Hegemoni #2

Secara perlahan namun pasti, umat manusia menjalin hubungan mesra satu sama lain melalui perantaraan kecanggihan teknologi komunikasi. Sementara politik dan ekonomi secara kasat mata biasanya senantiasa mempertahankan berbagai ’jurang pertentangan’ di antara manusia. Inilah salah satu bentuk dari keajaiban peradaban kontemporer, dimana manusia dapat saling berbagi cerita dari ujung bumi yang satu ke ujung bumi lainnya dalam suatu hitungan sepersekian detik.

Globalisasi menuntut pengintegrasian seluruh aspek kehidupan manusia di dunia, baik di bidang ekonomi, politik, social dan budaya. Globalisasi sejatinya adalah anak kandung dari kapitalisme. Kapitalisme yang awalnya hanya dilakukan dalam suatu negara kemudian merambah ke dunia lain dan demi memasarkan produk-produk mereka dan mencari keuntungan demi mengakumulasikan modal. Bila pada masa kolonialisme, kapitalisme melakukan koloni untuk mencari bahan mentah dan perluasan pasar namun masa pascakolonial kapitalisme “membonceng” kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan.

Era globalisasi mendorong adanya pasar bebas yang membuat modal begitu mudah keluar atau masuk dalam suatu negara. Menghindari pasar bebas akan membuat suatu negara terisolasi dari pergaulan internasional. Selain itu, kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan telah menjadikan batas-batas negara menjadi samar. Dan pada akhirnya menjadi alasan kuat untuk memberikan perhatian pada masalah identitas budaya nasional. Karena dengan adanya adopsi proses suatu bentuk teknologi komunikasi dan informasi tersebut, memberikan berbagai bentuk implikasi tertentu dalam pola hubungan ekonomi, politik, sosial, dan budaya, baik di dalam masyarakat itu sendiri sebagai akibat masuknya rasionalitas teknologis modern ke dalam  sistem berpikir masyarakat yang tradisional, maupun pada saat berinteraksi antarnegara (akibat masuknya negara ke dalam perangkap ketergantungan terhadap negara lain; khususnya ketergantungan teknologis).

Hegemoni

Istilah hegemoni berasal dari istilah yunani, hegeisthai (“to lead”) yaitu bermaksud untuk menguasai. Konsep hegemoni banyak digunakan oleh ahli sosiologi untuk menjelaskan fenomena terjadinya usaha untuk mempertahankan kekuasaan oleh pihak penguasa. Penguasa disini memiliki arti yang luas, tidak hanya terbatas pada penguasa negara (pemerintah).

Hegemoni dapat didefinisikan sebagai dominasi oleh satu kelompok terhadap kelompok lainnya, dengan atau tanpa ancaman kekerasan, sehingga idea-idea yang ditekankan oleh kelompok dominan terhadap kelompok yang didominasi diterima sebagai sesuatu yang wajar (common sense).

Hegemoni diterima sebagai sesuatu yang wajar, sehingga ideologi kelompok dominan dapat menyebar dan dipraktikkan .Nilai-nilai dan ideologi hegemoni ini diperjuangkan dan dipertahankan oleh pihak dominan sedemikian sehingga pihak yang didominasi tetap diam dan taat terhadap kepemimpinan kelompok penguasa.Dalam hegemoni, kelompok yang mendominasi berhasil mempengaruhi kelompok yang didominasi untuk menerima nilai-nilai moral, politik, dan budaya dari kelompok dominan (the ruling party, kelompok yang berkuasa).

Hegemoni dapat dilihat sebagai strategi untuk mempertahankan kekuasaan :“…the practices of a capitalist class or its representatives to gain state power and maintain it later.” (Simon, 1982: 23).

Kesimpulannya, jika dilihat sebagai strategi, maka konsep hegemoni bukanlah strategi eksklusif milik penguasa.Maksudnya, kelompok manapun boleh menerapkan konsep hegemoni dan menjadi penguasa.Sebagai contoh hegemoni, adalah kekuasaan dolar amerika terhadap ekonomi global kerana kebanyakan pemindahan antara bangsa dilakukan menggunakan nilai dolar Amerika.

