Kotak Ajaib ‘Televisi’

Dunia ini dengan segala isi dan peristiwanya tidak bisa melepaskan diri dari kaitannya dengan media massa demikian juga sebaliknya, media massa tidak bisa melepaskan diri dari dunia dengan segala isi dan peristiwanya. Hal ini disebabkan karena hubungan antara keduanya sangatlah erat sehingga menjadi saling bergantung dan saling membutuhkan. Segala isi dan peristiwa yang ada di dunia menjadi sumber informasi bagi media massa. Selanjutnya, media massa mempunyai tugas dan kewajiban selain menjadi sarana dan prasarana komunikasi untuk mengakomodasi segala jenis isi dunia dan peristiwa-peristiwa di dunia ini melalui pemberitaan atau publikasinya dalam aneka wujud (berita, artikel, laporan penelitian, dan lain sebagainya) dari yang kurang menarik sampai yang sangat menarik, dari yang tidak menyenangkan sampai yang sangat menyenangkan tanpa ada batasan kurun waktu.

Kehadiran televisi di dunia telah membawa dampak yang besar bagi umat manusia. Televisi membawa berbagai kandungan informasi, pesan-pesan yang dalam kecepatan tinggi menyebar ke seluruh pelosok dunia. Menjadi berbagai alat bagi berbagai kelompok untuk menyampaikan berbagai pesan untuk bermacam kalangan masyarakat.. Hal ini membuat orang bisa secara langsung mendapatkan informasi yang dibutuhkan tanpa membutuhkan waktu yang lama. Di sinilah peranan televisi demikian penting dan dibutuhkan oleh manusia. Dan menjadikan daya tarik menonton pada masyarakat demikian meningkat semakin tinggi. Oleh karenanya, televisi dan media massa sangat menarik untuk dibahas lebih jauh sebagai tambahan sumber informasi bagi pembaca.

Sejarah perkembangan Televisi Sampai Sekarang

Dipatenkannya “teropong elektrik” oleh John Nipkow pada tahun 1884  di Jerman menjadi dasar perkembangan televisi. Kata televisi pertama kali muncul pada tahun 1907 dalam majalah Scientific American. Pada tahun 1939, NBC melakukan siaran pertama yang menampilkan Presiden Franklin D. Roosevelt dalam acara World’s Fair di kota New York. Kemudian pada tahun 1947, dilakukan siaran berita pertama kali yakni NBC dan CBS. Tahun 1973, televisi mulai menampilkan siaran langsung. Tahun 2006, kongres Amerika menyetujui Undang-Undang yang mengharuskan penyiar televisi utnuk beralih sepenuhnya pada sinyal high definition digital  pada tanggal 17 Februari 2009. Saat ini, terdapat lebih dari 500 saluran televisi diseluruh dunia yang disampaikan baik melalui udara, kabel, dan satelit yang menyebabkan terjadinya globalisasi. Televisi sendiri berasal dari bahasa Yunani yaitu “Tele” yang berarti jauh dan “Vision” yang berarti penglihatan. Televisi merupakan media komunikasi jarak jauh dengan penayangan gambar dan pendengaran suara baik melalui kawat maupun secara elektromagnetik tanpa kawat. Televisi adalah sistem penyiaran dengan disertai bunyi (suara) melalui kabel atau angkasa dengan menggunakan alat yang mengubah cahaya (gambar) dan bunyi (suara) menjadi gelombang listrik dan mengubahnya kembali menjadi berkas cahaya yang dapat didengar (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2001).

Televisi adalah bentuk budaya pop paling akhir abad 20. Tidak diragukan lagi televisi merupakan aktivitas waktu luang paling popular di dunia. Di seluruh dunia ini aka nada 3,5 milyar jam dihabiskan untuk menonton televisi (Kubeyn dan Csikzentmihalyi 1990:1). Televisi memainkan peranan yang penting dalam kebudayaan kontemporer, menjadi penyebar representasi kultural utama termasuk yang terkait dengan ras dan etnisitas. Namun pada level tertentu, masyarakat kulit berwarna diabaikan oleh televisi. Di Amerika, bahkan sampai dengan akhir tahun 1960-an dan awal 1970-an masih jarang ditemukan keluarga kulit hitam di drama televisi. Dengan mengabaikan warga kulit hitam, berita media menempatkan mereka diluar arus utama masyarakat, memberi tanda bahwa mereka berada di pinggiran dan tidak relevan.

Televisi adalah sumber daya yang terbuka bagi semua orang dalam masyarakat industri dan semakin mengalami pertumbuhan di negara-negara berkembang. Ia juga sumber bagi pengetahuan populer tentang dunia dan semakin membuat kita menjalin kontak, meskipun malalui perantara. Televisi merupakan media massa yang mana dalam perkembangannya cukup kompleks dan signifikan. Televisi menyajikan banyak aspek yang dapat dinikmati oleh manusia, selain suara dan gambar, televisi juga memberikan kemudahan manusia dalam melihat informasi secara nyata lewat gambar, sehingga membawa manusia dalam pengetahuan baru di sebuah program tertentu. Sebagai media massa, televisi memiliki kelebihan dan kekurangan, yaitu:

