Studi Budaya

Kajian budaya merupakan suatu konsep budaya yang dapat dipahami seiring dengan perubahan perilaku dan struktur masyarakat. Berbicara tentang cultural studies atau yang kita kenal sebagai studi kajian budaya, di wilayah barat perhatian kita tidak dapat dilepaskan dari dasar suatu pengetahuan yang disesuaikan dengan konteks keadaan dan kondisi etnografi serta kebudayaan mereka dan untuk wilayah timur kajian budaya digunakan untuk untuk meneliti dan menelaah konteks sosial di tempat-tempat yang jarang disentuh para praktisi. Kajian budaya tidak hanya berpusat dalam satu titik saja namun kajian budaya mengkomposisikan berbagai kajian teoritis disiplin ilmu lain yang dikembangkan secara lebih longgar sehingga mencakup potongan-potongan model dari teori yang sudah ada.

Cultural studies itu sendiri mempunyai beberapa definisi sebagaimana dinyatakan oleh Barker (via Storey, 2003), antara lain yaitu sebagai kajian yang memiliki perhatian pada:

 

1)      Hubungan atau relasi antara kebudayaan dan kekuasaan;

2)      Seluruh praktik, institusi dan sistem klasifikasi yang tertanam dalam nilai-nilai partikular, kepercayaan, kompetensi, kebiasaan hidup, dan bentuk-bentuk perilaku yang biasa dari sebuah populasi berbagai kaitan antara bentuk-bentuk kekuasaan gender, ras, kelas, kolonialisme dan sebagainya dengan pengembangan cara-cara berpikir tentang kebudayaan dan kekuasaan yang bisa digunakan oleh agen-agen dalam mengejar perubahan berbagai kaitan wacana di luar dunia akademis dengan gerakan-gerakan sosial dan politik, para pekerja di lembagalembaga kebudayaan, dan manajemen kebudayaan.

3)      Cultural studies adalah suatu arena interdisipliner dimana perspektif dari disiplin yang berlainan secara selektif dapat digunakan untuk menguji hubungan kebudayaan dengan kekuasaan.

4)      Cultural studies terkait dengan semua pihak, institusi dan system klasifikasi tempat tertanamnya nilai-nilai, kepercayaan-kepercayaan, kompetensi-kompetensi, rutinitas kehidupan dan bentuk-bentuk kebiasaan perilaku masyarakat.

 

Cultur studies adalah suatu arena interdisiplener dimana perspektif dari disiplin yang berlainan secara selektif dapat digunakan untuk mengkaji hubungan kebudayaan dengan kekuasaan. Cultural studies terkait dengan semua praktik, institusi dan sistem klasifikasi tempat tertanamnya nilai-nilai, kepercayaan-kepercayaan, kompetensi-kompetensi, rutinitas kehidupan dan bentuk-bentuk kebiasaan perilaku suatu masyarakat. bentuk-bentuk kekuasaan yang dieksplorasi oleh kultural studies beragam, termasuk gender, ras, kelas, kolonialisme, dan lain sebagainya. Cultural studies berusaha mngekplorasi hubungan antara bentuk-bentuk kekuasaan ini dan berusaha mengembangkan cara berpikir tentang kebudayaan dan kekuasaan yang dapat dimanfaatkan oleh sejumlah agen dalam upaya melakukan perubahan. Arena institusional utama cultural studies adalah perguruan tinggi, dan dengan demikian cultural studies menjadi mirip dengan disiplin-disiplin akademis lain. Namun, ia mencoba membangun hubungan diluar akademi dengan gerakan sosial dan gerakan politik, para pekerja dalam institusi-institusi kultural dan manajemen kultural.

Sejarah Culture Studies

Kajian budaya sebagai suatu disiplin ilmu (akademik) yang mulai berkembang di wilayah Barat (1960-an), seperti Inggris, Amerika, Eropa (kontinental), dan Australia mendasarkan suatu pengetahuan yang disesuaikan dengan konteks keadaan dan kondisi etnografi serta kebudayaan mereka. Pada tahap kelanjutannya di era awal abad 21 kajian budaya dipakai di wilayah Timur untuk meneliti dan menelaah konteks sosial di tempat-tempat yang jarang disentuh para praktisi kajian budaya Barat, antara lain Afrika, Asia, atau Amerika Latin. Secara institusional, kajian budaya menelurkan berbagai karya berupa buku-buku, jurnal, diktat, matakuliah bahkan jurusan di universitas-universitas.

Konsep Culture Studies

1)      Kebudayaan dan praktik signifikasi

Cultural studies tidak akan mampu mempertahankan namanya tanpa fokus pada kebudayaan. Yang dimaksud dengan kebudayaan disini adalah lingkungan actual untuk berbagai praktik, representasi, bahasa dan adat-istiadat masyarakat tertentu. Cultural studies menyatakan bahwa bahasa bukanlah media netral bagi pembentukan makna dan pengetahuan tentang dunia objek independen yang ada diluar bahasa, tapi ia merupakan bagian utama dari makna dan pengetahuan tersebut.

2)      Representasi

Bagian terbesar dari cultural studies terpusat pada pertanyaan tentang representasi, yaitu bagaimana dunia ini dikonstruksi dan dipresentasikan secara sosial kepada dan oleh kita. Bahkan unsur utama cultural studes dapat dipahami sebagai studi atas kebudayaan sebagai praktik signifikasi representasi.

