Identitas #2

Identitas yang dimiliki oleh suatu hal tidak hanya memberi makna tersendiri, namun juga menjadi ciri khas yang melatarbelakanginya. Secara etimologis, kata identitas berasal dari kata identity yang berarti kondisi atau kenyataan tentang suatu yang sama, suatu keadaan yang mirip satu sama lain. Identitas juga merupakan keseluruhan atau totalitas yang menunjukkan ciri-ciri atau keadaan khusus seseorang atau jati diri dari factor-faktor biologis, psikologis, dan sosiologis yang mendasari tingkah laku individu. Tingkah laku tersebut terdiri atas kebiasaaan, sikap, sifat-sifat serta karakter yang berada pada seseorang sehingga seseorang tersebut berbeda dengan orang yang lainnya.

Identitas sangatlah penting. identitas membantu masyarakat luas untuk bisa mengenal individu atau kelompok baik dari segi budaya, agama, ataupun politik dan berbagai aspek kehidupan yang lain. Identitas juga bisa memandu seseorang dalam memilah perjalanan dari tujuan hidupnya, mislanya seseorang yang ingin masuk di sebuah komunitas, maka orang tersebut harus mengenal identitas komunitas itu, dengan demikian maka untuk selanjutnya apabila sudah mengenal dan mengerti tentang karakteristik komunitas tersebut dia bisa akan tetap masuk apabila komunitas tersebut poistif, sebaliknya akan meninggalkan apabila komunitas tersebut negatif.

Carmazzi (2006: 9) menyebutkan, identitas adalah siapa kita sebenarnya, baik sebagai diri sendiri maupun anggota suatu kelompok sosial. Gardiner dan Kosmitzki sebagaimana dikutip Samovar, Poter dan McDaniel (2010: 184) menunjukkan, bahwa identitas adalah “definisi diri seseorang sebagai individu yang berbeda dan terpisah, termasuk perilaku, kepercayaan dan sikap”. Ada pula yang menyatakan bahwa identitas adalah “konsep diri yang direfleksikan atau gambaran diri bahwa kita berasal dari keluarga, gender, budaya, etnik, dan proses sosialisasi individu. Indentitas pada dasarnya merujuk pada pandangan reflektif mengenai diri kita sendiri ataupun persepsi orang lain mengenai gambaran diri kita” (Samovar, Poter dan McDaniel, 2010: 184). Begitu pula Parekh (2008: 13) menyatakan bahwa identitas adalah sekelompok manusia yang mewarisi sifat-sifat yang mendefinisikan mereka sebagai jenis individu atau kelompok tertentu dan membentuk sebuah bagian integral bagi pemahaman diri tentang mereka. Pendek kata, identitas mengacu kepada bagaimana manusia membedakan dirinya dengan orang lain, baik sebagai individu maupun anggota kelompok sosial, dan orang lain pun mengakuinya, berdasarkan ciri-ciri tertentu yang melekat padanya. Dengan demikian, setiap manusia selain memiliki identitas diri, juga memiliki identitas kelompok sosial. Kelompok sosial amat penting bagi manusia, di mana kelompok sosial yang muncul atas dasar ikatan primordial antara lain berwujud suku bangsa atau etnik. Dengan mengacu kepada berbagai definisi yang dikemukakan para pakar (van den Berg, 1981; Eriksen, 1993; Sowell, 1989;Barth, 1988; Koentjaraningrat, 1989; Feagin 1993) yang mengkaji tentang masalah etnik, dapat diketahui bahwa etnik merupakan kelompok sosial yang mempunyai tradisi kebudayaan dan sejarah yang sama, memiliki peranan dan bentuk simbol yang sama, memiliki bentuk kesenian yang sama, yang diciptakan dalam ruang dan waktu mereka, dan memiliki domain tertentu yang sama, yang disebut ethnic domain. Ada pula yang menyatakan bahwa etnik adalah kelompok sosial yang anggotanya merasa menjadi satu kesatuan atas dasar suatu identitas etnik, yakni persamaan budaya, bahasa, adat-istiadat, tradisi, agama, peranan dan simbol-simbol yang sama, maupun perjalanan sejarah yang sama (Bachtiar, 1985; Liliweri, 2005). Sehubungan dengan itu, Tilaar (2007: 16) menyebutkan, bahwa identitas merupakan konsep yang sangat erat kaitannya dengan etnisitas. Identitas memiliki pengertian yang berbeda-beda dan sangat luas; misalnya kita mengenal dalam ungkapan sehari-hari seperti identitas Indonesia, identitas suku Batak, identitas suku Jawa, identitas suku Sunda, identitas suku Bali, dan sebagainya. Tidak jarang identitas tersebut sebenarnya kadang-kadang berupa stereotip-stereotip, baik yang positf maupun negatif dari suatu etnik. Seringkali pula terjadi generalisasi berlebihan terhadap suatu identitas; misalnya orang Cina identik dengan kerja keras atau bangsa Melayu diidentikkan sebagai bangsa pemalas. Identitas yang berkonotasi identik tersebut harus dipertanyakan, karena stereotip-stereotip yang mengidentikkan suatu etnik dengan sifat-sifat tertentu seringkali tidak terlepas dari perkembangan sejarah suatu etnik atau masyarakat. Dari uraian tersebut menunjukkan bahwa identitas suatu etnik melekat dalam etnik itu sendiri (Tilaar, 2007: 17).

