Re-Produksi Budaya

Kebudayaan adalah hasil rasa, karsa dan cipta manusia. Kebudayaan memiliki 3 wujud dan 7 unsur. Diantara ke-3 wujud tersebut adalah sistem budaya, sistem social dan artefak dan 7 unsur kebudayaan terdiri dari sistem organisasi social, sistem kesenian, sistem  bahasa, sistem pengetahuan, system mata pencaharian, system religi, system teknologi. Manusia dan kebudayaan merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan, sementara itu pendukung kebudayaan adalah makhluk manusia itu sendiri. Sekalipun manusia akan mati, tetapi kebudayaan yang dimilikinya akan diwariskan pada keturunannya, demikian seterusnya. Pewarisan kebudayaan tidak selalu terjadi secara vertikal melainkan dapat pula secara horisontal yaitu manusia yang satu dapat belajar kebudayaan dari manusia lainnya. Berbagai pengalaman makhluk manusia dalam rangka kebudayaannya, diteruskan dan dikomunikasikan kepada generasi berikutnya oleh individu lain. Berbagai gagasannya dapat dikomunikasikan kepada orang lain karena ia mampu mengembangkan gagasan-gagasannya itu dalam bentuk lambing lambang vokal berupa bahasa, baik lisan maupun tertulis.

Kebudayaan mengenal ruang dan tempat tumbuh kembangnya, dengan mengalami perubahan, penambahan dan pengurangan. Manusia tidak berada pada dua tempat atau ruang sekaligus ia hanya dapat pindah ke ruang lain pada masa lain. Pergerakan ini telah berakibat pada persebaran kebudayaan, dari masake masa, dan dari satu tempat ke tempat lain. Indonesia adalah negara yang penuh dengan kebudayaan berbagai macam kebudayaan ada dalam negara ini. Dan disetiap daerah pastinya mempunyai sesuatu yang dibanggakan seperti sebuah kesenian, akan tetapi kesenian atau sebuah kebudayaan ini akan berkembang menjadi kebudayaan yang berfariasi karena adanya budaya yang mengglobal. Semakin banyak orang yang mengetahui terutama masyarakat luar pasti membawa pengaruh bagi kebudayaan asal. Hal ini dikarena kecenderungan orang untuk memfariasikan kebudayaan mereka agar lebih dikenal oleh luar daerahnya dan dikenal oleh negara lain.

Kebudayaan saat ini mulai menampakkan keberagamannya mulai dari kebudayaan yang asli sampai kebudayaan yang sudah dipengaruhi oleh kebudayaan lain.pengaruh inilah yang membuat kita harus lebih mencintai dan lebih mengenal kebudayaan negara kita  karena perlu diwaspadai semakin banyak kebudayaan yang bercampur dengan kebudayaan lain maka lama kelamaan makna asli budaya ini akan terkikis sedikit demi sedikit dan akan menghilangkan eksistensi dari kebudayaan asli.

Reproduksi Budaya

Reproduksi berasal dari kata re yaitu kembali dan produksi membuat atau menghasilkan, jadi reproduksi mempunyai arti suatu proses dalam menghasilkan sesuatu yang baru. Sedangkan budaya adalah suatu pola dari keseluruhan keyakinan dan harapan yang dipegang teguh secara bersama oleh semua anggota organisasi dalam pelaksanaan pekerjaan yang ada dalam organisasi tersebut.[1] Dapat disimpulkan reproduksi budaya adalah suatu proses dalam menghasilkan pola keseluruhan keyakinan dan harapan yang baru dalam organisasi masyarakat yang dipegang teguh oleh semua anggota organisasi.

Reproduksi kebudayaan merupakan proses penegasan identitas budaya yang dilakukan oleh pendatang , yang dalam hal ini menegaskan keberadaan kebudayaan asalnya. [2] Reproduksi budaya ialah bertemunya dua budaya yang berbeda dan satu sama lain saling mempengaruhi sehingga timbul kebudayaan baru yang mengandung unsur dua kebudayaan tersebut.

