Kesadaran Budaya

Budaya adalah sebuah sistem yang mempunyai koherensi. Bentuk-bentuk simbolis yang berupa kata, benda, laku, mite, sastra, lukisan, nyanyian, musik, kepercayaan mempunyai kaitan erat dengan konsep-konsep epistemologis dari sistem pengetahuan masyarakatnya. Sistem simbol dan epistemologi juga tidak terpisahkan dari sistem sosial, organisasi kenegaraan, dan seluruh perilaku sosial.

Melalui pengertian kebudayaan, kita ketahui bahwa Indonesia merupakan negara yang memiliki beraneka ragam kebudayaan yang ada. Adanya keberagaman tersebut terkadang memunculkan sikap etnosentrisme yang yang berlebihan terhadap kebudayaannya. Adanya sikap etnosentisme akan dengan mudah  menimbulkan terjadinya suatu konflik di tengah-tengah masyarakat.  Untuk mencegah terjadinya sebuah konflik yang ada perlu adanya kesadaran masyarakat di tengah-tengah kehidupan yang memiliki banyak perbedaan.

Kesadaran Dan Budaya

Secara harfiah kata “kesadaran” berasal dari kata sadar, yang berarti insyaf, merasa tahu dan mengerti. Jadi kesadaran adalah keinsyafan atau merasa mengerti atau memahami segala sesuatu. Hal tersebut sebagimana dikemukakan A.W Widjaja (1984:46) yang menyatakan bahwa “kita sadar jika kita tahu,  mengerti, insyaf, dan yakin tentang kondisi tertentu”. Dengan demikian kesadaran adalah keinsyafan , merasa mengerti atau memahami sesuatu.

Sedangkan dalam istilah psikologi, kesadaran didefinisikan sebagai tingkat kesiagaan individu terhadap rangsangan eksternal dan internal, dengan kata lain kesiagaan terhadap persitiwa-peristiwa lingkungan, suasana tubuh, memori dan pikiran. Berdasarkan definisi itu, dapat diketahui bahwa kunci penting kesadaran terletak pada kesiagaan dan stimulus.

Selanjutnya dalam kaitannya dengan segi mental, Kesadaran diartikan sebagai proses penghayatan atau pengetahuan yang penuh dari individu terkait dirinya sendiri dan lingkungannya yang memerlukan suatu persepsi dari dalam diri dan persepsi dari luar (lingkungan).

Berdasarkan pendapat-pendapat diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa kesadaran adalah suatu proses kesiapan diri untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu, menanggapi hal tertentu dengan didasari atas pengertian, pemahaman, penghayatan, dan pertimbangan-pertimbangan nalar dan moral dengan disertai kebebasan sehingga ia dapat  mempertangungjawabkannya secara sadar.

Pemakaian sebagian besar masyarakat sehari-hari, arti kebudayaan seringkali terbatas pada sesuatu yang indah-indah seperti misalnya candi, tarian, seni rupa, seni suara, sastra, dan filsafat.

Menurut Koentjoroningrat (1986), kebudayaan dibagi ke dalam tiga sistem, pertama sistem budaya yang lazim disebut adat-istiadat, kedua sistem sosial di mana merupakan suatu rangkaian tindakan yang berpola dari manusia, ketiga, sistem teknologi sebagai modal peralatan manusia untuk menyambung keterbatasan jasmaniahnya.

Ki Hajar Dewantara, menyatakan bahwa kebudayaan adalah buah dari manusia, yang merupakan hasil perjuangan manusia terhadap dua pengaruh kuat, alam dan jaman (kodrat dan masyarakat) yang merupakan bukti kejayaan hidup manusia untuk mengatasi berbagai rintangan dan kesukaran di alam hidup dan penghidupannya guna mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang pada lahirnya besifat tertib dan damai.

Berdasarkan konteks budaya, ragam kesenian terjadi disebabkan adanya sejarah dari zaman ke zaman. Jenis-jenis kesenian tertentu mempunyai kelompok pendukung yang memiliki fungsi berbeda. Adanya perubahan fungsi dapat menimbulkan perubahan yang hasil-hasil seninya disebabkan oleh dinamika masyarakat, kreativitas, dan pola tingkah laku dalam konteks kemasyarakatan.

