Subculture2

Dalam kehidupan sosial, sering kali apa yang ada dan yang berlaku di masyarakat bertolak belakang dengan apa yang ada pada diri masing-masing orang.a Setiap orang yang merasakan hal tersebut selalu menginginkan sebuah arena untuk mengaktualisasikan diri meskipun hal tersebut bertentangan dengan apa yang dimiliki atau dipegang atau dipercaya oleh masyarakat luas.

Bentuk aktualisasi diri yang bertolak belakang tersebut yang akhirnya disebut subkultur dimana sesuatu yang dilakukan oleh seseorang berbeda dengan yang ada pada umumnya dalam kehidupan sosial masyarakat. Subkultur pada awalnya merupakan sebuah gerakan yang diakibatkan oleh kekecewaan terhadap keadaan struktur yang ada secara umum. Masyarakat yang termarjinalkan khususnya dalam bidang ekonomi akibat kapitalisme menciptakan subkultur sebagai sebuah perlawanan terhadap dominasi kaum kapitalis terhadap mereka.

Secara sosiologis, sebuah subkultur adalah sekelompok orang yang memiliki perilaku dan kepercayaan yang berbeda dengan kebudayaan induk mereka. Subkultur dapat terjadi karena perbedaan usia anggotanya, ras, etnisitas, kelas sosial, dan atau gender, dan dapat pula terjadi karena perbedaan aesthetik, religi, politik, dan seksual; atau kombinasi dari faktor-faktor tersebut. Anggota dari suatu subkultur biasanya menunjukan keanggotaan mereka dengan gaya hidup atau simbol-simbol tertentu. Karenanya, studi subkultur seringkali memasukan studi tentang simbolisme (pakaian, musik dan perilaku anggota sub kebudayaan) dan bagaimana simbol tersebut diinterpretasikan oleh kebudayaan induknya dalam pembelajarannya.

Secara harfiah, subkultur terdiri dari dua kata. Sub yang berarti bagian, sebagian dan kultur kebiasaan dan pembiasaan. Tapi secara konseptual, subkultur adalah sebuah gerakan atau kegiatan atau kelakuan (kolektif) atau bagian dari kultur yang besar. Yang biasanya digunakan sebagai bentuk perlawanan akan kultur mainstream tersebut. Bisa berupa perlawanan akan apa saja; agama, negara, institusi, musik, gaya hidup dan segala yang dianggap mainstream. Secara kasar itu bisa diartikan juga sebagai ‘budaya yang menyimpang’.

Menurut Horton, pengertian lain dari awalan “sub” adalah lapisan bawah atau bawah tanah. Subkultur dipandang sebagai ruang bagi budaya menyimpang untuk mengasosiasikan ulang posisi mereka atau untuk meraih tempat bagi dirinya sendiri. Sehingga dikebanyakan teori subkultur, pertanyaan tentang perlawanan terhadap budaya dominan semakin mengemuka. Ini pada awalnya dipahami berada didalam cultural studies melalui kategori kelas namun kemudian meluas dan meliputi pertanyaan tentang gender, ras, seksualitas, dan lain-lain. Pengertian nilai-nilai bawah tanah, nilai-nilai penyimpangan dan kelas, diserap ke dalam cultur stadies melalui keterlibatan dengan sosiologi “penyimpangan” yang berkembang di Amerika. Secara khusus, Mazhab Chicago  mengeksplorasi “penyimpangan remaja” sebagai serangkaian perilaku kolektif yang dikelola di dalam dan melalui nilai kelas subkultur. Perilaku anak muda yang mengganggu kepentingan umum dipahami bukan sebagai patologi individual, atau sebagai akibat dari “anak muda” yang tak terbedakan, namun sebagi solusi praktis kolektif terhadap masalah kelas yang muncul secara struktural. Dalam konteks ini, berbagai skenario diajukan terkait dengan karakter “penyimpangan” yang diantaranya adalah :

  1. Suatu penolakan dari inversi nilai-nilai kerja, kesuksesan dan uang pada kelas menengah yang ditetapkan oleh orang-orang usia muda dari kelas pekerja untuk mengatasi berbagai kecacatan dalam konteks tersebut (Cohen : 1955)
  2. Penetapan dan penekanan pada nilai-nilai bawah tanah dari kelas pekerja, khususnya niali-nilai waktu luang, hanyalah penyimpangan dari perspektif pengendali kelas sosial kelas menengah (Matza dan Sykes, 1961; Miller, 1958)
  3. Usaha orang-orang muda kelas pekerja untuk menetapkan nilai-nilai kesuksesan, kekayaan dan kekuasaan (Merton, 1938) dan atau nilai-nilai hiburan dan hedonisme (Cloward dan Olin, 1960) melalui jalur alternatif yang ada yang disepakati secara sosial terhalangi oleh struktur kelas.

