Nasionalisme #2

Nasionalisme semula adalah gagasan mengenai kesatuan kebangsaan dalam suatu wilayah politik kenegaraan. Teori politik, membagi manusia ke dalam berbagai bangsa, dan nasionalisme sebagai nilai rohaniah yang mendorong kehendak untuk hidup sebagai satu bangsa serta mempertahankan kelangsunganhidup kebangsaannya itu.

Nasionalisme Indonesia adalah sebuah nasionalisme bentukan, sebuah kesadaran akan identitas bangsa sebagai hasil konstruksi karena pengalaman penderitaan dan diskriminasi oleh bangsa kolonial Belanda. Itulah nasionalisme awal Indonesia, yakni sebuah penegasan akan identitas diri versus kolonialisme-imperialisme.

Dalam sejarah Indonesia, nasionalisme sangat penting. Misalnya sebagai ideologi pemersatu untuk melawan penjajah Belanda atau Jepang. Pada akhirnya tinjauan sejarah politik sampai pada kesimpulan, bahwa dorongan nasionalisme yang sekian lama dipupuk dan diperjuangkan berhasil menciptakan sebuah bangsa, sebagai sebuah kesatuan yang membedakan diri dari kesatuan politik lain, dan sebuah negara sebagai lembaga kekuasaan. Tinjauan sejarah sosio-kultural memperlihatkan bahwa kekuatan daya dorong nasionalisme yang dilahirkan dalam suasana kebudayaan bazaar dari komunitas orang-orang asing akhirnya menciptakan sebuah komunitas bangsa. Inilah komunitas yang dibayangkan oleh “para perantau” yang pernah secara konseptual menjadi penghunni “komunitas orang-orang asing”. Jadi proses pembentukan bangsa dan negara Indonesia adalah sebagai pergumulan munculnya nasionalisme yang lain membentuk sebuah bangsa dalam wadah negara yang berdaulat. Selanjutnya nasionalisme Indonesia melahirkan Pancasila sebagai ideologi negara.

Nasionalisme muncul dari kehendak untuk merdeka dari penjajahan bangsa lain serta persamaan nasib bangsa yang bersangkutan, sebagaimana yang ditegaskan oleh Ernest Renan, Otto Bauwer dan Petter Tomasoa. Namun di era modern konsep itu tidak lagi sepenuhnya bisa diterima. Gagasan nasionalisme awal hanya terpaku pada kehendak untuk merdeka atau “nasionalisme yang ingin memiliki negara”. Namun bila kemerdekaan sudah tecapai secara perlahan akan lenyaplah nasionalisme tersebut.

Nasionalisme

Nasionalisme berasal dari kata nation (Inggris) dan natie (Belanda), yang berarti bangsa. Bangsa adalah sekelompok masyarakat yang mendiami wilayah tertentu dan memiliki hasrat serta kemampuan untuk bersatu, karena adanya persamaan nasib, cita-cita, dan tujuan. Sedangkan nasionalisme adalah satu paham yang menciptakan dan mempertahankan kedaulatan sebuah negara dengan mewujudkan satu konsep identitas bersama untuk sekelompok manusia.

Slamet Mulyana (1986) menyatakan bahwa nasionalisme adalah manifestasi kesadaran berbangsa dan bernegara atau semangat bernegara. Hans Kohn (1986), menyatakan bahwa nasionalisme adalah suatu paham yang berpendapat bahwa kesetiaan tertinggi individu harus diserahkan kepada negara kebangsaan. Kohn membedakan antara dua konsep nasionalisme. Pertama, nasionalisme sebagai konsep politik atau suatu yang secara sukarela (volunteer) seseorang menjadi anggotanya. Menurut konsep ini, nasionalisme merupakan suatu bentuk kontraktual dari para anggotanya. Kedua, konsep nasionalisme sebagai konsep yang organik atau irasional.

