Sub Culture

Kata ‘kultur’ dalam subkultur menunjuk pada keseluruhan cara hidup yang bisa dimengerti oleh para anggotanya. Kata ‘sub’ mempunyai arti konotasi yang khusus dan perbedaan dari kebudayaan dominan atau mainstream. Subkultur bisa juga diartikan sebagai kebudayaan yang menyimpang dari nilai-nilai kebudayaan dominan. Kajian mengenai subkultur telah dipelopori oleh Centre for Contemporary Cultural Studies (CCCG) di Universitas Birmingham pada tahun 1970-an, yang memandang subkultur sebagai budaya perlawanan yang harus diberi tempat. Menurut Fitrah Hamdani dalam Zaelani Tammaka (2007:164) “Subkultur adalah gejala budaya dalam masyarakat industri maju yang umumnya terbentuk berdasarkan usia dan kelas. Secara simbolis diekspresikan dalam bentuk penciptaan gaya (style) dan bukan hanya merupakan penentangan terhadap hegemoni atau jalan keluar dari suatu ketegangan sosial”. Subkultur lebih jauh menjadi bagian dari ruang bagi penganutnya untuk membentuk identitas yang memberikan otonomi dalam suatu tatanan sosial masyarakat industri yang semakin kaku dan kabur. Secara sosiologis, sebuah subkultur adalah sekelompok orang yang memiliki perilaku dan kepercayaan yang berbeda dengan kebudayaan induk mereka. Subkultur dapat terjadi karena perbedaan usia anggotanya, ras, etnisitas, kelas sosial, dan/atau gender, dan dapat pula terjadi karena perbedaan aesthetik, religi, politik, dan seksual; atau kombinasi dari faktor-faktor tersebut. Anggota dari suatu subkultur biasanya menunjukan keanggotaan mereka dengan gaya hidup atau simbol-simbol tertentu. Karenanya, studi subkultur seringkali memasukan studi tentang simbolisme (pakaian, musik dan perilaku anggota sub kebudayaan) dan bagaimana simbol tersebut diinterpretasikan oleh kebudayaan induknya dalam pembelajarannya.
Secara harfiah, subkultur terdiri dari dua kata. Sub yang berarti bagian, sebagian dan kultur kebiasaan dan pembiasaan. Tapi secara konseptual, subkultur adalah sebuah gerakan atau kegiatan atau kelakuan (kolektif) atau bagian dari kultur yang besar. Yang biasanya digunakan sebagai bentuk perlawanan akan kultur mainstream tersebut. Bisa berupa perlawanan akan apa saja; agama, negara, institusi, musik, gaya hidup dan segala yang dianggap mainstream. Secara kasar itu bisa diartikan juga sebagai ‘budaya yang menyimpang’. Kebanyakan kita menganggap dan mengidentikkan subkultur dengan suatu kegiatan yang sifatnya negatif. Geng motor, musik underground, anak jalanan dan perilaku amoral lainnya. Padahal, kalaulah kita tahu dan sadar akan arti dan tujuan kata tersebut dialamatkan, maka kita akan sadar dengan sendirinya bahwa subkultur tidak selalu ditujukan untuk hal yang negatif. Pesantren barangkali salah satu subkultur yang nyata dan jelas juga berkesan positif. Pesantren yang dimaksud adalah pesantren yang kiai dan sistem pendidikannya tidak mengacu pada sistem pendidikan nasional. Contoh lain selain pesantren adalah klub/komunitas pecinta sepeda motor yang mewadahi para pecinta atau pengendara sepeda motor ke arah yang lebih positif. Konsep subkultur merupakan hal yang berdaya mobilitas mengkonstitusi obyeknya dari studi. Hal ini merupakan suatu istilah klasifikatori yang mencoba memetakan dunia sosial didalam suatu tindakan terhadap representasi. Keakuratan sub kultur bukan pada sejauh mana mampu berfungsi dalam pemakaiannya. Kata Sub bermakna sebagai istilah dan menunjukan pembedaan dengan jelas arus utama budaya dominan dalam masyarakat. Dengan kata lain, sub kultur dimaksudkan agar bagian masyarakat tertentu mampu memaknai hidup secara baru sehingga dapat menikmati kesadaran menjadi yang lain dalam perbedaan terhadap budaya dominan masyarakat. Chicago School mengidentifikasi bahwa reaksi subkultur lahir bukan sebagai fenomena reaksi individual tetapi reaksi kelompok terhadap problem kelas, the haves and the haves not. Penolakan terjadi pada kaum kelas pekerja terhadap kelompok kelas menengah. Dalam bahasa kategori Charles Wright, kelas dalam struktur kelas masyarakat dibagi 3(tiga) bagian yaitu (kolaborasi pejabat tinggi pemerintahan, pengusaha dan pimpinan militer), Kerah Putih (para eksekutif berupah tinggi), dan Kerah Biru (pekerja biasa).

