Studi Budaya

Culture studies adalah adalah suatu arena interdisipliner di mana perspektif dari disiplin yang berlainan secara selektif dapat diambil dalam rangka menguji hubungan antara kebudayaan dan kekuasaan, kebutuhan akan perubahan dan representasi atas kelompok- kelompok sosial yang terpinggirkan, khususnya kelas, gender, dan ras (namun juga termasuk umur, kecacatan, nasionalitas, dll). Dengan demikian cultur studies adalah satu teori yang dibangun oleh para pemikir yang memandang produksi pengetahuan teoristis sebagai praktik politik. Disini, pengetahuan tidak pernah menjadi fenomena netral atau objektif, melainkan soal posisionalitas, soal dari mana orang berbicara, kepada siapa dan untuk tujuan apa.

Cultural studies senantiasa merupakan wacana yang membentang, yang merespon kondisi politik dan historis yang berubah dan selalu ditandai dengan perdebatan, ketidaksetujuan, dan intervensi. Budaya dalam cultural studies lebih didefinisikan secra politis ketimbang estetis, objek kajian dalam culture studies bukannlah budaya yang didefinisikan dalam pengertian yang sempit, juga bukan budaya yang didefinisikan dalam pengertian yang sama- sama sempit, melainkan budaya yang dipahami sebagi teks dan praktek hidup sehari- hari. Culture studies juga menganggap budaya itu bersifat politis dalam pengertian yang sangat spesifik, yaitu sebagai rana konflik dan pergumulan. Cultur studies dilihat sebagai situs penting bagi produksi dan reoroduksi hubungan social dalam kehidupan sehari- hari. Cultur studies juga menegaskan bahwa penciptaan budaya pop (praktik produksi) bisa menentang pemahaman dominan terhadap dunia serta menjadi pemberdayaan bagi mereka yang subordinat. Namun bukan berarti bahwa budaya popselamanya memberdayakan dan menentang.

Salah satu argument utama cultur studies adalah bahwa objek studinya, yaitu kebudayaan, adalah zona perebutan di mana makna dan versi dunia yang saling bersaing harus bertarung agar dianut dan memperoleh klaim pragmatis atas kebenaran. Secara khusus, makna dan kebenaran dalam dominan kebudayaan dibuat dalam pola kekuasaan. Dalam hal ini “kekuasaan untuk menamai” dan membakukan deskripsi- deskripsi tertentu adalah suatu bentuk politik kultural

Cultural studies itu sendiri mempunyai beberapa definisi sebagaimana dinyatakan oleh Barker (via Storey, 2003), antara lain yaitu sebagai kajian yang memiliki perhatian pada:

  1. Hubungan atau relasi antara kebudayaan dan kekuasaan;
  2. Seluruh praktik, institusi dan sistem klasifikasi yang tertanam dalam nilai-nilai partikular, kepercayaan, kompetensi, kebiasaan hidup, dan bentuk-bentuk perilaku yang biasa dari sebuah populasi berbagai kaitan antara bentuk-bentuk kekuasaan gender, ras, kelas, kolonialisme dan sebagainya dengan pengembangan cara-cara berpikir tentang kebudayaan dan kekuasaan yang bisa digunakan oleh agen-agen dalam mengejar perubahan berbagai kaitan wacana di luar dunia akademis dengan gerakan-gerakan sosial dan politik, para pekerja di lembagalembaga kebudayaan, dan manajemen kebudayaan.
  3. Cultural studies adalah suatu arena interdisipliner dimana perspektif dari disiplin yang berlainan secara selektif dapat digunakan untuk menguji hubungan kebudayaan dengan kekuasaan.
  4. Cultural studies terkait dengan semua pihak, institusi dan system klasifikasi tempat tertanamnya nilai-nilai, kepercayaan-kepercayaan, kompetensi-kompetensi, rutinitas kehidupan dan bentuk-bentuk kebiasaan perilaku masyarakat.