Subkultur memunculkan suatu upaya untuk mengatasi  masalah-masalah yang dialami secara kolektif yang muncul dari kontradiksi berbagai struktur sosial. Ia membangun suatu bentuk identitas kolektif dimana identitas individu bisa diperoleh diluar identitas yang melekat pada kelas, pendidikan dan pekerjaan. (Brake, 1985 : ix).

Brake kemudian membicarakan lima fungsi yang dapat dimainkan subkultur bagi para anggotanya, yaitu :

  1. Menyediakan suatu solusi ajaib atas berbagai masalah sosio-ekonomi dan struktural.
  2. Menawarkan suatu bentuk identitas kolektif yang berbeda dari sekolah dan kerja.
  3. Memperoleh suatu ruang bagi pengalaman dan gambaran alternatif realitas sosial.
  4. Menyediakan berbagai aktivitas hiburan bermakna yang bertentangan dengan sekolah dan kerja.
  5. Melengkapi solusi dan dilema identitas eksistensial.

Subkultur merupakan sebuah gerakan yang dilakukan oleh kaum marjinal terhadap budaya-budaya kaum dominan. Teori mengenai subkultur ini dapat kita lacak dari kajian sosiologi maupun budaya. Contohnya, Ibnu Khaldun (Bapak Sosiologi) menyatakan bahwa sejarah peradaban manusia adalah pertarungan tanpa henti antara pusat dan pinggiran. Biasanya, kaum-kaum pinggiran itu meliputi kelas pekerja atau kaum miskin, sedangkan kaum dominan diwakili oleh kelompok menengah dan kelompok atas.

Di Inggris misalnya, pada abad ke 19 orang-orang dilarang mengenakan jaket saat mereka masuk ke dalam mall. Larangan ini diberlakukan karena jaket dianggap sebagai simbol kelas pekerja yang tidak layak masuk ke mall karena status sosial serta ekonomi mereka yang lemah. Sudah tentu larangan ini mengandung bias strata sosial yang sengaja dibuat oleh kaum-kaum dominan. Tidak jauh berbeda dengan di Indonesia, Anda akan diusir satpam ketika masuk mall karena menggunakan sandal jepit. Barangkali, sandal jepit dianggap sebagai barang yang mewakili kelas rendahan di Indonesia.

Dengan adanya diskriminasi yang diwakili oleh jenis pakaian, akhirnya kelompok-kelompok kritis sengaja mengenakan pakaian-pakaian tersebut sebagai simbol perlawanan. Sepatu docmart maupun celana jeans, tidak lain adalah pakaian yang biasa dikenakan oleh pekerja-pekerja kasar di Inggris.

Konsep Subkultur

Konsep subkultur adalah sutau konsep yang terus bergerak yang bersifat konstitutif bagi objek studinya. Ia adalah suatu terminologi klasifikatoris yang mencoba memetakan dunia sosial dalam suatu tindakan representasi. Subkultur tidak hadir sebagai suatu objek autentik melainkan dikemukakan oleh para teoritis subkultur.

Bagi cultur stadies, kebudayaan dalam subkultur mengacu kepada seluruh cara hidup atau peta makna yang menjadikan dunia ini dapat dipahami oleh anggotanya. Kata “sub” mengandung suatu konotasi yang khas dan berbeda dibandingkan dengan masyarakat dominan atau mainstream.

