Subculture

Setiap masyarakat maupun kelompok selalu berusaha agar ciri khasnya dapat terlihat oleh yang lainnya. Hal ini membuat setiap kelompok berusaha untuk menciptakan identitas yang dapat mewakili kelompoknya. Agar terlihat berbeda dengan yang lain maka ada kalanya identitas atau budaya khas kelompok tertentu, dibuat berbeda dengan budaya pada umumnya. Dengan kata lain budaya tersebut keluar dari kebudayaan utama atau yang umum di masyarakatnya.

Budaya yang berbeda tersebut disebut sub culture. Sub culture yang ada di masyarakat ini, ada yang bersifat negatif dan ada pula yang positif. Hanya saja masyarakat cenderung menganggap bahwa yang termasuk sub culture adalah negatif.

Kajian mengenai subkultur telah dipelopori oleh Centre for Contemporary Cultural Studies (CCCG) di Universitas Birmingham pada tahun 1970-an, yang memandang subkultur sebagai suatu budaya perlawanan yang harus diberi tempat.

Secara harfiah, subkultur terdiri dari dua kata. Sub yang berarti bagian atau sebagian dan kultur yang berarti kebiasaan atau pembiasaan. Tapi secara konseptual, subkultur adalah sebuah gerakan atau kegiatan atau kelakuan (kolektif) atau bagian dari kultur yang besar. Yang biasanya digunakan sebagai bentuk perlawanan akan kultur mainstream. Bisa berupa perlawanan akan apa saja; agama, negara, institusi, musik, gaya hidup dan segala yang dianggap mainstream. Secara kasar subkultur bisa diartikan juga sebagai ‘budaya yang menyimpang’. Kebanyakan masyarakat menganggap dan mengidentikkan subkultur dengan suatu kegiatan yang sifatnya negatif. Padahal bila kita memahami makna yang sebenarnya, subkultur tidak selalu merujuk pada hal yang negatif.

Subkultur membentuk suatu bentuk identitas kolektif dimana identitas individu bisa diperoleh diluar identitas yang melekat pada kelas, pendidikan dan pekerjaan

Beberapa ahli juga memberikan pendapat tentang pengertian subkultur, misalnya , Fitrah Hamdani dalam Zaelani Tammaka (2007:164) “Subkultur adalah gejala budaya dalam masyarakat industri maju yang umumnya terbentuk berdasarkan usia dan kelas. Secara simbolis diekspresikan dalam bentuk penciptaan gaya (style) dan bukan hanya merupakan penentangan terhadap hegemoni atau jalan keluar dari suatu ketegangan sosial”.

Fungsi-fungsi

Menurut Brake ada lima fungsi yang bisa di mainkan subkultur bagi para anggotanya diantaranya yaitu :

a. Menyediakan suatu solusi atas berbagai masalah sosio ekonomi dan struktural.

b. Menawarkan suatu bentuk identitas kolektif yang berbeda dari yang ada di sekolah dan lingkungan  kerja.

c. Memperoleh suatu  ruang bagi pengalaman dan gambaran alternatif realitas sosial.

d. Menyediakan berebagai aktifitas hiburan bermakna yang bertentangan dengan di sekolah dan tempat kerja

e. Melengkapi solusi terhadap masalah dilema eksistensial identitas.

Contoh-contoh Sub culture

    1. Punk

Punk adalah subkultur underground yang termasuk aktif dalam aktivitas berdasar pada politik. Gerakan punk banyak terlibat aksi-aksi protes di tingkat lokal, nasional maupun internasional. Punk adalah gerakan yang mengajukan kebebasan sebagai fondasi utama setiap aktivitas. Mereka akan menunjukkan pertentangan terhadap kemapanan sosial yang tidak adil. Gerakan punk memandang kemapanan sebagai bahaya sosial karena berpotensi membatasi kebebasan berpikir, mencegah orang-orang untuk melihat sesuatu yang benar di masyarakat, dan sebaliknya memaksa mereka untuk menuruti kehendak kekuasaan. Oleh karena itu lah punk sejatinya merupakan semangat anti-kemapanan. Gerakan punk bukanlah sekadar ihwal musik dan penampilan, melainkan pola pikir (state of mind).