Proses Reproduksi Budaya

Di dunia ini tidak ada yang berhenti, semuanya berjalan, dan mengalami proses kebudayaan, termasuk masalah kebudayaan. Proses reproduksi kebudayaan merupakan proses aktif yang menegaskan keberadaannya dalam kehidupan sosial sehingga mengharuskan adanya adapatasi bagi kelompok yang memiliki latar belakang kebudayaan yang berbeda. Proses semacam ini merupakan proses sosial budaya yang penting karena menyangkut dua hal. Pertama, tataran sosial akan terlihat proses dominasi dan subordinasi budaya terjadi secara dinamis yang memungkinkan kita menjelaskan dinamika kebudayaan secara mendalam. Kedua, pada tataran individual akan dapat diamati proses resistensi di dalam reproduksi identitas kultural sekelompok orang di dalam konteks sosial budaya tertentu. Proses adaptasi ini berkaitan dengan dua aspek: ekspresi kebudayaan dan pemberian makna tindakan-tindakan individual.

Secara umum mobilitas berbagai kelompok masyarakat telah menjadi fenomena yang sangat umum. Hal ini mengandung pengertian bahwa lingkungan sosial budaya setiap orang dapat berubah-ubah yang sangat tergantung pada perilaku mobilitas seseorang atau sekelompok orang.  Mobilitas dengan demikian telah mendorong proses rekonstruksi identitas sekelompok orang. Sejalan dengan hal ini ada dua proses yang dapat terjadi, seperti tampak dalam pandangan para ahli. Pertama, terjadi adaptasi kultural para pendatang dengan kebudayaan tempat ia bermukim, yang menyangkut adaptasi nilai dan praktik kehidupan secara umum. Kebudayaan lokal dalam hal ini telah menjadi kekuatan baru yang memperkenalkan nilai-nilainya kepada pendatang, meskipun ia tidak sepenuhnya memiliki daya paksa. Namun demikian, proses reproduksi kebudayaan lokal, tempat setiap kebudayaan melakukan penegasan keberadaannya sebagai pusat orientasi nilai suatu masyarakat, tentu saja mempengaruhi mode ekspresi diri setiap orang (Appadurai, 1994; Hill dan Turpin, 1995).

Kedua, terjadi proses pembentukan identitas individual yang dapat saja mengacu kepada nilai-nilai kebudayaan asalnya. Bahkan dalam konteks ini seseorang dapat saja ikut memproduksi  kebudayaan asalnya di tempat yang baru (Foster, 19873; Kemp, 1988; Abdullah, 1996; Strathern, 1995). Kebudayaan dalam hal ini kemudian berfungsi sebagai apa yang dikatakan Ben Anderson sebagai imagined values, yang berfungsi dalam fikiran setipa orang yang menjadi pendukung dan yang mempertahankan kebudayaan itu meskipun seseorang berada di luar lingkungan kebudayaannya.

Teori konfigurasi budaya merupakan landasan yang cukup penting dalam menjelaskan perubahan-perubahan adaptasi adaptasi suatu etnis (Appadurai, 1994; Strathern,1995). Dalam hubungannya dengan proses migrasi, teori ini melihat bahwa ada tiga proses sosial yang dapat terjadi. Pertama, terjadi pengelompokan baru dengan orang-orang yang berbeda. Pengelompokan ini merupakan proses penting dalam hubungannya dengan proses adaptasi pendatang, yang ini berarti pembentukan hubungan-hubungan sosial baru. Kedua, terjadi redefinisi sejarah kehidupan seseorang karena ada fase kehidupan baru yang terbentuk. Fase ini dapat memiliki arti yang sangat berbeda bagi seseorang karena setting sosial yang berbeda dengan seting dimana mereka menjadi bagian sebelumnya. Ketiga, terjadi proses pemberian makna baru bagi diri seseorang, yang menyebabkan ia mendefinisikan kembali identitas kultural dirinya dan asal usulnya.