Culture studies adalah suatu arena interdisiplener dimana perspektif dari disiplin yang berlainan secara selektif dapat digunakan untuk mengkaji hubungan kebudayaan dengan kekuasaan. Cultural studies terkait dengan semua praktik, institusi dan sistem klasifikasi tempat tertanamnya nilai-nilai, kepercayaan-kepercayaan, kompetensi-kompetensi, rutinitas kehidupan dan bentuk-bentuk kebiasaan perilaku suatu masyarakat. bentuk-bentuk kekuasaan yang dieksplorasi oleh kultural studies beragam, termasuk gender, ras, kelas, kolonialisme, dan lain sebagainya. Cultural studies berusaha mngekplorasi hubungan antara bentuk-bentuk kekuasaan ini dan berusaha mengembangkan cara berpikir tentang kebudayaan dan kekuasaan yang dapat dimanfaatkan oleh sejumlah agen dalam upaya melakukan perubahan. Arena institusional utama cultural studies adalah perguruan tinggi, dan dengan demikian cultural studies menjadi mirip dengan disiplin-disiplin akademis lain. Namun, ia mencoba membangun hubungan diluar akademi dengan gerakan sosial dan gerakan politik, para pekerja dalam institusi-institusi kultural dan manajemen kultural.

Konsep Culture Studies

Kebudayaan dan praktik signifikasi

Cultural studies tidak akan mampu mempertahankan namanya tanpa fokus pada kebudayaan. Yang dimaksud dengan kebudayaan disini adalah lingkungan actual untuk berbagai praktik, representasi, bahasa dan adat-istiadat masyarakat tertentu. Cultural studies menyatakan bahwa bahasa bukanlah media netral bagi pembentukan makna dan pengetahuan tentang dunia objek independen yang ada diluar bahasa, tapi ia merupakan bagian utama dari makna dan pengetahuan tersebut.

Representasi

Bagian terbesar dari cultural studies terpusat pada pertanyaan tentang representasi, yaitu bagaimana dunia ini dikonstruksi dan dipresentasikan secara sosial kepada dan oleh kita. Bahkan unsur utama cultural studes dapat dipahami sebagai studi atas kebudayaan sebagai praktik signifikasi representasi. Representasin dan makna cultural memiliki materialitas tertentu, mereka melekat pada citra, buku, majalah, dan program televise.

Materialisme dan Nonreduksionisme

Sebagian besar cultural studies memberi perhatian pada ekonomi modern yang terindustrialisasi dan budaya media yang terletak disepanjang garis sistem kapitalis dimana representasi diproduksi oleh perusahaan yang didorong oleh motif mencari laba. Dalam konteks ini cultural studies telah mengembangkan bentuk materialisme kultural yang berusaha mengeksplorasi bagaimana dan mengapa makna dibentuk dan ditentukan pada momen produksi. Jadi selain terpusat pada praktik-praktik signifikasi, cultural studies juga berusaha menghubungkannya dengan ekonomi politik, suatu disiplin yang menbahas kekuasaan dan distribusi sumber daya ekonomi dan sosial. Di samping itu, salah satu prinsip utama cultural studies adalah karakter non-reduksionisme-nya. Kebudayaan dipandang memiliki makna, aturan dan praktiknya sendiri yang tidak dapat direduksi menjadi, atau hanya dapat dijelaskan di dalam, kategori atau level lain formasi sosial. Sebagai contoh, isu ras tidak boleh dijelaskan semata- mata dalam konteks kelas.

Artikulasi

Dalam rangka membuat teori tentang hubungan antar berbagai komponen formasi sosial, cultural studies menggunakan konsep artikulasi. Atikulasi menunjukan pengekspresian atau perepresentasian dan penempatan bersama. Konsep artikulasi juga di gunakan untuk mendiskusikan hubungan kebudayaan dengan ekonomi polotik. Dengan demikian kebudayaan dikatakan “diartikulasikan” lewat moment- moment produksi tetapi tidak ditentukan secara pasti oleh moment tersebut. Oleh karena itu, kita bisa mengeksplorasi bagaimana “yang ekonomis” juga sekaligus bersifat cultural, yaitu menjadi serangkaian praktek yang penuh makna.