Pada masa dulu punk menggambarkan subkultur pemuda yang berasal dari kalangan kelas pekerja sebagai tanggapan atas kehadiran komunitas kulit hitam yang cukup besar di Inggris. Hal ini tidak terlepas dari sejarah hidup sosial ekonomi Inggris, identitas rasial di Inggris, politik dan budaya di Inggris. Tatapi terjadi perubahan berdasarkan perkembangannya masa kini, sebgai berikut :

  1. Bentuk komoditas

Dalam bentuk ini, atribut dan seluruh aksesoris yang dipakai oleh subkultur punk telah dimanfaatkan oleh industri sebagai barang komersial yang ingin pmendapatkan keuntungan. Atribut dan aksesoris punk yang dulu hanya dipakai oleh anak punk sebagai simbol identitas, kini dapat diperoleh dengan mudah di toko-toko jalanan yang menjual aksesoris punk dan dikonsumsi oleh umum. Seperti yang diungkapkan oleh Fox-Genovese dalam Malcolm Barnard (1996:187) “Adopsi gaya punk oleh toko-toko fashion High Street adalah ironi yang menyakitkan”. Barang yang awalnya berfungsi sebagai identitas bagi anak punk, kini telah berubah menjadi barang komoditas yang dimanfaatkan oleh pasar untuk mencari keuntungan.

  1. Bentuk ideologis

Dari segi ideologis punk merupakan ideologi yang mencakup aspek sosial dan politik. Ideologi mereka dahulu sering dikaitkan dengan perilaku-perilaku menyimpang yang dilakukan oleh anak punk. Berbagai perilaku punk yang dianggap menyimpang, telah didokumentasikan dalam media massa sehingga membuat identitas punk dibalik aksesoris yang melekat di tubuhnya dipandang berandalan. Punk sebagai subkultur telah membentuk bangunan budaya baru yang berbeda dengan budaya mainstream yang dianut oleh kaum muda sejak awal kemunculan di Inggris hingga perkembangannya sampai sekarang. Nilai-nilai yang menjadi substansi punk sebagai subkultur tetap diyakini oleh anggotanya. Walaupun punk telah berganti generasi, tetapi sebagai sebuah subkultur nilai-nilai dan eksistensi punk masih dipertahankan hingga sekarang.

  1. Geng motor

Berdasarkan pendapat Willis bahwa geromolan sepeda motor, kebisingan pengendara yang selalu melaju mengekspresikan kebudayaan nilai dan identitas geng motor. Soliditas , daya tangkap, kekuatan sepeda motor cocok dengan sifat nyata dan penuh percaya diri dari dunia anak – anak muda anggota geng motor. Sepeda motor menegaskan komitmen para anggotanya oleh terhadap hal – hal yang bersifat fisik , ketangguhan dan kekuatan sehingga kejutan dari akselerasi motor agresifitas dari orang – orang yang tak mengenal rasa takut cocok dan menyimbolkan kekuatan maskulin, eratnya persahabatan kekerasan bahasa, dan gaya interaksi sosial mereka.

Menurut Willis subkultur melakukan berbagai kritik penting dan mengemukakan sejumlah pandangan tentang kapitalisme kontemporer dan kebudayaannya. Cara anak – anak pengendara sepeda motor itu dalam menjinakkan brutalnya teknologi demi mencapai tujuan manusia secara simbolis menunjukkan kepada kita teror teknologi raksasa kapitalisme. Dia mengekspresikan alienasi dan banyaknya kerugian yang diderita pada skala manusia. Karya subkultur yang krteatif , ekspresif, dan simbolis bisa dibaca sebagai bentuk perlawanan. Jadi pada dasarnya adanya geng motor yang merupakan wujud dari pertentangan terhadap mainsterm, tidak semata-mata bersifat negative yaitu tergantung dari visi dan misi masing-masing geng motor yang ada. Karena pada relitasnya banyak pula geng-geng motor yang arif dan bijaksana dalam pelaksanaan komunitasnya.