Konsep subkultur merupakan hal yang berdaya mobilitas mengkonstitus obyeknya dari studi. Hal ini merupakan suatu istilah klasifikatori yang mencoba memetakan dunia sosial didalam suatu tindakan terhadap representasi. Keakuratan sub kultur bukan pada sejauh mana mampu berfungsi dalam pemakaiannya. Kata Sub bermakna sebagai istilah dan menunjukan pembedaan dengan jelas arus utama budaya dominan dalam masyarakat. Dengan kata lain, sub kultur dimaksudkan agar bagian masyarakat tertentu mampu memaknai hidup secara baru sehingga dapat menikmati kesadaran menjadi yang lain dalam perbedaan terhadap budaya dominan masyarakat. Chicago School mengidentifikasi bahwa reaksi subkultur lahir bukan sebagai fenomena reaksi individual tetapi reaksi kelompok terhadap problem kelas, the haves and the haves not. Penolakan terjadi pada kaum kelas pekerja terhadap kelompok kelas menengah. Dalam bahasa kategori Charles Wright, kelas dalam struktur kelas masyarakat dibagi 3(tiga) bagian yaitu (kolaborasi pejabat tinggi pemerintahan, pengusaha dan pimpinan militer), Kerah Putih (para eksekutif berupah tinggi), dan Kerah Biru (pekerja biasa).

Dalam model pembagian seperti ini, keadaan kesejahteraan sosial dan ekonomi dinilai sangat tidak adil. Kelompok yang merasa dirugikan, karena kondisi struktur ciptaan sangat berperan menyebabkan kondisi ini, berusaha dengan keterbatasan yang ada tetap ingin dapat menikmati hidup dengan cara melakukan redefinisi budaya atau menjadi subkultur agar terasa lebih nyaman.

Apalagi di Indonesia, problem diatas terasa lebih menyolok. Perbedaan kaya yang minoritas dan miskin hingga yang miskin mayoritas. Hal ini disebabkan oleh rendahnya nasionalisme, terutama para pemimpin/kaum pejabat yang mengakibatkan terjadinya politik yang kurang sehat, kebobrokan hukum, tingkat pemberdayaan edukasi bangsa yang lemah, kemelaratan, dan lain sebagainya. Solusi terhadap masalah perbedaan kelas ekonomi sosial yang tidak adil, hingga kini belum dapat mengambil manfaat variabel-variabel kepribadian bangsa, jati diri dan budaya bangsa, karena individu-individu berkepribadian terbelakang, maka terjadilah dominasi konsumsi gaya hidup yang mengimpor dari bangsa-bangsa maju.

Barker, mengidentifikasi tugas penyelamatan yang dapat dilakukan subkultur terdiri 5 (lima) fungsi :

  1. Fungsi solusi magis (mujarab) terhadap problem struktur sosio-ekonomi.
  2. Fungsi menawarkan identitas kolektif yang berbeda dari yang tercipta di sekolah dan tempat kerja.
  3. Fungsi memenangkan ruang bagi pengalaman dan naskah alternative terhadap realitas social.
  4. Fungsi memberikan sejumlah aktivitas waktu luang bermakna, bertolak belakang dari sekolah dan tempat kerja.
  5. Fungsi melengkapi solusi terhadap masalah dilema eksistensial identitas.

Subkultur merupakan sikap terhadap pemaknaan ulang, sedang suatu proses redefinisi tersebut disebut bricolage, dan homology yang merupakan relasi sinkronik yang tercipta antara kelompok partikular terhadap dunia baru mereka yang telah di redefiniskan. Hebdige, menyatakan bahwa penolakan budaya partikular tersebut, bermakna simbolik atau penolakan terhadap ritualitas. Telaah terhadap subkultur, menunjukan bahwa hal ini terjadi karena peta sosial yang tidak berimbang antara kelas pekerja dewasa beserta kaum muda dan anak-anak mereka dengan kelas berkuasa yang mengatur (the rulling class).

Tentu saja kaum muda lebih berani dan progresif dibanding kaum tua mereka yang berasal dari kelas pekerja biasa, maka muncullah kaum muda dengan ritualitas simboliknya. Clarke, berprasangka negatif adanya reduksionisme pada subkultur tersebut. Seperti misalnya gaya hidup Punk pada orang muda yang merupakan reaksi yang didramatisasi atau didramatisir, bukan sikap protes terhadap pengangguran dan kemiskinan. (Barker, C, 2003, hal. 374-409).

