Kajian Budaya

Dunia yang luas terdiri dari berbagai negara tentu saja memiliki beraneka ragam corak budaya. Indonesia termasuk di dalamnya yang memberikan corak budya tersendiri. Faktor geografis merupakan salah satu faktor mengapa Indonesia memiliki beranekaragam budaya. Luas Indonesia yang sebagian besar adalah luas lautan menjadikan wilayah Indonesia secara topografi terpisah menjadikan ciri khas atau perbedaan budaya dari masing- masing daerah. Budaya antar wilayah Indonesia berbeda melainkan tetap dalam satuan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Beragam budaya yang dimiliki adalah tantangan tersendiri untuk bangsa Indonesia. Tetap utuh terjaga dan menghargai perbedaan di era globalisasi. Globalisasi membawa dampak tersendiri bagi kebudayaan Indonesia. Kemajuan IPTEK dan transportasi membuat seseorang ingin tahu mengenai kebudayaan di negri sendiri dan negeri seberang. Kita dapat melihat dari arus pariwisata. Turis asing yang begitu antusias mendatangi tempat pariwisata di Indonesia yang di dalamnya terdapat wisata budaya. Kota yang mewakili seperti Bali dan Yogyakarta. Tidak tanggung- tanggung ada yang tinggal dalam beberapa waktu yang lama agar mereka mampu mempelajari kebudayaan wilayah setempat. Hal ini akan menjadi ironis mengingat bangsa Indonesia yang justru enggan mempelajari bahkan mempertahankan kebudayaannya sendiri dan telah terjadi westernisasi. Saat ini yang menjadi pertanyaan mampukah bangsa Indonesia menjaga kekayaan budaya  yang ada?

Pentingnya mempelajari budaya yang ada dalam rangka melestarikan dan memahami kebudayaan Indonesia agar tetap terjaga, dari Sabang sampai Merauke. Sosialisasi tentang budaya sampai tahap internalisasi seharusnya diikuti dengan adanya kajian budaya.

Kajian budaya merupakan suatu konsep budaya yang dapat dipahami seiring dengan perubahan perilaku dan struktur masyarakat. Berbicara tentang cultural studies atau yang kita kenal sebagai studi kajian budaya, di wilayah barat perhatian kita tidak dapat dilepaskan dari dasar suatu pengetahuan yang disesuaikan dengan konteks keadaan dan kondisi etnografi serta kebudayaan mereka dan untuk wilayah timur kajian budaya digunakan untuk untuk meneliti dan menelaah konteks sosial di tempat-tempat yang jarang disentuh para praktisi. Kajian budaya tidak hanya berpusat dalam satu titik saja namun kajian budaya mengkomposisikan berbagai kajian teoritis disiplin ilmu lain yang dikembangkan secara lebih longgar sehingga mencakup potongan-potongan model dari teori yang sudah ada.

Cultural Studies

Terjemahan bebas cultural studies adalah kajian tentang budaya. Tetapi para ilmuwan berbeda pendapat soal definisi “budaya”. Ada yang mengatakan sebagai abstraksi perilaku masyarakat. Definisi budaya tertua dari E.B. Taylor menyatakan bahwa budaya adalah keseluruhan hal yang kompleks, termasuk pengetahuan, kepercayaan, seni, moral, hukum, adat istiadat, serta kebiasaan lain yang dimiliki manusia. Menurut Clifford Geertz, budaya hanyalah serangkaian cerita mengenai diri kita yang kita ceritakan pada diri kita sendiri. Sedangkan Raymond Williams, salah satu peletak dasar cultural studies, mengatakan bahwa budaya meliputi organisasi produksi, struktur keluarga, struktur lembaga yang mengekspresikan hubungan sosial, dan bentuk komunikasi anggota masyarakat. Berdasarkan definisi itu, budaya meliputi hampir segala bidang. Begitu juga cultural studies. Ia tak memiliki objek kajian yang baku. Maka, cultural studies berbeda dengan disiplin keilmuan konvensional, seperti filsafat, sosiologi, antropologi, ekonomi, hukum, fisika, biologi, atau kimia yang punya batasan wilayah subjek yang jelas.