  1. Televisi merupakan perpaduan audio-visual sehingga dengan demikian televisi memberikan kesan sebagai penyampai isi atau pesan seolah-olah secara langsung antara komunikator (pembawa acara atau pengisi acara) dengan komunikan (pemirsa). Informasi yang disampaikan melalui televisi mudah dimengerti karena secara bersamaan bisa didengar dan dilihat. Bahkan televisi bisa berperan sebagai alat komunikasi dua arah, khususnya dalam acara-acara ‘live show’.
  2. Teknologinya yang telah menggunakan gambar dan suara, sehingga dapat memberikan kejelasan sebuah informasi yang terdapat di media televisi.
  3. Sistem produksi yang cukup rumit dalam memproduksi sebuah pesan untuk disampaikan pada khalayak, dibandingkan radio dan majalah.
  4. Pendistribusian pesannya kepada khalayak tidak seaktual radio, dikarenakan proses produksinya yang komplek begitu halnya dengan majalah dimana dalam pendistribusiannya cukup memakan waktu.
  5. Televisi mempunyai kelebihan untuk menyajikan siaran secara langsung (live broadcasting) bahkan televisi seperti disampaikan oleh Patricia Edgar dapat memungkinkan terjadinya diskusi secara langsung, segera setelah menggunakan media tersebut, karena memang biasanya televisi dinikmati secara berkelompok.

Tentu saja kelebihan dan kelemahan televisi mempunyai pengaruh kepada pemirsanya. Semakin unsur kelebihan digunakan maka akan semakin besar pula kecenderungan untuk menikmatinya. Demikian sebaliknya bila unsur kelemahan yang lebih mendominasi maka hasilnya akan ditinggalkan khalayaknya. Melihat perkembangan televisi yang demikian pesat, Wilbur Schramm mengatakan televisi telah digunakan secara efektif untuk mengajarkan segala macam subjek, baik teoritis maupun praktik. Maka tidak berlebihan bila Gerbner berkata bahwa media massa (khususnya media televisi) telah menjadi agama resmi masyarakat Industri.

Dalam era informasi sekarang ini, televisi memang boleh dikatakan telah merebut minat masyarakat di berbagai penjuru dunia dan merupakan media massa yang paling komunikatif dan paling digemari. Televisi menyajikan berbagai macam program tayangan baik yang berdasar realitas, rekaan dan ciptaan yang sama sekali baru. Televisi mengetengahkan berbagai siaran dalam berbagai bentuk: berita, pendidikan, hiburan dan iklan. Tetapi ada hal lain yang muncul akibat globalisasi informasi dan komunikasi, khususnya yang menggunakan media televisi ini. Efek sosial yang bisa memuat unsur-unsur perubahan nilai sosial dan budaya dalam masyarakat bisa juga terjadi akibat masyarakat pemirsa media televisi ini meng’iya’kan setiap nilai baru yang ditawarkan media televisi. Manusia cenderung menjadi konsumen budaya massa yang aktif. Hal ini mengakibatkan pola-pola kehidupan rutinitas manusia sebelum muncul televisi menjadi berubah, bahkan secara total. Televisi menjadi panutan baru (new religion) buat masyarakat.

Hingga saat ini televisi masih menjadi “juara bertahan” sebagai media massa yang paling banyak digunakan, khususnya di Indonesia. Pemakaian televisi sudah menjadi budaya dan menjadi kebutuhan primer bagi masyarakat. Tak heran, meskipun saat ini program-program televisi sudah tidak menarik lagi, eksistensi media ini tetap bertahan. Sebagai salah satu sesepuh media massa, televisi masih tetap tetap eksis dan tidak kehilangan penonton setianya. Televisi perlu dipahami dalam beberapa hal, diantaranya :

Televisi sebagai Teks : Berita dan Ideologi

Berita adalah salah satu teks utama televisi. Dia muncul di hampir semua jaringan televisi di seluruh dunia dan menjadi subjek dari seluruh saluran yang terdistribusi secara global.

Meletakkan realitas secara bersama-sama : berita televisi bukanlah cerminan realitas, melainkan realitas secara bersama-sama. Berita bukanlah merupakan “jendela dunia” yang tanpa perantara, melainkan suatu representasi hasil seleksi dan konstruksian yang membentuk “realitas”. Berita-berita itu cenderung merupakan versi tertentu dari berbagai peristiwa. Pemilihan kriteria berita yaitu tentang pandangan-pandangan ideologi yang tengah dirangkai dan disebarluaskan. Yang dimaksud dengan ideologi adalah struktur signifikasi atau “pandangan dunia” yang membentuk relasi sosial di dalam dan melalui pelaksanaan kekuasaan.

Galtung dan Ruge mengidentifikasi empat nilai berita utama di dunia Barat yaitu acuan kepada bangsa-bangsa elite, acuan kepada orang-orang elite, personalisasi, dan negativitas. Ketika hal-hal yang tidak diharapkan menjadi nilai berita yang cukup penting, maka yang jauh lebih penting mengandung konsekuensi negatif yang melibatkan orang-orang elite dalam bangsa elite. Suatu skandal tentang kehidupan pribadi Presiden Amerika lebih “layak: ketimbang keberhasilan panen di Malawi.

Berita sendiri berpengaruh pada masyarakat. Pengaruh itu adalah:

a. Agenda setting adalah pemahaman bahwa berita mempengaruhi agenda publik yang secara rutin diberitakan oleh media massa.

b. Gatekeeping: media bisa menjadi penjaga informasi atau penyaring informasi yang ditujukan kepada masyarakat.

c. Framing terjadi ketika media massa membingkai beberapa isu yang ditonjolkan oleh media kepada masyarakat.