Jika kita menganalisa permasalah yang ada dari sudut kajian subkultur diatas, maka kita dapat menarik asumsi bahwasanya para remaja atau individu memandang komunitas motor yang mereka bentuk merupakan penolakan atau lebih pada ketidakpuasan mereka terhadap komunitas motor atau club motor yang telah ada, secara tidak langsung terbentuknya komunitas motor piranha merupakan subkultur atau sebuah gerakan atau kegiatan atau kelakuan (kolektif) atau bagian dari kultur yang besar, yang biasanya digunakan sebagai bentuk perlawanan akan kultur mainstream atau komunitas yang telah ada yang lebih besar. Anggota dari suatu subkultur biasanya menunjukan keanggotaan mereka dengan gaya hidup atau simbol-simbol tertentu. Karenanya, studi subkultur seringkali memasukan studi tentang simbolisme (pakaian, jenis sepeda motor dan perilaku anggota sub kebudayaan) dan bagaimana simbol tersebut diinterpretasikan oleh kebudayaan induknya dalam pembelajarannya

Aplikasi Subkultur Dalam Kehidupan

Geng Motor

Willis berpendapat bahwa geromolan seperda motor, kebisingan pengendara yang selalu melaju mengekspresikan kebudayaan nilai dan identitas geng motor. Soliditas, daya tangkap, kekuatan sepeda motor cocok dengan sifat nyata dan penuh percaya diri dari dunia anak-anak muda anggota geng motor. Sepeda motor menegaskan komitmen para anggotanya oleh terhadap hal-hal yang bersifat fisik, ketangguhan dan kekuatan sehingga kejutan dari akselerasi motor agresifitas dari orang-orang yang tak mengenal rasa takut cocok dan menyimbolkan kekuatan maskulin, eratnya persahabatan kekerasan bahasa, dan gaya interaksi sosial mereka.

Menurut Willis subkultur melakukan berbagai kritik penting dan mengemukakan sejumlah pandangan tentang kapitalisme kontemporer dan kebudayaannya. Cara anak-anak pengendara sepeda motor itu dalam menjinakkan brutalnya teknologi demi mencapai tujuan manusia secara simbolis menunjukkan kepada kita teror teknologi raksasa kapitalisme. Dia mengekspresikan alienasi dan banyaknya kerugian yang diderita pada skala manusia. Karya subkultur yang kreatif , ekspresif, dan simbolis bisa dibaca sebagai bentuk perlawanan.

Pondok Pesantren

Istilah pesantren sebagai subkultur sudah mulai terkenal sejak dekade 1980-an. Istilah ini sejak pertama kali dimunculkan hingga saat ini terus menjadi perdebatan. Lalu apa sebenarnya subkultur itu? Dan apa pula sebenarnya manfaat yang bisa diambil oleh pesantren itu sendiri? Secara teknis, pesantren adalah tempat tinggal santri. Pengertian tersebut menunjukkan ciri pesantren yang paling penting, yaitu sebuah lingkungan pendidikan yang sepenuhnya total. Pesantren mirip dengan akademi militer atau biara dalam hal pengalaman dan kemungkinannya untuk sebuah totalitas. Dibandingkan dengan lingkungan pendidikan parsial yang ditawarkan oleh sistem sekolah umum yang berlaku sebagai struktur pendidikan secara umum, pesantren adalah sebuah kultur yang unik, subkultur masyarakat Indonesia. Setidaknya ada tiga unsur pokok yang menunjukkan pesantren sebagai subkultur yaitu:

  1. Pola kepemimpinannya yang berdiri sendiri dan berada di luar kepemimpinan pemerintahan.
  2. Literatur universal yang telah dipelihara selama berabad-abad.
  3. Sistem nilainya sendiri yang terpisah dari sistem nilai yang dianut oleh masyarakat diluar pesantren.

Berdasarkan ketiga hal tersebut,  setiap pesantren mengembangkan kurikulumnya sendiri dan menetapkan institusi-institusi pendidikannya sendiri dalam rangka meresponi tantangan dari luar. Pola kepemimpinan yang berdiri sendiri itu di bawah kendali kyai. Aspek kepemimpinan ini penting sebab ia menunjukkan bagaimana seorang kyai memelihara hubungan sejawat, baik dengan masyarakat maupun dengan kyai lain. Dalam aspek ini, suatu fakta yang sangat penting muncul, yaitu pemeliharaan tradisi Islam, bahwa ulama-lah pemilik ilmu agama yang istimewa. Peranan ini tidak bisa dilimpahkan kepada kelompok-kelompok lain dalam masyarakat Islam, sebab ada keyakinan bahwa ulama adalah pewaris para nabi. Atau dengan bahasa lain, ulama adalah satu-satunya penafsir sejati dua sumber Islam, yaitu Al-Quran dan Sunnah Rasul. Peran sebagai kekuatan pengabsah bagi ajaran agama ini adalah dasar bagi penularan pengetahuan yang dimiliki oleh kyai dari generasi kegenerasi di dalam pesantren.

