Aku Bergaya maka Aku Ada (life style)

Gaya hidup menurut Sobel (1981: 1) adalah salah satu kata yang akhir-akhir ini sering disalahgunakan. Para ilmuan sosial, jurnalis, dan awam menggunakannya untuk menunjukkan pada hampir semua minat, bisa fashion, Zen, Budhisme, atau masakan Prancis… Jika tahun 1970-an adalah petunjuk akan hal tersebut, kata gaya hidup akan serta merta memasukkan segalanya pada saat yang sama tak bermakna apapun.

Gaya hidup pada dasarnya merupakan kategori-kategori anggota. Ini tidak berarti ia berada pada suatu level spesifikasi teoritis yang tinggi, tapi bahwa orang menggunakan gaya hidup dalam kehidupan sehari-hari untuk mengenali dan menjelaskan adanya kompleks identitas dan afiliasi yang lebih luas. Hal tersebut merupakan bagian dari kosakata praktis kehidupan sehari-hari: “gaya hidup adalah kreasi atau adopsi artifisial. Pembawa pesan sendiri menyadari kenyataan bahwa gaya itu dapat dipakai ataupun dibuang sesuka hatinya dan, karena itu, ia dapat diperankan dengan beberapa tingkatan ironi diri dan sindiran diri” (Bensman dan Vidich 1995: 239).[1]

download makalah

Pengertian dan Konsep Gaya Hidup

Gaya hidup merupakan ciri sebuah dunia modern. Maksudnya adalah siapa pun yang hidup dalam masyarakat modern akan menggunakan gagasan tentang gaya hidup untuk menggambarkan tindakannya sendiri maupun orang lain. Gaya hidup adalah pola-pola tindakan yang membedakan antara satu orang dengan orang lainnya. Pola-pola kehidupan sosial yang khusus seringkali disederhanakan dengan istilah budaya. Sementara itu, gaya hidup tergantung pada bentuk-bentuk kultural, tata krama, cara menggunakan barang-barang, tempat dan waktu tertentu yang merupakan karakteristik suatu kelompok.

Tatanan sosial modern membutuhkan perlengkapan yang kompleks. Itulah mengapa saat ini banyak disebut bahwa kebutuhan manusia semakin kompleks. Bukti lain ditunjukan dengan gedung-gedung serba guna yang memudahkan manusia memenuhi kebutuhannya dalam sekali waktu. Seperti mall yang menjual kebutuhan rumah tangga dan lainnya. Tatanan sosial ini membentuk gagasan tentang kelas atas atau elit yang digunakan untuk menunjuk mereka yang memiliki kemampuan melanggengkan hak-hak istimewa atau privilese mereka melalui ruang dan waktu. Hal tersebut mengikuti Weber (1966), yaitu antara status sebagai lawan dari kelas, untuk menunjukan perhatian terhadap perbedaan sosial yang berasal dari cara penggunaan sumber daya ketimbang cara mengghasilkannya (Turner, 1988 dalam Chaney, 2009:42).

Bayley (1991:209 dalam Chaney, 2009:42) mengemukakan bahwa keangkuhan (snoberry) dan cita rasa (taste) saling berkaitan erat dalam perkembangan modernitas. Cita rasa adalah sebuah agama baru dengan upacara-upacara yang dirayakan di pusat-pusat perbelanjaan dan museum. Kelas-kelas sosial dalam dunia modern dilukiskan dan dilembagakan. Pemilihan kelompok tersebut disadari oleh pelaku maupun orang lain, melalui ciri-ciri gaya hidup yang disimbolkan dengan material. Featherstone membagi gaya hidup menjadi tiga tipe, yakni:

  1. melihat konsumerisme sebagai cara atau tahapan tertentu perkembangan kapitalis.
  2. hubungan antara penggunaan dan benda dan cara-cara melukiskan status.
  3. kreatifitas praktik-praktik konsumen-estetika konsumsi.

Pemasaran gaya hidup lebih dekat dengan bahasa sensibilitas karena produk yang terpengaruh dengan nilai simbolik atau nilai sosial kemudian diposisikan secara implisit sesuai dengan nilai-nilai gaya hidup lainnya. Gaya hidup pribadi dalam pendangan ini menimbulkan permintaan akan pencarian barang, jasa, ataupun aktivitas secara pribadi yang membentuk pola pergaulan yang dirasakan.

Teorisasi Gaya Hidup

– George Simmel dan filosofi uang

Dengan kualitasnya yang “menjadi alat tukar umum”, uang muncul sebagai sebuah “alat universal” yang ditujukan untuk semua pemakaian. Uang membuka berbagai kemungkinan tindakan baru, dan memungkinkan masing-masing orang merealisasikan tujuan akhir yang khas. Pemakaian uang akan memberi masalah pada makna mendalam seperti yang kita berikan kepada kehidupan.