Penonton Televisi dan Identitas kultural

            Menonton televisi membentuk dan dibentuk oleh berbagai bentuk identita kultural. Televisi adalah sumber bagi konstruksi identitas kultural sebagaimana penonton menjalankan identitas kultural dan kmpetensi kultural mereka untuk men-decode program dengan cara tertentu. Ketika telvisi mulai mengglobal, maka televisi dalam pembentukan identitas etnis dan identitas nasional semakin menunjukkan arti pentingnya.

Globalisasi televisi

Globalisasi merupakan serangkaian proses yang mengarah pada penyempitan atau tenggelamnya budaya, yaitu semakin meningkatnya kesalingterhubungan global dan pemahaman kita. Globalisasi televisi adalah masalah teknologi, ekonomi, institusi dan kebudayaan. Globalisasi televisi adalah sutau aspek dari logika kapitalisme yang ekspansionis dan dinamis dalam petualangannya mencari komoditas dan pasar baru.

Media (televisi) cocok dengan sistem kapitalis dunia dengan menyediakan dukungan ideologis bagi kapitalisme dan korporasi trans nasional khusunya. Media dilihat sebagai kendaraan bagi pemasaran korporat, memanipulasi penonton dan menjadikan mereka sebagai pemasang iklan.

Televisi menduduki posisi sentral dalam produksi dan reproduksi budaya promosi yang terfokus pada pemakaian citra visual untuk menciptakan merk dengan nilai tambahn atau tanda komoditas.

Fungsi dan Dampak adanya Televisi

Media massa televisi secara teknis memiliki kemampuan mencapai khalayak dalam jumlah tak terhingga pada waktu bersamaan. Untuk itu media massa televisi mempunyai fungsi utama yang selalu harus diperhatikan yaitu :

  1. Fungsi informatif : Televisi dapat mengerutkan dunia dan menyebarkan berita sangat cepat. Dengan adanya media televisi manusia memperoleh kesempatan untuk memperoleh informasi yang lebih baik tentang apa yang terjadi di daerah lain. Dengan menonton televisi akan menambahkan wawasan. Dalam hal  penyajian berita, televisi umumnya selalu up to date, mampuu menyajikan berita terbaru langsung dari lokasi kejadian. Hal ini tentu akan membuat kita tidak tertinggal informasi dan memberikan wawasan yang cukup luas secara cepat.
  2. Fungsi rekreatif : Pada dasarnya fungsi televisi adalah memberikan hiburan yang sehat kepada pemirsanya, karena manusia adalah makhluk yang membutuhkan hiburan dan dapat menghilangkan stress karena banyaknya masalah kehidupan.
  3. Fungsi edukatif : Selain untuk menghibur, televisi juga berperan memberikan pengetahuan kepada pemirsanya lewat tayangan yang ditampilkan. Tayangan edukatif di televisi juga sangat berguna bagi pelajar untuk menambah pengatahuan.

Selain fungsi diatas, televisi juga dan sebagai sarana mensosialisasikan nilai-nilai atau pemahaman-pemahaman baik yang lama maupun yang baru. Karena kekuatan teknologinya dan daya hiburnya yang kuat, televisi mempunyai andil besar dalam mendangkalkan jiwa dan perasaan. Seperti misal, banyak film yang di negaranya sendiri dianggap berkualitas rendah tetapi tetap diimpor karena harga yang murah bila dibanding membuat sendiri. Muncullah apa yang disebut budaya populer dengan pahlawan-pahlawan media sebagai tokohnya. Aktor/tokoh televisi menjadi panutan dan bahkan mengganti nilai-nilai yang telah tertanam secara tradisional pada masyarakat.

Jika pesan-pesan yang disampaikan oleh media masa televisi tidak sesuai dengan aturan-aturan penyiaran, maka hal tersebut akan memberikan implikasi yang negatif terhadap kehidupan masyarakat. Salah satu dampak yang ditimbulkan adalah peningkatan tindak kriminalitas yang terjadi di masyarakat. Program acara-acara yang sering muncul di layar kaca justru kurang memperhatikan unsur informasi, pendidikan, sosial budaya bahkan etika dan norma masyarakat. Televisi mempunyai suatu dampak negatif yang berbahaya dan mengkhawatirkan bagi kehidupan msyarakat. Dengan adanya televisi, membuat orang jarang melakukan interaksi dalam masyarakat, sehingga kesadaran untuk bersosialisasi antar sesama manusia menjadi luntur dan berkurang. Selain itu juga menurunkan minat membaca dan menulis bagi masyarakat Indonesia. Tayangan di televisi yang menayangkan tayangan kekerasan dan pornografi secara tidak langsung mempengaruhi tindakan manusia untuk melakukan tindakan yang menyimpang dari nilai sosial, moral dan norma yang berlaku seperti tindakan pencurian, pembunuhan, kekerasan, perampokan. Televisi juga mengajarkan budaya komersil atau konsumerisme dalam diri masyarakat akibat banyaknya iklan atau produk yang dilihat.