Cultural studies itu sendiri mempunyai beberapa definisi sebagaimana dinyatakan oleh Barker (via Storey, 2003), antara lain yaitu sebagai kajian yang memiliki perhatian pada:

1)      Hubungan atau relasi antara kebudayaan dan kekuasaan;

2)      Seluruh praktik, institusi dan sistem klasifikasi yang tertanam dalam nilai-nilai partikular, kepercayaan, kompetensi, kebiasaan hidup, dan bentuk-bentuk perilaku yang biasa dari sebuah populasi berbagai kaitan antara bentuk-bentuk kekuasaan gender, ras, kelas, kolonialisme dan sebagainya dengan pengembangan cara-cara berpikir tentang kebudayaan dan kekuasaan yang bisa digunakan oleh agen-agen dalam mengejar perubahan berbagai kaitan wacana di luar dunia akademis dengan gerakan-gerakan sosial dan politik, para pekerja di lembagalembaga kebudayaan, dan manajemen kebudayaan.

3)      Cultural studies adalah suatu arena interdisipliner dimana perspektif dari disiplin yang berlainan secara selektif dapat digunakan untuk menguji hubungan kebudayaan dengan kekuasaan.

4)      Cultural studies terkait dengan semua pihak, institusi dan sistem klasifikasi tempat tertanamnya nilai-nilai, kepercayaan-kepercayaan, kompetensi-kompetensi, rutinitas kehidupan dan bentuk-bentuk kebiasaan perilaku masyarakat.

Penjelasan menurut Chris Barker, profesor ilmu komunikasi di University of Wollongong, Australia, cultural studies memiliki sifat antidisiplin sekaligus multidisiplin. Dikatakan antidisiplin karena cara penyelidikannya tak mengikuti aturan standar seperti diterapkan pada disiplin ilmu lain. Disebut multidisiplin karena ia mencakup banyak hal, berisi berbagai perspektif yang bersaing. Dalam wilayah akademis, cultural studies mempelajari kebudayaan sebagai praktek pemaknaan dalam konteks kekuasaan sosial. Dalam operasinya, ia menggunakan beragam teori, termasuk marxisme, strukturalisme, pascastrukturalisme, dan feminisme. Dengan metode yang eklektis, cultural studies menegaskan posisionalitas semua pengetahuan, termasuk dirinya sendiri, yang berputar di sekitar ide-ide kunci seperti budaya, praktek pemaknaan, representasi, wacana, kekuasaan, artikulasi, teks, pembaca, dan konsumsi.

Wajar jika banyak akademisi tak mengakui cultural studies sebagai disiplin ilmu. Ia konvensi bagi usaha intelektual yang menggeluti berbagai persoalan dari banyak posisi teoretis dan politis yang berbeda-beda. Kelebihannya, ia menawarkan fleksibilitas untuk bergerak dari disiplin ke disiplin dan dari satu metodologi ke metodologi lain sesuai minat, kebutuhan, dan motivasi. Walaupun berpredikat sebagai praktek intelektual yang multidisiplin, antidisiplin, dan sulit terdefinisi, Barker mengklaim bahwa kajian ini bukan berarti tak memiliki acuan sedikit pun. Ia memberikan beberapa karakteristik. Pertama, relasi kuasa. Cultural studies bertujuan mengungkapkan bagaimana hubungan kekuasaan memberikan dampak luas dan membentuk praktek kebudayaan.

 

Contoh sederhana bisa dilihat pada relasi antara budaya seni dan kelas. Barker mengikuti Pierre Bourdieu (1984) yang secara saksama menunjukkan hubungan kompleks antara kekuasaan sosial dan penggunaan produk kebudayaan oleh kelompok sosial yang berbeda. Bourdieu memperlihatkan bagaimana pengunjung galeri seni terbagi menurut tingkatan kelas dan pendidikan.