3)      Materialisme dan Nonreduksionisme

Sebagian besar cultural studies  memberi perhatian pada ekonomi modern yang terindustrialisasi dan budaya media yang terletak disepanjang garis sistem kapitalis dimana representasi diproduksi oleh perusahaan yang didorong oleh motif mencari laba. Dalam konteks ini cultural studies telah mengembangkan bentuk materialisme kultural yang berusaha mengeksplorasi bagaimana dan mengapa makna dibentuk dan ditentukan pada momen produksi. Jadi selain terpusat pada praktik-praktik signifikasi, cultural studies juga berusaha menghubungkannya dengan ekonomi politik, suatu disiplin yang menbahas kekuasaan dan distribusi sumber daya ekonomi dan sosial. Di samping itu, salah satu prinsip utama cultural studies adalah karakter non-reduksionisme-nya. Kebudayaan dipandang memiliki makna, aturan dan praktiknya sendiri yang tidak dapat direduksi menjadi, atau hanya dapat dijelaskan di dalam, kategori atau level lain formasi sosial.

4)      Artikulasi

Dalam rangka membuat teori tentang hubungan antar berbagai komponen formasi sosial, cultural studies menggunakan konsep artikulasi. Atikulasi menunjukan pengekspresian atau perepresentasian dan penempatan bersama. Konsep artikulasi juga di gunakan untuk mendiskusikan hubungan kebudayaan dengan ekonomi polotik.

5)      Kekuasaan

Kekuasaan bukan hanya sekedar perekat yang menyatukan kehidupan sosial, atau kekuatan koersif yang menempatkan sekelompok orang dibawah orang lain. Kekuasaan merupakan proses yang membangun dan membuka jalan bagi adanya segala bentuk tindakan, hubungan atau tatanan sosial.

6)      Budaya pop

Budaya pop banyak menyita perhatian cultural studies, budaya pop dikatakan sebagai landasan tempat dimana persetujuan dapat dimenangkan atau tidak.

7)      Teks dan Pembacanya

Konsep teks bukan hanya mengacu pada kata-kata tertulis, melainkan semua praktik yang mengacu pada makna (to sifnify). Ini termasuk pembentukan makna melalui berbagai citra, bunyi,  objek (seperti pakaian) dan aktivitas  (seperti tari dan olah raga). Karena citra, bunyi, objek dan praktik merupakan sistem tanda, yang mengacu suatu makna dengan mekanisme yang sama dengan bahasa, maka kita dapat menyebut semua itu dengan teks kultural. Makna diproduksi dalam interaksi antara teks dan pembacanya sehingga momen konsumsi juga merupakan momen produksi yang penuh makna.

8)      Subjektivitas dan Identitas

Cultural studies mengeksplorasi bagaimana kita menjadi sosok sebagaimana adanya kita sekarang, bagaimana kita diproduksi sebagai subjek, dan bagaimana kita mengidentifikasi diri kita dengan deskripsi-deskripsi sebagai laki-laki atau sebagai perempuan, tua atau muda.

Arus Intelektual Cultural Studies

1)      Marxisme dan Sentralitas Kelas

Marxisme adalah salah satu bentuk materialisme historis. Dia menekannkan spesifisitas historis kehidupan manusia dan karakter formasi sosial yang dapat berubah yang ciri utamanya terletak dalam kondisi material eksistensi. Marx (1961) menyatakan bahwa prioritas utama manusia adalah produksi sarana subsistensi melalui kerja. Ketika manusia menghasilkan makana, pakaian dan semua alat yang bertujuan untuk mengubah lingkungannya, mereka juga menciptakan dirinya. Kerja, dan bentuk-bentuk organisasi sosial yang dibentuk oleh produksi material, yaitu cara produksi, adalah kategori-kategori utama dalam Marxisme.

2)      Kapitalisme

Kapitalisme merupakan cara produksi yang didasarkan pada kepemilikan pribadi atas sarana produksi (pada zaman Marx sarana itu berupa pabrik, penggilingan, gudang, dan pada zaman ini berupa perusahaan multinasional). Pembagian kelas yang mendasar dalam kapitalisme adalah kelas borjuis yang menguasai sarana produksi dan kelas proletar, yang tidak punya hak milik dan menjual tenaga untuk bertahan hidup.

3)      Marxisme dan Cultural studies

Dalam hubungannya dengan Marxisme, cultural studies secara khusus menfokuskan perhatian pada isu-isu tentang struktur, praksis, determinisme ekonomi dan ideologi. Cultural studies bukanlah ranah marxis, namun banyak meminta bantuan dari Marxisme.

Simpulan

Cultural studies adalah arena plural dari berbagai perspektif yang bersaing, lewat produksi teori ia berusaha mengintervensi politik budaya. Cultural studies mengeksplorasi kebudayaan sebagai praktik pemaknaan dalam konteks kekuatan sosial. Dalam usaha ini, cultural studies tidak hanya berpusat dalam satu titik saja namun kajian budaya mengkomposisikan berbagai kajian teoritis disiplin ilmu lain yang dikembangkan secara lebih longgar sehingga mencakup potongan-potongan model dari teori yang sudah ada.  berbagai teori, termasuk Marxisme, strukturalisme, pascastrukturalisme, dan feminisme.

Referensi

Barker, Chris. 2008. Cultural studies. Studi dan praktik. Kreasi wacana: Yogyakarta.

disusun oleh : Umam, Umi, Yunanta & Suhartantri

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s