Teori Hegemoni  Menurut Gramscy

Jika dikaitkan pada masa kini, pengertian hegemoni menunjukkan sebuah kepemimpinan dari suatu negara tertentu yang bukan hanya sebuah negara kota terhadap negara-negara lain yang berhubungan secara longgar maupun secara ketat terintegrasi dalam negara “pemimpin”. Dalam politik internasional dapat dilihat ketika adanya perang pengaruh pada perang dingin antara Amerika Serikat dengan Uni Sovyet yang biasanya disebut sebagai perang untuk menjadi kekuatan hegemonik dunia.

Adapun teori hegemoni yang dicetuskan Gramsci adalah:Sebuah pandangan hidup dan cara berpikir yang dominan, yang di dalamnya sebuah konsep tentang kenyataan disebarluaskan dalam masyarakat baik secara institusional maupun perorangan; (ideologi) mendiktekan seluruh cita rasa, kebiasaan moral, prinsip-prinsip religius dan politik, serta seluruh hubungan-hubungan sosial, khususnya dalam makna intelektual dan moral.”

Berdasarkan pemikiran Gramsci tersebut dapat dijelaskan bahwa hegemoni merupakan suatu kekuasaan atau dominasi atas nilai-nilai kehidupan, norma, maupun kebudayaan sekelompok masyarakat yang akhirnya berubah menjadi doktrin terhadap kelompok masyarakat lainnya dimana kelompok yang didominasi tersebut secara sadar mengikutinya. Kelompok yang didominasi oleh kelompok lain (penguasa) tidak merasa ditindas dan merasa itu sebagai hal yang seharusnya terjadi.

Dengan demikian mekanisme penguasaan masyarakat dominan dapat dijelaskan sebagai berikut:Kelas dominan melakukan penguasaan kepada kelas bawah menggunakan ideologi. Masyarakat kelas dominan merekayasa kesadaran masyarakat kelas bawah sehingga tanpa disadari, mereka rela dan mendukung kekuasaan kelas dominan.

Hegemoni Budaya Yang Terjadi di Indonesia

Berdasarkan pemikiran Gramsci tersebut dapat dijelaskan bahwa hegemoni merupakan suatu kekuasaan atau dominasi atas nilai-nilai kehidupan, norma, maupun kebudayaan sekelompok masyarakat yang akhirnya berubah menjadi doktrin terhadap kelompok masyarakat lainnya dimana kelompok yang didominasi tersebut secara sadar mengikutinya. Kelompok yang didominasi oleh kelompok lain (penguasa) tidak merasa ditindas dan merasa itu sebagai hal yang seharusnya terjadi.

Jika direfleksikan ke dalam kehidupan sosial-politik di Indonesia saat ini, maka dapatdicontohkan adanya ‘pasar modern ‘ yang marak saat ini dan menyebar hampir keseluruh wilayah di Indonesia. Pasar modern ini contohnya ada berbagai macam, diantaranya yang saya tahu adalah mini market (Alfamart,Indomaret, dsb) lalu adanya Mall yaitu Metropolitan Mall, Giant, Bekasi Cyber Park, Bekasi Square, dsb. Serta makin maraknya bisnis waralaba yang ada dan datang dari Barat seperti KFC, McDonald, CFC, A&W, dsb.

Dari ketiga contoh tersebut dapat dikategorikan ke dalam bentuk hegemoni yang dilakukan oleh klas-klas borjuis menurut Gramsci dan penikmatnya termasuk klas proletarian. Dalam tulisan ini akan lebih memfokuskan pada refleksi tentang hegemoni dalam bentuk mall. Karena menurut mall adalah salah satu bentuk hegemoni berlapiskan budaya. Jika kita perhatikan, kini semakin maraknya pembangunan mall-mall di tanah air baik di ibu kota maupun di daerah. Dengan hadirnya mall di hampir setiap daerah, ternyata menimbulkan dampak yang cukup berarti.Melalui mall banyak hal yang dapat terjadi, lifestyle kita dipengaruhi.Mulai dari fashion, makanan, dsb.seolah-olah mall adalah sesuatu yang mempunyai legitimasi untuk membuat parameter seperti apakah seharusnya lifestyle  masyarakat saat ini. Mall lah yang dapat menjustifikasi mana yang modern dan mana yang norak.Disitulah, terjadi hegemoni budaya yang dikemas dalam pola lifestyle yang berpola pada kebudayaan tertentu.