Dalam model pembagian seperti ini, keadaan kesejahteraan sosial dan ekonomi dinilai sangat tidak adil. Kelompok yang merasa dirugikan, karena kondisi struktur cipataan sangat berperan menyebabkan kondisi ini, berusaha dengan keterbatasan yang ada tetap ingin dapat menikmati hidup dengan cara melakukan redefinisi budaya atau menjadi subkultur agar terasa lebih nyaman. Apalagi di Indonesia. Problem diatas terasa lebih menyolok. Perbedaan antara penduduk yang kaya dengan penduduk yang miskin. Hal ini disebabkan oleh rendahnya nasionalisme, terutama para pemimpin/kaum pejabat yang mengakibatkan terjadinya politik yang kurang sehat, kebobrokan hukum, tingkat pemberdayaan edukasi bangsa yang lemah, kemelaratan, dan lain sebagainya. Solusi terhadap masalah perbedaan kelas ekonomi sosial yang tidak adil hingga kini belum dapat mengambil manfaat variable-variabel kepribadian bangsa, jati diri dan budaya bangsa, karena individu-individu berkepribadian terbelakang, maka terjadilah dominasi konsumsi gaya hidup yang mengimpor dari bangsa-bangsa maju. Barker, mengidentifikasi tugas penyelamatan yang dapat dilakukan sub kultur terdiri 5 (lima) fungsi :
1. Fungsi solusi magis (mujarab) terhadap problem struktur sosio-ekonomi.
2. Fungsi menawarkan identitas kolektif yang berbeda dari yang tercipta disekolah dan tempat kerja.
3. Fungsi memenangkan ruang bagi pengalaman dan naskah alternative terhadap realitas sosial.
4. Fungsi memberikan sejumlah aktivitas waktu luang bermakna, bertolak belakang dari sekolah dan tempat kerja.
5. Fungsi melengkapi solusi terhadap masalah dilema eksistensial identitas.
Subkultur merupakan sikap terhadap pemaknaan ulang, sedang suatu proses redefinisi tersebut disebut bricolage, dan homology yang merupakan relasi sinkronik yang tercipta antara kelompok particular terhadap dunia baru mereka yang telah di redefiniskan. Hebdige, menyatakan bahwa penolakan budaya particular tersebut, bermakna simbolik atau penolakan terhadap ritualitas. Telaah terhadap sub kultur, menunjukan bahwa hal ini terjadi karena peta social yang tidak berimbang antara kelas pekerja dewasa beserta kaum muda dan anak-anak mereka dengan kelas berkuasa yang mengatur (the rulling class). Tentu saja kaum muda lebih berani dan progresif dibanding kaum tua mereka yang berasal dari kelas pekerja biasa, maka munculah kaum muda dengan ritualitas simboliknya. Clarke, berprasangka negative adanya reduksionisme pada sub kultur tersebut. Seperti misalnya gaya hidup Punk pada orang muda yang merupakan reaksi yang didramatisasi atau didramatisir , bukan sikap protes terhadap pengangguran dan kemiskinan. (Barker, C, 2003, hal.374-409).
