Hegemoni

Secara perlahan namun pasti, umat manusia menjalin hubungan satu sama lain melalui perantara kecanggihan teknologi komunikasi. Sementara politik dan ekonomi secara kasat mata biasanya senantiasa mempertahankan berbagai ’jurang pertentangan’ di antara manusia. Inilah salah satu bentuk dari keajaiban peradaban kontemporer, dimana manusia dapat saling berbagi cerita dari ujung bumi yang satu ke ujung bumi lainnya dalam suatu hitungan sepersekian detik. Revolusi teknologi komunikasi dan informasi bukanlah satu-satunya ’agent of social change’ dari fenomena kontemporer globalisasi yang terus berkembang hingga saat ini. Sebab perkembangan sistem ekonomi, khususnya perdagangan dunia setidaknya merupakan kontributor lain juga yang harus dipertimbangkan.

Globalisasi yang tengah terjadi saat ini telah membawa beberapa perubahan mendasar bagi sejarah kehidupan manusia karena telah memporak-porandakan konsep jarak, ruang dan waktu. Globalisasi dalam dimensi sebagai anugerah dapat ditandai oleh ketersediaan barang dan jasa,  lengkap dengan keragaman variasi, model, kualitas, ataupun harga secara memadai serta mudah diakses oleh para konsumen. Demikian pula dengan berbagai peristiwa apapun dari berbagai pelosok dunia akan dapat secara mudah diketahui, bahkan dengan sesegera mungkin sehingga banyak pihak dapat dengan cepat pula memberikan respon atas berbagai peristiwa tersebut. Akan tetapi, globalisasi secara sekaligus juga dapat dilihat dalam dimensi sebagai musibah, karena realitas yang hadir dalam format seperti itu tidak akan pernah bersifat ”netral” dan ”bebas kepentingan”, terutama dalam penguasaan aset sumber daya material, baik modal, energi, teknologi, dan informasi.

Fokus perhatian pada masalah keterkaitan antara suatu ’bentuk teknologi’ dengan ’sistem kebudayaan’ menjadi kian relevan manakala muncul suatu kenyataan bahwa kesuksesan dari negara-negara maju sebagai produsen utama perangkat teknologi tersebut telah menciptakan, merekayasa, dan mensosialisasikan ’simbol-simbol’ baru tentang kemajuan suatu peradaban dan pada akhirnya mendorong dan memacu negara-negara berkembang ikut ’terseret’ ke dalam setting modernisasi tersebut. Hanya saja perbedaannya, posisi negara-negara berkembang bukan turut berperan sebagai produsen suatu bentuk teknologi, tetapi lebih sekedar menjadi konsumen berbagai produk teknologi yang dihasilkan negara-negara maju melalui proyek ’transfer teknologi’. Kegiatan ini selanjutnya menjadi populer bagi negara berkembang karena dipandang dapat menjadi sumber ’kekuatan baru’ di dalam melakukan pembangunan (modernisasi), khususnya atas kemampuannya menciptakan efisiensi biaya operasional serta kemampuan untuk meningkatkan produktivitas.

Hegemoni

Istilah hegemoni berasal dari istilah yunani, hegeisthai (“to lead?). Konsep hegemoni banyak digunakan oleh sosiolog untuk menjelaskan fenomena terjadinya usaha untuk mempertahankan kekuasaan oleh pihak penguasa. Penguasa disini memiliki arti luas, tidak hanya terbatas pada penguasa negara (pemerintah). Hegemoni bisa didefinisikan sebagai dominasi oleh satu kelompok terhadap kelompok lainnya, dengan atau tanpa ancaman kekerasan, sehingga ide-ide yang ditekan oleh kelompok dominan terhadap kelompok yang didominasi diterima sebagai sesuatu yang wajar (common sense). Hegemoni terjadi ketika masyarakat yang dikuasai oleh kelas yang dominan bersepakat dengan ideology, gaya hidup dan cara berpikir dari kelas dominan. Sehingga kaum tertindas tidak merasa ditindas oleh kelas yang berkuasa. Berdasarkan pemikiran Gramsci dapat dijelaskan bahwa hegemoni merupakan suatu kekuasaan atau dominasi atas nilai-nilai kehidupan, norma, maupun kebudayaan sekelompok masyarakat yang akhirnya berubah menjadi doktrin terhadap kelompok masyarakat lainnya dimana kelompok yang didominasi tersebut secara sadar mengikutinya. Kelompok yang didominasi oleh kelompok lain (penguasa) tidak merasa ditindas dan merasa itu sebagai hal yang seharusnya terjadi.

