Konsumen dan Budaya

Fenomena yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari masyarakat sangat diwarnai dengan berbagai kegiatan konsumsi. Bagi masyarakat, saat ini  hampir tidak ada ruang dan waktu tersisa untuk menghindari diri dari serbuan berbagai informasi yang berurusan dengan kegiatan konsumsi. Di rumah, di kantor atau di kampus, kita tak henti-henti disodori dan ditawari berbagai informasi yang menstimulasi konsumsi melalui iklan di tv, koran maupun majalah-majalah. Di jalan, selain terus melewati pertokoan dan pusat perbelanjaan, kita juga terus dihadapkan dengan pemandangan attraktif dari promosi media luar ruang yang menghiasi jalan-jalan dan berbagai sudut strategis kota.

Fenomena masyarakat konsumsi tersebut adalah sebuah fenomena yang menonjol dalam masyarakat Indonesia saat ini, yang mana dengan disertai kemajuan teknologi saat ini menyebabkan berkembangnya budaya konsumsi yang ditandai dengan berkembangnya gaya hidup.

Berkembangnya gaya hidup masyarakat tersebut, satu sisi bisa menjadi pertanda positif yaitu meningkatnya kesejahteraan hidup masyarakat yang mana peningkatan kegiatan konsumsi dipandang sebagai efek dari naiknya penghasilan dan taraf hidup masyarakat. Namun disisi lain, fenomena tersebut juga bisa dikatakan sebagai pertanda kemunduran rasionalitas masyarakat, yang mana konsumsi dianggap sebagai penyakit yang menggerogoti jiwa dan pikiran masyarakat. Konsumsi menjadi orientasi hidup bagi sebagian masyarakat, sehingga setiap aktifitas yang dilakukannya didasari karena kebutuhan berkonsumsi. Konsumsi yang ada malah justru bukan karena prioritas kebutuhan melainkan karena faktor gengsi sehingga konsumsi terus dilakukan oleh masyarakat seiring dengan perkembangan zaman yang modern.

Sejarah Budaya Konsumen

Budaya konsumen dilatar belakangi oleh munculnya masa kapitalisme yang diusung oleh Karl Marx yang kemudian disusul dengan liberalisme. Budaya konsumen yang merupakan jantung dari kapitalisme adalah sebuah budaya yang didalamnya terdapat bentuk halusinasi, mimpi, artifilsialitas, kemasan wujud komoditi, yang kemudian dikonstruksi sosial melalui komunikasi ekonomi (iklan, show, media) sebagai kekuatan tanda (semiotic power) kapitalisme.

Asal mula konsumerisme dikaitkan dengan proses industrialisasi pada awal abad ke-19. Karl Marx menganalisa buruh dan kondisi-kondisi material dari proses produksi. Menurutnya, kesadaran manusia ditentukan oleh kepemilikan alat-alat produksi. Prioritas ditentukan oleh produksi sehingga aspek lain dalam hubungan antar manusia dengan kesadaran, kebudayaan dan politik dikatakan dikonstruksikan oleh relasi ekonomi.

Kapitalisme yang dikemukakan Marx adalah suatu cara produksi yang dipremiskan oleh kepemilikan pribadi sarana produksi. Kapitalisme bertujuan untuk meraih keuntungan sebesar-besarnya dengan cara mengisap nilai surplus dari pekerja. Tujuan kapitalisme adalah meraih keuntungan sebesar-besarnya, terutama dengan mengeksploitasi pekerja. Realisasi nilai surplus dalam bentuk uang diperoleh dengan menjual produk sebagai komoditas. Komoditas adalah sesuatu yang tersedia untuk dijual di pasar. Sedangkan komodifikasi adalah proses yang diasosiasikan dengan kapitalisme, diamana objek, kualitas dan tanda berubah menjadi komoditas.

Kapitalisme adalah suatu sistem dinamis dimana mekanisme yang didorong oleh laba mengarah pada revolusi yang terus berlanjut atas sarana produksi dan pembentukan pasar baru. Ada indikasi ekspansi besar-besaran dalam kapasitas produksi kaum kapitalis. Pembagian kelas yang mendasar dalam kapitalisme adalah antara mereka yang menguasai sarana produksi, yaitu kelas borjuis, dengan mereka yang karena menjadi kleas proletar tanpa menguasai hak milik, harus menjual tenaga untuk bertahan hidup.