Gencarnya tayangan televisi yang dapat dikonsumsi oleh anak-anak membuat khawatir masyarakat terutama para orang tua. Karena mereka adalah mahluk peniru dan imitatif. Kekhawatiran orang tua juga disebabkan oleh kemampuan berpikir anak yang masih relatif sederhana. Mereka cenderung menganggap apa yang ditampilkan di televisi sesuai dengan yang sebenarnya. Mereka masih sulit membedakan mana perilaku/ tayangan yang fiktif dan mana yang memang kisah nyata. Mereka juga masih sulit memilah-milah perilaku yang baik sesuai dengan nilai dan norma agama dan kepribadian bangsa. Adegan kekerasan, kejahatan, konsumtif, termasuk perilaku seksual di layar televisi diduga kuat berpengaruh terhadap pembentukan perilaku anak. Selain itu televisi membuat anak yang lebih memilih menghabiskan waktunya untuk menonton televisi dan menganggap televisi lebih menyenangkan dari pada belajar dan mendengarkan nasehat orang tua. Kebiasaan menonton televisi bagi anak sebenarnya kurang baik apalagi jika tidak didampingi oleh orang tua maupun keluarga karena banyak sekali tayangan yang disajikan oleh stasiun televisi yang tidak mendidik dan cenderung berbahaya bagi anak seperti acara yang berbau kekerasan, adegan pacaran yang mestinya belum pantas ditonton oleh anak, berperilaku tidak hormat kepada orang tua, gaya hidup yang hura-hura dan lain sebagainya. Untuk menghindari pengaruh buruk dari televisi ialah bukan dengan cara membuang dan menjauhkan anak dari televisi. Hanya saja perlu pengontrolan dari orang tua sebagai orang yang paling dekat dengan anak. Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mengantisipasi pengaruh buruk media televisi terhadap perkembangan anak, antara lain (1) memilihkan acara yang sesuai dengan usia anak. Jangan biarkan anak menonton acara yang tidak sesuai dengan usianya. (2) Orang tua sebaiknya mendampingi anak saat menonton televisi. Tujuannya adalah agar acara televisi yang ditonton oleh anak dapat terkontrol dan orang tua dapat memperhatikan apakah acara tersebut layak ditonton atau tidak. (3) Orangtua sebaiknya tidak meletakkan televisi di kamar anak. Selain untuk mempermudah orangtua mengontrol tontonan anak, juga tidak membuat aktivitas yang seharusnya dilakukan. (5) Mengajak anak untuk melakukan banyak aktivitas lain selain hanya menonton televisi dan lain sebagainya.

Dengan kata lain Idealnya para orang tua harus selalu menjadi pendamping anak dalam menonton televisi. Acara-acara mana yang pantas ditonton mereka. Begitu pula mereka diberikan penjelasan mengenai adegan/peristiwa dalam film termasuk adegan fiktif. Namun masalahnya, apakah sanggup para orang tua mendampinggi putra putrinya menonton TV setiap waktu. Karena sesungguhnya orang tuan tidak bisa mengawasi anak 24 jam. Oleh karena itu benteng yang paling kuat adalah bagaimana menciptakan keluarga yang harmonis. Komunikasi orang tua dan anak dituntut lancar dan berkualitas. Nilai, norma, dan ajaran agama dijadikan landasan hidup dalam keluarga. Kondisi seperti ini akan menjadi benteng yang kokoh bagi anak dalam menyaring gencarnya tayangan televisi.

Di Cina masuknya pesawat televisi ke rumah tangga membawa dampak serius. Ketika televisi menyala ia tidak bisa lari darinya, sehingga menonton televisi pasti menjadi aktivitas kolektif keluarga dengan rutinitas keluarga yang kini meliputi waktu khusus untuk menonton televisi. Kedatangan televisi telah mengubah hubungan keluarga, memperkenalkan konflik potensial atas apa yang ditonton, kapan, dan oleh siapa. Media elektornik memutus ikatan antara ruang geografis dengan identitas sosial karena media massa menyuguhi kita dengan semakin banyak sumber identifikasi yang berada di luar kedekatan ruang tertentu.

Media Massa

Media Massa (Mass Media) adalah chanel, media/medium, saluran, sarana, atau alat yang dipergunakan dalam proses komunikasi massa, yakni komunikasi yang diarahkan kepada orang banyak (channel of mass communication). Media massa ada di manapunkita berada dan mempengaruhi hampir seluruh segi kehidupan masyarakat.

Peran Media Massa

Denis McQuail (1987) mengemukakan sejumlah peran yang dimainkan media massa selama ini, yakni:

  1. Industri pencipta lapangan kerja, barang, dan jasa serta menghidupkan industri lain terutama dalam periklanan/promosi.
  2. Sumber kekuatan, alat kontrol, manajemen, dan inovasi masyarakat.
  3. Lokasi (forum) untuk menampilkan peristiwa masyarakat.
  4. Wahana pengembangan kebudayaan tata cara, mode, gaya hidup, dan norma.
  5. Sumber dominan pencipta citra individu, kelompok, dan masyarakat.

Karakteristik Media Massa

  1. Publisitas, yakni disebarluaskan kepada publik, khalayak, atau orang banyak.
  2. Universalitas, pesannya bersifat umum, tentang segala aspek kehidupan dan semua peristiwa di berbagai tempat, juga menyangkut kepentingan umum karena sasaran dan pendengarnya orang banyak (masyarakat umum).
  3. Periodisitas, tetap atau berkala, misalnya harian atau mingguan, atau siaran sekian jam per hari.
  4. Kontinuitas, berkesinambungan atau terus-menerus sesuai dengan priode mengudara atau jadwal terbit.
  5. Aktualitas, berisi hal-hal baru, seperti informasi atau laporan peristiwa terbaru, tips baru, dan sebagainya. Aktualitas juga berarti kecepatan penyampaian informasi kepada publik.