Pada saat ini hegemoni kapitalisme telah begitu mencengkram. Kecenderungan pesan mengalir dari arus budaya utama (mainstream) yakni budaya yang dibangun dari wilayah pusat (centrum) yang bertempat di belahan bumi utara, yaitu budaya barat (Amerika dan Eropa) ke masyarakat yang lemah dalam pengusaan tekologi, informasi, sumber daya manusia, dan sumber keuangan, yaitu bumi selatan (seperti Asia, Afrika, Amerika Latin) yang disebut sebagai wilayah pinggiran (pheriperique) sering dianggap sebagai proses dominasi budaya (cultural domination). Kekuatan dominasi budaya yang disebarkan melalui media massa dan pengaruh kuat promosi media massa, mampu menciptakan kondisi masyarakat yang seragam (cultural homogenization). Budaya utama tersebut dihembuskan oleh kekuatan modal dan teknologi, kemampuan sumber daya manusia dan jaringan telekomunikasi  dan tanpa terasa telah diterima secara sukarela sebagai sebuah kebutuhan.

Hegemoni budaya yang berkembang di Indonesia sebenarnya sudah sangat meresahkan, terutama mengenai pola hidup remaja Indonesia saat ini, dimana ketika hegemoni budaya barat diberi label modern, maka di sanalah jutaan anak muda negeri mengikut. Terdapat istilah generasi MTV, generasi yang berpikir, berperilaku, dan berbusana meniru system budaya yang dipraktikan budaya barat. Bila remaja saat ini tidak menonton MTV maka kita akan dianggap norak, kampungan, dan tidak modern. Satu pemaknaan yang salah besar. “Tren” pastinya ada karena sebuah  kebutuhan, tetapi sesungguhnya para korporat sadar bahwa kebutuhan itu dapat diciptakan. Dapat dilihat saat ini bahwa hegemoni budaya barat telah akrab dengan masyarakat Indonesia dan dengan sadar telah diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari seperti cara berpakaian, cara berpikir, selera musik dan lainnya. Dari segi penggunaan bahasa juga, bahasa Inggris merupakan salah satu bahasa internasional yang harus dikuasai oleh setiap orang. Bahasa Inggris merupakan syarat utama dalam lowongan pekerjaan.

Dari uraian di atas dapat di simpulkan bahwa sesungguhnya kebudayaan bukanlah ruang yang netral. Keberadaannya menjadi arena pertarungan kepentingan ideology dan kelas dalam masyarakat baik nasional maupun internasional. Dalam konteks pertarungan kaum intelektual dituntut untuk berpihak menjadi agen kelas penguasa ataukah menjadi pembebas massa rakyat hegemoni dan dominasi. Peran kaum intelektual dalam kritik menjadi sangat penting, membiarkan budaya berdiri tanpa kritik akan semakin menjauhkan manusia dari keadaan yang humanis.

Pembentukan Hegemoni

Gagasan tentang hegemoni pertama kali diperkenalkan pada tahun 1885 oleh para marxis Rusia, terutama oleh Plekhanov pada 1883-1984. Gagasan tersebut telah dikembangkan sebagai bagian dari strategi untuk menggulingkan Tsarisme. Istilah tersebut menunjukkan kepemimpinan hegemoni yang harus dibentuk oleh kaum proletar, dan wakil-wakil politiknya, dan dalam suatu aliansi dengan kelompok-kelompok lain, termasuk bebrapa kritikus borjuis, petani, dan intelektual yang berusaha mengakhiri negara polisi Tsaris. Dalam konteks inilah Lenin membahas berbagai masalah tentang pendidikan politik bagi para pekerja. Menurut Lenin jika kesadaran serikat pekerja diharapkan untuk lebih maju daripada keadaan diperbudak oleh ideologi borjuis. Lenin berharap negara akan mati, tetapi hal ini tidak terjadi segera setelah revolusi Rusia. Dia berharap bahwa revolusi akan pecah di Jerman dan di tempat-tempat lain di eropa setelah perang dunia berakhir. Namun gramschi memberikan analisis tentang revolusi rusia pada tahun 1917 mencakup menganggapnya sebagai sesuatu perang manuver.