Horkheimer dan Adorno mengemukakan bahwa logika komoditas dan perwujudan rasionalitas instrumental dalam lingkup produksi tampak nyata dalam lingkup konsumsi. Pencarian waktu bersenang-senang, seni dan budaya tersalur melalui industri budaya. Resepsi tentang realitas diarahkan oleh nilai tukar karena nilai budaya yang mengalahkan logika proses produksi dan rasionalitas pasar. Selain itu juga terjadi standarisasi produk-produk budaya untuk memaksimalkan konsumsi.

Dalam pemikiran Baudrillard, yaitu bahwa konsumsi membutuhkan manipulasi simbol-simbol secara aktif. Bahkan menurut Baudrillard, yang dikonsumsi bukan lagi use atau exchange value, melainkan “symbolic value”, maksudnya orang tidak lagi mengkonsumsi objek berdasarkan karena kegunaan atau nilai tukarnya, melainkan karena nilai simbolis yang sifatnya abstrak dan terkonstruksi.

Konsumsi pada era ini dianggap sebagai suatu respon terhadap dorongan homogenisasi dari mekanisasi dan teknologi. Orang-orang mulai menjadikan konsumsi sebagai upaya ekspresi diri yang penting, bahasa umum yang kita gunakan untuk mengkomunikasikan dan menginterpretasi tanda-tanda budaya.

Ilmuwan yang lain berargumen bahwa konsumersime merupakan fenomena abad 20 yang dihubungkan dengan munculnya komunikasi massa, bertumbuhnya kesejahteraan dan semakin banyaknya perusahaan modern. Konsumerisme menjadi sarana utama pengekspresian diri, partisipasi dan kepemilikan pada suatu masa dimana institusi komunal tradisional, seperti keluarga, agama dan negara telah terkikis.

Konsumerisme juga terjadi seiring dengan meningkatnya ketertarikan masyarakat terhadap perubahan dan inovasi, sebagai respon terhadap pengulangan yang sangat cepat dari hal-hal yang lama atau pencarian terhadaphal yang baru: produk baru, pengalaman baru dan citra baru.

Apa yang penting dari analisa ini adalah adanya perubahan bertahap pada abad ke 20 dari sentralitas produksi barang-barang menjadi kepentingan politis dan budaya dari produksi kebutuhan.

Pandangan semiotika Baudrillard memberikan analisis yang original tentang masyarakat konsumen, dan juga dapat menjelaskan bagaimana struktur komunikasi dan sistem tanda mampu mempertahankan eksistensi masyarakat  konsumen tersebut. Analisa Baudrillard tentang masyarakat konsumsi disarikan melalui analisa dari disiplin semiotika, psikoanalisa dan ekonomi politik dalam produksi tanda. Menurut Baudrillard, sistem komunikasi berperan sangat penting dalam masyarakat konsumen, terutama menyangkut produksi tanda.

Douglas Kellner menjelaskan, bahwa menurut Baudrillard, Modernisme berkaitan dengan proses produksi objek, sedangkan posmodernisme concern terhadap simulasi dan produksi tanda. Sependapat dengan rekan-rekan pemikir posmodernisme perancis lainnya, Baudrilard  juga mengemukakan kritik terhadap teori Marx. Kritisme paling utama dari Baudrillar terhadap teori Marx mungkin berkenan dengan perubahan dari produksi objek menjadi produksi tanda, dari alat-alat produksi menjadi lat-alat konsumsi atau “the simultaneous production of the commodity as sign and the sign as commoditty

Dominasi tidak lagi terjadi dalam bentuk kontrol terhadap alat-alat produksi, namun dominasi lebih banyak terjadi pada alat-alat konsumsi. Terlebih lagi, dominasi tersebut terjadi pada tingkatan model signifikansi (dulunya model produksi) dalam kehidupan sehari-hari.