Pembentukan ruang simbolik baru

Integrasi ekonomi ke tatanan ekonomi global telah terbukti juga merupakan integrasi sosial budaya ke dalam suatu tatanan dunia, yang kehadirannya dapat dilihat di kalangan penduduk kota. Revolusi teknologi elektronik dan teknologi komunikasi/ trasnportasi telah merupakan jembatan yang menghubungkan berbagai tempat dengan berbagai belahan dunia lain. Hal yang mencolok terjadi dalam kecenderungan ini adalah tumbuhnya consumer culutre di kota-kota yang merupakan proses dari ekspansi pasar. Dasar materi yang tampak dalam prosesmkonsumsi penduduk kota menunjukkan satu usaha aktif penduduk dalam membangun identitas pribadi. Perubahan-perubahan di kota terjadi disebabkan oleh ledakan penduduk. Laju pertumbuhan penduduk di kota berasal dari peningkatan jumlah pendatang dari daerah pedesaan dan dari kota-kota lain yang lebih kecil. Pemusatan kegiatan ekonomi di kota-kota besar telah menyebabkan konfigurasi penduduk semakin terpusat di wilayah perkotaan.

Ada beberapa implikasi dari tekanan penduuduk di perkotaan. Pertama, tingkat kepadatan penduduk yang tinggi akan membawa implikasi pada fasilitas publik perkotaan. Berbagai sarana dan prasarana menjadi kurang memadai. Kedua, tingkat kepadatan penduduk yang tinggi mempengaruhi pengelolaan ruang yang lebih rumit, yang secara langsung mempengaruhi harga tanah. Dengan naiknya harga tanah, biaya hidup di perkotaan menjadi semakin tinggi. Ketiga, kenyamanan untuk tinggal di kota menjadi persoalan penting akibat tekanan penduduk. Polusi udara dan suara, rawan kebakaran, kecelakaan, dan tingkat kriminalitas merupakan faktor yang mempengaruhi kenyamanan.

Konteks ruang tersebut telah mengubah kota menjadi suatu ruang konsumsi yang membentuk suatu gaya hidup kota. Dua proses merupakan tanda dari transformasi sosial perkotaan semacam ini, yaitu proses konsumsi simbolis dan transformasi estetis. Proses konsumsi simbolis merupakan tanda penting dari pembentukan gaya hidup di mana nilai-nilai simbolis dari suatu produk dan praktik telah mendapat penekanan yang besar dibandingkan dengan nilai-nilai kegunaan dan fungsional. Hal ini paling tidak dapat dijelaskan dengan tiga cara. Pertama, kelas sosial telah membedakan proses konsumsi di mana setiap kelas menunjukkan proses identifikasi yang berbeda. Nilai simbolis dalam konsumsi tampak diinterpretasikan secara berbeda oleh kelompok yang berbeda. Pasar dalam masyarakat seperti ini lebih berfungsi sebagai pembatas dan penegas batas-batas kelompok.

Kedua, barang yang dikonsumsi kemudian menjadi wakil dari kehadiran. Hal ini berhubungan dengan aspek-aspek psikologis di mana konsumsi suatu produk berkaitan dengan perasaan atau rasa percaya diri yang menunjukkan bahwa itu bukan hanya sekedar aksesoris, tetapi barang-barang merupakan isi dari kehadiran seseorang karena dengan cara itu ia berkomunikasi (Goffman, 1951). Demikian pula bagi kelompok yang memiliki wilayah pertukaran sosial terbatas, maka ia tidak merasa membutuhkan suatu benda atau praktik. Perbedaan kelompok disini memperlihatkan perbedaan wilayah, dimana wilayah tersebut telah menjadi wilayah kebudayaan yang memiliki orientasi dan bentuk-bentuk pertukaran sosial yang berbeda. Hal ini menunjukkan bahwa proses konsumsi itu juga bersifat fungsional karena melayani atau disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing kelompok.