Identitas diri bertalian dengan konsepsi yang kita yakini tentang diri kita, sementara harapan dan pendapat orang lain membentuk identitas sosial. Keduanya berbentuk narasi atau menyerupai cerita. Jadi identitas sepenuhnya adalah konstruksi sosial dan tidak mungkin eksis di luar representasi budaya dan akulturasi. Berger dan Luckmann (1990) mempertegas konsepsi tersebut dengan menyebutkan bahwa, identitas lahir melalui proses sosialisasi dan identifikasi yang terus-menerus. Oleh karenanya, identitas sudah dirancang dengan sangat seksama, dalam arti dapat mencerminkan sepenuhnya kenyataan obyektif di mana identitas itu berada. Singkatnya, setiap orang ‘adalah’ benar-benar apa yang diandaikan tentang dia. Dalam masyarakat seperti itu, setiap identitas mudah dikenal secara obyektif maupun subyektif. Setiap orang tahu siapa tiap orang lain dan siapa dirinya. Dalam pandangan filsuf terkemuka asal Perancis, Jaques Lacan (dalam Sarup, 2008), identitas berhubungan dengan “dialektika pengakuan”. Dialektika pengakuan ini merujuk pada gagasan bahwa kita mendapatkan pengetahuan tentang siapa  diri kita dan bagaimana orang bersikap pada kita. Lacan juga menegaskan bahwa berkat identitas, setiap orang tetap sama, selalu identik dengan dirinya sendiri, dan sekaligus berbeda dengan orang lain (Sarup, 2008; 11-22). Fenomena ‘pengakuan’ juga dikemukakan Alessandro Pizzorno (2004: 175) bahwa, identitas seseorang didefinisikan oleh orang lain, atau lebih pada pengakuan yang diberikan orang lain.

MACAM-MACAM IDENTITAS

Ada beberapa jenis identitas yang dimiliki, diantaranya:

Gender Versus Seks: Gender

Gender adalah ‘nama’ untuk sebuah peran sosial yang dimiliki berdasarkan jenis kelamin. Sedangkan seks mengacu pada kategori biologis. Saat membicarakan gender maka akan berkaitan dengan pembedaan peran perempuan dan laki-laki dalam pandangan kultur maupun sosial. Sedangkan jika membicarakan seks maka hanya akan membicarakan tentang perbedaan fungsi-fungsi biologis manusia berdasarkan jenis kelamin, laki-laki dan perempuan.

Pembentukan Makna Rasial

Adalah cara pandang baru untuk mengidentifikasi ras yang menunjukkan yang mana kategori ras (identitas) yang asli dan ras keturunan.

Multirasialitas/ Multikulturalitas

Kini makin banyak orang menemukan langkah untuk mengembangkan identitas ras mereka sendiri. Apalagi globalisasi telah memungkinkan semua orang, semua ras dan etnik untuk berkreasi sekreatif mungkin. Anak-anak yang lahir dari kedua orang tua yang berbeda ras atau latar belakang budaya umumnya tidak mempunyai gambaran sama sekali tentang identitas ras atau kebudayaan mereka. Peter Adler (Alo, 2003) menemukan bahwa seorang individu yang multikultural harus memegang prinsip bahwa dia harus berhadapan dengan makin banyaknya perbedaan budaya yang nyata dari orang lain.

BENTUK-BENTUK IDENTITAS

Dalam masyarakat sekurang-kurangnya ada tiga bentuk identitas yang mudah dipantau dan dilihat, yaitu:

Identitas Budaya

Identitas budaya merupakan ciri yang muncul karena seseorang itu merupakan anggota dari sebuah kelompok etnik tertentu. Hal ini meliputi pembelajaran tentang dan penerimaan tradisi, sifat bawaan, bahasa, agama, dan keturunan dari suatu kebudayaan. Misalnya saja kita mengidentifikasi orang Banyumas dengan bahasa ngapak. Orang Flores sebagai orang Katolik. Orang Bali yang identik dengan kebiasaannya minu minuman beralkohol atau tuak. Kita juga menghubungkan kain ulos dengan orang Batak, angklung dengan orang Sunda, dan sebagainya. Dalam artian sederhana, yang dimaksud dengan identitas budaya adalah rincian karakteristik atau ciri-ciri sebuah kebudayaan yang dimiliki oleh sekelompok orang yang kita ketahui batas-batasnya saat dibandingkan dengan karakteristik atau ciri-ciri dari kebudayaan orang lain. Dari pengertian ini dapat diketahui bahwa jika ingin mengetahui dan menetapkan identitas dari suatu budaya maka harus mengkaji identitas kebudayaan sekelompok manusia melalui cara berpikir/orientasi berpikir kelompok, perasaan dan cara bertindaknya. Hal ini harus lebih diperhatikan, tidak hanya sekedar menentukan karakteristik atau ciri-ciri fisik kebudayaan itu saja.

Lisa Orr (Alo, 2003) menegaskan bahwa untuk mengetahui identitas orang lain yaitu pada awal komunikasi, merupakan hal yang paling sulit. Manusia pada umumnya tidak suka mengenal identitas seseorang hanya sepotong-sepotong karena identitas budaya merupakan cultural totalization (totalitas kebudayaan). Totalitas kebudayaan tidak selalu nampak karena dia bersembunyi dibalik konteks multikultural. Maka, dalam cara sederhana manusia mereka-reka ciri khas (bahasa, warna kulit, tampilan wajah, makanan, dsb), batas-batas, dan faktor penentu kebudayaan. Misalnya jika kita mengatakan bahwa A adalah orang Jawa maka kita akan mengidentifikasi dengan memberi batas pada orang jawa dan membedakannya dengan orang dari daerah lain berdasarkan kepribadian, bahasa, kesenian, dan sebagainya.

Identitas Sosial

Identitas sosial terbentuk sebagai akibat dari keanggotaan seseorang dalam suatu kelompok kebudayaannya. Tipe kelompok tersebut antara lain umur, gender, pekerjaan, agama, kelas sosial, dan tempat. Identitas sosial diperoleh dari proses pencarian dan pendidikan dalam jangka waktu yang lama. Misalnya dalam membedakan kelompok orang dengan umur. Orang-orang yang masih berusia muda biasanya bernafsu besar, cepat marah, tidak hati-hati dan kurang sabar. Sebaliknya orang tua lebih bersifat sabar, lebih bijaksana dan lambat. Berbeda bila akan memberika identitas sosial berdasarkan gender. Laki-laki lebih rasional dan mengutamakan hubungan vertikal dan status. Sedangkan perempuan lebih mengutamakan perasaan, mementingkan relasi yang bersifat horizontal, persahabatan dan persaudaraan.

Identitas Pribadi

Identitas personal atau pribadi didasarkan pada keunikan karakteristik pribadi seseorang. Biasanya diidentifikasi dari kemampuan dan bakat. Pribadi seseorang dan identitas sosial terbentuk oleh identitas budaya. Perilaku budaya, suara, gerak-gerik anggota tubuh, nada suara, cara berbicara, warna pakaian, bentuk rambut dan sebagainya menunjukkan ciri khas seseorang yang tidak dimiliki oleh orang lain.

PEMBENTUKAN IDENTITAS BUDAYA

Identitas budaya sering disamakan dengan identitas sosial. Hal ini terjadi karena identitas selalu berkaitan dengan peran, dimana peran merupakan harapan budaya terhadap suatu kedudukan tertentu. Padahal identitas sosial lebih bergantung pada jaringan sosial yang terbentuk pada sebuah masyarakat. Identitas kebudayaan dikembangkan melalui proses yang meliputi beberapa tahap, diantaranya:

Identitas Budaya Tidak Disengaja

Pada tahap ini, identitas budaya terbentuk secara tidak sengaja atau tidak disadari. Misalnya seseorang terpengaruh oleh tampilan budaya dominan hanya karena merasa bahwa budayanya kurang akomodatif, lalu ikut-ikutan membentuk identitas baru. Banyak identitas budaya yang dimiliki oleh suatu suku bangsa diperoleh secara tidak teruji, tak sengaja atau tak disadari. Misalnya etnis orang Larantuka di Flores adalah orang Lamaholot. Mereka tidak menggunakan bahasa Lamaholot, namun menggunakan bahasa Melayu Larantuka.