Kekuasaan

Kekuasaan bukan hanya sekedar perekat yang menyatukan kehidupan sosial, atau kekuatan koersif yang menempatkan sekelompok orang dibawah orang lain. Kekuasaan merupakan proses yang membangun dan membuka jalan bagi adanya segala bentuk tindakan, hubungan atau tatanan sosial. Disamping itu, cultural studies menunjukkan perhatian khusus terhadap kelompok-kelompok pinggiran, pertama-tama karena soal kelas, dan kemudian baru soal ras, gender, kebangsaan, kelompok, umur, dll.

Budaya pop

Budaya pop banyak menyita perhatian cultural studies, budaya pop dikatakan sebagai landasan tempat dimana persetujuan dapat dimenangkan atau tidak.

Teks dan Pembacanya

Konsep teks bukan hanya mengacu pada kata-kata tertulis, melainkan semua praktik yang mengacu pada makna (to sifnify). Ini termasuk pembentukan makna melalui berbagai citra, bunyi, objek (seperti pakaian) dan aktivitas (seperti tari dan olah raga). Karena citra, bunyi, objek dan praktik merupakan sistem tanda, yang mengacu suatu makna dengan mekanisme yang sama dengan bahasa, maka kita dapat menyebut semua itu dengan teks kultural. Makna diproduksi dalam interaksi antara teks dan pembacanya sehingga momen konsumsi juga merupakan momen produksi yang penuh makna.

Subjektivitas dan Identitas

Cultural studies mengeksplorasi bagaimana kita menjadi sosok sebagaimana adanya kita sekarang, bagaimana kita diproduksi sebagai subjek, dan bagaimana kita mengidentifikasi diri kita dengan deskripsi-deskripsi sebagai laki-laki atau sebagai perempuan, tua atau muda.

Arus Intelektual Cultural Studies

Marxisme dan Sentralitas kelas

Marxisme adalah salah satu bentuk materialisme historis. Dia menekannkan spesifisitas historis kehidupan manusia dan karakter formasi sosial yang dapat berubah yang ciri utamanya terletak dalam kondisi material eksistensi. Marx (1961) menyatakan bahwa prioritas utama manusia adalah produksi sarana subsistensi melalui kerja. Ketika manusia menghasilkan makana, pakaian dan semua alat yang bertujuan untuk mengubah lingkungannya, mereka juga menciptakan dirinya. Kerja, dan bentuk-bentuk organisasi sosial yang dibentuk oleh produksi material, yaitu cara produksi , adalah kategori-kategori utama dalam Marxisme.

Cultural studies adalah arena plural dari berbagai perspektif yang bersaing, lewat produksi teori ia berusaha mengintervensi politik budaya. Cultural studies mengeksplorasi kebudayaan sebagai praktik pemaknaan dalam konteks kekuatan sosial. Dalam usaha ini, cultural studies tidak hanya berpusat dalam satu titik saja namun kajian budaya mengkomposisikan berbagai kajian teoritis disiplin ilmu lain yang dikembangkan secara lebih longgar sehingga mencakup potongan-potongan model dari teori yang sudah ada. berbagai teori, termasuk Marxisme, strukturalisme, pascastrukturalisme, dan feminisme.

Kulturalisme dan Strukturalisme

Dalam sejarah bersama cultural studies Richard Hoggard (1957), Raymond Williams (1965, 1979, 1981, 1983) dan Erdward Thomson (1963) dipandang sebagai tokoh utama yang mewakili moment culturalisme, yang belakangan dilawankan dengan strukturalisme. Memang benar, kulturalisme adalah istilah post hoc yang menempatkan logikanya secara bersebrangan dengan strukturalisme dan kurang diterima diluar perdebatan tersebut.