Ketiga, berdasarkan proses konsumsi dapat dilihat bahwa konsumsi citra (image) disatu pihak telah menjadi konsumsi yang penting dimana citra yang dipancarkan oleh suatu produk dan praktik (seperti pakaian atau makanan) merupakan alat ekspresi diri bagi kelompok. Bagi kelas menengah citra yang melekat pada suatu produk (global) merupakan instrumen modernitas yang mampu menegaskan keberadaannya dan identitasnya. Dalam proses konsumsi dan pergeseran orientasi kehidupan kota, referensi tradisional tampak melemah. Hal ini terutama disebabkan oleh kebudayaan lebih terikat pada lokalitas yang spesifik dan kendali kelas yang tegas. Dalam seting sosial baru seperti kota-kota baru, simbol-simbol lebih merupakan sesuatu yang dikonstruksikan untuk kepentingan-kepentingan yang lain yang kemudian menciptakan kultur tersendiri yang tidak terintegrasi ke dalam sistem kebudayaan di luarnya.

Media Mengubah Reproduksi Budaya

Media merupakan saluran yang berpengaruh dalam distribusi kebudayaan global yang secara langsung mempengaruhi gaya hidup. Iklan cenderung untuk membentuk pasar baru dan mendidik kaum muda untuk menjadi konsumen. Hampir tidak ada agen yang cukup berkuasa untuk mengendalikan iklan. Lembaga non pemerintah, termasuk lembaga agama, tidak terikat dalam proses sosial ini meskipun sangat berpengaruh dalam proses peradaban.

Dalam reproduksi budaya atau lebih tepatnya produksi budaya, tekanannya adalah harus selalu bergerak, selalu berubah bukan untuk tujuan utopis tertentu, tetapi karena diarahkan oleh efektivitas dan tuntutan agar bisa bertahan hidup (G.Lipovetsky,2004:79).[3]
Contoh : Dalam perkembangan dan persaingan dunia Pemberitaan di dunia yang memerlukan efektifitas, dinamis, dan waktu yang singkat, membuat TV One melakukan reproduksi budaya. Ini terlihat dari pembuatan moto dalam perusahaan tersebut yaitu “Terdepan Mengabarkan”.

Di zaman sekarang, di dalam dunia media, teknik presentasi sering mengalahkan isi berita atau pesan yang ditampilkan. Rasionalitas instrumental sangat mewarnai media massa. Pemikir sosial perancis ini memaksudkan bahwa pesan yang sebenarnya bukan isi yang mengungkapkan suara dan gambar,tetapi skema yang dikaitkan dengan esensi teknik media itu sendiri yang berupa transisi normal dan diproduksi berdasar pada abstraksi.Jadi bukan dari isi wacana iklan langsung yang mendorong konsumsi.Iklan itu menjadi efektif karena memaksa melalui transisi sistematis pada ranah tanda,pesan yang menyamakan sejarah dengan berita sehari-hari,peristiwa dengan tontonan,informasi dengan iklan (J. Baudrillard,1970 : 187)

Contoh : Tayangan infotainment yang kian marak di Indonesia salah satunya seperti tayangan infotainment Silet.Silet menggunakan kecanggihan teknik media dalam melebih-lebihkan isi berita yang ditampilkan.Terjadi gejala rasionalitas instrumental di dalam pemberitaan dalam tayangannya .Terkadang isi pemberitaan yang disampaikan masih diragukan kebenarannya,tetapi melalui teknik presentasi pemberitaan yang baik yaitu pembawa acara memasang muka serius dan berbicara seperti membawakan acara kriminal ditambah dengan backsound yang sedikit seram dapat membuat seolah-olah permberitaan tersebut menjadi benar.

Dalam hal iklan,fungsi komunikasi massa iklan bukan berasal dari isinya,bukan tujuan ekonomi atau psikologi,bukan public,tetapi dari logika medium itu sendiri.Iklan tidak mengacu ke dunia riil,objek riil, atau ke suatu acuan,tetapi dari suatu tanda ke tanda lain,dari suatu objek ke objek lain,dari konsumen satu ke yang lain Iklan mendasarkan diri pada tipe verifikasi “self-fulfilling prophecy”,artinya seni membuat sesuatu menjadi benar dengan mengafirmasi bahwa benar.Iklan tidak mendorong untuk belajar atau mengerti,tetapi mengajak untuk berharap .