Bahkan, menurut Baudrillard, masyarakat konsumen tidak lagi digerakkan oleh kebutuhan dan tuntutan konsumen, melainkan oleh kapasitas produksi yang sangat besar. Sehingga maslah-masalah yang timbul dalam sistem masyarakat konsumen tersebut tidak lagi berkaitan dengan produksi melainkan dengan kontradiksi antara level produktifitas yang lebih tinggi dengan kebutuhan untuk mengatur atau mendistribusikan produk. Oleh karena itu, kunci vital dalam sistem sekarang adalah mengontrol mekanisme produksi sekaligus permintaan konsumen sebagai bagian dari sosialisasi yang terencana melalui kode-kode.

Masyarakat sekarang semakin tidak mengidentifikasi diri merka mengikuti pola-pola pengelompokan tradisional, namun cenderung mengikuti produk-produk konsumsi, pesan dan makna yang tersampaikan. Konsumsi didorong oleh hasrat untuk menjadi sama dan sekaligus berbeda, menjadi serupa dengan.. dan berbeda dari.

Karena proses produksi dirasa mengalienasi, oleh karenanya kita mencari pemenuhan diri malalui konsumsi. Lebih lanjut bahwa identitas personal sekarang berfluktuasi dan tidak lagi sebegitunya terikat dengan tradisi-tradisi yang kaku, konsumsi memberikan kesempatan bagi perkembangan nilai kedirian dan pemupukan identitas diri.

Pengertian dan Konsep Budaya Konsumen

Budaya Konsumen merupakan istilah yang menyangkut tidak hanya perilaku konsumsi, tetapi adanya suatu proses reorganisasi bentuk dan isi produksi simbolis di dalamnya. Perilaku di sini bukan sebatas perilaku konsumen dalam artian pasif. Namun merupakan bentuk konsumsi produktif, yang menjanjikan kehidupan pribadi yang indah dan memuaskan, menemukan kepribadian melalui perubahan diri dan gaya hidup.

Budaya konsumen menekankan adaya suatu tempat dimana kesan memainkan peranan utama. Saat ini dapat kita lihat bahwa betapa banyak makna baru yang terkait dengan komoditi “material” melalui peragaan, pesan iklan, industri gambar hidup serta berbagai jenis media massa. Dalam pembentukannya, kesan terus menerus diproses ulang dan makna barang serta pengalaman terus didefinisikan kembali. Tidak jarang tradisi juga “diaduk-aduk dan dikuras” untuk mencari simbol-simbol kecantikan, roman, kemewahan dan eksotika.

Globalisasi, budaya konsumen dan pasca modernisme adalah fenomena yang terjalin erat karena hal-hal sebagai berikut:

  1. Globalisasi telah menggeser dunia Barat dan kategori filosofisnya dari jagat raya; memang, beberapa orang telah melihat runtuhnya klasifikasi Barat sebagai tanda-tanda pascamodernisme.
  2. Meningkatnya penampilan dan status budaya pop yang dipercepat oleh media elektronik, berarti bahwa pemisahan antara budaya rendah dan budaya tinggi tidak lagi relevan.
  3. Kaburnya batas-batas seni, kebudayaan dan perdagangan, yang menyatu dengan semakin pentingnya ‘figural’ pascamodern telah menghasilkan estetisisasi secara umum kehidupan sehari-hari (Featherstone, 1991, 1995)

Budaya Konsumen juga dapat diartikan pula sebagai budaya-budaya yang dilakukan oleh seorang konsumen. Adapun budaya konsumen menggunakan image, tanda-tanda dan benda-benda, simbolik yang mengumpulkan mimpi-mimpi, keinginan dan fantasi yang menegaskan keauntentikan romantik dan pemenuhan emosional dalam hal menyenangkan diri sendiri bukan orang lain; secara narsistik.

Dalam budaya konsumen terdapat tiga macam perspektif:

  1. Pandangan bahwa konsumen dipremiskan dengan ekspansi produk komoditas kapitalis yang memunculkan akumulasi besar-besaran budaya dalam bentuk barang-barang konsumen dan tempat-tempat belanja dan konsumsi.
  2. Pandangan bahwa masyarakat mempunyai cara-cara yang berbeda dalam menggunakan benda-benda untuk menciptakan ikatan-ikatan atau perbedaan masyarakat.
  3. Adanya masalah kesenangan emosional untuk konsumsi, mimpi-mimpi dan keinginan yang ditampakan dalam bentuk budaya konsumsi dan tempat-tempat konsumsi tertentu  yang secara beragam memunculkan kenikmatan jasmaniah langsung serta kesenangan estetis.