Fungsi Media Massa

Media massa memiliki arti yang bermacam-macam bagi masyarakat dan memiliki banyak fungsi, tergantung pada jenis sistem politik dan ekonomi dimana media itu berfungsi, tingkat perkembangan masyarakat, dan minat serta kebutuhan individu tertentu. Namun selain memiliki fungsi, media juga mempunyai banyak disfungsi, yakni konsekuensi yang tidak diinginkan masyarakat atau anggota masyarakat. Fungsi media massa sejalan dengan fungsi komunikasi massa. Adapun fungsi-fungsi media massa menurut UU No. 40/1999 tentang Pers yaitu :

  1. Menginformasikan (to inform)
  2. Mendidik (to educate)
  3. Menghibur (to entertain)
  4. Pengawasan Sosial (social control) –pengawas perilaku publik dan penguasa.

Sedangkan secara umum media massa memiliki fungsi sebagai berikut :

  1. a.      Pertama, sebagai social surveilance. Pada fungsi ini, media massa termasuk media televisi, akan senantiasa merujuk pada upaya penyebaran informasi dan interpretasi seobjektif mungkin mengenai peristiwa yang terjadi, dengan maksud agar dapat dilakukan kontrol sosial sehingga tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan dalam lingkungan masyarakat bersangkutan.
  2. b.      Kedua, sebagai social correlation. Dengan fungsi korelasi sosial tersebut, akan terjadi upaya penyebaran informasi yang dapat menghubungkan satu kelompok sosial dengan kelompok sosial lainnya. Begitupun antara pandangan – pandangan yang berbeda, agar tercapai konsensus sosial.
  3. c.       Ketiga, fungsi socialization. Pada fungsi ini, media massa selalu merujuk pada upaya pewarisan nilai-nilai  luhur dari satu generasi ke generasi selanjutnya, atau dari satu kelompok ke kelompok lainnya. Cara ini, bertujuan meningkatkan kesatuan masyarakat dengan memperluas dasar pengalaman umum mereka. Media massa dapat mengurangi perasaan terasing individu.
  4. d.      Keempat, fungsi entertainment. Agar tidak membosankan, sudah tentu media massa perlu juga menyajikan hiburan kepada khalayaknya. Hanya saja, fungsi hiburan ini sudah terlalu dominan mewarnai siaran televisi kita, sehingga ketiga fungsi lainnya, seolah telah terlupakan. Untuk itu, fungsi hiburan haruslah ditata agar seimbang dengan 3 (tiga) fungsi lainnya.

Sejatinya, keempat fungsi media massa tersebut bersinergi dan sinkron dalam rangka menyajikan tontonan yang sehat. Sebab, hanya dengan tontonan yang sehat sajalah yang nantinya dapat melahirkan generasi yang sehat dan bermoral serta generasi yang memiliki karakter bangsa. Dalam hal inilah, kesadaran masyarakat dunia pada umumnya dan Indonesia secara khusus perlu bertekad dan berkomitmen untuk mengupayakan agar ke depan jangan mau lagi didikte oleh siaran Televisi yang tidak mendidik dan bahkan merusak pembangunan karakter bangsa bagi masyarakat (warga negara) dalam pembangunan bangsa ke depan.

Noelle Neumann mengemukakan 3 faktor penting dalam media massa yang terabaikan, yaitu:

  1. Ubiquity : Ubiquity artinya serba ada. Media massa khususnya televisi mampu mendominasi lingkungan informasi dan berada dimana-mana. Karena sifatnya yang serba ada, sulit bagi khalayak untuk menghindari pesan media massa.
  2. Keseragaman Wartawan : Siaran berita cenderung sama, karena ada keseragaman para wartawan (consonance of journalist). Sehingga dunia yang disajikan pada khalayak juga dunia yang sama. Khalayak akhirnya tak mempunyai alternatif yang lain, sehingga mereka membentuk persepsinya berdasarkan informasi yang diterimanya dari media massa.
  3. Kumulasi Pesan : Pesan-pesan media yang disampaikan media massa bersifat kumulatif. Berbagai pesan yang tadinya sepotong-sepotong bergabung menjadi satu kesatuan setelah lewat waktu tertentu. Perulangan pesan yang berkali-kali dapat memperkokoh dampak media massa.

Jenis-jenis media massa

  1. Media Massa Cetak (Printed Media). Media massa yang dicetak dalam lembaran kertas meliputi, koran atau surat kabar, tabloid, majalah, buku, newsletter, dan buletin. Isi media massa umumnya terbagi tiga bagian atau tiga jenis tulisan: berita, opini, dan feature.
  2. Media Massa Elektronik (Electronic Media). Jenis media massa yang isinya disebarluaskan melalui suara atau gambar dan suara dengan menggunakan teknologi elektro, seperti radio, televisi, dan film.
  3. Media Online (Online Media, Cybermedia), yakni media massa yang dapat kita temukan di internet (situs web). (http://romeltea.com/media-massa-makna-karakter-jenis-dan-fungsi/ diakses pada tanggal 3 Mei 2012, pkl. 23:33)

Dibawah ini akan di jelaskan satu persatu masing-masing jenis media massa yaitu Buku

Buku merupakan salah satu bentuk dari media massa cetak. Adapun syarat-syarat yang telah mampu dipenuhi oleh buku dalam kajian sebagai media cetakk adalah melalui proses percetakan, memiliki cover/sampul, mengangkat suatu isu (gender, politik, agama, budaya, dan lainnya), adanya awalan dan akhiran pada cerita yang diangkat dan dipublikasikan. Buku dapat dikatakan sebagai media massa tertua sebelum ditemukannya film, radio, dan televisi. Dengan kelebihannya yang mampu menyampaikan pesan secara lebih lengkap dan mendalam, bisa dibawa kemana-mana, terdokumentasi permanen sehingga mudah diperoleh bila diperlukan, namun hanya bisa dinikmati oleh mereka yang melek huruf (Cangara, 2005 : 128). Buku sebagai media massa juga merupakan transmisi warisan sosial dari satu generasi ke generasi berikutnya. Media cetak seperti buku mampu memberi pemahaman yang lebih kepada pembacanya. Melalalui sebuah buku, penulis atau penyusunnya bisa berbagi benyak hal seperti ilmu pengetahuan, pengalaman, bahkan imajinasi kepada pembacanya, sehingga buku banyak digunakan untuk keperluan studi pengetahuan, hobi atau media hiburan dengan penyajian mendalam.