Pencarian Identitas Budaya

Pencarian identitas budaya meliputi sebuah proses penjajakan, bertanya dan uji coba atas sebuah identitas lain, dan terus mencari serta belajar tentang itu. Biasanya pada tahap ini, orang akan melakukan penelitian lebih mendalam, bertanya kepada keluarga atau teman, bahkan melacaknya secara ilmiah. Berbeda dengan identitas yang diwarisi dan dipelajari oleh generasi berikutnya secara tanpa sadar, pencarian identitas budaya membutuhkan proses pencarian, pelacakan dan pembelajaran budaya. Misalnya perbedaan tampilan orang awam dengan militer. Orang awam biasa akan berpenampilan sebagaimana layaknya dalam kehidupan sehari-hari. Namun orang-orang militer telah mengalami proses pembelajaran, penggemblengan mental dan fisiknya serta ditanamkan ideologi menjadi anggota militer melalui pendidikan militer hingga akhirnya dilantik dan ditempatkan di daerah tugasnya.

Identitas Budaya yang Diperoleh

Identitas budaya yang diperoleh (cultural identity achievement) adalah sebuah bentuk identitas yang dicirikan oleh kejelasan dan keyakinan terhadap penerimaan diri melalui internalisasi kebudayaan sehingga membentuk identitas dari seseorang. Misalnya seseorang sebelum menjadi anggota militer, dokter, guru atau profesi lainnya hanyalah pribadi dengan status yang lain. Setelah dilantik/ disumpah/ diangkat menjadi anggota profesi tertentu, maka dia memperoleh status tertentu untuk peran tertentu. Sehingga status profesi tersebut akan membentuk ciri-ciri perilaku tertentu dan berubah menjadi sebuah identitas budaya.

Konformitas: Internalisasi

Proses pembentukan identitas dapat diperoleh melalui interaksi yang membentuk konformitas. Jadi proses internalisasi berfungsi untuk membuat norma-norma yang telah dimiliki menjadi sama (konformitas) dengan norma-norma yang dominan atau membuat norma yang dimiliki berasimilasi ke dalam kultur dominan. Di tahap inilah makin banyak orang melihat dirinya melalui lensa dari kultur dominan dan bukan dari kultur asal. Misalnya orang-orang yang da di Jakarta. Walaupun mereka berasal dari berbagai macam suku dari berbagai daerah namun karena mereka tinggal di Jakarta maka mereka menjadi sangat konformis dengan budaya orang Jakarta.

KESIMPULAN

Identitas yang dimiliki oleh suatu hal tidak hanya memberi makna tersendiri, namun juga menjadi ciri khas yang melatarbelakanginya. Secara etimologis, kata identitas berasal dari kata identity yang berarti kondisi atau kenyataan tentang suatu yang sama, suatu keadaan yang mirip satu sama lain. Berger dan Luckmann (1990) mempertegas konsepsi tersebut dengan menyebutkan bahwa, identitas lahir melalui proses sosialisasi dan identifikasi yang terus-menerus. Oleh karenanya, identitas sudah dirancang dengan sangat seksama, dalam arti dapat mencerminkan sepenuhnya kenyataan obyektif di mana identitas itu berada. Dalam pandangan filsuf terkemuka asal Perancis, Jaques Lacan (dalam Sarup, 2008), identitas berhubungan dengan “dialektika pengakuan”. Dialektika pengakuan ini merujuk pada gagasan bahwa kita mendapatkan pengetahuan tentang siapa  diri kita dan bagaimana orang bersikap pada kita. Lacan juga menegaskan bahwa berkat identitas, setiap orang tetap sama, selalu identik dengan dirinya sendiri, dan sekaligus berbeda dengan orang lain. Macam-macam identitas yaitu terdiri dari Gender Versus Seks: Gender, Pembentukan Makna Rasial, Multirasialitas/ Multikulturalitas. Dalam masyarakat sekurang-kurangnya ada tiga bentuk identitas yang mudah dipantau dan dilihat, yaitu identitas budaya, identitas sosial, dan identitas pribadi. Identitas kebudayaan dikembangkan melalui proses yang meliputi beberapa tahap, diantaranya Identitas budaya tidak disengaja, pencarian identitas budaya, identitas yang diperoleh, dan konformitas: internalisasi.

DAFTAR PUSTAKA

Alo Liliweri, M.S. 2003. Makna Budaya dalam Komunikasi Antar Budaya. Yogyakarta: LkiS
Berger, Peter. L dan Thomas Luckmann. 2012. Tafsir Sosial Atas Kenyataan. Jakarta: LP3ES
Chrish, Barker. 2004. Cultural Studies: Teori dan Praktik. Yogyakarta: Kreasi Wacana
Hartley, John. 2010. Communication, Cultural, dan Media Studies: Konsep Kunci. Yogyakarta: Jalasutra
http://ilmipenulis.wordpress.com/2011/11/17/identitas-budaya/ di akses pada tanggal 21 Maret pukul 06.50


disusun oleh : Linda, Fahmi, Novela, Luthfi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s