  1. Kelompok Pesantren

Kelompok pesantren merupakan salah satu dari contoh sub cultur yang bersifat positif. Karena dilihat dari pengertian kelompok yang merupakan kumpulan dari individu yang berkumpul dan menjalankan komunitasnya dengan tujuan besama. Tujuan dari kelompok pesantren yang besiknya adalah bidang keagamaan merupakan hal yang baik dan positif, hal ini dikarenakan setiap agama khususnya islam ( pesantren ) mengajarkan tentang kebaikan. Penyimpangan atau keluarnya kelompok ini dari budaya dominan dilihat dari  kegiatan sehari-hari mereka yang lebih mementingkan kehidupan akhirat. Contohnya saja setiap pagi buta di pesantren-pesantren anak didiknya dibangunkan dan dipaksa untuk sholat malam, menjelang pagi membaca kitab bersama-sama dan dilarang untuk tidur kembali. Kejadian tersebut dilakukan agar anak didik ammpu disiplin dan lebih mementingkan akhirat yang kelak menjadi tujuannya yaitu surga. Disisi lain budaya dominan dari masyarakat sekitar pada waktu tersebut sebagian besar masih tertidur pulas.

Kritik  Atas Teori Sub Kultur

Dalam menanggapi karya Hall, Hebdige, Willis dan lain-lain. Cohen (1980) menyatakan bahwa anak muda di tangan teoritis cultural studies selalu menjadi sesuatu yang melampui dirinya sendiri. Dia berkomentar bahwa konsep anak muda tidak mungkin lagi dikatakan menyimpang hanya karena konsep perlawanan yanng dipakai CCGS terlalu dibesar-besarkan.        Cohen menunjuk satu masalah mendasar karya Hall et al (1976) dan karya Hebdige (1979) dengan menyatakan bahwa perasaan yang mengkhawatirkan disini adalah bahwa kehidupan, diri dan identitas tidak selalu sesuai dengan arti yang seharusnya. Masalahnya adalah bagaimana menghubungkan interpretasi para analisis struktural dengan makna dimiliki banyak subjek yang mengetahui. Intinya, kritik yang ia ajukan adalah bahwa CCGS gagal menjelaskan bagaimana pandangan anggota sebuah sub kultur tentng keterlibatan mereka.

Sementara itu, Sarah Thorntom (1995) mengemukakan sejumlah kritik terhadap teori sub kultur. Dia menyatakan bahwa:

  • Perbedaan budaya anak muda tidak selalu merupakan perlawanan
  • Perbedaan adalah klasifikasi kekuasaan dan perbedaan selera
  • Teori sub kultur terletak pada oposisi biner yang tidak abadi, yaitu mainstream-subkultur, resistensi-penerimaan, dominan-subordinat
  • Budaya anak muda tidak dibentuk di luar dan bertentangan dengan media
  • Budaya anak muda dibentuk didalam dan melalui media
  • Budaya anak muda tidk menyatu namun ditandai dengan perbedaan internal
  • Budaya anak muda tidak menandai politisasi anak muda melainkan estetisasi politik

Simpulan

Subkultur berasal dari dua kata. “Sub” yang berarti konotasi yang khusus dan perbedaan dari kebudayaan dominan atau mainstream, dan kata “kultur” yang bermakna keseluruhan cara hidup yang bisa dimengerti oleh para anggotanya. Sehingga dengan kata lain subkultur merupakan budaya yang menyimpang atau keluar dari nilai-nilai kebudayaan dominan.

Subkultur memiliki fungsi-fungsi terhadap anggotanya. Meliputi fungsi solusi, fungsi identitas, penyedia ruang pengalaman, menyediakan aktifitas hiburan, dan melengkapi solusi masalah eksistensial identitas.

Beberapa contoh bentuk subkultur dalam masyarakat meliputi genk motor, punk, gay, kelompok pesantren, dll.

Referensi
Barker, Chris. ( 2008 ). Cultural Studies. Yogayakarta : Kreasi Wacana.
Sosiologibudaya.wordpress.com ( 7 mei 2012 20.20 wib )

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s