Popular Culture

Latar Belakang

            Subordinasi bukan sekedar persoalan koersi melainkan juga soal persetujuan. Budaya pop yang banyak menyita perhatian cultural studies, dikatakan sebagai landasan tempat dimana persetujuan dapat dimenangkan atau tidak. Sebagai sebuah cara untuk menjelaskan kesalingterkaitan antara kekuasaan dan persetujuan, ada sepasang konsep lain yang pernah digunakan dalam teks-teks awal cultural studies, namun tidak begitu relevan akhir-akhir ini, yakni ideology dan hegemoni.

Ideology berarti peta-peta makna yang mengklaim dirinya sebagai kebenaran universal namun sebenarnya merupakan pemahaman spesifik yang punya latar belakang sejarahnya sendiri yang menutup-nutupi dan sekaligus mengkukuhkan kekuasaan. Sebagai contoh berita televise menghasilakan pemahaman akan dunia. Dia terus-menerus menjelaskannya berdasarkan konteks bangsa, yang diterima sebagai objek-objek yang terjadi secara alamiah, padahal sebenarnya dia mengaburkan pembagian kelas dan formasi sosial dan karakter nasionalitas yang dikonstruksi. Representasi gender dalam iklan, yang menggambarkan perempuan hanya sebagai ibu rumah tangga atau perempuan seksi, mereduksi mereka menjadi kategori-kategori tersebut, dengan mengabaikan tempat mereka sebagai manusia dan warga negara seutuhnya. Proses penciptaan, pelanggengan dan reproduksi makna dan praktik oleh pihak atas disebut hegemoni. Hegemoni adalah sebuah situasi dimana satu kelompok berkuasa dalam satu kurun sejarah menerapkan otoritas dan kepemimpinan sosialnya terhadap kelompok-kelompok subordinat dengan cara memenangi persetujuan kelompok-kelompok tersebut.

Definisi Budaya Pop

Mendefinisikan “budaya” dan “populer”, yang pada dasarnya adalah konsep yang masih diperdebatkan, sangat rumit. Definisi itu bersaing dengan berbagai definisi budaya populer itu sendiri. John Storey, dalam Cultural Theory and Popular Culture, membahas enam definisi. Definisi kuantitatif, suatu budaya yang dibandingkan dengan budaya “luhur” (Misalnya: festival-festival kesenian daerah) jauh lebih disukai. “Budaya pop” juga didefinisikan sebagai sesuatu yang “diabaikan” saat kita telah memutuskan yang disebut “budaya luhur”. Namun, banyak karya yang melompati atau melanggar batas-batas ini misalnya Shakespeare, Dickens, Puccini-Verdi-Pavarotti-Nessun Dorma. Storey menekankan pada kekuatan dan relasi yang menopang perbedaan-perbedaan tersebut seperti misalnya sistem pendidikan.

Definisi ketiga menyamakan budaya pop dengan Budaya Massa. Hal ini terlihat sebagai budaya komersial, diproduksi massal untuk konsumsi massa. Dari perspektif Eropa Barat, budaya pop dapat dianggap sebagai budaya Amerika. Atau, “budaya pop” dapat didefinisikan sebagai budaya “autentik” masyarakat. Namun, definisi ini bermasalah karena banyak cara untuk mendefinisikan “masyarakat”. Storey berpendapat bahwa ada dimensi politik pada budaya populer; teori neo-Gramscian “… melihat budaya pop sebagai tempat perjuangan antara ‘resistansi’ dari kelompok subordinat dalam masyarakat dan kekuatan ‘persatuan’ yang beroperasi dalam kepentingan kelompok-kelompok dominan dalam masyarakat.” Suatu pendekatan postmodernism pada budaya populer “tidak lagi mengenali perbedaan antara budaya luhur dan budaya populer.”

Storey menekankan bahwa budaya populer muncul dari urbanisasi akibat revolusi industri, yang mengindentifikasi istilah umum dengan definisi “budaya massa”. Penelitian terhadap Shakespeare (oleh Weimann atau Barber Bristol, misalnya) menemukan banyak vitalitas karakteristik pada drama-drama Shakespeare dalam partisipasinya terhadap budaya populer Renaissance. Sedangkan, praktisi kontemporer, misalnya Dario Fo dan John McGrath, menggunakan budaya populer dalam rasa Gramscian yang meliputi tradisi masyarakat kebanyakan (Ludruk misalnya).

