Budaya Konsumen

Sejarah Budaya Konsumen/Konsumerisme

Budaya konsumerisme/ konsumen dilatar belakangi oleh munculnya masa kapitalisme yang diusung oleh karl marx yang kemudian disusul dengan liberalisme. Budaya konsumen/konsumerisme yang merupakan jantung dari kapitalisme adalaha sebuah budaya yang didalamnya terdapat bentuk halusinasi, mimpi, artifilsialitas, kemasan wujud komoditi, yang kemudian dikonstruksi sosial melalui komunikasi ekonomi ( iklan, show,media, dan ) sebagai kekuatan tanda (semiotic power) kapitalisme.

Budaya Konsumen

Budaya konsumen merupakan suatu hal yang menarik utnuk dikaji karena terkait dengan budaya pop karena budaya konsumen ini mengacu seperti budaya pop yaitu bersifat massal. Budaya konsumen itu sendiri diciptakan dan ditujukan kepada negara-negara berkembang guna menciptakan sebuah poal hidup masyarakat yang menuju hedonisme. Budaya konsumen itu sendiri terjadi sudah lam dinegara-negara maju dan kini mulai banyak ditinggalkan oleh masyarakat dan khususnya kelas intlektual di negara maju, budaya konsumen banyak dijumpai diamerika karena amerika merupakan negara yang mencetuskannya dengan tujuan terciptanya imperialisme kebudayaan / kebudayaan kapitalis ,serta perubahan kebudayaan yang diukur melalui nilai-nilai materialisme.

Budaya Konsumen juga dapat diartikan pula sebagai budaya-budaya yang dilakukan oleh seorang konsumen. Adapun budaya konsumen menggunakan image, tanda-tanda dan benda-benda, simbolik yang mengumpulkan mimpi-mimpi, keinginan dan fantasi yang menegaskan keauntentikan romantik dan pemenuhan emosional dalam hal menyenangkan diri sendiri bukan orang lain; secara narsistik.

Dalam budaya konsumen terdapat tiga macam perspektif:

  1. Pandangan bahwa konsumen dipremiskan dengan ekspansi produk komoditas kapitalis yang memunculkan akumulasi besar-besaran budaya dalam bentuk barang-barang konsumen dan tempat-tempat belanja dan konsumsi.
  2. Pandangan bahwa masyarakat mempunyai cara-cara yang berbeda dalam menggunakan benda-benda untuk menciptakan ikatan-ikatan atau perbedaan masyarakat.
  3. Adanya masalah kesenangan emosional untuk konsumsi, mimpi-mimpi dan keinginan yang ditampakan dalam bentuk budaya konsumsi dan tempat-tempat konsumsi tertentu  yang secara beragam memunculkan kenikmatan jasmaniah langsung serta kesenangan estetis.

Dalam mode-mode konsumsi terdapat logika konsumsi, yaitu cara yang terstruktur secara sosial dimana benda-benda digunakan untuk membatasi hubungan sosial. Dalam logika konsumsi ini, benda konsumsi sebagai komunikator yang mampu menunjukkan identitas atau status sosial ketika konsumen mampu membelinya atau memilikinya.

Tiga Faktor Yang Mempengaruhi Pola Konsumni

(1). Konsumen Individu

Pilihan merek dipengaruhi oleh ;

  1. Kebutuhan konsumen,
  2. Persepsi ataskarakteristik merek, dan
  3. Sikap kearah pilihan. Sebagai tambahan, pilihan merek dipengaruhi oleh demografi konsumen, gaya hidup, dan karakteristik personalia.

(2). Pengaruh Lingkungan

Lingkungan pembelian konsumen ditunjukkan oleh:

  1. Budaya (Norma kemasyarakatan, pengaruh kedaerahan atau kesuku an),
  2. Kelas sosial (keluasan grup sosial ekonomi atas harta milik konsumen),
  3. Grup tata muka (teman, anggota keluarga, dan grup referensi) dan
  4. Faktor menentukan yang situasional ( situasi dimana produk dibeli seperti keluarga yang menggunakan mobil dan kalangan usaha).

(3). Marketing strategy

Merupakan variabel dimana pemasar mengendalikan usahanya dalam

a)      Memberitahu dan mempengaruhi konsumen

b)      Barang,

c)      Harga,

d)     Periklanan dan

e)      Distribusi yang mendorong konsumen dalam proses pengambilan keputusan. Pemasar harus mengumpulkan informasi dari konsumen untuk evaluasi kesempatan utama pemasaran dalam pengembangan pemasaran

Budaya konsumen sangatlah erat kaitannya dengan ilmu ekonomi dan permasalahan ekonomi. Suatu barang terkadang digunakan untuk memperoleh prestise karena harganya sangat tinggi dan sukar diperoleh. Adapula barang seperti hadiah dan warisan yang tidak lagi dipandang sebagai barang yang diperdagangkan sehingga dianggap tidak berharga, dalam arti tidak pantas dipertimbangkan untuk menjualnya atau menetapkan harganya karena menimbulkan hubungan personal yang erat serta untuk membangkitkan memori tentang seseorang yang dicintainya.

Di lain pihak, benda-benda yang dibuat untuk keperluan ritual dan mempunyai nilai simbolik, cenderung tidak diperjual belikan, tetapi pada saat yang sama dapat menaikkan nilai benda-benda tersebut. Kelangkaan benda-benda itu serta ketidakberhargaannya justru menaikkan harga dan daya tariknya.Kesenangan masyarakat terhadap benda-benda hanya sebagian saja yang berhubungan konsumsi fisik benda tersebut, dan sangat jelas berkaitan dengan manfaat benda itu sebagai pemberi ciri, misal pemakaian beberapa merek dagang.

Di samping penguasaan budaya dan informasi, orang harus mengetahui tentang bagaimana menggunakan serta mengkonsumsi secara tepat dan dengan kemudahan dalam segala situasi. Di sini selera juga mengklasifikasikan orang yang bersangkutan, dimana pilihan konsumsi dan gaya hidup melibatkan keputusan yang membedakan yang pada saat yang sama mengidentifikasikan dan mengklasifikasikan pilihan selera diri sendiri menurut orang lain.Pemakalah pada kesempatan kali ini mengkaji permasalahan budaya konsumen sebagai suartu proses kebudayaan yang memiliki akibat/masalah bagi masyarakat dalam jangka panjang atau berpengaru pada struktur sosial masyarakat  dimasa depan baik itu bersifat positif maupun negatif.

Dampak Budaya Konsumen

Dampak yang sangat mencolok dari budaya konsumen yaitu pola hidup masyarakat, seperti hedonisme, konsumerisme dan kapitalisme. Budaya konsumen pada dasarnya merupakan cara berfikir atau memandang seseorang yang kemudian menginternalisasi dalam kehidupannya karena dibiasakan yang akhirnya populer dan menjadi budaya massa.

Contoh nyata dari budaya konsumen yaitu TV dimana pada mulanya tujuan dari adanya TV sebagai sumber/transfer informasi, pengetahuan, dan pendidikan. Tujuan itu kini telah berubah seiring dengan pesatnya perkembangan teknologi dan informasi khususnya TV, Internet, dll. Tujuan semula yaitu sebagai tranfer informasi, pengetahuan dan pendidikan kini berubah 90% hanya untuk hiburan saja hal itu semata-mata dilakukan untuk merauk keuntungan materiil semata oleh para pelaku bisnis hiburan dan TV.

Kapitalisme pada kesempatan ini turut menjadin pendukung dari perubahan fungsi dan struktur sosial yang diakibatkan dari perubahan budaya konsumen yang terus dilakukan oleh masyarakat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s