Galeri seni, bagi Bourdieu, diperuntukkan bagi kelas berbudaya dengan hak-hak istimewa. Selanjutnya, perbedaan hak ini dilegitimasi dengan pembedaan cita rasa antara yang baik dan yang buruk, antara yang diperuntukkan bagi kelas pekerja dan kelas konglomerat. Kedua, cultural studies tak independen, terpisah, dan menyendiri dari budaya, melainkan inheren dalam objek kajiannya. Ia bertujuan memahami kompleksitas budaya dan menganalisis konteks sosial dan politik tempat budaya mengejawantahkan diri. Ketiga, cultural studies memiliki fungsi ganda. Selain sebagai objek studi, juga sebagai media tindakan kritisisme politik. Tujuannya menjadi usaha intelektual sekaligus usaha pragmatis. Keempat, cultural studies antispesialisasi. Ketika sifat solidaritas organik masyarakat modern menuntut adanya spesialisasi dan pemilahan ilmu pengetahuan, ia malah melakukan penyatuan dan mengatasi perpecahan itu. Ia ingin membentuk identitas dan kepentingan bersama dalam hubungan antara yang mengamati dan yang diamati, antara yang mengetahui dan yang diketahui.

Karakteristik terakhir, dengan melakukan evaluasi moral atas masyarakat modern, cultural studies bertujuan mengubah struktur dominasi, terutama dalam struktur masyarakat kapitalis industrial. Ia bukanlah tradisi intelektual bebas nilai yang mengabaikan atau mendukung penindasan. Melainkan tradisi yang memiliki komitmen bagi rekonstruksi sosial dengan terjun ke dalam praktek politik.

Sejarah Culture Studies

Kajian budaya sebagai suatu disiplin ilmu (akademik) yang mulai berkembang di wilayah Barat (1960-an), seperti Inggris, Amerika, Eropa (kontinental), dan Australia mendasarkan suatu pengetahuan yang disesuaikan dengan konteks keadaan dan kondisi etnografi serta kebudayaan mereka. Pada tahap kelanjutannya di era awal abad 21 kajian budaya dipakai di wilayah Timur untuk meneliti dan menelaah konteks sosial di tempat-tempat yang jarang disentuh para praktisi kajian budaya Barat, antara lain Afrika, Asia, atau Amerika Latin. Secara institusional, kajian budaya menelurkan berbagai karya berupa buku-buku, jurnal, diktat, matakuliah bahkan jurusan di universitas-universitas. Istilah cultural studies relatif masih baru. Berasal dari Centre for Contemporary Cultural Studies (CCCS) Universitas Birmingham, Inggris, yang berdiri pada 1964. Awal kemunculannya berpijak pada tulisan para penggagasnya: Richard Hoggart, Raymond Williams, E.P. Thomson, dan Stuard Hall. Pada 1972, untuk meletakkan cultural studies dalam wacana intelektual Inggris, CCCS menerbitkan edisi perdana Working Papers in Cultural Studies.

Konsep Culture Studies

1)      Kebudayaan dan praktik signifikasi

Cultural studies tidak akan mampu mempertahankan namanya tanpa fokus pada kebudayaan. Yang dimaksud dengan kebudayaan disini adalah lingkungan actual untuk berbagai praktik, representasi, bahasa dan adat-istiadat masyarakat tertentu. Cultural studies menyatakan bahwa bahasa bukanlah media netral bagi pembentukan makna dan pengetahuan tentang dunia objek independen yang ada diluar bahasa, tapi ia merupakan bagian utama dari makna dan pengetahuan tersebut.

2)      Representasi

Bagian terbesar dari cultural studies terpusat pada pertanyaan tentang representasi, yaitu bagaimana dunia ini dikonstruksi dan dipresentasikan secara sosial kepada dan oleh kita. Bahkan unsur utama cultural studes dapat dipahami sebagai studi atas kebudayaan sebagai praktik signifikasi representasi.