Surat Kabar

Surat kabar dan majalah memuat lebih dari kata-kata pada kolom. Popularitasnya tidak bisa terbayangkan tanpa mempertimbangkan foto- foto, ilustrasi, dan iklan- iklan yang muncul hampir setiap halaman. Tidak diragukan lagi, karya yang paling berpengaruh perihal budaya pop visual dalam studi budaya adalah karya fundamental teoretikus budaya perancis Roland barthes. Tujuan Barthes adalah mengeksplisitkan apa yang sering kali tetap implisit dalam berbagai teks dan praktik budaya pop. Karya barthes mengenai budaya pop menaruh perhatian pada proses pemaknaan suatu cara yang dengan itu makna- makna dihasilkan dan disirkulasikan. Barthes (1973) menyatakan bahwa pada level pemaknaan sekunder itu dihasikan dan tersedia bagi konsumsi. Barthes memaksudkan ideologi yang dipahami sebagai sekumpulan gagasan dan praktik yang mempertahankan dan secara aktif mempromosikan berbagai nilai dan kepentingan kelompok dominan dalam masyarakat. Sekali lagi menurut Barthes, semiologi telah mengajarkan kepada kita bahwa mitos punya tugas memberikan pengabsahan alamiah pada tujuan historis, dan membuat hal- hal yang kebetulan tampak pribadi. Mitos ditentukan oelh hilangnya sifat hsitoris benda- benda.

Bagi pers populer atau lainnya, untuk menjadi budaya pop ia harus diterima oleh rakyat, ia harus memprovokasi percakapan dan memasuki sirkulasi dan resiskulasi oral. Ian Connell mengambil posisi yang sama dengan posisi yang dianjurkan Fiske. Ia berpendapat bahwa pers populer menopang kebencian tertentu yang dapat dibenarkan. Reportase yang fantastikal atau menakjubkan tidak menghasilkan resistensi dalam bentuk yang dianjurkan oleh Fiske.

Radio

Radio merupakan salah satu bentuk media massa yang banyak digunakan masyarakat untuk mengakses informasi. Radio pertama kali ditemukan oleh Marconi pada tahun 1896. Pada awalnya radio berfungsi sebagai alat untuk menyampaikan informasi dan berita ataupun untuk kepentingan kenegaraan secara umum. Radio publik atau komersil baru muncul pada tahun 1920-an. Sejak itu perkembangannya  berkembang pesat. Radio merupakan sumber informasi yang kompleks mulai dari fungsi tradisional, radio sebagai penyampai berita dan informasi, perkembangan ekonomi, pendongkrak popularitas dan kasir, hingga propaganda politik dan ideologi.

Di Indonesia, radio sebagai media yang terkait dengan medium kebutuhan lokal. Media komunikasi massa yang hanya memiliki skala lokalitas suatu daerah tertentu berbeda dengan televisi dan film yang skalanya nasional. Perkembangan radio di Indonesia dimulai dari zaman penjajahan Belanda, penjajahan Jepang, masa kemerdekaan, dan zaman orde baru. Radio siaran disebut sebagai “The Fifth Estate” atau memilki lima kekuatan yaitu, fungsi kontrol sosial, memberikan informasi, menghibur, mendidik serta melakukan kegiatan persuasif. Radio siaran memilki gaya penyiaran sendiri atau yang disebut radio siaran style, yaitu :

  1. Imajinatif, pesan yang disampaikan kepada khalayak hanya mengandalkan pendengaran, sehingga menimbulkan imajinasi khalayak, selain itu karena pesan yang disampaikan bersifat selintas maka dapat membangkitkan imajinasi.
  2. Audiotori, karena sifat pesan yang ahanya mengandalkan pendengaran, maka harus dikemas sejelas dan semenarik mungkin.
  3. Sifat radio yang akrab dan intim karena umumnya radio didengarkan saat kita sedang mengerjakan sesuatu
  4. Materi  siaran

Tahun 1960, merupakan era reformasi politik yang muncul suatu peraturan baru  bagi keberadaan  stasiun radio di Indonesia. Pada tahun 1970 radio swasta disahkan oleh pemerintah. Pada tahun 1990 jumlah stasiun radio yang ada di Indonesia meningkat, karena perusahaan atau orang konglomerast banyak yang mendirikan stasiun radio menyiarkan kepentingan mereka. Radio komunitas mulai berkembang pada tahun 2000. Alasan pendirian radio komunitas ialah hanya membutuhkan tekhnologi sederhana, biaya yang murah serta siarannya dapat diajngkau secara gratis. Radio mudah beradaptasi dan sering dengan kehebatanya menyajikan bentuk siaran “live” (secara langsung), tidak memerlukan pemrosesan film, tidak perlu menunggu proses pencetakan. Bahkan pada saat ini radio digunakan sebagai media pendidikan yang menggunakan konsep dan juga fakta (http://jai.staff.ipb.ac.id/tag/peranan-radio/ diakses pada 4 Mei 2012, pkl 1:08)

