Cultural Representation (Re-Presentasi Budaya)

Representasi merupakan sebuah cara dimana memaknai apa yang diberikan pada benda yang digambarkan, konsep lama mengenai representasi ini didasarkan pada premis bahwa ada sebuah gap representasi yang menjelaskan perbedaan antara makna yang diberikan oleh representasi dan arti benda yang sebenarnya digambarkan. Chris Barker menyebutkan bahwa representasi merupakan kajian utama dalam cultural studies, representasi sendiri dimaknai sebagai bagaimana dunia dikonstruksikan secara sosial dan disajikan kepada kita dan oleh kita di dalam pemaknaan tertentu. Cultural studie memfokuskan diri kepada bagaimana proses pemaknaan representasi itu sendiri.

Marcel Danesi mendefinisikan representasi sebagai proses perekaman gagasan, pengetahuan, atau pesan secara fisik, Secara lebih tepat dapat di idefinisikan sebagai penggunaan tanda-tanda untuk menampilkan ulang sesuatu yang diserap, di indra, di bayangkan, atau di rasakan dalam bentuk fisik. Sedangkan menurut Stuart Hall representasi adalah salah satu praktek penting yang memproduksi kebudayaan, kebudayaan merupakan konsep yang sangat penting. Seseorang dikatakan berasal dari kebudayaan yang sama jika manusia-manusia yang ada disitu membagi pengalaman yang sama, membagi kode-kode kebudayaan yang sama, berbicara dalam bahasa yang sama, dan saling berbagi konsep-konsep yang sama. Hall juga  berargumentasi bahwa representasi harus dipahami dari peran aktif dan kreatif orang memaknai dunia, Hall menunjukkan bahwa sebuah imaji akan mempunyai makna yang berbeda dan tidak ada garansi bahwa imaji akan berfungsi atau bekerja sebagaimana mereka dikreasi atau dicipta.

Representasi budaya merupakan sesuatu kajian ilmu yang penting untuk dipelajari. Dengan kita mempelajari representasi budaya, maka diharapakan mahisiswa akan bertambah khasanah ilmu pengetahuannya.

Representasi

Representasi dipahami sebagai gambaran sesuatu yang akurat atau realita terdistorsi. Representasi tidak hanya berarti “to presentasi” , “to image”, atau “to depict”. Representasi adalah sebuah cara dimana memaknai apa yang diberikan pada benda yang digambarkan. Konsep lama mengenai representasi ini didasarkan pada premis bahwa ada sebuah gap representasi yang menjelaskan perbedaan antara makna yang diberikan oleh representasi dan arti benda yang sebenarnya digambarkan.

Pengertian representasi menurut beberapa tokoh:

Menurut David Croteau dan William Hoynes, representasi merupakan hasil dari suatu proses penyeleksian yang menggaris bawahi hal-hal tertentu dan hal lain diabaikan. Dalam representasi media, tanda yang akan digunakan untuk melakukan representasi tentang sesuatu mengalami proses seleksi. Mana yang sesuai dengan kepentingan-kepentingan dan pencapaian tujuan-tujuan komunikasi ideologisnya itu yang digunakan sementara tanda-tanda lain diabaikan.

Marcel Danesi mendefinisikan representasi sebagai, proses perekaman gagasan, pengetahuan, atau pesan secara fisik. Secara lebih tepat dapat diidefinisikan sebagai penggunaan ‘tanda-tanda’ (gambar, suara, dan sebagainya) untuk menampilkan ulang sesuatu yang diserap, diindra, dibayangkan, atau dirasakan dalam bentuk fisik.

Hall menyebut ‘representasi sebagai konstitutif”. Representasi tidak hadir sampai setelah selesai direpresentasikan, representasi tidak terjadi setelah sebuah kejadian. Representasi adalah konstitutif dari sebuah kejadian. Representasi adalah bagian dari objek itu sendiri, ia adalah konstititif darinya. Stuart Hall mengangggap bahwa ada yang salah dengan representasi kelompok minoritas dalam media, bahkan ia meyakini bahwa imaji-imaji yang dimunculkan oleh media semakin memburuk. Hall mengamati bahwa media cenderung sensitif pada gaya hidup kelas menengah keatas, mayoritas masyarakat yang sudah teratur, sementara yang kulit hitam bermasalah dalam area kekuasaan sensitif itu.