Agar kaum buruh dapat menciptakan hegemoninya, Gramsci memberikan 2 cara (Strinati, 1995), yaitu melalui  “war of position” (perang posisi) dan “war of movement” (perang pergerakan). Perang pergerakan yaitu suatu “ perang gerakan “, dalam suatu masyarakat dengan berbagai institusi dan organisasi yang memiliki tingkat perkembangan yang rendah di dalam masyarakat sipil dinegara Eropa Timur, terutama di Inggris dan Prancis. Perang posisi dilakukan dengan cara memperoleh dukungan melalui propaganda media massa, membangun aliansi strategis dengan barisan pendidikan pembebasan melalui sekolah-sekolah yang meningkatkan kesadaran diri dan sosial.

Gramsci (1891-1937) merupakan tokoh yang terkenal dengan analisa hegemoninya. Analisa Gramsci merupakan usaha perbaikan terhadap konsep determinisme ekonomi dan dialektika sejarah Karl Marx. Dalam dialektika sejarah Marx, sistem kapitalisme akan menghasilkan kelas buruh dalam jumlah yang besar dan terjadi resesi ekonomi. Pada akhirnya, akan terjadi revolusi kaum buruh (proletar) yang akan melahirkan sistem sosialisme. Dengan kata lain, kapitalisme akan melahirkan sosialisme. Namun, hal ini tidak terjadi. Gramsci mengeluarkan argumen bahwa kegagalan tersebut disebabkan oleh ideologi, nilai, kesadaran diri, dan organisasi kaum buruh tenggelam oleh hegemoni kaum penguasa (borjuis). Hegemoni ini terjadi melalui media massa, sekolah-sekolah, bahkan melalui khotbah atau dakwah kaum religius, yang melakukan indoktrinasi sehingga menimbulkan kesadaran baru bagi kaum buruh. Daripada melakukan revolusi, kaum buruh berpikir untuk meningkatkan statusnya ke kelas menengah, mampu mengikuti budaya populer, dan meniru perilaku atau gaya hidup kelas borjuis. Ini semua adalah ilusi yang diciptakan kaum penguasa agar kaum yang didominasi kehilangan ideologi serta jati diri sebagai manusia merdeka.

Konsep Hegemoni

Gramsci menggunakan konsep hegemoni untuk mendeskripsikan dan menganalisis bagaimana masyarakat kapitalis modern diorganisasikan, atau dimaksudkan untuk diorganisasikan dalam masa lalu dan masa kini. Terdapat kebingungan disini tentang konsep-konsep yang dilibatkan, karena Gramsci tampaknya pertama-tama membedakan negara dengan masyrakat sipil. Negara didefinisikan sebagai sumber kekuasaan koersif dalam suatu masyarakat dan masyrakat sipil didefinisikan sebagai lokasi kepemimpinan hegemoni. Gramsci kemudian mengubungkan kedua konsep ini satu sama lain untuk mendefinisikan apa yang dia sebut sebagai ‘negara integral’ sebagai kombinasi hegemoni yang dilengkapi dengan kekuasaan koersif. Negara integral adalah masyarakat politik plus masyarakat sipil, dengan kata lain hegemoni dilindungi oleh kekuatan koersif. Negara integral, seperti yang dikonseptualisasi oleh gramsci memilki dua aspek, yaitu  sarana pemaksaan (polisi dan militer), dan sarana untuk membentuk kepemimpinan hegemoni dalam masyarakat sipil (pendidikan, penerbitan, penyiaran dan cinema). R.Simon telah menunjukkan bahwa Gramsci berusaha memperlihatkan bahwa hubungan sosial dalam masyarakat sipil adalah hubungan kekuasaan tepat seperti halnya (meskipun dengan cara yag berbeda) hubungan keorsif dalam negara.