Pasca Kulturalisme ( dan PascaModernism)

Istilah pasca kulturalisme berarti setelah strukturalisme. Dia mengandung pengertian kritik maupun penyerapan. Pasca kulturalisme menyerap berbagai aspek linguistic structural sambil menjadikannya sebagai kritik yang dianggap mampu melampaui strukturalisme. Pasca strukturalisme menolak ide tentang struktur stabil yang melandasi makna melalui pasangan biner tetap (hitam putih, baik buruk). Makna adalah sesuatu yang tidak stabil, yang sealu tergelincir dalam prosesnya. Makna adalah hasil dari hubungan antar teks yang disebut dengan intertekstualitas. Pasca kulturalisme berkarakteranti humanis dalam upaya meminggirkan subjek manusia yang terpadu dan koheren sebagai asal- muasal makna stabil.

Psikoanalisis dan subjektifitas

Psikoananlisis merupakan pemikiran yang kontrofersial. Kekuatannya terletak pada penolakan atas hakekat subjek dan seksualitas yang bersifat tetap. Psikoanalisis berkonsentrasi pada kontruksi dan pembentukan subjektifitas. Bukan tentang apa itu subjek, melainkan tentang bagaiman dia sampai kepada keadaannya yang sekarang. Psikoananlisi menunjukkan bagaimana proses psikis melembagakan pemanusiaan anak, membentuk subjek yang selalu tergenderkan dalam ranah simbolis bahasa dan kebudayaan.

Politik perbedaan: feminism, ras, dan teori pasca colonial

Salah satu tema dalam strukturalisme dan pasca strukturalisme adalah gagasan bahwa makna terbentuk melalui permainan, perbedaan rangkaian penanda. Subjek dibentuk melalui perbedaan, sehingga diri kita yang sekarng ini sebagian dibentuk oleh hal- hal yang bukan merupakan diri kita. Dalam konteks ini, penekanan terhadap perbedaan dalam bidang social semakin meniingkat, khususnya pada masalah- masalah gender, rsa, dan etnisiatas.

Simpulan

Cultural studies adalah arena plural dari berbagai perspektif yang bersaing, lewat produksi teori ia berusaha mengintervensi politik budaya. Cultural studies mengeksplorasi kebudayaan sebagai praktik pemaknaan dalam konteks kekuatan sosial. Dalam usaha ini, cultural studies tidak hanya berpusat dalam satu titik saja namun kajian budaya mengkomposisikan berbagai kajian teoritis disiplin ilmu lain yang dikembangkan secara lebih longgar sehingga mencakup potongan-potongan model dari teori yang sudah ada. berbagai teori, termasuk Marxisme, strukturalisme, pascastrukturalisme, dan feminisme. Dengan metode yang ekletis, cultural studies menyertakan posisionalitasnya pada semua pengetahuan , termasuk pengetahuannya sendiri yang menyatu disekitar ide- ide kunci kebudayaan, praktik signifikasi, representasi, diskursus, kekuasaan, artikulasi, teks, membaca, dan konsumsi.

Cultural studies adalah bidang penelitian interdisipliner atau pasca disipliner yang mengeksplorasi produksi dan pemakaian peta makna. Dia dapat dideskripsikan sebagai permaian bahasa atau pemebentukan wacana yang terkait dengan isu kekkuasaan dalam praktik signifikasi kehidupan manusia. Cultural studies adalah suatu proyek yang mengasikkan dan cair yang mengisahkan kepada kita cerita tentang dunia yang tengah berubah dengan harapan agar kita dapat memperbaikinya. 

Referensi

Barker, Chris. 2008. Cultural Studies. Yogyakarta: Kreasi Wacana
Storey, John. 2006. Cultural Studies dan Kajian Budaya Pop. Yogyakarta: Jala Sutra
 
disusun oleh : Arfina, Tri W, Siti A, Budi S

3 responses to “Studi Budaya

  1. Girindra Wiratni Puspa

    thank you for that information…useful 4 me

  2. so helpful. thx a lot.

  3. Pingback: Kultur studies dan pengaruh teknologi komunikasi di Indonesia | JAVADIMONESE

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s