Unsur utama kedua yaitu literatur universal yang dipelihara dan diwariskan dari generasi ke generasi berkaitan dengan konsep yang unik tentang kepemimpinan kyai. Kita batauliteratur lama (jika dilihat dari perspektif modern) menciptakan kesinambungan & rsquo; tradisi yang benar dalam memelihara ilmu-ilmu agama sebagaimana yang diwariskan kepada masyarakat Islam oleh imam-imam besar di masalalu. Hanya inilah jalan untuk mempertahankan ukuran-ukuran tertinggi untuk masadepan, danhanyamelaluicaraini pula komunitas Islam bisa memelihara kemurnian ajaran-ajaran agama. Dengan kata lain, pesantren adalah kiblat masyarakat Islam dalam mencari ilmu, dan pada gilirannya, komunitas Islam adalah kiblat bagi masyarakat luas. Unsur utama ketiga adalah sistem nilai kepesantrenan yang unik. Berdasarkan kepatuhan harfiah terhadap ajaran agama dalam menjalani kehidupan nyata, sistem nilai itu tidak dapat dilepaskan dari unsur-unsur utama lainnya yaitu kepemimpinan kyai dan literatur universal. Pembakuan ajaran-ajaran Islam tentang kehidupan sehari-hari bagi kyai dan santri, melegitimasikan dua hal, yaitu kitab-kitab sebagai sumber tata nilai dan kepemimpinan kyai sebagai model dari implementasinya dalam kehidupannyata.

Ketiga unsur utama pesantren itu tampak sedemikian kait mengait dan sulit dipisahkan. Dan itulah yang kemudian memposisikan pesantren sebagai sebuah lembaga pendidikan yang sangat bisa diandalkan. Akan tetapi, berbagai tantangan dari luar pesantren menyebabkan pola masing-masing unsur itu terbuka untuk menerima perubahan perubahan tertentu. Misalnya, sistem nilai itu sekarang harus memasukkan ijazah tertulis yang dikeluarkan pemerintah sebagai bukti kecakapan dan itulah tantangan yang harus dijawab pesantren.

Gaya Punk

Punk merupakan sub-budaya yang lahir di London, Inggris. Pada awalnya, kelompok punk selalu dikacaukan oleh golongan skinhead. Namun, sejak tahun 1980-an, saat punk merajalela di Amerika, golongan punk dan skinhead seolah-olah menyatu, karena mempunyai semangat yang sama. Namun, Punk juga dapat berarti jenis musik atau genre yang lahir di awal tahun 1970-an. Punk juga bisa berarti ideologi hidup yang mencakup aspek sosial dan politik.

Gerakan anak muda yang diawali oleh anak-anak kelas pekerja ini dengan segera merambah Amerika yang mengalami masalah ekonomi dan keuangan yang dipicu oleh kemerosotan moral oleh para tokoh politik yang memicu tingkat pengangguran dan kriminalitas yang tinggi. Punk berusaha menyindir para penguasa dengan caranya sendiri, melalui lagu-lagu dengan musik dan lirik yang sederhana namun kadang-kadang kasar, beat yang cepat dan menghentak.

Banyak yang menyalahartikan punk sebagai glue sniffer dan perusuh karena di Inggris pernah terjadi wabah penggunaan lem berbau tajam untuk mengganti bir yang tak terbeli oleh mereka. Banyak pula yang merusak citra punk karena banyak dari mereka yang berkeliaran di jalanan dan melakukan berbagai tindak kriminal.

Punk juga merupakan sebuah gerakan perlawanan anak muda yang berlandaskan dari keyakinan we can do it ourselves. Penilaian punk dalam melihat suatu masalah dapat dilihat melalui lirik-lirik lagunya yang bercerita tentang masalah politik, lingkungan hidup, ekonomi, ideologi, sosial dan bahkan masalah agama.