Dalam mode-mode konsumsi terdapat logika konsumsi, yaitu cara yang terstruktur secara sosial dimana benda-benda digunakan untuk membatasi hubungan sosial. Dalam logika konsumsi ini, benda konsumsi sebagai komunikator yang mampu menunjukkan identitas atau status sosial ketika konsumen mampu membelinya atau memilikinya.

Tiga Faktor Yang Mempengaruhi Pola Konsumsi

  1. Konsumen Individu. Pilihan merek dipengaruhi oleh ;
    1. Kebutuhan konsumen,
    2. Persepsi ataskarakteristik merek, dan
    3. Sikap kearah pilihan. Sebagai tambahan, pilihan merek dipengaruhi oleh demografi konsumen, gaya hidup, dan karakteristik personalia.
  2. Pengaruh Lingkungan. Lingkungan pembelian konsumen ditunjukkan oleh:
  3. Budaya (Norma kemasyarakatan, pengaruh kedaerahan atau kesuku an),
  4. Kelas sosial (keluasan grup sosial ekonomi atas harta milik konsumen),
  5. Grup tata muka (teman, anggota keluarga, dan grup referensi) dan
    1. Faktor menentukan yang situasional ( situasi dimana produk dibeli seperti keluarga yang menggunakan mobil dan kalangan usaha).
  6. Marketing strategy, merupakan variabel dimana pemasar mengendalikan usahanya dalam:
    1. Memberitahu dan mempengaruhi konsumen
    2. Barang,
    3. Harga,
    4. Periklanan dan
    5. Distribusi yang mendorong konsumen dalam proses pengambilan keputusan. Pemasar harus mengumpulkan informasi dari konsumen untuk evaluasi kesempatan utama pemasaran dalam pengembangan pemasaran

Budaya konsumen sangatlah erat kaitannya dengan ilmu ekonomi dan permasalahan ekonomi. Suatu barang terkadang digunakan untuk memperoleh prestise karena harganya sangat tinggi dan sukar diperoleh. Adapula barang seperti hadiah dan warisan yang tidak lagi dipandang sebagai barang yang diperdagangkan sehingga dianggap tidak berharga, dalam arti tidak pantas dipertimbangkan untuk menjualnya atau menetapkan harganya karena menimbulkan hubungan personal yang erat serta untuk membangkitkan memori tentang seseorang yang dicintainya.

Di lain pihak, benda-benda yang dibuat untuk keperluan ritual dan mempunyai nilai simbolik, cenderung tidak diperjual belikan, tetapi pada saat yang sama dapat menaikkan nilai benda-benda tersebut. Kelangkaan benda-benda itu serta ketidakberhargaannya justru menaikkan harga dan daya tariknya. Kesenangan masyarakat terhadap benda-benda hanya sebagian saja yang berhubungan konsumsi fisik benda tersebut, dan sangat jelas berkaitan dengan manfaat benda itu sebagai pemberi ciri, misal pemakaian beberapa merek dagang.

Di samping penguasaan budaya dan informasi, orang harus mengetahui tentang bagaimana menggunakan serta mengkonsumsi secara tepat dan dengan kemudahan dalam segala situasi. Di sini selera juga mengklasifikasikan orang yang bersangkutan, dimana pilihan konsumsi dan gaya hidup melibatkan keputusan yang membedakan yang pada saat yang sama mengidentifikasikan dan mengklasifikasikan pilihan selera diri sendiri menurut orang lain.

KEBIASAAN KONSUMEN

Dalam hubungannya dengan perilaku konsumen, kebiasaan didefinisikan sebagai perilaku pembelian yang berulang, yang tanpa disertai dengan mencari informasi yang lebih banyak dan tanpa mengevaluasi pilihan dari alternatif yang tersedia. Jadi, habit merupakan perilaku yang sudah menjadi kegiatan rutin dilakukan. Misalnya konsumen sudah terbiasa menggunakan merek Pepsodent untuk pasta gigi, atau merek Lifebouy untuk sabun mandi. Suatu perilaku berulang dikatakan kebiasaan jika perilaku itu tidak disertai dengan loyalitas.