Tiga model menurut Gramsci

Perry Anderson dalam prison notebooks yang ditulis oleh Gramsci menjelaskan tiga model namun tidak satupun yang benar-benar memuaskan dari sudut pandang analitis atau politik. Menurut model pertama Gramsci dalam pengertian kepemimpinan budaya normal, hegemoni dilihat sebagai diterapkan dalam masyarakat sipil; negara merupakan lokasi kekuasaan koersif dalam bentuk polisi dan militer; dan ekonomi merupakan lokasi dari berbagai bidang pekerjaan, keterkaitan dengan uang tunai, dan kontrol moniter. Anderson menjelaskan bahwa masalah dengan model ini adalah bahwa hegemoni benar-benar dijalankan dalam negara diberbagai negara demokrasi borjuis barat dalam bentuk demokrasi parlementer. Sebagian besar kelas pekerja percaya bahwa mereka memang memang memilih para penguasa dengan memberikan suara pada pemilihan umum.

Dalam model kedua, hegemoni dilihat sebagai dijalankan dengan negara serta dalam masyrakat sipil. Gramsci melihat bahwa lembaga-lembaga pendidikan dan hukum adalah sangat penting dalam menjalankan hegemoni. Pendidikan dan pembuatan kebijakan adalah aktifitas-aktifitas yang amat penting dalam pembentukan hegemoni di Eropa Barat selama periode awal abad ke dua puluh.

Dalam model tiga tidak memiliki pembedaan antara negara dan masyarakat sipil, karena gramci kadang-kadang mendefinisikan negara sebagai masyarakat politik plus masyarakat sipil.

Hegemoni menurut Gramsci

Tiga istilah pokok mengidentifikasi bidang-bidang yang berbeda, dalam suatu formasi sosial yang membentuk landasan bagi konseptualisasi hegemoni. Ketiga istilah ini yang telah disebutkan diatas, adalah; perekonomian, negara, dan masyarakat sipil. Perekonomian adalah istilah yang digunakan untuk mendefinisikan bentuk dominan produksi dalam suatu wilayah pada suatu waktu. Negara terdiri atas sarana kekerasan (polisi dan militer) dan suatu wilayah tertentu, bersama dengan berbagai birokrasi yang didanai oleh negara. sedangkan masyarakat sipil mengandung arti organisasi-organisasi lain dalam suatu formasi sosial yang tidak merupakan bagian dari proses produksi material dalam perekonomian tersebut serta bukan merupakan organisasi yang didanai oleh negara, tetapi merupakan lembaga-lembaga yang relatif berumur panjang yang didukung dan dijalankan oleh orang-orang diluar kedua bidang tersebut. Gramsci juga membedakan antara bangsa dan negara. bangsa dan identitas-identitas etnis yang lain, dibentuk dalam masyrakat sipil sebagian dibentuk dalam sistem pendidikan, seperti dalam pengajaran bahasa khusus, sastra, dan geografi dan sejarah negara kita atau masyarakat kita. Sedangkan negara merupakan suatu syarat koersif, mengontrol hukum dan admistrasi keadilan dalam wilayah tertentu, lembaga hukum tersebut membantu membentuk suatu masyarakat yang tuntut terhadapnya.

Kesimpulan

Hegemoni budaya adalah konsep filosofis dan sosiologis, berasal dari filsuf Marxis Antonio Gramsci, bahwa masyarakat budaya-beragam dapat dikuasai atau didominasi oleh satu kelas sosial. Merupakan dominasi dari satu kelompok sosial atas yang lain, misalnya kelas penguasa atas semua kelas-kelas lain. Teori mengklaim bahwa ide-ide kelas penguasa mulai dilihat sebagai norma, mereka dipandang sebagai ideologi universal, dianggap menguntungkan sementara semua orang yang benar-benar menguntungkan hanya kelas penguasa.

Kebudayaan bukanlah ruang yang netral. Keberadaannya menjadi arena pertarungan kepentingan ideology dan kelas dalam masyarakat baik nasional maupun internasional. Dalam konteks pertarungan kaum intelektual dituntut untuk berpihak menjadi agen kelas penguasa ataukah menjadi pembebas massa rakyat hegemoni dan dominasi. Peran kaum intelektual dalam kritik menjadi sangat penting, membiarkan budaya berdiri tanpa kritik akan semakin menjauhkan manusia dari keadaan yang humanis

Referensi

http://synaps.wordpress.com/2005/12/01/pengantar-hegemoni/
http://liarkanpikir.wordpress.com/2011/10/15/teori-hegemoni-menurut-gramsci/
http://sosbud.kompasiana.com/2012/08/09/konsep-hegemoni-dalam-kebudayaan-modern-484725.html
 
disusun oleh: Putri, Pipit, Iin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s