Chris Barker menyebutkan bahwa representasi merupakan kajian utama dalam cultural studies, representasi sendiri dimaknai sebagai bagaimana dunia dikonstruksikan secara sosial dan disajikan kepada kita dan oleh kita di dalam pemaknaan tertentu. Cultural studie memfokuskan diri kepada bagaimana proses pemaknaan representasi itu sendiri.

Secara umum representasi dapat diartikan sebuah cara dimana memaknai apa yang diberikan pada benda yang digambarkan, konsep lama mengenai representasi ini didasarkan pada premis bahwa ada sebuah gap representasi yang menjelaskan perbedaan antara makna yang diberikan oleh representasi dan arti benda yang sebenarnya digambarkan.

Proses Representasi

Menurut Stuart Hall ada dua proses representasi.

Pertama, representasi mental, yaitu konsep tentang ‘sesuatu ‘ yang ada dikepala kita masing-masing (peta konseptual), representasi mental masih merupakan sesuatu yang abstrak.

Kedua, ‘bahasa’ yang berperan penting dalam proses konstruksi makna. Konsep abstrak yang ada dalam kepala kita harus diterjemahkan dalam ‘bahasa’ yang lazim, supaya kita dapat menghubungkan konsep dan ide-ide kita tentang sesuatu dengan tanda dari simbol-simbol tertentu. Media sebagai suatu teks banyak menebarkan bentuk-bentuk representasi pada isinya. Representasi dalam media menunjuk pada bagaimana seseorang atau suatu kelompok, gagasan atau pendapat tertentu ditampilkan dalam pemberitaan.

John Fiske merumuskan tiga proses yang terjadi dalam representasi melalui tabel dibawah ini.

PERTAMA

REALITAS

 

(Dalam bahasa tulis, seperti dokumen wawancara transkrip dan sebagainya. Dalam televisi seperti perilaku, make up, pakaian, ucapan, gerak-gerik dan sebagainya.

KEDUA

REPRESENTASI

 

Elemen tadi ditandakan secara teknis. Dalam bahasa tulis seperti kata, proposisi, kalimat, foto, caption, grafik, dan sebagainya. Dalam TV seperti kamera, musik, tata cahaya, dan lain-lain). Elemen-elemen tersebut di transmisikan ke dalam kode representasional yang memasukkan diantaranya bagaimana objek digambarkan (karakter, narasi setting, dialog, dan lain lain)

KETIGA

IDEOLOGI

 

Semua elemen diorganisasikan dalam koheransi dan kode ideologi, seperti individualisme, liberalisme, sosialisme, patriarki, ras, kelas, materialisme, dan sebagainya.

Pertama, realitas, dalam proses ini peristiwa atau ide dikonstruksi sebagai realitas oleh media dalam bentuk bahasa gambar ini umumnya berhubungan dengan aspek seperti pakaian, lingkungan, ucapan ekspresi dan lain-lain. Di sini realitas selalu siap ditandakan.

Kedua, representasi, dalam proses ini realitas digambarkan dalam perangkat-perangkat teknis seperti bahasa tulis, gambar, grafik, animasi, dan lainlain.

Ketiga, tahap ideologis, dalam proses ini peristiwa-peristiwa dihubungkan dan diorganisasikan ke dalam konvensi-konvensi yang diterima secara ideologis.

Bagaimana kode-kode representasi dihubungkan dan diorganisasikan ke dalam koherensi sosial atau kepercayaan dominan yang ada dalam masyarakat. Representasi bekerja pada hubungan tanda dan makna. Konsep representasi sendiri bisa berubah-ubah, selalu ada pemaknaan baru. Representasi berubah-ubah akibat makna yang juga berubah-ubah. Setiap waktu terjadi proses negoisasi dalam pemaknaan.

Jadi representasi bukanlah suatu kegiatan atau proses statis tapi merupakan proses dinamis yang terus berkembang seiring dengan kemampuan intelektual dan kebutuhan para pengguna tanda yaitu manusia sendiri yang juga terus bergerak dan berubah. Representasi merupakan suatu proses usaha konstruksi. Karena pandangan-pandangan baru yang menghasilkan pemaknaan baru , juga merupakan hasil pertumbuhan konstruksi pemikiran manusia, melalui representasi makna diproduksi dan dikonstruksi. Ini menjadi proses penandaan, praktik yang membuat suatu hal bermakna sesuatu.