Jika kita menganalisa permasalah yang ada dari sudut kajian subkultur diatas, maka kita dapat menarik asumsi bahwasanya para remaja atau individu memandang komunitas motor yang mereka bentuk merupakan penolakan atau lebih pada ketidakpuasan mereka terhadap komunitas motor atau club motor yang telah ada, secara tidak langsung terbentuknya komunitas motor merupakan subkultur atau sebuah gerakan atau kegiatan atau kelakuan (kolektif) atau bagian dari kultur yang besar. Yang biasanya digunakan sebagai bentuk perlawanan akan kultur mainstream atau komunitas yang telah ada yang lebih besar, Anggota dari suatu subkultur biasanya menunjukan keanggotaan mereka dengan gaya hidup atau simbol-simbol tertentu. Karenanya, studi subkultur seringkali memasukan studi tentang simbolisme (pakaian, jenis sepeda motor dan perilaku anggota sub kebudayaan) dan bagaimana simbol tersebut diinterpretasikan oleh kebudayaan induknya dalam pembelajarannya tersebut.

Punk Sebagai Sub Culture
Dari berbagai anasir budaya global, punk adalah subkultur underground yang termasuk aktif dalam aktivitas bertendensi politik. Gerakan punk banyak terlibat aksi-aksi protes di tingkat lokal, nasional maupun internasional. Punk adalah gerakan yang mengajukan kebebasan sebagai fondasi utama setiap aktivitas. Mereka akan menunjukkan pertentangan terhadap kemapanan sosial yang tidak adil.Gerakan punk memandang kemapanan sebagai bahaya sosial karena berpotensi membatasi kebebasan berpikir, mencegah orang-orang untuk melihat sesuatu yang benar di masyarakat, dan sebaliknya memaksa mereka untuk menuruti kehendak kekuasaan. Oleh karena itu lah punk sejatinya merupakan semangat anti-kemapanan. Gerakan punk bukanlah sekadar ihwal musik dan penampilan, melainkan pola pikir (state of mind).
Dick Hebdige, dari Birmingham School British Cultural dalam bukunya Asal Usul dan Ideologi Subkultur Punk menggambarkan punk merupakan subkultur pemuda yang berasal dari kalangan kelas pekerja sebagai tanggapan atas kehadiran komunitas kulit hitam yang cukup besar di Inggris. Hal ini tidak terlepas dari sejarah hidup sosial ekonomi Inggris, identitas rasial di Inggris, politik dan budaya di Inggris. Sebagai subkultur, Dick Hebdige (1999:192) memandang punk masa kini tengah menghadapi dua bentuk perubahan yaitu:
1) Bentuk komoditas
Dalam segi ini, atribut dan seluruh aksesoris yang dipakai oleh subkultur punk telah dimanfaatkan oleh industri sebagai barang dagangan yang didistribusikan kepada konsumen untuk mendapatkan keuntungan. Atribut dan aksesoris punk yang dulu hanya dipakai oleh anak punk sebagai simbol identitas, kini dapat diperoleh dengan mudah di toko-toko jalanan yang menjual aksesoris punk dan dikonsumsi oleh umum. Seperti yang diungkapkan oleh Fox-Genovese dalam Malcolm Barnard (1996:187) “Adopsi gaya punk oleh toko-toko fashion High Street adalah ironi yang menyakitkan”. Barang yang awalnya berfungsi sebagai identitas bagi anak punk, kini telah berubah menjadi barang komoditas yang dimanfaatkan oleh pasar untuk mencari keuntungan.

2) Bentuk ideologis
Dari segi ideologis punk merupakan ideologi yang mencakup aspek sosial dan politik. Ideologi mereka dahulu sering dikaitkan dengan perilaku-perilaku menyimpang yang dilakukan oleh anak punk. Berbagai perilaku punk yang dianggap menyimpang, telah didokumentasikan dalam media massa sehingga membuat identitas punk dibalik aksesoris yang melekat di tubuhnya dipandang sebagai seorang yang berbahaya dan berandalan.
Punk sebagai subkultur telah membentuk bangunan budaya baru yang berbeda dengan budaya mainstream yang dianut oleh kaum muda sejak awal kemunculan di Inggris hingga perkembangannya sampai sekarang. Nilai-nilai yang menjadi substansi punk sebagai subkultur tetap diyakini oleh anggotanya. Walaupun punk telah berganti generasi, tetapi sebagai sebuah subkultur nilai-nilai dan eksistensi punk masih dipertahankan hingga sekarang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s