Contoh : Iklan Ponds mengeksplorasi tentang mudahnya mendapatkan pasangan apabila memiliki wajah cantik dan putih setelah menggunakan produk tersebut. Iklan Ponds  membuat kita berharap untuk memiliki wajah yang putih agar mudah mendapatkan pasangan. Dalam kenyataannya, wajah putih bukan menjadi jaminan agar mudah mendapatkan pasangan, tetapi faktor kepribadian lebih berpengaruh dalam hal tersebut.

Media berperan besar dalam penciptaan kebutuhan palsu, serta sikap pasif yang terhanyut dalam konsumerisme. Budaya instant memberikan pembenaran kenikmatan saat ini,tanpa larangan dan tanpa rasa takut akan masa depan. Berkat media, sensualisasi dan estetisasi massa untuk kepentingan kenikmatan semakin intensif dan meluas.

Contoh : Iklan Handpone Sonny Erikson seri Musik dengan fitur-fitur terbaru dan menarik serta harga yang tinggi menciptakan kebutuhan palsu akan pentingnya memiliki Handpone tersebut,padahal pada hakikatnya,Handpone mempunyai manfaat untuk berkomunikasi bukan untuk mendengarkan musik.Iklan seri Handpone Sonny Erikson yang terus menerus baru juga membuat masyrarakat memiliki sikap pasif dan terhanyut dalam konsumerisme,kalau tidak membeli produk ini rasanya tidak keren.Selanjutnya adalah iklan tentang Mie Instan Indomie memberikan pembenaran kenikmatan saat ini,tanpa larangan dan tanpa rasa takut akan bahaya kesehatan yang akan menggerogoti seperti kanker di massa depan.

Faktor penyebab reproduksi budaya

Menurut Irwan Abdullah di antara sebab perubahan budaya itu;[4]

Pertama, mencairnya batas-batas kebudayaan. Dahulu kebudayaan selalu diikat oleh batas-batas fisik yang jelas. Sebagai contoh pakaian kebaya, sungkeman, wayang kulit, blangkon selalu identic dengan pakaian atau adat buadaya jawa. Batas-batas fisik itu kemudian dijadikan dasar untuk menentukan keberadaan suatu kebudayaan.

Namun ketika kesadaran atau pola pikir manusia mengalami perubahan, mencairnya batas-batas teritorial identitas, mobilisasi manusia, kecanggihan intelektual yang dimiliki, media komunikasi yang semakin modern, masyarakat menjadi terintegrasi bukan hanya pada level local akan dunia, maka batas-batas identitas suatu kebudayaan itu pun mau tidak mau harus mencair atau memudar. Tradisi sungkeman pada masyarakat jawa sebagai symbol kepatuhan dan ketundukan seorang anak kepada orang tua pun menjadi tergantikan hanya lewat telepon atau alat canggih lainnya.

Bahkan dengan kecanggihan tekhnologi, batas-batas territorial sebuah komunitas, kelompok, terasa tak berarti. Orang Indonesia dalam waktu yang sama dapat berkomunikasi, berinteraksi dengan manusia luar yang tanpa di sadarinya transfer budaya pun saling berpindah. Manusia pun dalam waktu singkat dabat berganti-ganti karakter atau pola pikir layaknya seperti manusia “mutan”. Karena itu, dengan adanya integrasi tatanan global, kebudayaan kemudian tidak lagi terikat pada batas-batas fisik yang kaku yang disebabkan oleh ikatan ruang bersifat deterministic.

Kedua, sebab adanya perubahan budaya juga karena adanya politik ruang dan makna budaya. Makna suatu symbol juga disebabkan oleh struktur kekuasaan yang berubah. Hal ini terjadi karena menurut Irwan Abdullah suatu kebudayaan bagaimanapun tidak dapat dilepaskan begitu saja dari ruang di mana kebudayaan itu dibangun, dipelihara, dan dilestarikan, atau bahkan diubah.