Gambaran Representasi

Representasi merujuk kepada konstuksi segala bentuk media terutama media massa terhadap segala aspek realitas atau kenyataan seperti masyarakat, objek, peristiwa, hingga identitas budaya. Representasi ini bisa berbentuk kata-kata atau tulisan bahkan juga dapat dilihat dalam bentuk gambar bergerak atau film. Representasi tidak hanya melibatkan bagaimana identitas budaya disajikan atau dikonstruksikan di dalam sebuah teks tapi juga dikonstruksikan di dalam proses produksi dan resepsi oleh masyakarat yang mengkonsumsi nilai-nilai budaya yang direpresentasikan tadi.

Dalam kasus film sebagai representasi budaya, film tidak hanya mengkonstruksikan nilai-nilai budaya tertentu di dalam dirinya sendiri tapi juga tentang bagaimana nilai-nilai tadi diproduksi dan bagaimana nilai itu dikonsumsi oleh masyarakat yang menyaksikan film tersebut. Jadi ada semacam proses pertukaran kode-kode kebudayaan dalam tindakan menonton film sebagai representasi budaya.

Junaidi,dalam artikelnya Film Mandarin dan Identitas Budaya Indonesia, mendiskusikan perspektif Cultural Studies yang melihat fenomena film Mandarin dalam kaitannya dengan pembentukan identitas bangsa Indonesia. Di sini Junaidi percaya bahwa film sebagaimana halnya produk budaya lain, memegang peran yang penting dalam merepresentasikan siapa itu orang Indonesia. Dalam risetnya tersebut Junaidi menceritakan sejumlah temuannya, misalkan bahwa representasi orang China di beberapa film masih bersifat negatif dan simplisistis. Masyarakat China dilihat sebagai masyarakat yang homogen dan tak berubah, kompleksitas identitas masyarakat China dan interaksi mereka dengan etnis lain seringkali terabaikan. Sikap masa bodoh, praduga, dan stereotipe negatif akhirnya terakumulasi.  Padahal jika mau jujur, belum tentu masyarakat China pada realitas kesehariannya itu sebagaimana yang ada di dalam film atau sinetron kita, oleh karena itu dapat dipahami bahwa apa yang disajikan oleh film tadi belum tentu sesuai dengan realitas yang aslinya.

Representasi di sini harus lebih dilihat sebagai upaya menyajikan ulang sebuah realitas, dalam usaha menyajikan ulang ini tentunya sampai kapan juga tidak akan pernah menyajikan dirinya sebagai realitas yang aslinya. Belum lagi jika kita membedah lebih lanjut bagaimana proses produksi film sebagai proses representasi tadi. Di balik proses representasi ada siapa saja yang terlibat di dalamnya dalam rangka kepentingan apa dan bagaimana representasi yang mereka lakukan, jadi yang namanya representasi itu sangat sulit untuk dibilang netral atau alamiah.

Representasi terbuka pada pengetahuan-pengetahuan baru untuk diproduksi dalam dunia, berbagai macam subyektivitas untuk dieksplor, dan dimensi baru makna yang tidak pernah menutup sistem kekuasaan yang sedang beroperasi.

Tatanan

Membangun diskontinuitas bukanlah sebuah tugas mudah, bahkan bagi sejarah pada umumnya. Dan kurang lebih demikian juga keadaanya dengan sejarah pemikiran. Diskontinuitas fakta bahwa didalam ruang waktu yang tidak begitu panjang, sebuah kebudayaan berhenti untuk berpikir sebagaimana ketika ia berpikir sebagaimana ketika ia berpikir dulu dan mulai berpikir lagi tentang benda-benda dalam satu jalan yang baru. Daya intelek manusia, dari hakekatnya yang ganjil, dengan mudah menegaskan satu tatanan dan persamaan yang lebih besar dalam benda-benda daripada yang sebenarnya ia temukan, sementara itu ada banyak benda dikeunikan alam, dan benar-benar tidak teratur, dibuat soeolah-olah pararel, koresponden dan hubunagn yang tidak memiliki eksistensi. Jika seseorang menciptakan pengecualian intuisi yang mungkin memiliki benda tunggal, orang bias mengatakan bahwa semua pengetahuan diraih melalui perbandingan dua benda atau lebih dengan satu sama lain. Tetapi kenyataanya tidak ada pengetahuan yang benar kecuali oleh intuisi, yang melalui satu tindakan intelegensi tunggal yang murni dan menarik perhatian, dan melalui deduksi, yang menghubungkan bukti-bukti yang diamati bersama-sama. Ada dua bentuk perbandinagn yang eksis, dan hanya dua: perbandingan ukuran dan tatanan. Orang bisa mengukur ukuran atau keserbaragaman, dengan kata lain, ukuran yang berkelanjutan dan ukuran yang tidak berkelanjutan.