Pertama uang memperkuat perkembangan kalkulasi dan intelektualitas. Selanjutnya sebagai alat, uang akan menjadi tujuan dan pada tataran kedua akan mengasingkan tujuan lain seperti keluarga dan agama. Kedua, penggunaan uang juga akan mendukung munculnya kecenderungan psikologis yang memiliki karakteristik seperti tamak, angkuh, kikir, suka berfoya-foya atau hedonis, miskin dan kekkurangan. Uang menjadikan segala benda bisa diperbandinkan.

Terakhir, uang ikut berpartisipasi dalam pembentukan “gaya hidup” masyarakat yang oleh Simmel diberikan tiga buah konsep, yaitu jarak, ritme, dan simetri. Karakter uang yang bersifat mobile dan impersonal cenderung mendukung terjadinya asosiasi yang berjarak dan berada dalam kepentingan yang sangat terbatas. Uang memungkinkan terjadinya koeksistensi daerah-daerah aglomerasi yang besar, dimana orang tidak perlu melibatkan seluruh personalitasnya dalam pertukaran-pertukaran sosial. Di sisi lain uang cenderung mempercepat dan mengatur ritme masyarakat, terutama dalam masalah ekonomi karena pembentukan sistem moneter akan mempercepat terjadinya pertukaran. Selanjutnya dengan homogenisasi pasar kerena penurunan harga barang mewah, berarti uang ikut berpartisipasi dalam memperbandingkan kelas-kelas sosial, menumbuhkan fenomena-fenomena peniruan (imitasi) dan membedakan serta menekankan pengaruh cara tipikal masyarakat-masyarakat urban.

– Jean Baudrillard dan pertukaran simbolik

Baudrillard memandang objek konsumsi sebagai sesuatu “yang diorganisir oleh tatanan produksi” atau dalam arti lain kebutuhan dan konsumsi adalah perluasan kekuatan produktif yang diorganisir. Dia memandang sistem objek konsumen dan sistem komunikasi pada dasar periklanan sebagai pembentuk “sebuah kode signifikansi” yang mengontrol objek dan individu di tengah masyarakat. Seperti yang dipahami Genosko (1994: xiii dalam Ritzer, 2010: 137), “klaim sentral Baudrillard adalah bahwa objek menjadi tanda (sign) dan nilainya ditentukan oleh sebuah aturan kode. Ketika kita mengonsumsi objek, maka kita mengonsumsi tanda, dan dalam prosesnya kita mendefinisikan diri kita.

Sama halnya dengan gaya hidup yang menjadi sebuah simbol dari masyarakat. Kaum kapitalis menciptakan sebuah ruang belanja serba guna (mall) dimana bangunan ini memberi tanda pada orang di dalamnya. Shopaholic, hedonis, instant, elit adalah nilai-nilai yang dikonstruk oleh tanda. Etalase merk (seperti Matahari dan Gosh) membedakan kelas konsumennya, dilihat dari varian produk, nama, model, harga, dan interior ruang.

Baudrillard menyelidiki dunia fashion sebagai sebuah paradigma dominasi kode. Dalam fashion, semua yang kita lihat adalah “permainan sederhana penanda-penanada”. Fashion diciptakan tidak “menurut determinasinya sendiri”, melainkan dari model itu sendiri. Itulah sebabnya ia tidak pernah diciptakan, tetapi selalu dan serta merta direproduksi. Fashion menciptakan apa yang disebut postmodern “pastiche”. Modernitas adalah sebuah kode, dan fashion adalah lambangnya.

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Gaya Hidup

Amstrong (dalam Nugraheni, 2003)[2] menyatakan bahwa terdapat dua faktor yang mempengaruhi gaya hidup, yaitu dari dalam diri individu (internal) dan luar (eksternal).

a.      Faktor internal

  • Sikap

Sikap berarti suatu keadaan jiwa dan keadaan pikir yang dipersiapkan untuk memberikan tanggapan terhadap sesuatu. Melalui sikap, individu memberi respon positif atau negatif terhadap gaya. Keadaan jiwa dipengaruhi oleh tradisi, kebiasaan, kebudayaan dan lingkungan sosialnya.

  •  Pengalaman dan pengamatan

Pengalaman mempengaruhi pengamatan sosial dalam tingkah laku. Pengalaman diperoleh dari tindakan di masa lalu. Hasil dari pengalaman sosial membentuk pandangan terhadap suatu objek. Seseorang tertarik dengan suatu gaya hidup tertentu berdasarkan pengalaman dan pengamatan.

  • Kepribadian

Kepribadian adalah konfigurasi karakteristik individu dan cara berperilaku yang menentukan perbedaan perilaku dari setiap individu. Kepribadian mempengaruhi selera yang dipilih seseorang, sehingga mempengaruhi pula bagaimana gaya hidupnya.