3)      Materialisme dan Nonreduksionisme

Sebagian besar cultural studies  memberi perhatian pada ekonomi modern yang terindustrialisasi dan budaya media yang terletak disepanjang garis sistem kapitalis dimana representasi diproduksi oleh perusahaan yang didorong oleh motif mencari laba. Dalam konteks ini cultural studies telah mengembangkan bentuk materialisme kultural yang berusaha mengeksplorasi bagaimana dan mengapa makna dibentuk dan ditentukan pada momen produksi. Jadi selain terpusat pada praktik-praktik signifikasi, cultural studies juga berusaha menghubungkannya dengan ekonomi politik, suatu disiplin yang menbahas kekuasaan dan distribusi sumber daya ekonomi dan sosial. Di samping itu, salah satu prinsip utama cultural studies adalah karakter non-reduksionisme-nya. Kebudayaan dipandang memiliki makna, aturan dan praktiknya sendiri yang tidak dapat direduksi menjadi, atau hanya dapat dijelaskan di dalam, kategori atau level lain formasi sosial.

4)      Artikulasi

Dalam rangka membuat teori tentang hubungan antar berbagai komponen formasi sosial, cultural studies menggunakan konsep artikulasi. Atikulasi menunjukan pengekspresian atau perepresentasian dan penempatan bersama. Konsep artikulasi juga di gunakan untuk mendiskusikan hubungan kebudayaan dengan ekonomi polotik.

5)      Kekuasaan

Kekuasaan bukan hanya sekedar perekat yang menyatukan kehidupan sosial, atau kekuatan koersif yang menempatkan sekelompok orang dibawah orang lain. Kekuasaan merupakan proses yang membangun dan membuka jalan bagi adanya segala bentuk tindakan, hubungan atau tatanan sosial.

6)      Budaya pop

Budaya pop banyak menyita perhatian cultural studies, budaya pop dikatakan sebagai landasan tempat dimana persetujuan dapat dimenangkan atau tidak.

7)      Teks dan Pembacanya

Konsep teks bukan hanya mengacu pada kata-kata tertulis, melainkan semua praktik yang mengacu pada makna (to sifnify). Ini termasuk pembentukan makna melalui berbagai citra, bunyi,  objek (seperti pakaian) dan aktivitas  (seperti tari dan olah raga). Karena citra, bunyi, objek dan praktik merupakan sistem tanda, yang mengacu suatu makna dengan mekanisme yang sama dengan bahasa, maka kita dapat menyebut semua itu dengan teks kultural. Makna diproduksi dalam interaksi antara teks dan pembacanya sehingga momen konsumsi juga merupakan momen produksi yang penuh makna.

8)      Subjektivitas dan Identitas

Cultural studies mengeksplorasi bagaimana kita menjadi sosok sebagaimana adanya kita sekarang, bagaimana kita diproduksi sebagai subjek, dan bagaimana kita mengidentifikasi diri kita dengan deskripsi-deskripsi sebagai laki-laki atau sebagai perempuan, tua atau muda.

Arus Intelektual Cultural Studies

1)      Marxisme dan Sentralitas Kelas

Marxisme adalah salah satu bentuk materialisme historis. Dia menekannkan spesifisitas historis kehidupan manusia dan karakter formasi sosial yang dapat berubah yang ciri utamanya terletak dalam kondisi material eksistensi. Marx (1961) menyatakan bahwa prioritas utama manusia adalah produksi sarana subsistensi melalui kerja. Ketika manusia menghasilkan makana, pakaian dan semua alat yang bertujuan untuk mengubah lingkungannya, mereka juga menciptakan dirinya. Kerja, dan bentuk-bentuk organisasi sosial yang dibentuk oleh produksi material, yaitu cara produksi, adalah kategori-kategori utama dalam Marxisme.

2)      Kapitalisme

Kapitalisme merupakan cara produksi yang didasarkan pada kepemilikan pribadi atas sarana produksi (pada zaman Marx sarana itu berupa pabrik, penggilingan, gudang, dan pada zaman ini berupa perusahaan multinasional). Pembagian kelas yang mendasar dalam kapitalisme adalah kelas borjuis yang menguasai sarana produksi dan kelas proletar, yang tidak punya hak milik dan menjual tenaga untuk bertahan hidup.