Dengan adanya kepentingan kekuasaan yang berbeda, maka ruang yang menjadi wadah tempat kebudayaan telah mengalami re-definisi baru sejalan dengan tumbuhnya gaya hidup modern yang secara langsung diawali dengan perubahan rancangan ruang. Dahulu pusat-pusat kebudayaan memegang kendali dan suara dalam menentukan karakter suatu ruang social, kemudian selanjutnya dengan berbeda kepetingan, Negara harus mengambil alih peran dengan mendefinisikan ulang ruang agar sesuai dengan kepetingan orientasinya.

Ketika kondisi ini terjadi, maka ruang pun menjadi arena yang diperebutkan, demi melanggengkan sebuah kepentingan kekuasaan atau politik tertentu. Karena itu, makna kebudayaan pun harus tunduk terhadap siapa yang mendefinisikan ulang. Buah dari semua ini, maka sebuah symbol dan makna kebudayaan pun menjadi suatu objek yang kehadirannya dihasilkan oleh suatu proses negosiasi yang melibatkan sejumlah kontestan yang terlibat dengan kepentingan yang berbeda.

Ketiga, ketika hegemoni kepentingan politik kekuasaan terjadi, maka secara bersamaan pemaksaan akan makna ruang dan makna sebuah identitas budaya pun terjadi. Posisi public yang enggan mengikuti keinginan penguasa pun tercerai berai menjadi kelompok-kelompok kecil yang juga beragam di dalam memaknai ruak dan makna identitas budaya.Kontestasi berbagai institusi terjadi secara intensif yang menyebabkan individu menjadi objek dan komoditi dari kepentingan-kepentingan yang berbeda. Mereka yang tersubordinasi pun ikut melakukan kontestasi dalam bentuk pemaknaan dekonstruktif atau pembangkangan terhadap pendefinisian ruang dan makna identitas badaya yang dilakukan oleh hegemoni pemegang kendali kuasa.

Tarik menariknya antara pemegang kendali kuasa dengan mereka yang tersubordinasi pun menjadikan identitas kebudayaan pun mengalami konstruksi dan reproduksi yang berebda yang tentunya syarat akan kepentingan yang berbeda. Symbol-simbol budaya pun pada akhirnya dijadikan sebagai alas an penegasan autentisitas kelompok yang keberadaannya menjadi bagian dari system social global dengan pertentangan nilai yang juga tajam.

Meskipun begitu, Irwan Abdullah menyatakan bahwa tanpa adanya konflik kepentingan, maka sulit dibayangkan akan lahir sebuah kesadaran tentang perubahan yang sistematis menuju kepada suatu system social yang lebih berkembang. Karena itu ia mengatakan bahwa memahami kebudayaan harus dimulai dengan mendefinisikan ulang kebudayaan itu sendiri, bukan sebagai kebudayaan generic (yang merupakan pedoman yang diturunkan secara turun temurun), tetapi haruslah dijadikan sebagai kebudayaan diferensial (yang dinegosiasikan dalam keseluruhan interaksi social). Kebudayaan bukanlah suatu warisan yang secara turun temurun dibagi bersama atau dipraktikkan secara kolektif, tetapi menjadi kebudayaan yang lebih bersifat situasional yang keberadaannya tergantung pada karakter kekuasaan dan hubungan hubungan yang berubah dari waktu ke waktu. Usaha merajut kebudayaan telah berlangsung dalam suatu ruang yang penuh dengan kepentingan para pihak yang turut mengambil bagian dalam proses tersebut.

Reproduksi Bahasa Nusantara

Perkembangan bahasa nusantara memiliki 3 bentuk :

  1. Perkembangan yang disebabkan oleh interaksi antar bahasa daerah itu sendiri yang diakibatkan oleh pertemuan langsung dua daerah.
  2. Perkembangan bahasa nusantara yang disebabkan oleh interaksi bahasa daerah dengan bahasa nasional, terutama terjadi intensif sejak awal 1970an sejalan dengan proses formasi negara yang ditegaskan pemerintah orde baru.
  3. Perkembangan bahasa nusantara yang disebabkan oleh pertemuan bahasa ini dengan berbagai proses globalisasi, terutama terjadi sejak tahun 1980an dan secara intensif berlangsung sejak 1990an.