Anthony Smith, seorang penganut konsep organis mengenai nasionalisme, berpendapat bahwa seorang individu tidak mempunyai arti terlepas dari masyarakatnya sejak lahir. Individualitas hanya mempunyai arti di dalam kaitannya dengan masyarakat atau komunitasnya. Dengan kata lain, setiap individu  mempunyai kesejarahan hidup yaitu dia menjadi seseorang, satu bagian yang organis dari lingkungannya, serta mempunyai kemantapan hidup yang diperolehnya dari komunitasnya, yaitu sejarah, agama, bahasa, dan adat-istiadat. Bangsa, oleh sebab itu, merupakan suatu keseluruhan yang alamiah dari seseorang yang daripadanyalah seorang individu memperoleh realitasnya. Oleh karena itu seseorang dapat dibedakan nasionalitasnya dan baru kemudian dikenal sebagai anggota masyarakatnya. Menghilangkan masyarakat dalam pengertian masyarakat yang besar berarti menghilangkan individualitas seseorang. Pakar Ernest Gelner menolak pendapat nasionalitas atau nasionalisme sebagai sesuatu yang alamiah atau primordial. Kewarganegaraan merupakan suatu keanggotaan moral dari suatu masyarakat modern. Keanggotaan itu diperolehnya melalui pendidikan nasional dan biasanya menggunakan bahasa yang dipilih sebagai bahasa ibu atau bahasa nasional.

Benedict Anderson melihat nasionalisme sebagai sebuah ide komunitas yang dibayangkan (imagined communities). Menurutnya, nasionalisme adalah sebuah komunitas politik berbayang yang dibayangkan sebagai kesatuan yang terbatas dan kekuasaan yang tertinggi. Maksud dari berbayang adalah anggota suatu negara atau bangsa hanya mengetahui dan mampu membayangkan komunitasnya (negaranya), akan tetapi tidak semua dari mereka saling mengenal. Dibayangkan karena setiap anggota dari suatu bangsa, bahkan bangsa yang terkecil sekalipun, tidak mengenal seluruh anggota dari bangsa tersebut. Bangsa dibayangkan sebagai kekuasaan tertinggi karena hal tersebut matang di panggung sejarah manusia ketika kebebasan adalah suatu hal yang langka dan secara idealis berharga. Bangsa dibayangkan sebagai komunitas karena dipahami sebagai sebuah persahabatan horizontal yang dalam.

Nasionalisme berakar dari sistem budaya suatu kelompok masyarakat yang tidak saling mengenal satu sama lain. Kebersamaan mereka yang timbul karena konstruksi komunitas melalui khayalan menjadi dasar nasionalisme. Nasionalisme hidup dari bayangan tentang komunitas yang senantiasa hadir dipikiran setiap anggota bangsa yang menjadi referensi identitas sosial.

Peran Bahasa, Budaya, dan Pendidikan dalam Nasionalisme

Beberapa faktor penting dalam memunculkan/menumbuhkan nasionalisme adalah bahasa, budaya, dan pendidikan. Bagaimana peranan bahasa di dalam mempersatukan suku-suku di Indonesia? Kita masih ingat di dalam Sumpah Pemuda mengenai bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. Di dalam hal ini benar ungkapan yang mengatakan “Bahasa menunjukkan bangsa”. Berpuluh-puluh tahun silam nyaris tidak satu orang pun yang berbicara dalam bahasa Indonesia sebagai bahasa ibunya. Bisa dikatakan semua orang punya bahasa ‘etnis’nya sendiri. Tapi sekarang mungkin ada banyak anak muda Indonesia, dengan latar belakang etnolinguistik yang berlusin-lusin jenisnya, bicara dalam bahasa Indonesia sebagai bahasa ibu mereka. Sifat bahasa apa pun, yang terpenting adalah kemampuannya untuk membuahkan komunitas-komunitas terbayang, dan selanjutnya membangun solidaritas partikular. Dahulu, bahasa Indonesia dipergunakan oleh kaum terpelajar melalui bahasa-cetak dalam usaha mereka mempropagandakan komunitas terbayang.

Terdapat komunitas kekinian khusus yang hanya diisyaratkan oleh bahasa saja –utamanya dalam bentuk sajak dan nyanyian. Ambillah lagu kebangsaan sebagai contoh, yang dilantunkan pada hari-hari besar nasional. Tak peduli betapa dangkal syairnya dan betapa pas-pasan lagunya, orang-orang yang sepenuhnya tak saling kenal melantunkan syair yang persis sama, mengikuti melodi yang persis sama pula. Menembangkan Indonesia Raya memberi kesempatan unisonalitas, bagi pengejawantahan ragawi komunitas terbayang yang digemakan itu. Jika kita sadar bahwa orang-orang lain sedang melantunkan lagu itu persis pada saat, dengan cara, yang sama dengan kita, toh kita tidak tahu siapa sajakah mereka itu, bahkan mungkin kita sama sekali tidak tahu dimana mereka berada, di luar jangkauan telinga kita. Tiada yang menghubungkan kita dengan orang-orang tadi selain sepenggal nada yang dibayangkan. Mungkin kelihatannya paradoksal bahwa objek segenap rasa keterikatan (‘cinta’) ini adalah sesuatu yang dibayangkan. Cinta terhadap tanah air tidaklah berbeda, dalam hal ini, dengan rasa cinta lain, dimana selalu ada unsur pembayangan dengan rasa sayang di hati. Lewat bahasa, persaudaraan dibayangkan.