Budaya Pop selalu berubah dan muncul secara unik di berbagai tempat dan waktu. Budaya pop membentuk arus dan pusaran, dan mewakili suatu perspektif interdependent-mutual yang kompleks dan nilai-nilai yang memengaruhi masyarakat dan lembaga-lembaganya dengan berbagai cara. Misalnya, beberapa arus budaya pop mungkin muncul dari (atau menyeleweng menjadi) suatu subkultur, yang melambangkan perspektif yang kemiripannya dengan budaya pop mainstream begitu sedikit. Berbagai hal yang berhubungan dengan budaya pop sangat khas menarik spektrum yang lebih luas dalam masyarakat.

Sehinga dari pernyataan di atas dapat disimpulkan bahwa Budaya populer (biasa disingkat sebagai budaya pop dalam bahasa Inggris popular culture atau disingkat pop culture) adalah gaya, style, ide, perspektif, dan sikap yang benar-benar berbeda dengan budaya arus utama ‘mainstream’ (yang preferensinya dipertimbangkan di antara konsensus informal). Banyak dipengaruhi oleh media massa (setidaknya sejak awal abad ke-20) dan dihidupkan terus-menerus oleh berbagai budaya bahasa setempat, kumpulan ide tersebut menembus dalam keseharian masyarakat. Budaya populer sering dipandang sepele dan “tidak intelek” jika dibandingkan dengan apa yang disetujui sebagai budaya arus utama. Sebagai hasil dari persepsi ini, budaya pop mendapat banyak kritikan dari berbagai sumber ilmiah dan budaya mainstream (biasanya dari kelompok-kelompok religi dan countercultural) yang menganggap budaya pop superficial (palsu), konsumeris, sensasionalis, dan tak bermoral. Sikap ini tercermin dalam preferensi dan penerimaan atau penolakan terhadap berbagai fitur dalam berbagai subjek, misalnya masakan, pakaian, konsumsi, dan banyak aspek entertainment seperti olahraga, musik, film, dan buku-buku. Budaya populer sering bertolak belakang dengan “budaya tinggi” (budaya luhur, budaya adiluhung) yang merupakan budaya kaum penguasa. Juga ditentangkan dengan budaya rendah atau rakyat dari kelas akar rumput. Awal mula penggunaan kata “popular” dalam bahasa Inggris adalah pada abad kelima belas dalam hukum dan politik, yang berarti rendah “rendah”, “dasar”, “vulgar”, dan “masyarakat kebanyakan”; sejak akhir abad kedelapan belas, popular berarti “luas” dan mendapatkan arti konotasi yang positif (William, 1985). Kata “Culture” di kalangan pengguna bahasa Inggris, sejak tahun 1950-an digunakan untuk mengacu pada berbagai kelompok masyarakat, dengan penekanan pada perbedaan budaya.

Kebudayaan massa: kebudayaan pop

Salah satu varian dari pandangan yang memisahkan budaya tinggi dengan budaya rendah, yang membuat kebudaayaan pop merasa “inferior”, adalah pandangan yang menganggap kebudayaan berbasis komuditas yang sebagai sesuatu yang tidak autentik, manipulative, dan tidak memuaskan. Argumennya adalah bahwa “kebudayaan massa” kapitalis yang termodifikasi tidak autentik karena tidak dihasilkan oleh masyarakat, manipulative karena tujuan untamanya adalah agar di beli, dan tidak memuaskan karena selain mudah di konsumsi, iapun tidak mensyaratkan terlalu banyak kerja dan gagal memperkaya batin konsumennya. Pandangan ini di pegang teguh oleh kritikus konserfatif seperti Leavis dan oleh mahzab Franfurt yang terihami gagasan Marxian. Jadi, Adorno dan

Horkheimer memadukan frase “industri kebudayaan” untuk menunjukkan bahwa kebudayaan kini sepenuhnya saling berpautan dengan ekonomi politik dan produksi kebudayaan oleh perusahaan-perusahaan kapitalis. Dalam konteks ini kedua penulis berusaha mengeksplorasi makna-makna kebudayaan yang di produksi missal dan ragam orang serta tatanan sosial  yang kata mereka ditimbulkan oleh kebudayaan tersebut.