Ketiga masalah perkembangan tersebut menjadi dasar dalam melihat posisi bahasa daerah dewasa ini, khususnya dalam kehidupan sehari-hari. Ada beberapa fakta penting dalam perkembangan bahasa :

  1. Fakta tentang berkurangnya jumlah penutur bahasa nusantara. Hanya ada kelompok tertentu yang masih bisa berbahasa daerah, terutama kalangan tua, sementara anak-anak muda tidak lagi dapat berbahasa daerah dengan baik
  2. Fakta berkurangnya penggunaan sehari-hari bahsa nusantara. Faktor berkurangnya pemakaian sehari-hari selain disebabkan oleh kelompok yang menguasai tidak merata atau berkurang, juga disebabkan oleh berbagai bidang kehidupan ditata melalui bahasa nasional yang kemudian memberi ruang yang sangat terbatas bagi bahasa daerah.
  3. Fakta tentang gagalnya bahasa daerah merespon kebutuhan komunikasi global yang ditandai dengan masuknya “bahasa teknologi” melalui teknologi produksi sejak tahun 1970 hingga teknologi media pada tahun 1990an.

Lokalisasi budaya bahasa

Bahasa mengalami proses stylization yang mana sentuhan gaya dalam bahasa jauh lebih dominan dibandingkan aturan-aturan normatif dalam penggunaann bahasa. Dalam konteks ini bahasa ditempatkan sebagai asesoris pemanis dalam komunikasi yang bersifat umumnyadengan menggunakan nasional.

Proses privatisasi bahasa nusantara yang tampak dalam menggunakan bahasadengan cara yang spesifik yang berlangsung pada kelompok tertentu. Bahasa daerah telah ditempatkan sebagai bahasa yang khas kemudian diambil untuk membangun kembali batas-batas yang runtuh pada saat bahasa indonesia mendominasi.

Proses melemahnya fungsi kontrol bahasa kreadibilitas bahasa yang berkurang. Pada saat bahasa daerah tidak lagi mampu memberi nama fenomena sosial maka ia tidak layak dipakai dan kreadibiliotasnya pada saat bahasa tidak lagi efektif untuk komunnikasi antar orang secara luaskarena efektifitasnya yang terbatas pada kelompok dan kelas tertentu.

Ketiga kecenderungan ini memperlihatkan proses lokalisasi bahasa nusantara secara meluas yang merupakan proses peminggiran bahasa dari suatu wacanadominan akibat pembentukan hegemoni bahasa Indonesia.

Reproduksi lokalitas bahas daerah

Proses transformasi keluarga Indonesia secara meluas dari karakter

Yang relatif “ tradisional” ke suatu karakter modern dengan gaya hidup dan ukuran nilai baru. Hubungan-hubungan sosial antar orang dalam keluarga modern bersifat lebih terbuka dan dialigis sehingga variasi tata nili dan ukuran dapat dinegosiasikan antar anggota keluarga.

Proses perubahan tata nilai dalam masyarakat yang tampak dari konflik-konflik sosial akibat relativitas nilai. Tingkat keabsahan suatu perilaku menjadi sangat relatif dan dapat dinegosiasikan baik didalam kelompok maupun diluar kelompok, sehingga ciri lokal,seperti bahasa daerah nusantara ini, bukan lagi bahasa satu-satunya akibat banyak bahasa alternatif yang dipakai.

Proses melemahnya peran institusi kebudayaan yang secara ideal berperan dalam pembentukan, pengembangan dan pelestarian nilai dan praktik sosial.

Bahasa Nusantara pada Millenium III

Arus Globalisasi membawa memiliki dampak langsung terhadap bahasa daerah, yaitu, pertama, Globalisasi telah meredifinisi batas-batas bahasa secara secara lebih luas dimana hubungan antar bahasa  satu dengan bahasa lain menjadi lebih terbuka. Kedua, sifat ekspansif globalisasi telah menyebabakan subordinasi bahasa daerah semakin kuat.ketiga, arus globalisasi menyebabkan hilangnya saluran enkulturasi nilai dan norma-norma daerah. Kebudayaan daerah dalam hal ini tidak lagi menjadi acuan dalam sikap dan praktik sosial.