Indonesia memiliki semboyan Bhineka Tunggal Ika yang artinya berbeda-beda tetapi tetap satu jua. Seperti pernyataan di atas, ada beberapa alat pemersatu bangsa yang dapat mempersatukan perbedaan-perbedaan itu, yang salah satunya adalah bahasa nasional yaitu bahasa Indonesia. Bangsa Indonesia adalah bangsa yang merdeka dari jajahan kolonial dan mereka disatukan oleh bahasa Indonesia. Akan tetapi pernyataan tersebut kini kurang relevan. Kini adanya kesamaan bahasa tidak dapat lagi menjamin kesatuan nasionalisme suatu bangsa. Hal ini disebabkan banyaknya tantangan yang dihadapi oleh semangat kebangsaan. Bahasa Indonesia nampaknya kini hanya sebagai alat untuk terjalinnya komunikasi yang mudah dipahami oleh masyarakat Indonesia yang memiliki bahasa daerah yang berbeda-beda. Padahal lebih dari itu, bahasa Indonesia telah menjadi ciri khas atau jati diri bangsa Indonesia. Walaupun bahasa Indonesia memiliki beberapa kesamaan dalam kata dengan bahasa Melayu yang dipakai oleh negara tetangga, namun bahasa Indonesia tetaplah menjadi Bahasa Indonesia dengan ciri khasnya tersendiri dan tidak dapat disamakan dengan bahasa yang lainnya.

Masih saja banyak konflik yang terjadi meski kita memiliki bahasa persatuan. Adanya seruan pemerintah untuk melestarikan kebudayaan daerah seperti menggunakan bahasa daerahnya sendiri ternyata juga turut andil dalam memberikan pandangan yang membentuk adanya etnosentrisme yang kemudian dapat berdampak pada konflik antarmasyarakat. Secara jelas kini bahasa kurang membantu dalam menghindari konflik dan membentuk persatuan dalam kenyataan permasalahan hidup dalam berbangsa dan bernegara. Intinya adalah perlu adanya langkah nyata dan kesadaran bersama dalam mewujudkan persatuan bangsa bukan sekedar sebagai semboyan saja.

Apalagi bahasa Indonesia sebagai bagian dari identitas bangsa Indonesia telah banyak mengalami tantangan. Kita lihat saja misalnya betapa tayangan-tayangan televisi dewasa ini merusak bahasa Indonesia serta tidak memberikan rangsangan terhadap penguatan identitas nasional. Sebagai contoh, penggunaan bahasa asing seperti bahasa Inggris dan bahasa Korea yang jelas-jelas dapat merusak perbendaharaan bahasa dan citra bangsa Indonesia yang seakan-akan tidak memiliki kebudayaan atau bahasa nasional. Mengendornya identitas nasional pada akhirnya juga akan dapat mengendorkan semangat nasionalis warga negaranya.

Peranan budaya di dalam nasionalisme juga cukup signifikan. Keanggotaan seseorang dari suatu bangsa (national) merupakan suatu kondisi yang tidak dapat disepelekan di dunia modern dewasa ini. Menjadi anggota dari suatu bangsa, meskipun di dalamnya sendiri masih terdapat kekuatan-kekuatan lokal atau kesukuan yang memisahkan, tetapi keanggotaan suatu negara menjadi pegangan kita dalam menghadapi globalisasi, atau hegemoni kebudayaan Amerika, atau pun di dalam diaspora bangsa-bangsa di dunia dewasa ini. Identitas nasional atau identitas bangsa merupakan sesuatu yang ditransmisikan dari masa lalu dan dirasakan sebagai pemilikan bersama sehingga tampak kelihatan di dalam keseharian tingkah laku seseorang di dalam komunitasnya. Nasionalisme akan tampak di dalam kenyataan apabila rakyat biasa sebagai penyandang identitas membayangkan dirinya sebagai anggota dari suatu komunitas yang abstrak. Inilah yang dimaksud oleh Benedict Anderson, Imagined Communities yaitu merasa suatu bagian dari komunitas yang digambarkan berupa keanggotaan seseorang terhadap komunitas bangsanya. Bangsa yang menggambarkan adanya Imagined Communities menemukan kembali sejarahnya yang mengikat berbagai suku bangsa di dalam satu kesatuan. Inilah yang akan menimbulkan loyalitas nasional.