3)      Marxisme dan Cultural studies

Dalam hubungannya dengan Marxisme, cultural studies secara khusus menfokuskan perhatian pada isu-isu tentang struktur, praksis, determinisme ekonomi dan ideologi. Cultural studies bukanlah ranah marxis, namun banyak meminta bantuan dari Marxisme.

Konsep Budaya dalam Kajian Budaya(Cultural Studies)

Kajian disiplin ilmu lain telah terlebih dahulu mendefinisikan istilah budaya (culture) yang dimasukkan ke dalam konsep masing-masing disiplin humaniora dan sosial, seperti antropologi, sosiologi, politik, ekonomi dan seterusnya. Koentjaraningrat memberikan definisi budaya sebagai sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar (Koentjaraningrat, 1990: 180). Dan, James Spradley nampaknya hampir sependapat dengan Koentjaraningrat. Ia mengatakan budaya merupakan sistem pengetahuan yang diperoleh manusia melalui proses belajar, yang kemudian mereka gunakan untuk menginterpretasikan dunia sekelilingnya, sekaligus untuk menyusun strategi perilaku dalam menghadapi dunia sekitar.

Lebih khusus, dalam terminologi disiplin Kajian Budaya (Cultural Studies) menyajikan bentuk kritis atas definisi budaya yang mengarah pada “the complex everyday world we all encounter and through which all move” (Edgar, 1999: 102). Budaya secara luas adalah proses kehidupan sehari-hari manusia dalam skala umum, mulai dari tindakan hingga cara berpikir, sebagaimana konsep budaya yang dijabarkan oleh Kluckhohn. Pengertian ini didukung juga oleh Clifford Geertz, kebudayaan didefinisikan serangkaian aturan-aturan, resep-resep, rencana-rencana dan petunjuk-petunjuk yang digunakan manusia untuk mengatur tingkah lakunya. Dalam kajian budaya atau Cultural Studies (CS), konsep budaya dapat dipahami seiring dengan perubahan perilaku dan struktur masyarakat di Eropa pada abad ke-19. Perubahan ini atas dampak dari pengaruh teknologi yang berkembang pesat. Istilah budaya sendiri merupakan kajian komprehensif dalam pengertiannya menganalisa suatu obyek kajian. Contohnya, selain ada antropologi budaya juga dikaji dalam studi Sosiologi, Sejarah, Etnografi, Kritik Sastra bahkan juga Sosiobiologi. Fokus studi kajian budaya (CS) ini adalah pada aspek relasi budaya dan kekuasaan yang dapat dilihat dalam budaya pop. Di dalam tradisi Kajian Budaya di Inggris yang diwarisi oleh Raymonds Williams, Hoggarts, dan Stuart Hall, menilai konsep budaya atau “culture” (dalam bahasa Inggris) merpakan hal yang paling rumit diartikan sehingga bagi mereka konsep tersebut disebut sebuah alat bantu yang kurang lebih memiliki nilai guna.