Terdapat beberapa hal yang memungkinkan siklus pembelian habitual menjadi rusak, yaitu:

  1. Jika perusahaan melakukan reformulasi produk dan merek produk yang telah lama ada.konsumen yang loyal terhadap merek produk lama akan merasa merek produk baru telah memutuskan hubungan emosional dia dengan merek produk lama. Konsumen yang loyal merasa tidak puas dengan perubahan yang dilakukan oleh perusahaan. Ketika konsumen merasa tidak puas, maka kemungkinan meninggalkan merek produk itu menjadi tinggi, dan dia akan mencoba merek produk baru yang ada di pasar.
  2. Terdapat merek produk baru di pasar yang mampu menawarkan sesuatu yang lebih dari merek lama. Konsumen akan mengubah kebiasaannya dalam pembelian dengan mencoba membeli merek produk baru. Dalam keadaan seperti itu, konsumen telah mengubah perilaku pembeliaannya dari habitual kepada pembelian yang kompleks, karena sebelum membeli merek baru konsumen terlebih dahulu mencari informasi, mengevaluasinya, dan akhirnya memutuskan untuk membeli.
  3. Konsumen mungkin mencapai kejenuhan dalam mengkonsumsi merek produk yang biasa dibelinya. Akhirnya konsumen berusaha mencari merek produk lain yang kira-kira mampu memuaskannya. Perubahan perilaku pembelian seperti itu dikategorikan sebagai perilaku pembelian mencari variasi yang sifatnya rekreasi saja (variety seeking).
  4. Konsumen akan mengubah perilaku pembelian habitualnya ketika merek produk yang diinginkannya tidak tersedia di toko atau outlet penjualan. Ketika merek produk yang diinginkan tidak tersedia, konsumen akan dengan mudah mengganti pembeliannya dengan merek lain. Oleh karena itu, ketersediaan produk di toko atau di outlet penjualan bisa menahan konsumen mengubah perilaku pembelian habitualnya.

TIPE PERILAKU KONSUMEN

Perilaku konsumen dalam pembeliaannya dapat dikelompokkan menjadi empat tipe, yaitu;

  1. Konsumen yang melakukan pembeliaannya dengan pembuatan keputusan (timbul kebutuhan, mencari informasi, dan mengevaluasi merek serta memutuskan pembelian), dan dalam pembeliaannya memerlukan keterlibatan tinggi. dua interaksi ini menghasilkan tipe perilaku pembelian yang kompleks (complex decision making).
  2. Perilaku konsumen yang melakukan pembelian terhadap satu merek tertentu secara berulang-ulang dan konsumen mempunyai keterlibatan tinggi dalam proses pembeliannya. Perilaku konsumen seperti itu menghasilkan tipe perilaku konsumen yang loyal terhadap merek (brand loyality)
  3. Perilaku konsumen yang melakukan pembeliannya dengan pembuatan keputusan, dan pada proses pembeliannya konsumen merasa kurang terlibat. Perilaku pembelian seperti itu menghasilkan tipe perilaku konsumen limited decision making.
  4. Perilaku konsumen yang dalam pembelian atas suatu merek produk berdasarkan pada kebiasaan, dan pada saat melakukan pembelian, konsumen merasa kurang terlibat. Perilaku seperti itu menghasilakn perilaku konsumen inertia. Inertia merupakan perilaku konsumen yang berulang kali dilakukan, tetapi sebenarnya konsumen itu tidak loyal, karena mudah mengubah pilihan mereknya jika ada stimulus yang menarik.

Faktor yang Melatarbelakangi Munculnya Budaya Konsumen

Faktor Lingkungan

Secara umum, tidak ada perbedaan yang mendasar di antara para penulis perilaku konsumen mengenai faktor-faktor lingkungan apa saja yang bisa mempengaruhi perilaku konsumen. Assael (1992) mengelompokkan faktor lingkungan yang mempengaruhi konsumen terdiri atas; 1) budaya dan kelas sosial, 2) pengaruh sub-budaya, 3) pengaruh global dan lintas budaya, 4) pengaruh kelompok rujukan, 5) pengaruh komunikasi dalam kelompok, 6) pengaruh keluarga, 7) pengaruh komunikasi antarkelompok, dan 8) pengaruh situasional.