  • Konsep diri

Konsep diri menggambarkan hubungan antara konsep diri konsumen dengan image merk. Bagaimana individu memandang dirinya akan mempengaruhi minat terhadap suatu objek. Konsep diri sebagai inti dari pola kepribadian akan menentukan perilaku individu dalam menghadapi permasalahan hidupnya.

  • Motif

Perilaku individu muncul karena adanya motif kebutuhan untuk merasa aman dan kebutuhan terhadap. Jika motif seseorang terhadap kebutuhan akan prestise itu besar, maka akan membentuk gaya hidup yang cenderung mengarah kepada gaya hidup hedonis.

  • Persepsi

Persepsi adalah proses dimana seseorang memilih, mengatur, dan menginterpretasikan informasi untuk membentuk suatu gambar yang berarti mengenai dunia.

 b.      Faktor eksternal

  • Kelompok referensi

Kelompok referensi adalah kelompok yang memberikan pengaruh langsung atau tidak langsung terhadap sikap dan perilaku seseorang. Pengaruh-pengaruh tersebut akan menghadapkan individu pada perilaku dan gaya hidup tertentu.

  •  Keluarga

Keluarga memegang peranan terbesar dan terlama dalam pembentukan sikap dan perilaku individu. Hal ini karena pola asuh orang tua akan membentuk kebiasaan anak yang secara tidak langsung mempengaruhi pola hidupnya.

  •  Kelas sosial

Kelas sosial juga mempengaruhi gaya hidup. Ada dua unsur pokok dalam sistem sosial pembagian kelas dalam masyarakat, yaitu kedudukan dan peran. Hierarki kelas sosial masyarkat menentukan pilihan gaya hidup.

  •  Kebudayaan

Kebudayaan yang meliputi pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan kebiasaan-kebiasaan yang diperoleh individu sebagai anggota masyarakat. Kebudayaan terdiri dari segala sesuatu yang dipelajari dari pola-pola perilaku yang normatif, meliputi ciri-ciri pola pikir, merasakan dan bertindak.

SIMPULAN

Berdasarkan pada pembahasan yang telah diuraikan pada makalah tersebut diatas, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:

  1. Gaya hidup adalah pola-pola tindakan yang membedakan antara satu orang dengan orang lainnya. Pola-pola kehidupan sosial yang khusus seringkali disederhanakan dengan istilah budaya. Sementara itu, gaya hidup tergantung pada bentuk-bentuk kultural, tata krama, cara menggunakan barang-barang, tempat dan waktu tertentu yang merupakan karakteristik suatu kelompok.
  2. Dalam pengupasa gaya hidup yang emnjadi asumsi dasar adalah dengan menggunakan teori George Simmel dan Jean Baudrillard. Simmel mengatakan bahwa pembentukan “gaya hidup” masyarakat terdiri dari tiga buah konsep, yaitu jarak, ritme, dan simetri. Sedangkan Baudrillard memandang objek konsumsi sebagai sesuatu “yang diorganisir oleh tatanan produksi”, sehingga objek konsumen dan sistem komunikasi pada dasar periklanan sebagai pembentuk “sebuah kode signifikansi” yang mengontrol objek dan individu di tengah masyarakat.
  3. Faktor yang mempengaruhi gaya hidup, yakni:
  • sikap
  • pengamatan dan pengalaman
  • kepribadian
  • konsep diri
  • motif
  • persepsi
  • kelompok referensi
  • keluarga
  • kelas sosial
  • kebudayaan

DAFTAR PUSTAKA

Giddens Anthony, etc. 2008. La Sociologie: Histoire et Idees atau Sosiologi: Sejarah dan Berbagai Pemikirannya. Terj. Ninik Rochani Sjams. Yogyakarta: Kreasi Wacana

Chaney, David. 2009. Lifestyle atau Lifestyle: Sebuah Pengantar Komprehensif. Terj. Nuraeni. Yogyakarta: Jalasutra.

Ritzer, George. 2010. The Posmodern Social Theory atau Teori Sosial Postmodern. Terj. Muhammad Taufik. Yogyakarta: Kreasi Wacana

Perdana, Aji Putra. 2010. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Gaya Hidup. http://softskiilperilakukonsumen.blogspot.com/2010/12/faktor-faktor-yang-mempengaruhi-gaya.html diakses tanggal 24 Mei 2011.

Disusun Oleh: Risma Dewi A, Yunia Nuraini, Megasari Rianingtyas, Ajeng Dwi Anjani


[1] Lihat juga Bocock,”Konsumen modern secara fisik pasif tetapi secara mental mereka sangat sibuk. konsumsi kini lebih dari yang pernah ada sebelumnya merupakan suatu pengalaman yang ada dibenak sebagai perkara akal dan pikiran, ketimbang sekedar proses pemuasan kebutuhan biologis” (1993: 51).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s