Williams mendefinisikan konsep budaya menggunakan pendekatan universal, yaitu konsep budaya mengacu pada makna-makna bersama. Makna ini terpusat pada makna sehari-hari: nilai, benda-benda material/simbolis, norma. Kebudayaan adalah pengalaman dalam hidup sehari-hari: berbagai teks, praktik, dan makna semua orang dalam menjalani hidup mereka (Barker, 2005: 50-55). Kebudayaan yang didefinisikan oleh Williams lebih dekat ‘budaya’ sebagai keseluruhan cara hidup. Dia menganjurkan agar kebudayaan diselidiki dalam beberapa term. Pertama, institusi-institusi yang memproduksi kesenian dan kebudayaan. Kedua, formasi-formasi pendidikan, gerakan, dan faksi-faksi dalam produksi kebudayaan. Ketiga, bentuk-bentuk produksi, termasuk segala manifestasinya. Keempat, identifikasi dan bentuk-bentuk kebudayaan, termasuk kekhususan produk-produk kebudayaan, tujuan-tujuan estetisnya. Kelima, reproduksinya dalam perjalanan ruang dan waktu. Dan keenam, cara pengorganisasiannya. Dibandingkan dengan pendapat John Storey, konsep budaya lebih diartikan sebagai secara politis ketimbang estetis. Dan Storey beranggapan ‘budaya’ yang dipakai dalam CS ini bukanlah konsep budaya seperti yang didefinisikan dalam kajian lain sebagai objek keadiluhungan estetis (‘seni tinggi’) atau sebuah proses perkembangan estetik, intelektual, dan spritual, melainkan budaya sebagai teks dan praktik hidup sehari-hari (Storey, ­­2007: 2). Dalam hal ini nampaknya Storey setuju dengan definisi ‘budaya’ menurut Raymonds Williams, lain halnya dengan Stuart Hall yang lebih menekankan ‘budaya’ pada ranah politik.

To say that two people belong to the same culture is to say that they interpret the world in roughly the same ways and can express themselves, their thoughts and feelings about the world, in ways which will be understood by each other. Thus culture depends on its participants interpreting meaningfully what is happening around them, and `making sense’ of the world, in broadly similar ways.

(Hall, 1997: 2)

Menurut Bennet istilah culture digunakan sebagai payung istilah (umbrella term) yang merujuk pada semua aktivitas dan praktek-praktek yang menghasilkan pemahaman (sense) atau makna (meaning). Baginya budaya berarti :

“Kebiasaan dan ritual yang mengatur dan menetukan hubungan sosial kita berdasarkan kehidupan sehari-hari sebagaimana halnya dengan teks-teks tersebut-sastra, musik, televisi, dan film-dan melalui kebiasaan serta ritual tersebut dunia sosial dan natural ditampilkan kembali atau ditandai-dimaknai-dengan cara tertentu yang sesuai dengan konvensi tertentu.”

(Bennet 1980: 82-30)

Karakter Akademik Kajian Budaya

Kajian budaya sebagai suatu disiplin ilmu (akademik) yang mulai berkembang di wilayah Barat (1960-an), seperti Inggris, Amerika, Eropa (kontinental), dan Australia mendasarkan suatu pengetahuan yang disesuaikan dengan konteks keadaan dan kondisi etnografi serta kebudayaan mereka. Pada tahap kelanjutannya di era awal abad 21 kajian budaya dipakai di wilayah Timur untuk meneliti dan menelaah konteks sosial di tempat-tempat yang jarang disentuh para praktisi kajian budaya Barat, antara lain Afrika, Asia, atau Amerika Latin. Secara institusional, kajian budaya menelurkan berbagai karya berupa buku-buku, jurnal, diktat, matakuliah bahkan jurusan di universitas-universitas. Menurut Barker, inti kajian budaya bisa dipahami sebagai kajian tentang budaya sebagai praktik-praktik pemaknaan dari representasi (Barker, 2000: 10). Teori budaya marxis yang menggali kebudayaan sebagai wilayah ideologi yang lebih banyak dijelaskan pada aliran wacana (discourse) dan praktik budaya seperti layaknya media berupa teks-teks (sosial, ekonomi, politik).