Budaya yang diklaim bangsa lain, seperti yang terjadi beberapa waktu lalu pada reog Ponorogo, angklung, batik, tari Pendet, dan lagu Rasa Sayange, membuat marah segenap warga masyarakat Indonesia. Di sinilah kita telah membayangkan bahwa budaya yang diklaim tersebut adalah juga milik kita, meskipun sebenarnya dalam konteks lebih sempit itu adalah milik daerah lain, tetapi karena budaya tersebut berada di bawah payung Indonesia, maka kita merasa terikat dan merasa memiliki akan budaya tersebut. Banyak kemudian bermunculan aksi-aksi menentang pengklaiman budaya tersebut. Di situlah terlihat semangat nasionalisme, semangat untuk mempertahankan apa yang menjadi milik bangsanya. Selanjutnya, nasionalisme dapat menjadi pemicu kebangkitan kembali dari budaya yang telah memberikan identitas sebagai anggota dari suatu masyarakat bangsa. Apabila kita ke luar negeri dengan mengenakan pakaian batik yang merupakan pakaian khas Indonesia, kita mengidentifikasikan diri sebagai bangsa Indonesia meskipun penyandang pakaian batik itu berasal entah dari jenis suku apa.

Faktor lain yang juga penting dalam menumbuhkan nasionalisme adalah pendidikan. Pendidikan merupakan suatu jembatan bagi seseorang untuk mempelajari suatu ilmu. Pendidikan juga merupakan sarana mentransmisikan nilai. Pendidikan mencakup transfer of knowledge sekaligus transfer of value. Dalam hal ini, pendidikan memupuk nilai-nilai  nasionalisme. Nasionalisme tidak muncul dengan sendirinya pada diri seseorang apabila tidak dipupuk. Pendidikan sangatlah penting karena tanpa pendidikan, nasionalisme tidak akan tersampaikan kepada generasi penerus.

Rasa nasionalisme sangat diperlukan dalam mewujudkan cita-cita dan tujuan bangsa. Dunia pendidikan baik formal maupun nonformal merupakan faktor penting untuk menumbuh kembangkan nasionalis dalam diri kita. Namun pendidikan yang bagaimana yang dapat dilakukan untuk mewujudkan hal tersebut. Pendidikan yang mampu memberikan karakter terhadap peserta didik yang dicita-citakan masyarakat yang kemudian menjadi cikal bakal individu yang nasionalis. Mengingat individu adalah cerminan dari suatu masyarakat dan interaksi yang dijalaninya maka pendidikan dalam masyarakat maupun sekolah harus mampu menyampaikan nilai-nilai yang dapat membentuk rasa nasionalis. Pendidik pun harus memiliki karakter yang memang diharapkan oleh keseluruhan. Di dalam pendidikan individu belajar, dan selanjutnya di dalam bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara individu pun belajar dan mengaplikasikan apa yang telah didapat dari proses belajarnya.

Pancasila sebagai Dasar Membangun Imagined Communities

Pancasila harus dijadikan sebagai diskusi umum (public discurse) sehingga terjadi pemaknaan nilai-nilai Pancasila di dalam habitus-habitus dari kebhinnekaan bangsa Indonesia. Seorang individu adalah anggota dari berbagai jenis habitus dan lapangan-lapangan (field). Habitus dan lapangan tersebut diisi dengan antara lain nilai-nilai kebersamaan yang dirasakan bermanfaat oleh anggota komunitas sehingga terjadilah ikatan yang erat di antara anggotanya. Dengan demikian mulai terbentuk apa yang disebut modal sosial dan modal kultural di dalam komunitas itu. Nilai-nilai Pancasila dengan demikian dapat ditafsirkan dan diperagakan di dalam berbagai jenis habitus sehingga melekat di dalam tingkah laku para anggotanya.