Berbeda dengan Assael, Solomon (1996) Solomon mencampurkan pembahasan mengenai konsumen sebagai individu yang mengambil keputusan dengan pengaruh kelompok, organisasi dan rumah tangga menjadi satu bagian yang disebut sebagai Konsumen Sebagai Pengambil Keputusan.

Mowen (1995) membagi faktor lingkungan yang mempengaruhi konsumen ke dalam beberapa kelompok lingkungan yang hampir sama dengan Assael. Mowen membagi faktor lingkungan sebagai berikut:

  1. Pengaruh situasional
  2. Proses kelompok, keluarga dan organisasional
  3. Lingkungan sub-budaya
  4. Lingkungan pemerintah dan peraturan
  5. Lingkungan ekonomi
  6. Lingkungan budaya dan lintas budaya

Gaya Hidup

Perkembangan budaya konsumen telah mempengaruhi cara-cara masyarakat mengekspresikan estetika dan gaya hidup. Dalam masyarakat konsumen, terjadi perubahan mendasar berkaitan dengan cara-cara orang mengekspresikan diri dalam gaya hidupnya. David Chaney mengemukakan bahwa gaya hidup telah menjadi ciri dalam dunia modern, sehingga masyarakat modern akan menggunakan gaya hidup untuk menggambarkan tindakannya sendiri dan orang lain.

Definisi gaya hidup saat ini menjadi semakin kabur. Namun dalam kaitannya dengan budaya konsumen, istilah tersebut dikonotasikan dengan individualitas, ekspresi diri serta kesadaran diri yang stylistik. Tubuh, busana, gaya pembicaraan, aktifitas rekreasi, dsb adalah beberapa indikator dari individualitas selera konsumen.

Chaney memberikan definisi gaya hidup sebagai pola-pola tindakan yang membedakan antara satu orang dengan orang lain. Gaya hidup merupakan bagian dari kehidupan sosial sehari-hari dunia modern. Gaya hidup adalah seperangkat praktek dan sikap yang masuk akal dalam konteks waktu.

Gaya hidup adalah salah satu bentuk budaya konsumen. Karena memang, gaya hidup seseorang hanya dilihat dari apa-apa yang dikonsumsinya, baik konsumsi barang atau jasa. Secara literal, konsumsi berarti pemakaian komoditas untuk memuaskan kebutuhan dan hasrat. Konsumsi tidak hanya mencakup kegiatan membeli sejumlah barang (materi), dari televisi hingga mobil, tetapi juga mengkonsumsi jasa, seperti pergi ke tempat hiburan dan berbagai pengalaman sosial.

Gaya hidup juga dihubungkan dengan status kelas sosial ekonomi. Hal tersebut karena pola-pola konsumsi dalam gaya hidup seseorang melibatkan dimensi simbolik, tidak hanya berkenaan dengan kebutuhan hidup yang mendasar secara biologis. Simbolisasi dalam konsumsi masyarakat modern saat ini mengkonstruksi identitasnya, sehingga gaya hidup bisa mencitrakan keberadaan seseorang pada suatu status sosial tertentu. Misalnya saja pilihan mobil, perhiasan, bacaan, rumah, makanan yang dikonsumsi, tempat hiburan, berbagai merek pakaian, assesoris, dll, itu sebenarnya hanyalah simbol dari status sosial tertentu. Begitu juga dengan pola pergaulan. Bagaimana, dengan siapa dan dimana seseorang bergaul juga menjadi simbol bahwa dirinya adalah bagian dari kelompok sosial tertentu.

Dampak Budaya Konsumen

Perkembangan televisi global sebagai bangunan bisnis utama telah menempatkan budaya konsumen, iklan berbasis visual, dibarisan depan aktivitasnya (Mattelart dan Mattelart, 1992). Televise menduduki posisi sentral dalam produksi dan reproduksi budaya promosi yang terfokus pada pemakaian citra visual untuk menciptakan merek dengan nilai tambah atau tanda komoditas. Wernick berpendapat bahwa fenomena kultural yang mengkomunikasikan pesan-pesan promosi dari suatu tipe atau tipe lainnya telah duduk berdampingan dengan dunia simbolis yang telah kita hasilkan (Wernick, 1991: 184). Frase ‘budaya Coca Cola’ menerangkan jangkauan global budaya promosi ini dan menunjukkan kaitan antara kapitalisme global, iklan dan homogenisasi kultural. Jadi, bagi beberapa kritikus, proses global mewakili bentuk homogenisasi kultural, khususnya dibidang budaya konsumen dimana Coca Cola, McDonald’s, Nike dan Microsoft Windows beredar keseluruh dunia. Namun, sirkulasi global barang-barang konsumsi tidak harus mengarahkan kita untuk berasumsi bahwa dampak mereka sama diseluruh dunia.