Kebudayaan menurut ilmu antropologi pada hakikatnya adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik dari manusia dengan belajar (Koentjaraningrat, 1996). Dengan demikian dapat dikatakan bahwa hampir semua tindakan manusia adalah kebudayaan, karena hanya sebagian kecil dari tindakan manusia yang tidak dibiasakan dengan belajar seperi naluri, refleks, atau tindakan yang dilakukan akibat sesuatu proses fisiologis. Bahkan beberapa tindakan yang didasari atas naluri (makan, minum, dan berjalan) sudah dapat banyak dikembangakan manusia sehingga menjadi suatu tindakan yang berkebudayaan.

Menurut Koentjaraningrat bahwa setiap kebudayaan memiliki wujud dan unsur kebudayaan. Menurutnya kebudayaan itu terdiri dari tiga wujud yaitu :

  1. Wujud sebagai suatu kompleks gagasan, konsep, dan pikiran manusia, atau sistem budaya.
  2.  Wujud sebagai kompleks aktivitas atau system sosial.
  3.  Wujud sebagai benda atau kebudayaan fisik.

Menurut C. Kluckhohn dinyatakan bahwa setiap kebudayaan memiliki tujuh unsur kebudayaan universal, yaitu :

  1. Sistem religi dan upacara keagamaan merupakan produk manusia sebagai homo religius.
  2. Sistem organisasi kemasyarakatan merupakan produk dari manusia sebagai homo socius.
  3. Sistem pengetahuan merupakan produk manusia sebagai homo sapiens.
  4. Sistem mata pencaharian hidup yang merupakan produk dari manusia sebagai homo economicus.
  5. Sistem teknologi dan perlengkapan hidup manusia merupakan produk manusia sebagai homo faber.
  6. Bahasa merupakan produk manusia sebagai homo languens.
  7. Kesenian merupakan hasil dari manusia dalam keberadaannya sebagai homo esteticus.

Kebudayaan juga mengalami suatu perubahan, hal ini secara umum dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal. Proses perubahan kebudayaan dapat terjadi secara evolusi dan revolusi. Dalam perubahan kebudayaan tersebut diatas tidak jarang terjadi cultural lag, yaitu suatu keadaan masyarakat yang mengalami kesenjangan antara budaya material dengan budaya non material. Hal ini misalnya dapat dilihat dengan semakin jauhnya jarak antara kebudayaan ideal dengan kebudayaan real. Kesenjangan budaya yang berlarut-larut dapat menimbulkan berbagai masalah sosial atau kerawanan sosial, perilaku menyimpang, munculnya subculture dalam masyarakat (Horton, dan Hunt, 1991).

Sehubungan dengan hal itulah maka terus diupayakan adanya berbagai system pengendalian sosial, dengan nuansa sosiokultural atau kearifan local masyarakat setempat. Baik yang bersifat formal maupun nonformal, skala dan niskala (Mudana,2000). Hal itu terefleksikan dalam berbagai model manajemen konflik. Sehingga tujuan kehidupan masyarakat dapat diwujudkan.

Pemahaman Budaya

Kebudayaan adalah hal yang unik dan sangat sulit dijelaskan. Kebudayaan suatu masyarakat juga hanya terbatas pada masyarkat yang menggunakannya. Maksudnya adalah disetiap daerah meskipun itu hanya berbeda kabupaten ataupun kecamatan kebudayan sudah berbeda antar satu dengan yang lainnya. Budaya tidak dapat lepas dari masyarkat karena meraka lah yang menciptakan dan yang menggunkannya. Banyak sekali kini budaya yang asing yang telah diserap atau digunakan untuk memperkaya kebudayan atau sering disebut akulturasi.  Tetapi perlu dipahami pula bahawa kebudayaan tidak semua dapat diakultirasikan, yang selama ini ada dan biasanya dengan mudah dapat diakulturasikan akan adalah hasil kebudayaan seperti makanan, pakaian, model rambut, musik, tarian dan masih banyak lainnya. Itu semua dilihat dari hasil kebudayaan yang sekiranya dapat diterima oleh masyarakat luas.

Satu hal lagi yang perlu dipahami bahwa nilai-nilai kebudayaan dalam suatu masyarkat tidak dapat diganti dengan nilai-nilai budaya yang lain dalam waktu yang singkat. Ini disebabkan bahwa kebudayaan itu akan tetap dipakai dan dipertahankan oleh masyarkat yang mematuhinya atau anggota masyarakat.