Punk lebih terkenal dari hal fashion yang dikenakan dan tingkah laku yang mereka perlihatkan, seperti potongan rambut mohawk ala suku indian, atau dipotong ala feathercut dan diwarnai dengan warna-warna yang terang, sepatu boots, rantai dan spike, jaket kulit, celana jeans ketat dan baju yang lusuh, anti kemapanan, anti sosial, kaum perusuh dan kriminal dari kelas rendah, pemabuk berbahaya sehingga banyak yang mengira bahwa orang yang berpenampilan seperti itu sudah layak untuk disebut sebagai punker.

Berikut adalah analisis makna dari setiap item ikonik dalam fashion punk:

Rambut Mowhak

Gaya rambut yang dibuat berbentuk seperti mendongak keatas ini merupakan adaptasi dari gaya suku Indian kuni yang pada waktu itu bernama Mohican. Dengan posisi yang seperti menunjuk ke atas, dan rambut yang dibuat kaku sehingga tidak mudah layu memiliki makna sebuah perlawanan akan takdir Tuhan YME. Punkers merupakan gambaran kaum tertindas yang tidak terima dengan posisi mereka di masyarakat. Punk menganggap strata mereka adalah “takdir” yang dapat dilawan dan mereka mampu mengatasi takdir itu dengan bermusik.

Jeans Ketat Sobek

Jeans ketat bermakna sebuah himpitan dasyat dari lingkungan terhadap mereka. Sobekan yang biasa terdapat pada bagian lutut dan paha melambangkan sebuah simbol tentang kemerdekaan gerak dan ide para punk.

Rantai

Menyimbolkan sebuah kesatuan yang utuh diantara para komunitas punk. Faktanya, kesatuan punk memang terkenal sangat solid, sering kali mereka terlihat secara bergerombol, berbagi rejeki dan tempat tidur secara bersama, bahkan diantara komunitas punk tidak ada diskriminasi berdasarkan SARA atau secara ekonomi.

Piercing atau tindik

Menyimbolkan kekuasaan atas tubuh, perlawanan terhadap penderitaan/rasa sakit dan mengontrol tubuhnya sendiri.

Eye Shadow

Menyimbolkan cara pandang punk yang suram terhadap sekitarnya. Bagi punk, masa depan terlihat sangat suram dan kurang menjanjikan, seakan-akan mereka siap untuk menjadi kalangan terbawah sampai akhir hidup mereka.

Sepatu Docmart/boots

Sepatu yang biasa dipakai disegala medan ini menyimbolkan bahwa Punkers akan siap menghadapi rintangan apapun termasuk hukum dan kesulitan ekonomi.

Sebagai subkultur, Dick Hebdige (1999:192) memandang punk masa kini tengah menghadapi dua bentuk perubahan yaitu:

Bentuk komoditas

Dalam segi ini, atribut dan seluruh aksesoris yang dipakai oleh subkultur punk telah dimanfaatkan oleh industri sebagai barang dagangan yang didistribusikan kepada konsumen untuk mendapatkan keuntungan. Atribut dan aksesoris punk yang dulu hanya dipakai oleh anak punk sebagai simbol identitas, kini dapat diperoleh dengan mudah di toko-toko jalanan yang menjual aksesoris punk dan dikonsumsi oleh umum. Seperti yang diungkapkan oleh Fox-Genovese dalam Malcolm Barnard (1996:187) “Adopsi gaya punk oleh toko-toko fashion High Street adalah ironi yang menyakitkan”. Barang yang awalnya berfungsi sebagai identitas bagi anak punk, kini telah berubah menjadi barang komoditas yang dimanfaatkan oleh pasar untuk mencari keuntungan.

Bentuk ideologis

Dari segi ideologis punk merupakan ideologi yang mencakup aspek sosial dan politik. Ideologi mereka dahulu sering dikaitkan dengan perilaku-perilaku menyimpang yang dilakukan oleh anak punk. Berbagai perilaku punk yang dianggap menyimpang, telah didokumentasikan dalam media massa sehingga membuat identitas punk dibalik aksesoris yang melekat di tubuhnya dipandang sebagai seorang yang berbahaya dan berandalan.
Punk sebagai subkultur telah membentuk bangunan budaya baru yang berbeda dengan budaya mainstream yang dianut oleh kaum muda sejak awal kemunculan di Inggris hingga perkembangannya sampai sekarang. Nilai-nilai yang menjadi substansi punk sebagai subkultur tetap diyakini oleh anggotanya. Walaupun punk telah berganti generasi, tetapi sebagai sebuah subkultur nilai-nilai dan eksistensi punk masih dipertahankan hingga sekarang.

