengan apa yang digunakan masyarakat pada umumnya. Contoh dari subkultur yang ada di masyarakat adalah komunitas punk, geng motor, komunitas homoseks/ lesbian, dan lain-lain.

Adanya subkultur-subkultur di tengah masyarakat tentu saja menimbulkan beberapa dampak, baik itu positif maupun negatif. Untuk dampak negatif dari adanya subkultur di masyarakat, yaitu meresahkan warga masyarakat dari anggota sbkultur yang bersifat menyimpang, sebagai aksi pembangkangan terhadap masalah yang dialaminya, serta menimbulkan konflik di tengah masyarakat. Sedangkan untuk dampak positifnya, antara lain menciptakan toleransi antara budaya dominan dengan marjinal, serta sebagai konstruksi bagi pemerintah.

Referensi

Barker, Chris. ( 2008 ). Cultural Studies. Yogayakarta : Kreasi Wacana

Barthes, R. 2007. Membedah Mitos-mitos Budaya Massa: Semiotika atau Sosiologi Tanda, Simbol dan Representasi. Bandung: Jalasutra.

https://sosiologibudaya.wordpress.com/2012/05/28/subculture2/ diakses Pada Tanggal 21 Mei 2013 Pukul 10.25

disusun oleh : Nurul, Norma, Monica

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s