Ukuran memungkinkan menganlisis benda-benda menurut bentuk identitas dan perbedaan yang berkalkulasi. Tatanan dibangun tanpa perunjukan kepada satu unit eksterior. Perbandingan melalui ukuran menuntut dimulainya suatu pembagian, kemudian peneran unit umum, disini, perbandingan dan tantanan adalah satu benda yang sama: perbandingan melalui sarana tatanan adalah tindakan sedanda yang memungkinkan kita untuk melintas dari satu terma ke terma lainya, kemudian kepada terma yang ketiga, dan begitu seterusnya, melalui sarana satu gerakan yang secara absolute tidak dapat dihentikan. Dua tipe perbandingan unit-unit untuk membangun hubungan  persamaan dan ketidaksamaan; yang lain membangun elemen-elemen, yang paling sederhana dari yang bias ditemukabn, dan menyusun perbedaan-perbedaan menurut tingkat kemungkinan yang paling kecil. Tatanan ini atau bentukb perbandingan yang telah digeneralisir bias dibangun hanya berdasarkan kepada posisinya dalam inti pengetahuan yang telah kita raih, karakter absolute yang telah kita akui dalam hal-hal sederhana yang berhubungan bukan dengan wujud benda-benda tetapi cara dimana mereka dikenal. Modifikasi yang mempengaruhi pengetahuan itu sendiri pda level kuno yang memungkinkan pengetahuan itu sendiri dan mode wujud dari apa yang diketahui. Modifikasi merupakan penggantian analisis dengan hierarki analogi: pada aba ke-16 anggapan mendasar adalah tentang system korespondensi total (bumi dan langit, planet dan lapisan luar, mikrokosmose dan makrokosmos) masing-masing kemiripan particular kemudian ditempatkan dalam hubungan yang menyeluruh ini. Setiap kemiripan harus disubyekan kepada bukti melaui perbandingan, ia tidak akan pernah bisa diterima hingga identitas dan rangkaian perbedaannya tlah ditemukan melalui sarana pengukuran dengan unit umum atau lebih radikal lagi melalui posisinya dalam satu tatanan. Kesaling pengaruhan kemiripan itu sampai dengan hari ini tetap tidak terbatas.

Representasi Tanda

1.      Tanda, selalu pasti atau mungkin akan menemukan wilayah wujudnya dalam pengetahuan. Pada abad ke-16 tanda-tanda diperkirakan untuk digantikan pada benda-benda sehingga manusia akan mampu untuk mengungkap rahasianya, hakikat atau kebijakannya. Tanda tidak menunggu dalam diam kehadiran manusia yang mampu mengenalinya, ia bisa dibentuk hanya oleh satu tindakan mengetahui bagaimanapun juga mulai sekarang dan seterusnya adalah dalam pengetahuan bahwa tanda menjalankan fungsi penandaannya dari pengetahuan bahwa ia akan meminjam kepastian dan kemungkinannya. Hubungan gagasan merupakan hubungan satu angka atau tanda dengan benda-benda yang ditandai. Contoh: api yang saya lihat bukanlah sebab kesakitan yang saya derita karena saya mendekatinya tetapi tanda yang memperingatkan saya tentangnya.

2.      Variable tanda kedua; dengan kehadiaran pemikiran klasik tanda bisa memliki salah satu dari dua posisi: baik, bisa diklaim demikian, sebagai elemen, menjadi bagian dari apa yang ia fungsikan untuk menandai atau yang lain benar-benar dari apa yang ia fungsikan untuk menandai. Menurut logique de port-royal tanda pada pemikiran klasik tidak menghapuskan jarak atau menghilangkan waktu sebaliknya ia memungkinkan seseorang untuk membentangkan mereka dan melintasi langkah-demi langkah. Tanda inilah yang memungkinkan benda-benda menjadi khas, memelihara diri mereka dalam identitasnya sendiri. Sekarang ini menjadi mungkin untuk membatasi instrument yang terdapat bagi penggunaan pemikiran klasik melalui system tanda. System ini yang memperkenalkan kedalam pengetahuan probabilitas, analisis dan kombinasi.