Dan disini negara pun ikut menjadi pelaku dari tindakan ‘hegemoni’.Peran negara sebagai pemegang kekuasaan tertinggi maka negara punya andil besar telah memberikan ijin bagi para pengusaha mall untuk mendirikan usahanya dan mengalahkan pasar tradisional.Maka dapat disimpulkan bahwa hegemoni yang dilakukan oleh mall mempunyai dampak yang signifikan dalam masyarakat Indonesia masa kini.

Budaya Tanding Terhadap Hegemoni Budaya

Dominasi budaya yang dilakukan melalui media massa oleh masyarakat barat pada akhirnya mulai disadari sebagai bentuk imperialisme budaya baru. Bentuk imperialisme modern ini tidak lagi dilakukan dengan pesawat terbang, meriam, peluru dan pasukan, tetapi dilakukan oleh media massa.

Ideologi yang disebarluaskan, tidak dipaksakan oleh penguasa, tetapi merupakan pengaruh budaya yang disebarkan secara sadar dan dapat meresap, serta berperan dalam mengintepretasikan pengalaman. Proses ini berlangsung secara tersembunyi, tetapi berlangsung terus menerus.

Kekuatan-kekuatan dominan yang dimiliki negara-negara maju (pusat) tersebut sebagai pihak penguasa teknologi, juga digunakan untuk mendominasi kaidah-kaidah moral dan intelektual yang berlaku di masyarakat negara-negara berkembang (pinggiran) sebagai pihak pengadopsi teknolgi.Akibatnya dalam tingkat tertentu semua ruang publik dan semua aspek kehidupan politik, sosial dan budaya yang dimiliki masyarakat tersebut menjadi masuk ke dalam perangkap ‘hegemoni’.

Melihat kecenderungan demikian, maka hendaknya, dapat dilakukan diantaranya dengan reformasi di bidang media massa seperti melakukan deregulasi terhadap undang-undang pers, sesuai dengan kenyataan social budaya Indonesia, terutama dalam memperkokoh semangat kebangsaan. Selain itu, kebijakan negara terhadap media massa bukan untuk mengendalikan arus informasi dari rakyat untuk rakyat tetapi bagaimana memberikan porsi yang cukup terhadap produk mental local.

Saat ini, masyarakat Indonesia, pemerintah, seniman, mulai merekonstruksi atas “KeIndonesiaan” melalui kebudayaan nasional, kesenian daerah, promosi budaya sebagai wahana budaya tanding terhadap hegemoni budaya tersebut. Sebenarnya, langkah tersebut telah dimulai pada masa orde baru yang secara resmi mengupayakan aspek visual dan dekoratif kebudayaan asli Indonesia, mulai dari restorasi monument-monumen purbakala, reproduksi gaya arsitektur tradisional hingga mengajarkan konteks “keindonesiaan” kesenian-kesenian daerah seperti seni tari serta penyebarluasan kerajinan tangan dan motif-motif tradisional seperti kain batik, songket dan lain-lain dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu diterapkan nilai-nilai dan sikap yang digunakan sebagai karakteristik figure kelompok suku bangsa sebagai indikasi kepribadian Indonesia.

Erosi budaya local yang terus menerus mengikis budaya local, kian dipercaya akan mampu menghancurkan local genie secara perlahan-lahan dan menggantikan dengan kebudayaan baru yang tercerabut dari akar budaya genius lokalnya. Dominasi budaya dan hegemoni budaya dapat dikurangi setidaknya dapat diletakkan pada porsinya yang selaras dengan budaya setempat, ketika ada kesadaran dan upaya untuk mengatasi keterasingan masyarakat dan keterasingan cultural dengan cara yang kritis.