Chris Barker (2000) mengakui bahwa kajian budaya tidak memiliki titik acuan yang tunggal. Selain itu, kajian budaya memang terlahir dari indung alam pemikiran strukturalis/pascastrukturalis yang multidisipliner dan teori kritis multidisipliner, terutama di Inggris dan Eropa kontinental. Kajian budaya mengkomposisikan berbagai kajian teoritis disiplin ilmu lain yang dikembangkan secara lebih longgar sehingga mencakup potongan-potongan model dari teori yang sudah ada dari para pemikir strukturalis/pascastrukturalis. Sedangkan teori sosial kritis sebenarnya sudah mendahului tradisi disiplin “kajian budaya” melalui kritik ideologinya yang dikembangkan Madzhab Frankfurt. Sebuah kritik yang dimaknai dari pandangan Kantian, Hegelian, Marxian, dan Freudian. Sehubungan dengan karakter akademis, pandangan lain dari Ben Agger (2003) membedakan kajian budaya sebagai gerakan teoritis, dan kajian budaya sebagai mode analisis dan kritik budaya ateoritis yang tidak berasal dari poyek teori sosial kritis, yaitu kritik ideologi (Agger, 2003). Komposisi teoritis yang diajukan sebagai karakter akademis dalam kajian budaya mengekspresikan temuan-temuan baru dalam hal metodologi terhadap cara pemaknaan sebuah praktik-praktik kebudayaan yang lebih koheren, komprehensif, polivocality (banyak suara) dan menegasikan keobjektifan suatu klaim pengetahuan maupun bahasa.

Karakter akademis kajian budaya memang sangat terkait dengan persoalan metodologi. Penteorisasian tidak hanya merujuk pada satu wacana disiplin tunggal namun banyak disiplin, maka ini pun yang disebut sebagai ciri khas kajian budaya dengan istilah polivocality. Senada dengan yang disampaikan oleh Paula Sakko (2003), kajian budaya mengambil bentuk kajian yang dicirikan dengan topik lived experience (pengalaman yang hidup), discourse (wacana), text (teks) dan social context (konteks sosial). Jadi, metodologi dalam kajian budaya ini tersusun atas wacana, pengalaman hidup, teks, dan konteks sosial dengan menggunakan analisis yang luas mengenai interaksi antara ‘yang hidup’, yang dimediasi, keberyakinan (agama), etnik, tergenderkan, serta adanya dimensi ekonomi dan politik dalam dunia jaman sekarang (modern/kapitalis).

Bagi Saukko, hal yang paling fundamental dalam “kajian budaya”, pertama, ketertarikan dalam budaya yang secara radikal berbeda dari budaya yang ada (high culture to low culture/popular), kedua, analisis dengan kritis budaya yang menjadi bagian integral dari pertarungan dan budaya (teks dan konteks sosial). Hal yang harus dipenuhi dalam memandang konteks sosial adalah sensitifitas pada konteks sosial dan kepedulian pada kesejarahan. Sedangkan yang menjadi bagian terpenting dari metodologi kajian budaya dan dianggap good/valid research adalah truthfulness, self-reflexivity, polivocality. Menerapkan sebuah validitas dekonstruktif yang biasa digunakan oleh peneliti pascastrukturalis, yaitu postmodern excess (Baudrillard), genealogical historicity (Foucalt), dan deconstructive critique (Derrida). Pada kerangka bagan yang dibuat Saukko dalam bukunya itu, Truthfullness digambarkan dengan paradigma; ontologi, epistemologi, metapora, tujuan penelitian dan politik yang disandingkan dengan model triangulasi, prism, material semiotic dan dialogue.

Self-reflexivity ditempatkan pada jalur seperti yang digunakan teori sosial kritis yang dilandaskan pada kritik ideologi dan peran atas basis kesadaran yang merepresentasikan ruang dialog dan wacana saling bertemu, mempengaruhi, mengaitkan berbagai kepentingan, pola kekuasaan serta konteks sosial dan sejarahnya.

Polivocality menyematkan berbagai pandangan yang berbeda (atau suara) dengan cakupan teori-teori yang saling mengisi dan dengan mudah dapat didukung satu sama lain, meski ini membutuhkan ketelitian dalam mengkombinasikan pandangan-pandangan lain agar memberikan kesesuaian bagi karekater akademis Kajian budaya.

Paradigma yang digunakan mengambil model triangulasi yang berupaya mengkombinasikan berbagai macam bahan atau metode-metode untuk melihat apakah saling menguatkan satu sama lain. Maka, kajian budaya sangat berpotensi memberikan peluang bagi suatu kajian yang baru dan menarik minat mahasiswa. Validitas (keabsahan) penelitian dalam Cultural Studies yang menuju ‘kebenaran’ (truth) maka yang dipakai adalah triangulation.