Representasi tiruan

Hubungan tanda dengan yang ditandai sekarang ini terletak dalam satu ruang dimana tidak ada lagi sejumlah figure perantara untuk menghubungakan mereka disebut ikatan yang telah terbangun. Kenyataannya elemen-elemen penanda tidak memiliki isi, fungsi dan tidak memiliki determinasi sepenuhnya ditata dan transaparan kepadanya, tetapi kangdungan ini ditunjukan hanya dalam satu representasi yang menempatkan dirinya sendiri sedemikian rupa tanpa residium dan tanpa opasiti dalam represntasi tanda. Representasi memiliki konsep yang sangat besar:

1.      Pentingnya tanda dalam pemikiran klasik. Represntasi dihubungkan dengan dan mempresentasikan hal-hal yang menghubungkanny dengan dirinya sendiri.

2.      Perluassan universal pada tanda dalam bidang reprsentasi ini mendahului kemungkinan satu teori penandaan. Fenomena hanya ditempatkan dalam satu representasi yang dalam dirinya sendiri dank arena representasinya seluruhnya merupakan tanda maka penandaan tidak bisa membentuk satu persoalan.

3.      Menurut hubungan fundamental dengan satu teori umum tentang representasi, jika tanda dalam murni dan hubungan sederhana tanpa apa yang menandai dan apa yang ditandai maka hubungan hanya bisa dibangun dalam elemen representasi yang umum.  Karena itu menjadi perlu dimana teori klasik tentang tanda akan menyediakan dirinya sendiri dengan satu ideology untuk bertindak sebagai landasan dan pembenaran filosofisnya yaitu satu analisis umum tentang semua bentuk representasi

Emajinasi Kemiripan

Kemiripan merupakan pengetahuan ytang tidak bisa dihindari. Kemiripan adalah bentuk yang baru disketsakan dimana relasi yang belum sempurna yang harus dilapisi oleh pengetahuan pada tingkatannya yang peling sempurna. Kemiripan diletakan pada sisi imajinasi dan imajinasi bisa dijalankan hanya dengan bantuan kemiripan. Antara imajinasi dan kemiripan bahwa imajinasi secara jelas hanya merupakan salah satu sifat hakikat manusia sedangkan kemiripan salah satu akibat alam.

Mathesis dan Taksinomia

Representasi empiris harus bisa dianalisis kedalam alam yang sederhana, jelas bahwa teksinomia berhubungan dengan mathesis secara menyeluruh. Ketika pengelihatan pada bukti hanya merupakan satu kasus pertikular representasi secara umum, orang bisa mengatakan dengan sama baiknya bahwa mathesis adalah salah saatu kasus particular-partikular taksinomia. Tanda-tanda yang dibangun oleh pemikiran sendiri membentuk satu aljabar representasi yang kompleks di antara genesis terdapat perluasn wilayah tanda-tanda yang meliputi seluruh domain representasi empiris. Taksinomia, disisi lain memperlakukan identitas dan perbedaan; ia adalah ilmu tentang artikulasi dan klasifikasi; ia adalah pengetahuan tentang wujud.

  1. Representasi Dalam Kehidupan Sehari-hari

Iklan bekerja atas dasar identifikasi karena iklan hanya bekerja ketika kita mengidentifikasi apa yang direpresentasikan oleh imaji-imaji, imaji-imaji itu mengkonstruksi kita,melalui hubungan kita dengan mereka. Makna adalah interpretasi, stereotip menetapkan makna yang diberikan kepada kelompok-kelompok.,misal gambaran orang kulit hitam yang terbatas, memberikan efek pada apa yang dipahami masyarakat mengenai orang kulit hitam dalam dunia nyata. Gambaran memproduksi pengetahuan tentang bagaimana kita melihatnya direpresentasikan, sehingga perjuangan untuk membuka praktik stereotip kadang adalah sebuah perjuangan untuk meningkatkan perbedaan celakanya semakin memperlihatkan identitas yang memungkinkan dari orang-orang yang belum direpresentasikan sebelumnya. Ada kesulitan tersendiri ketika ingin membalikkan stereotip negatif tersebut sebagaimana juga sulit untuk mempertahankan atau memperbaiki representasi positif.

Saat ini banyak masyarakat khususnya wanita yang dibanjiri oleh bermacam iklan produk yang hadir melalui televisi, radio, maupun media lainnya. Bermacam produk saling berlomba dalam melakukan beragam trik  menawarkan perubahan warna kulit, terstruktur, dan sebagainya itu membuat wanita atau calon konsumen yang melihat iklan menjadi tertarik untuk menggunakan produk tersebut, iklan produk tersebut dengan bentuk penawaran yang sedemikian rupa memberikan pencitraan tersendiri dalam membentuk suatu frame dalam masyarakat. Dalam hal ini pesan iklan yang efektif bagi para pengiklan dan kreator iklan melalui penyampaian sisi imagistik, yakni simbolisasi suatu produk yang merupakan suatu cara untuk membantu khalayak dalam mengidentifikasi produk yang diinginkan dan dibutuhkan.