Kita lihat kehidupan masyarakat Indonesia seakan-akan berada pada tahapan disintegrasi karena tidak ada nilai-nilai yang dijadikan sebagai pegangan bersama. Dalam perumusan UUD 1945 telah kita lihat bagaimana perjuangan founding fathers untuk merumuskan nilai-nilai yang tercantum dalam Pembukaan UUD 1945 yang kemudian nilai tersebut kita kenal sebagai Pancasila. Nilai-nilai Pancasila hendaknya dijadikan sebagai suatu topik diskursus publik yang terus menerus karena tujuannya ialah untuk diterapkan di dalam tingkah laku yang tampak di dalam habitus setiap pribadi. Dengan mewujudkan hal tersebut maka lama-kelamaan akan terbina suatu identitas bangsa Indonesia yang berdasarkan Pancasila. Pancasila dinyatakan sebagai platform untuk membangun identitas bangsa Indonesia yang merupakan proses yang berkesinambungan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Berdasarkan platform dengan nilai-nilai Pancasila tersebut kita berupaya untuk membangun suatu masyarakat yang dicita-citakan, suatu imagined communities.

Kesimpulan

Nasionalisme akan tampak di dalam kenyataan apabila rakyat biasa sebagai penyandang identitas membayangkan dirinya sebagai anggota dari suatu komunitas bangsanya yang abstrak. Inilah yang dimaksud oleh Benedict Anderson dengan Imagined Communities. Bangsa yang menggambarkan adanya Imagined Communities menemukan kembali sejarahnya yang mengikat berbagai suku bangsa di dalam satu kesatuan. Persatuan dan kesatuan hanya dapat terwujud ketika seluruh masyarakat memiliki rasa nasionalisme yang kuat dengan tanpa memiliki rasa etnosentris yang berlebihan yang dapat memicu perpecahan. Inilah yang akan menimbulkan loyalitas nasional.

Bahasa, budaya, dan pendidikan merupakan faktor penting yang terlibat dalam perbincangan mengenai nasionalisme. Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional telah mampu mempersatukan seluruh elemen masyarakat Indonesia dan menjadi pemicu tumbuhnya nasionalisme. Namun kini bahasa Indonesia telah mengalami banyak tantangan sebagai bahasa persatuan. Budaya-budaya daerah sebagai kekayaan yang dimiliki bangsa mampu menjadi penumbuh semangat nasionalisme masyarakat. Semangat nasionalisme ini mendorong masyarakat untuk menjaga budayanya tersebut. Ini berarti, nasionalisme pada akhirnya dapat menjadi pemicu kebangkitan kembali dari budaya yang telah memberikan identitas sebagai anggota dari suatu masyarakat bangsa. Pendidikan juga tidak kalah penting dalam menumbuhkan nasionalisme. Pendidikan mampu mentransmisikan nilai-nilai nasionalis kepada setiap anak didik. Melalui pendidikan yang terkelola dengan baik, akan tertanam nasionalisme kepada generasi penerus bangsa.

Suatu Imagined Communities perlu dibangun berdasarkan suatu platform. Indonesia memiliki Pancasila sebagai platform untuk membangun identitas bangsa. Nilai-nilai Pancasila dapat ditafsirkan dan diperagakan di dalam berbagai jenis habitus sehingga melekat di dalam tingkah laku para anggotanya.

Daftar Pustaka

 

Benedict Anderson. 2008. Imagined Communities (terjemahan). Yogyakarta: INSIST Press

H.A.R. Tilaar. 2007. Mengindonesia Etnisitas dan Identitas Bangsa Indonesia: Tinjauan dari Perspektif Ilmu Pengetahuan. Jakarta: Rineka Cipta

Nasikun, dkk. 1996. Nasionalisme: Refleksi Kritis Kaum Ilmuwan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

https://sosiologibudaya.wordpress.com/2011/04/10/nasionalism/ (diakses pada tanggal 20 Maret 2013 pada pukul 17.09 WIB)

https://sosiologibudaya.wordpress.com/2012/03/27/nasionalisme-2/   (diakses pada tanggal 20 Maret 2013 pada pukul 16.44 WIB)

disusun oleh: Yudha, Primanti, Pras dan Sifa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s