Paradigms Ontology Epistemology Metaphor Goal of Research Politics
Triangulation Fixed reality Reflect reality Magnifying glass Truth Bias
Prisms Fluid reality Social construction of reality Prism refracting vision Conveying multiple realities Pluralist science and society
Material semiotic Interactive reality Material/semiotic construction of reality Prism diffracting light Creating egalitarian realities Egalitarian and science society
Dialogue Interactive reality Material/semiotic construction of reality Dialogue Dialoges between multirealities Egalitarian and pluralist science and society

Sumber : Paula Saukko, Doing Research in Cultural Studies, 2003[1]

Selain itu, dalam makalah Melani Budianta, metode kajian budaya seringkali disebut metode multidisipliner, lintas-, trans-, atau anti-disiplin (Grossberg:2). Jannet Wolff mengemukakan sejumlah masalah metode interdisipliner kajian budaya yang mengkritik kebiasaan memakai karya seni dalam studi-studi non-seni (sosiologi, sejarah, politik dasn seterusnya) yang memperlakukan karya tersebut sebagai fakta (mengutip bagian-bagian dari isi) tanpa “menghargai” fungsi karya seni tersebut sebagai karya seni. Karena pemakaian teori yang eklektik dan pendekatan yang berbeda-beda setiap kajian budaya membuat model dan perangkat analisisnya masing-masing tergantung topik permasalahan yang digarapnya (Wolff, 1992; 706-717).

Kesimpulan

Cultural studies adalah arena plural dari berbagai perspektif yang bersaing, lewat produksi teori ia berusaha mengintervensi politik budaya. Cultural studies mengeksplorasi kebudayaan sebagai praktik pemaknaan dalam konteks kekuatan sosial. Dalam usaha ini, cultural studies tidak hanya berpusat dalam satu titik saja namun kajian budaya mengkomposisikan berbagai kajian teoritis disiplin ilmu lain yang dikembangkan secara lebih longgar sehingga mencakup potongan-potongan model dari teori yang sudah ada.  berbagai teori, termasuk Marxisme, strukturalisme, pascastrukturalisme, dan feminisme. Cultur studies adalah suatu arena interdisiplener dimana perspektif dari disiplin yang berlainan secara selektif dapat digunakan untuk mengkaji hubungan kebudayaan dengan kekuasaan. Cultural studies terkait dengan semua praktik, institusi dan sistem klasifikasi tempat tertanamnya nilai-nilai, kepercayaan-kepercayaan, kompetensi-kompetensi, rutinitas kehidupan dan bentuk-bentuk kebiasaan perilaku suatu masyarakat. bentuk-bentuk kekuasaan yang dieksplorasi oleh kultural studies beragam, termasuk gender, ras, kelas, kolonialisme, dan lain sebagainya. Cultural studies berusaha mngekplorasi hubungan antara bentuk-bentuk kekuasaan ini dan berusaha mengembangkan cara berpikir tentang kebudayaan dan kekuasaan yang dapat dimanfaatkan oleh sejumlah agen dalam upaya melakukan perubahan. Arena institusional utama cultural studies adalah perguruan tinggi, dan dengan demikian cultural studies menjadi mirip dengan disiplin-disiplin akademis lain. Namun, ia mencoba membangun hubungan diluar akademi dengan gerakan sosial dan gerakan politik, para pekerja dalam institusi-institusi kultural dan manajemen kultural.

Referensi

Barker, Chris. 2011. Cultural studies. Teori dan praktik. Yogyakarta : Kreasi wacana.
Storey, John,. 2007. Cultural Studies dan Kajian Budaya Pop, terj. Laily Rahmawati, Jalasutra
Koentjaraningrat. 1990. Pengantar Ilmu Antropologi, Rineka Cipta.
Agger, Ben. 2003. Teori Sosial Kritis, Kreasi Wacana, Jogjakarta.
 
disusun oleh: Puji, Afri, Melvi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s