Konsep Kesadaran Budaya

Kesadaran budaya merupakan sikap dimana seseorang menghargai, memahami, dan mengerti akan adanya perbedaan-perbedaan yang ada dalam budaya tersebut. Kesadaran budaya ini tentu menjadi suatu hal yang teramat penting untuk kita benar-benar mengerti dan untuk kita pahami terkait dengan beragamnya kebudayaan yang ada di tiap masyarakat di sekitar kita. Hal ini karena banyaknya konflik yang terjadi akibat seseorang atau kelompok masyarakat yang tidak mengerti akan beragamnya dan begitu banyaknya masyarakat lain yang juga memiliki kebudayaan mereka sendiri. Mereka terkadang lupa bahwa kebudayaan itu terbentuk sesuai dengan corak masyarakat itu sendiri. Akan tetapi, mereka terkadang malah cenderung memperlakukan sama pada setiap bentuk kebudayaan. Hal inilah yang sering kali memicu munculnya kesalah pahaman lalu berkembang menjadi konflik antar etnis.

Wunderle (dalam Kertamuda) menyebutkan bahwa terdapat beberapa tingkatan kesadaran budaya, yaitu:

  1. Data dan information. Data merupakan tingkat terendah dari tingkatan informasi secara kognitif. Data terdiri dari signal-signal atau tanda-tanda yang tidak melalui proses komunikasi antara setiap kode-kode yang terdapat dalam sistem, atau rasa yang berasal dari lingkungan yang mendeteksi tentang manusia. Dalam tingkat ini penting untuk memiliki data dan informasi maka hal tersebut dapat membantu kelancaran proses komunikasi.
  2. Culture consideration. Setelah memiliki data dan inormasi yang jelas tentang suatu budaya maka kita akan dapat memperoleh pemahaman terhadapkan budaya dan faktor apa saja yang menjadi nilai-nilai dari budaya tersebut. Hal ini akan memberikan pertimbangan tentang konsep-konsep yang dimiliki oleh suatu budaya secara umum dan dapat memaknai arti dari culture code yang ada. Pertimbangan budaya ini akan membantu kita untuk memperkuat proses komunikasi dan interaksi yang akan terjadi.
  3. Cultural knowledge. Informasi dan pertimbangan yang telah dimiliki memang tidak mudah untuk dapat diterapkan dalam pemahaman suatu budaya. Namun, pentingnya pengetahuan budaya merupakan faktor penting bagi seseorang untuk menghadapi situasi yang akan dihadapinya. Pengetahuan budaya tersebut tidak hanya pengetahuan tentang budaya orang lain namun juga penting untuk mengetahui budayanya sendiri. Oleh karena itu, pengetahuan terhadap budaya dapat dilakukan melalui pelatihan-pelatihan khusus. Tujuannya adalah untuk membuka pemahaman terhadap sejarah suatu budaya. Ini termasuk pada isu-isu utama budaya seperti kelompok, pemimpin, dinamika, keutamaan budaya dan keterampilan bahasa agar dapat memahami budaya tertentu.
  4. Cultural competence. Tingkat tertinggi dari kesadaran budaya adalah kompetensi  budaya. Kompetensi budaya berfungsi untuk dapat menentukan dan mengambil suatu keputusan dan kecerdasan budaya. Kompetensi budaya merupakan pemahaman terhadap kelenturan budaya. Hal ini penting karena dengan kecerdasan budaya yang memfokuskan pemahaman pada perencanaan dan pengambilan keputusan pada suatu situasi tertentu. Implikasi dari kompetensi budaya adalah pemahaman secara intensif terhadap tertentu.

Analisa Fenomena Sosial

Menyadari dinamika budaya adalah tugas yang sulit, karena budaya tidak sadar untuk kita, dalam hal ini kitalah yang seharusnya sadar akan budaya itu sendiri. Jangan sampai kita mengabaikan yang jelas-jelas ada di depan mata kita. Karena ketika kita dilahirkan, kita telah belajar untuk melihat dan melakukan hal-hal di alam bawah sadar. Pengalaman, nilai-nilai, dan latar belakang budaya membuat kita melihat dan melakukan hal-hal dengan cara tertentu. Terkadang kita harus melangkah keluar dari batas-batas budaya dalam rangka mewujudkan dampak bahwa budaya yang telah keluar dari kebiasaan kita.