Dalam kondisi seperti ini pula, kajian komunikasi antarbudaya menawarkan kesadaran pentingnya keterbukaan setiap bangsa untuk mengerti, memahami dan bersikap kritis guna mengantisipasi efek budaya mainstream terhadap budaya sendiri. Sikap arif dan bijaksana, yakni perlunya mengakrabi secara kritis akibat dampak yang ditimbulkannya dan bukan untuk menghindari secara membabi buta karena budaya asing.

Globalisasi yang timpang tersebut memang tidak berarti dunia runtuh, dan tidak pula semua orang menjadi pesimis.Sebagaimana dikemukakan oleh Richard Dawkins yang menunjukkan konsep ketahanan sosial masyarakat dari perubahan.Dawkins mengungkapkan konsepsi meme dalam kehidupan sosial. Setiap kelompok memiliki meme, sebagaimana individu memiliki gen yang akan senantiasa diturunkan kepada anaknya. Melalui meme, kelompok sosial akan memertahankan karakteristik nilai-nilai sosial budayanya kendati kelompok itu diterpa serbuan guncangan budaya lain. Meme menyebar melalui komunikasi dan sosialisasi.Ia merupakan suatu unit informasi yang tersimpan di benak seseorang, yang memengaruhi kejadian di lingkungannya sedemikian rupa sehingga makin tertular luas ke benak orang lain (Lull, 1998), contohnya budaya Jepang.

Aksi postmodernisme juga memberikan angin segar bagi budaya lokal dan seni tradisional. Ketika masyarakat sudah mengalami kejenuhan dengan berbagai hal yang bersifat modern dan global, maka justru mereka kembali kepada hal-hal bersifat etnik, tradisional, dikenal dengan retradisionalisasi.

KESIMPULAN

Hegemoni dapat didefinisikan sebagai dominasi oleh satu kelompok terhadap kelompok lainnya, dengan atau tanpa ancaman kekerasan, sehingga idea-idea yang ditekankan oleh kelompok dominan terhadap kelompok yang didominasi diterima sebagai sesuatu yang wajar (common sense).

Kelas dominan melakukan penguasaan kepada kelas bawah menggunakan ideologi. Masyarakat kelas dominan merekayasa kesadaran masyarakat kelas bawah sehingga tanpa disadari, mereka rela dan mendukung kekuasaan kelas dominan.

Dominasi budaya yang dilakukan melalui media massa oleh masyarakat barat pada akhirnya mulai disadari sebagai bentuk imperialisme budaya baru. Kekuatan-kekuatan dominan yang dimiliki negara-negara maju (pusat) tersebut sebagai pihak penguasa teknologi, juga digunakan untuk mendominasi kaidah-kaidah moral dan intelektual yang berlaku di masyarakat negara-negara berkembang (pinggiran) sebagai pihak pengadopsi teknologi.

Untuk mengatasi hal tersebut, aksi postmodernisme juga memberikan angin segar bagi budaya lokal dan seni tradisional. Ketika masyarakat sudah mengalami kejenuhan dengan berbagai hal yang bersifat modern dan global, maka justru mereka kembali kepada hal-hal bersifat etnik, tradisional, dikenal dengan retradisionalisasi.

Referensi

Nezar Patria, Antonio Gramsci Negara & Hegemoni, (Yogyakarta : Pustaka Pelajar. 1999).
Muhadi Sugiono.1999. Kritik Antonio Gramsci Terhadap Pembangunan Dunia Ketiga. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Chrish, Barker. 2004. Cultural Studies: Teori dan Praktik. Yogyakarta: Kreasi Wacana
Hartley, John. 2010. Communication, Cultural, dan Media Studies: Konsep Kunci. Yogyakarta: Jalasutra
 
disusun oleh: Edy, Amalia dan Khoirun N

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s