Film

Film sebagai salah satu bentuk media massa juga sangat berperan penting dalam kehidupan masyarakat. Film merupakan media massa yang dapat berpengaruh dalam kehidupan sehari-hari, karena film itu sendiri adalah hiburan yang menarik. Film sebagai salah satu atribut media massa menjadi sarana komunikasi yang paling efektif. Film sebagai salah satu kreasi budaya, banyak memberikan gambaran-gambaran hidup dan pelajaran penting bagi penontonnya. Film juga menjadi salah satu media komunikasi yang sangat jitu. Dengan kualitas audio dan visual yang disuguhkan, film menjadi media terpaan yang sangat ampuh bagi pola pikir kognitif masyarakat.

Dalam perkembangan film belakangan ini, film tidak lagi dimaknai sebagai karya seni (film as art), tetapi lebih sebagai praktik sosial serta komunikasi massa. Sebagai salah satu produk media, film seharusnya membentuk opini dan kebiasaan masyarakat yang positif, karena salah satu fungsi film sebagai salah satu produk media massa adalah mendidik (Effendy, 2004:54). Film dapat memberdayakan persepsi generasi muda dan meningkatkan rasa ketertarikannya akan nilai-nilai sosial dan nilai-nilai luhur dari suatu budaya. Serta film merupakan suatu bentuk seni yang sangat representatif karena ia  menyajikan betuk-bentuk dan gambaran-gambaran yang sangat mirip dengan bentuk dalam kehidupan sebenarnya. Perpaduan antara realitas sosial dan rekonstruksi realitas yang dibuat oleh industri film menjadikan film sebagai sarana yang unik untuk memahami kondisi sebenarnya dalam masyarakat. Film adalah visualisasi dari kehidupan nyata yang menyimpan banyak pesan, mulai dari gaya hidup sampai upaya untuk melestarikan kebudayaan.

Internet

Media massa merupakan salah satu agen sosialisasi. Media maassa sering digunakan untuk mengukur, membentuk, ataupun mempengaruhi pendapat umum (opini masyarakat). Media massa juga berperan dalam memberkan pendidikan bagi orang yang menontonnya. Salah satu jenis media massa yang saat ini sering digunakan adalah internet. Dengan internet, kita bisa terhubung dengan semua orang dari berbagai belahan dunia. Internet juga memungkinkan kita untuk mengakses informasi yang kita butuhkan kapanpun dan di manapun (jika terhubung dengan internet). Pengguna internet tidak hanya berasal dari kalangan dewasa, tetapi juga anak-anak dan remaja. Ditinjau dari teori perspektif fungsionalisme tentang media yang dikemukakan oleh Denis McQuail (2000), internet sebagai media massa memiliki fungsi sebagai berikut :

  1. a.      Information : Internet menyediakan informasi secara continuous atau berkelanjutan. Informasi yang disediakan selalu aktual. Kita dapat mengetahui peristiwa dari berbagai belahan dunia hanya dalam waktu beberapa detik setelah peristiwa itu terjadi, bahkan kita dapat mengakses secara langsung melalui video streaming. Internet juga memungkinkan kita untuk mengakses informasi tentang keadaan lalu lintas, ramalan cuaca, bursa saham, dan berbagai berita yang kita butuhkan.
  2. b.      Correlation : Internet membantu kita untuk memahami informasi yang kita dapat. Internet memiliki peranan penting dalam proses sosialisasi. Informasi yang kita dapat dari internet tidak hanya berupa berita dari suatu peristiwa, tetapi juga disertai opini masyarakat dan analisa dari beberapa ahli. Internet juga telah digunakan oleh beberapa instansi pemerintahan dan pendidikan untuk mempermudah proses sosialisasi kepada masyarakat.
  3. c.       Continuity : Internet memiliki fungsi dalam mengekspresikan budaya yang dominan, mengenalkan perkembangan budaya baru, dan menanamkan nilai-nilai yang umum berkembang di dalam masyarakat.
  4. d.      Entertainment : Internet menyediakan hiburan dan mengurangi ketegangan sosial. Berbagai hiburan dapat kita akses melalui internet, seperti game online, jejaring sosial, musik, dan film. Berbagai hiburan tersebut dapat menghilangkan kejenuhan kita terhadap rutinitas kegiatan sehari-hari dan berbagai masalah sosial yang terjadi di sekitar kita.
  5. e.       Mobilization : Internet mendorong pembangunan ekonomi, pekerjaan, agama atau memberi dukungan kemanusiaan di saat peperangan. Internet juga dapat menggerakkan masyarakat untuk mencapai tujuan tertentu. Contoh dari hal tersebut dapat kita lihat pada kasus Prita Mulyasari dengan pihak RS Omni Internasional. Internet (dalam hal ini jejaring sosial) telah berhasil menggerakkan ribuan bahkan jutaan orang untuk memberikan dukungan kepada Prita Mulyasari.

Selain fungsi-fungsi yang telah disebutkan di atas, internet juga memiliki dampak negatif bagi masyarakat. Dampak tersebut terjadi akibat lemahnya kontrol dan batasan terhadap penggunaan internet sehingga rawan terjadi penyalahgunaan internet, misalnya anak-anak di bawah umur dapat dengan mudah mengakses situs-situs pornografi, penghinaan dan pencemaran nama baik melalui jejaring sosial, cyber crime dan lain sebagainya.