Karena adanya glokalisasi, barang-barang konsumsi terikat kepada berbagai makna pada level konsumsi local yang mencegah kita dari mempersamakan budaya coca cola dengan suatu identitas kutural yang homogeny. Sebenarnya, penyejajaran Windows dan kereta yang ditarik roda, The Simpsons dan Hum Log (opera sabun India), Hollywood dan Bollywood, The Prodigy dan music tari tradisionallah yang menunjukkan adanya ide pasca modern global.

Dampak yang ditimbulkan dari adanya budaya konsumen meliputi pola hidup masyarakat, seperti hedonisme, konsumerisme dan kapitalisme. Budaya konsumen pada dasarnya merupakan cara berfikir atau memandang seseorang yang kemudian menginternalisasi dalam kehidupannya karena dibiasakan yang akhirnya populer dan menjadi budaya massa dan kapitalisme pada kesempatan ini turut menjadin pendukung dari perubahan fungsi dan struktur sosial yang diakibatkan dari perubahan budaya konsumen yang terus dilakukan oleh masyarakat.

Contoh nyata dari budaya konsumen yaitu TV dimana pada mulanya tujuan dari adanya TV sebagai sumber/transfer informasi, pengetahuan, dan pendidikan. Namun demikian, tujuan itu kini telah berubah seiring dengan pesatnya perkembangan teknologi dan informasi khususnya TV, Internet, dll. Tujuan semula yaitu sebagai tranfer informasi, pengetahuan dan pendidikan kini berubah 90% hanya untuk hiburan saja hal itu semata-mata dilakukan untuk memperoleh keuntungan materiil semata oleh para pelaku bisnis hiburan dan TV. Contoh lain dari dampak budaya konsumen yaitu, senang dengan budaya-budaya atau kegiatan yang tidak memiliki banyak manfaat, seprti nonton film di bioskop, asyik nonton tv dan mengalihkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih penting, membeli tas-tas yang memiliki merk-merk tertentu.

DAFTAR PUSTAKA

Barker, Chris. 2004. Cultural Studies. Bantul: Kreasi Wacana
Sutisna. 2002. Perilaku Konsumen dan Komunikasi Pemasaran. Bandung: PT Remaja Rosdakarya
https://sosiologibudaya.wordpress.com/2011/05/17/budaya-konsumen/#more-133 (diakses pada tanggal 1 Mei 2012, pukul 08.00 WIB)
http://eprints.undip.ac.id/9820/1/POSMODERNISME_DAN_BUDAYA_KONSUMEN.doc (diakses pada tanggal 5 Mei 2012, pukul 14.00 WIB)
http://novian-r-p-fisip08.web.unair.ac.id/artikel_detail-37217-Informasi%20dan%20Masyarakat-Budaya%20Konsumen.html (diakses pada tanggal 5 Mei, pukul 14.15 WIB)
 
disusun oleh:Nike, Kurnia, Resha, Tri, Pram

One response to “Konsumen dan Budaya

  1. Sekarang ini adalah era di mana orang membeli barang bukan karena nilai kemanfaatannya namun karena gaya (hidup), demi sebuah citra yang diarahkan dan dibentuk oleh iklan dan mode lewat televisi, tayangan sinetron, acara infotainment, ajang kompetisi para calon bintang, gaya hidup selebriti dsb.

    Konsumsi yang kita lakukan justru menghasilkan ketidakpuasan. Kita menjadi teralienasi karena perilaku konsumsi kita, Pada gilirannya ini menghasilkan kesadaran palsu. “Seakan-akan terpuaskan padahal kekurangan, seakan-akan makmur padahal miskin”
    (Baudrillard)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s