Kesimpulan

Secara sosiologis, sebuah subkultur adalah sekelompok orang yang memiliki perilaku dan kepercayaan yang berbeda dengan kebudayaan induk mereka. Subkultur dapat terjadi karena perbedaan usia anggotanya, ras, etnisitas, kelas sosial, dan atau gender, dan dapat pula terjadi karena perbedaan aesthetik, religi, politik, dan seksual; atau kombinasi dari faktor-faktor tersebut. Anggota dari suatu subkultur biasanya menunjukan keanggotaan mereka dengan gaya hidup atau simbol-simbol tertentu. Karenanya, studi subkultur seringkali memasukan studi tentang simbolisme (pakaian, musik dan perilaku anggota sub kebudayaan) dan bagaimana simbol tersebut diinterpretasikan oleh kebudayaan induknya dalam pembelajarannya.

Secara harfiah, subkultur terdiri dari dua kata. Sub yang berarti bagian, sebagian dan kultur kebiasaan dan pembiasaan Tapi secara konseptual, subkultur adalah sebuah gerakan atau kegiatan atau kelakuan (kolektif) atau bagian dari kultur yang besar. Yang biasanya digunakan sebagai bentuk perlawanan akan kultur mainstream tersebut. Bisa berupa perlawanan akan apa saja; agama, negara, institusi, musik, gaya hidup dan segala yang dianggap mainstream. Secara kasar itu bisa diartikan juga sebagai ‘budaya yang menyimpang.

Konsep subkultur merupakan hal yang berdaya mobilitas mengkonstitus obyeknya dari studi. Hal ini merupakan suatu istilah klasifikatori yang mencoba memetakan dunia sosial didalam suatu tindakan terhadap representasi. Keakuratan sub kultur bukan pada sejauh mana mampu berfungsi dalam pemakaiannya. Kata Sub bermakna sebagaI istilah dan menunjukan pembedaan dengan jelas arus utama budaya dominan dalam masyarakat. Dengan kata lain, sub kultur dimaksudkan agar bagian masyarakat tertentu mampu memaknai hidup secara baru sehingga dapat menikmati kesadaran menjadi yang lain dalam perbedaan terhadap budaya dominan masyarakat. Chicago School mengidentifikasi bahwa reaksi subkultur lahir bukan sebagai fenomena reaksi individual tetapi reaksi kelompok terhadap problem kelas, the haves and the haves not. Penolakan terjadi pada kaum kelas pekerja terhadap kelompok kelas menengah. Dalam bahasa kategori Charles Wright, kelas dalam struktur kelas masyarakat dibagi 3(tiga) bagian yaitu (kolaborasi pejabat tinggi pemerintahan, pengusaha dan pimpinan militer), Kerah Putih (para eksekutif berupah tinggi), dan Kerah Biru (pekerja biasa).

Beberapa contoh mengenai subkultur adalah pondok pesantren, geng motor, gaya punk, dan lain  sebainya. Dimana contoh-contoh subkultur tersebut merupakan suatu budaya yang diciptakan akibat dari ketidakpuasan.

Referensi

Barker, Chris. 2011. Cultural Studies. Yogyakarta: Kreasi Wacana
Barthes, R. 2007. Membedah Mitos-mitos Budaya Massa: Semiotika atau Sosiologi Tanda, Simbol dan Representasi. Bandung: Jalasutra.
Zoest, Art van. 1993. Semiotika: Tentang Tanda, Cara Kerjanya dan Apa yang Kita Lakukan Dengannya. Jakarta: Yayasan Sumber Agung.
Anonim. 2012. Pondok Pesantren. http://www.pondokpesantren.net/ponpren Powered by Joomla! Generated. Diakses Pada Tanggal 18 April 2012 Pukul 07:37
 
disusun oleh: Santi, Iis Sholiha, Lely, Vinda

2 responses to “Subculture2

  1. Pingback: Subculture | SosiologiBudaya

  2. artikel yang bagus,
    kira kira kaum Greasers dan emo juga termasuk subculture?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s