Pengaruh Media Massa Bagi Masyarakat Multikultural

Media Massa sangat berpengaruh besar dalam membangun masyarakat multikultur karena perannya yang sangat potensial untuk mengangkat opini publik sekaligus sebagai wadah berdialog antarlapisan masyarakat. Terkait dengan isu keragaman budaya (multikulturalisme), peran media massa seperti pisau bermata dua, berperan positif sekaligus juga berperan negatif. Peran positif media massa berupa: (1) kontribusi dalam menyebarluaskan dan memperkuat kesepahaman antarwarga; (2) pemahaman terhadap adanya kemajemukan sehingga melahirkan penghargaan terhadap budaya lain; (3) sebagai ajang publik dalam mengaktualisasikan aspirasi yang beragam; (4) sebagai alat kontrol publik masyarakat dalam mengendalikan seseorang, kelompok, golongan, atau lembaga dari perbutan sewenang-wenang, (5) meningkatkan kesadaran terhadap persoalan sosial, politik, dan lain-lain di lingkungannya.

Peran negatif media massa dapat berwujud sebagai berikut: (1) media memiliki dan kekuatan penghakiman sehingga penyampaian yang stereotipe, bias, dan cenderung imaging yang tidak sepenuhnya menggambarkan realitas bisa nampak seperti kebenaran yang terbantahkan; (2) media memiliki kekuatan untuk menganggap biasa suatu tindakan kekerasan. Program-program yang menampilkan kekerasan yang berbasiskan etnis, bahasa dan budaya dapat mendorong dan memperkuat kebencian etnis dan perilaku rasis; (3) media memiliki kekuatan untuk memprovokasi berkembangnya perasaan kebencian melalui penyebutan pelaku atau korban berdasarkan etnis atau kelompok budaya tertentu; (4) pemberitaan yang mereduksi fakta sehingga menghasilkan kenyataan semu.

Sedangkan hubungan antara media massa dengan perubahan sosial ialah bahwa media massa merupakan salah satu sarana yang mampu menyebabkan pola pikir dan perilaku masyarakat terpengaruh atau bahkan berubah sesuai dengan pesan atau informasi yang dikandung dalam media tersebut. Seperti dikemukakan di atas, bahwa media massa berperan aktif dan efektif di dalam menyebarluaskan informasi dari suatu kelompok ke kelompok lain. Oleh sebab itu, peranan media massa dalam membawa arah bagi perubahan masyarakat tidak bisa diabaikan. Bahkan peranan media komunikasi saat ini mengalami perkembangan yang sangat cepat melampaui perkembangan mentalitas sebagian masyarakat, sehingga tidaklah mengherankan bila ada suatu komunitas masyarakat yang kurang siap menghadapi perkembangan tersebut dan mengakibatkan terjadinya krisis nilai dan norma di dalam masyarakat tersebut.

Jadi televisi dan media masa merupakan hal yang sangat urgen di era globalisasi sekarang ini. Dengan adanya keduanya maka berita yang berada di seluruh penjuru dunia dapat kita nikmati setiap hari.

Kesimpulan

Televisi adalah bentuk budaya pop paling akhir abad 20. Di seluruh dunia ini aka nada 3,5 milyar jam dihabiskan untuk menonton televisi. Televisi memainkan peranan yang penting dalam kebudayaan kontemporer, menjadi penyebar representasi kultural utama termasuk yang terkait dengan ras dan etnisitas. Dalam era informasi sekarang ini, televisi telah merebut minat masyarakat di berbagai penjuru dunia dan merupakan media massa yang paling komunikatif dan paling digemari. Televisi berdampak positif bagi masyarakat karena mampu menyuguhkan bergam informasi dan hiburan. Namun televisi menimbulkan dampak negatif yaitu membuat orang semakin jarang melakukan interaksi dalam masyarakat.

Media Massa adalah chanel, media/medium, saluran, sarana, atau alat yang dipergunakan dalam proses komunikasi massa, yakni komunikasi yang diarahkan kepada orang banyak. Media massa ada di manapun kita berada dan mempengaruhi hampir seluruh segi kehidupan masyarakat. Media massa dibedakan menjadi tiga jenis yaitu media cetak, elektronik, dan media online. Media Massa sangat berpengaruh besar dalam membangun masyarakat multikultur karena perannya yang sangat potensial untuk mengangkat opini publik sekaligus sebagai wadah berdialog antarlapisan masyarakat.

 

Referensi
 
Biagi, Shirley. 2010. Media / Impact: Pengantar Media Massa. Jakarta : Salemba Humanika.
Cangara, Hafid, 2005. Pengantar Ilmu Komunikasi. Jakarta : PT.Raja Grafindo Persada.
Davis, Howard dan Paul Walton. 2010. Bahasa, Citra, dan Media. Yogyakarta : Jalasutra.
http://romeltea.com/media-massa-makna-karakter-jenis-dan-fungsi/
http://skaterfm.blogspot.com/2012/04/efek-media-massa-pada-masyarakat-bahan.html
https://sosiologibudaya.wordpress.com/
http://teknologi.kompasiana.com/internet/2011/01/12/peran-dan-dampak-internet-sebagai-media-massa/
Storey, John. 2008. Culture Studies dan Kajian Budaya Pop. Yogyakarta : Jalasutra.
 
disusun oleh: Eka, Garry, Nina, Tri Ana

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s