Keberadaan bahasa saat daerah perlu dipahami lebih dalam, agar dapat digunakan secara lebih tepat. Pertama, bahasa nusantara harus diperlakukan sebagai suatu kesatuan yang memiliki kaitan kosmologis satu dengan yang lain. Kedua, perlu dipikirkan pengembangan kurikulum yang lebih sesuai agar mampu mempengaruhi cara pikir dan bertingkah laku. Ketiga, sosialisasi bahasa daerah secara lebih ekspansif dengan memperhatikan kelompok target dan media penyampaian untuk itu, media menyampaiakan harus disesuaikan dengan karakter target. Terutama dengan simbol yang dipahami melalui saluran yang biasa diakses oleh kelompok tersebut.

Kesimpulan

Reproduksi kebudayaan merupakan proses penegasan identitas budaya yang dilakukan oleh pendatang , yang dalam hal ini menegaskan keberadaan kebudayaan asalnya. Proses reproduksi kebudayaan merupakan proses aktif yang menegaskan keberadaannya dalam kehidupan sosial sehingga mengharuskan adanya adapatasi bagi kelompok yang memiliki latar belakang kebudayaan yang berbeda. Proses semacam ini merupakan proses sosial budaya yang penting karena menyangkut dua hal. Pertama, tataran sosial akan terlihat proses dominasi dan subordinasi budaya terjadi secara dinamis yang memungkinkan kita menjelaskan dinamika kebudayaan secara mendalam. Kedua, pada tataran individual akan dapat diamati proses resistensi di dalam reproduksi identitas kultural sekelompok orang di dalam konteks sosial budaya tertentu. Proses adaptasi ini berkaitan dengan dua aspek: ekspresi kebudayaan dan pemberian makna tindakan-tindakan individual.

Dalam pembentukan ruang simbolik baru, hal yang mencolok terjadi dalam kecenderungan ini adalah tumbuhnya consumer culutre di kota-kota yang merupakan proses dari ekspansi pasar. Dasar materi yang tampak dalam prosesmkonsumsi penduduk kota menunjukkan satu usaha aktif penduduk dalam membangun identitas pribadi. Dalam peranan media, Media merupakan saluran yang berpengaruh dalam distribusi kebudayaan global yang secara langsung mempengaruhi gaya hidup. Iklan cenderung untuk membentuk pasar baru dan mendidik kaum muda untuk menjadi konsumen. Hampir tidak ada agen yang cukup berkuasa untuk mengendalikan iklan. Lembaga non pemerintah, termasuk lembaga agama, tidak terikat dalam proses sosial ini meskipun sangat berpengaruh dalam proses peradaban.

memahami kebudayaan harus dimulai dengan mendefinisikan ulang kebudayaan itu sendiri, bukan sebagai kebudayaan generic (yang merupakan pedoman yang diturunkan secara turun temurun), tetapi haruslah dijadikan sebagai kebudayaan diferensial (yang dinegosiasikan dalam keseluruhan interaksi social). Kebudayaan bukanlah suatu warisan yang secara turun temurun dibagi bersama atau dipraktikkan secara kolektif, tetapi menjadi kebudayaan yang lebih bersifat situasional yang keberadaannya tergantung pada karakter kekuasaan dan hubungan hubungan yang berubah dari waktu ke waktu. Usaha merajut kebudayaan telah berlangsung dalam suatu ruang yang penuh dengan kepentingan para pihak yang turut mengambil bagian dalam proses tersebut.


[2] Dr. Irwan Abdullah.2010. Konstruksi dan Reproduksi Kebudayaan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offset

[4] http://besantrop.blogspot.com/2012/03/konstruksi-dan-reproduksi-kebudayaan_28.html diakses pada 27 Februari 2013

disusun oleh: Anichlatur Rohmah, Deta Sofia, Bryan, Patrecia Dyah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s