Proyeksi kesamaan bisa menimbulkan salah tafsir juga.  Ketika kita berasumsi bahwa orang tersebut mirip dengan kita, kita dapat melakukan hal yang serupa, padahal belum tentu demikian. Jika kita dapat menempatkan persamaan namun sebenarnya persamaan itu tidak ada, hal ini akan lebih aman untuk mengasumsikan perbedaan sampai bukti akan persamaan itu terbukti.

Maju mundur atau pasang surutnya kebudayaan (culture) sepanjang sejarah kemanusiaan secara mendasar ditentukan oleh bagaimana kebudayaan itu dijadikan sebagai kerangka acuan oleh sebuah masyarakat pendukung kebudayaan tersebut. Akan tetapi melihat realita sekarang ini dengan banyaknya kebudayaan asing yang masuk kenegeri ini, kebudayaan lokal mulai tergeser oleh kebudayaan pendatang.

Berikut merupakan cara-cara yang dapat dijadikan sebagai alternatif dalam menumbuhkan kesadaran budaya bagi masyarakat:

  1. Penanaman sikap multikulturalisme secara dini. Penanaman sikap toleransi terhadap beragam budaya hendaknya dilakukan sejak dini ini dimaksudkan untuk menciptakan kesiapan mental seseorang dalam menyikapi perbedaan yang ada. Dengan bekal kesiapan mental ini, seseorang tidak akan menganggap remeh budaya orang lain. Ia akan lebih memahami pentingnya mengharai dan menghormati kebudayaan yang dimiliki orang lain, sehingga integrasi sosial dapat tercapai dengan baik.
  2. Sosialisasi budaya melalui lembaga pendidikan. Kebijakan budaya lokal untuk dimasukan ke dalam kurikulum pendidikan merupakan salah satu cara yang kritis untuk mengatasi degradasi budaya pada generasi muda. Sebagai contoh seni bahasa, tari dan seni musik telah dijadikan sebagai muatan lokal yang harus ditempuh oleh para peserta didik di sekolah. Tindakan ini secara langsung memberikan bimbingan kepada para siswa bahwa kebudayaan yang kita miliki sudah selayaknya kita lindungi. Kebudayaan tersebutlah yang menjadi aset kekayaan kita.
  3. Penyelenggaraan beragam budaya sebagai upaya pelestarian budaya. Penyelenggaraan seni tari atau seni musik dalam pertunjukan-pertunjukan merupakan salah satu cara yang bijak dalam usaha mengingatkan kembali kepada kita semua bahwa kitalah yang seharusnya senantiasa melestarikan kebudayaan yang kita miliki. Usaha ini sedikit banyak kembali mengingatkan kita semua akan pentingnya pelestarian budaya. Pertunjukan ini dapat ditemui dalam agenda hajatan masyarakat yang sering menggunakan pertunjukan ini sebagai upacara perayaan hajatnya. Seni budaya yang digunakan meliputi kebudayaan yang tradisional maupun modern. Bahan tidak menutup kemunginan pula perpaduan diantara keduanya.
  4. Mencintai dan menjaga budaya yang dimiliki. Mencintai dan menjaga kelestarian budaya sangat penting dalam hal ini. Tanpa rasa cinta dan peduli terhadap kebudayaan mustahil kita dapat menjaga eksistensi budaya yang kita miliki.

Daftar Pustaka

https://www.google.com/search?q=pengertian+kebudayaan&ie=utf-8&oe=utf-8&aq=t&rls=org.mozilla:id:official&client=firefox-a. Diunduh pada hari rabu tanggal 20 februari 2013, pukul 10.06 WIB.

https://www.google.com/search?q=kesadran&ie=utf-8&oe=utf-8&aq=t&rls=org.mozilla:id:official&client=firefox-a. Dinudh pada hari rabu 20 februari 2013, pukul 09.23 WIB.

Sosiologibudaya.wordpress.com. diunduh pada hari selasa 19 februari 2013, pukul 19.17 WIB.

Kuntowijoyo, 2006, Budaya dan Masyarakat, Yogyakarta: Tiara Wacana.

Disusun oleh:

Ririn, Desi, Dwi Ajeng, Gilang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s