Simbolisasi produk dalam iklan merupakan sebuah bentuk penyampaian kembali budaya dan nilai-nilai yang ada dan realitanya citra dalam iklan sabun dan penyampaian dalam iklan produk-produk tersebut mengindikasikan bahwa hanya mereka yang berkulit putihlah yang cantik dengan kebanyakan menggunakan representasi selebriti wanita indonesia. Ini tidak menyampaikan kembali budaya dan nilai-nilai yang ada dan diyakini oleh masyarakat dimana iklan tersebut berada. Dalam iklan ini terdapat ketimpangan sosial dimana Indonesia sendiri dilihat dari ras yang memiliki kulit tidak hitam dan tidak putih atau sawo matang, sehingga memberikan frame pada masyarakat bahwa citra wanita cantik  Indonesia adalah mereka yang memiliki kulit putih dan mulus. Apabila ini dikaitkan dengan cultural studies dalam televisi, teks, dan penonton, bahwa iklan sabun maupun produk-produk kecantikan lain mengandung unsur hegemonic yang dimenangkan dan bukan diterima, lebih jauh lagi diperlukan terus menerus dimenangkan ulang dan dinegosiasikan ulang menjadi kebudayaan yang suatu saat bisa berubah menjadi lahan konflik.

Fokus dan representasi perempuan telah diupayakan sebelumnya oleh sejumlah penulis feminis terhadap opera sabun karena sering kali dikatakan bahwa opera sabun adalah suatu ruang perempuan dimana motivasi perempuan disahkan dan dirayakan.  Dalam operasi sabun suatu bentuk global berdasarkan dua alas an yaitu ia adalah cara bernarasi yang diproduksi di berbagai negara di seluruh dunia dan ini adalah salah satu bentuk acara televisi yang paling banyak diekspor dan ditonton di berbagai konteks budaya.

Kesimpulan

Secara umum representasi dapat diartikan sebuah cara dimana memaknai apa yang diberikan pada benda yang digambarkan, konsep lama mengenai representasi ini didasarkan pada premis bahwa ada sebuah gap representasi yang menjelaskan perbedaan antara makna yang diberikan oleh representasi dan arti benda yang sebenarnya digambarkan. John Fiske merumuskan tiga proses yang terjadi dalam representasi yaitu Realitas, Representasi, dan Ideologi.

Represetasi dalam kehidupan sehari-hari, Saat ini banyak masyarakat khususnya wanita yang dibanjiri oleh bermacam iklan produk yang hadir melalui televisi, radio, maupun media lainnya. Bermacam produk saling berlomba dalam melakukan beragam trik  menawarkan perubahan warna kulit, terstruktur, dan sebagainya itu membuat wanita atau calon konsumen yang melihat iklan menjadi tertarik untuk menggunakan produk tersebut, iklan produk tersebut dengan bentuk penawaran yang sedemikian rupa memberikan pencitraan tersendiri dalam membentuk suatu frame dalam masyarakat. Dalam hal ini pesan iklan yang efektif bagi para pengiklan dan kreator iklan melalui penyampaian sisi imagistik, yakni simbolisasi suatu produk yang merupakan suatu cara untuk membantu khalayak dalam mengidentifikasi produk yang diinginkan dan dibutuhkan.

 

Referensi

Agung, Setiawan Arif. Jurusan Desain Komunikasi Visual, Fakultas Seni dan Desain Universitas kristen Petra. http://puslit.petra.ac.id/journal/design/
Foucault, M. 2007. Order of Things, Arkeologi ilmu-ilmu kemanusiaan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
https://sosiologibudaya.wordpress.com/2012/03/17/another-representasi-budaya/
http://koleksihalim.blogspot.com/2012/01/representasi-budaya.html

Disusun oleh: Mesti, Rian, Yudha

3 responses to “Cultural Representation (Re-Presentasi Budaya)

  1. Fadhli Kurniawan

    sorry mas agung saya mau tany itu sumber bukunya apa ya? yang pendapatnya david croteau and william hoynes mengenai representasi,
    karena saya sedang melakukan penelitian mengenai representasi budaya.
    Thank’s

  2. maaf saya mau Tanya, itu sumber bukunya dari mana ya? karena saya butuh untuk penelitian hehe

  3. Pingback: Esai Foto: Memotret Indonesia | Tergeming

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s