Kebudayaan sebagai pembohongan missal

Sikap Adorno dan Horkheimer terhadap kebudayaan massa dinyatakan secara terang-terangan dan tegas dalam judul esai mereka industri kebudayaan-pencerahan sebagai pembohong massal. (the culture industry-en-lightenment as mass deception) (Adorno dan Horkheimer, 1979). Mereka berpendapat bahwa produk cultural adalah komoditas yang dihasilkan oleh industri kebudayaan yang meski demokratis, individualistis, dan beragam, namum pada keyataannya otriter, konformis, dan sangat terstandardisasi. Jadi kebudayaan membubuhkan stempel yang sama atas berbagai hal. Film radio dan majalah menciptakan suatu system yang seragam secara keseluruhan untuk semua bagian (Adorno dan Horkheimer, 1979:120). Keragaman produk industri kebudayaan adalah suatu ilusi untuk sesuatu yang disediakan bagi semua orang sehingga tak seorangpun bisa lari darinya  (Adorno dan Horkheimer, 1979:123).

Adorno (1941) memandang music pop, khususnya jazz, sebagai suatu plesan, miskin dengan orisinalitas dan tidak memerlukan terlalu banyak usaha oleh audiennya. Bagi Adorno, tujuan music standar adalah reaksi standard dan penegasan atas kehidupan sebagaimana adanya. Ini bukan cumin sosal makna yang tersembunyi, namun soal penstrukturan psikis manusia secara konformis. Adorno mengganti istilah ideology (sabagai ide) dengan psikologi Freudian saat menyatakan industri kebudayaan, bersama dengan keluarga, memproduksi “kelemahan ego” dan :kepribadian otoriter”

Sebaliknya, seni kritis Adorno tidak berorientasi pada pasar dan menentang standar logika masyarakat yang tereifikasi. Menurut Adorno, contohnya adalah music atonal (tanpa nada) Schoenberg, yang menurutnya, memaksa kita berfikir tentang cara baru dalam melihat dunia ini. Kita bisa mencatat bahwa kritik yang dikemukakan ini benar-benar soal bentuk ketimbang isi, khususnya aliran nonrealistic dan sifat “asing” seni yang memberikan inspirasi melalui “negativitas utopis:-nya.

Kebudayaan pop

Ada beberapa cara dimana kebudayaan pop digunakan (lihat Storey, 1993). Sebagai contoh, istilah ini bisa menunjuk pada apa-apa yang tersisa setelah segala sesuatu yang bisa dianggap budaya tinggi sudah ditetapkan atau bisa juga merujuk pada kebudayaan yang diproduksi secara missal oleh industri kebudayaan. Cara pandang ini senada dengan karya Leavis dan Adorno yang dalam sebuah pembagian biner, melihat kebudayaan pop lebih rendah dari pasangannya (budaya tinggi). Dalam membicarakan kebudayaan secara lebih serius, cultural studies menentang watak definisi elit ini.

Para kritikus yang menyukai budaya komoditas namun tidak ingin sepenuhnya mengutuk budaya ini memahami kebudayaan pop dengan cara mempertentangkan kebudayaan massa dengan kebudayaan rakyat autentik yang dihasilakan oleh masyarakat. Pandangan semacam itu menghantui pencarian zaman keemasan yang ditunjukkan oleh para teoretisi cultural konservatif dan para kritikus sayap kiri terhadap komodifikasi kebudayaan. Namun seperti kata fiske dalam masyarakat kapitalis tidak ada kebudayaan rakyat autentik sehingga meratapi hilangnya kebudayaan autentik adalah usaha sia-sia dalam nostalgia zaman romantic. (fiske, 1989a:27).

Kebudayaan pop terutama adalah kebudayaan yang diproduksi secara komersial dan tidak ada alasan untuk berfikir bahwa tampaknya ia kaan berubah di masa yang akan datang. Namun, dinyatakannya bahwa audien pop menciptakan makna mereka sendiri melalui teks kebudayaan pop dan melahirkan kompetensi cultural dan sumber daya diskursif mereka sendiri. Kebudayaan pop dipandang sebagai makna dan praktek yang dihasilkan oleh audien pop pada saat konsumsi dan studi tentang kebudayaan pop  terpusat bagaimana dia digunakan. Argument-argumen ini menunjukkan adanya pengulangan pertanyaan tradisional tentang bagaimana industri kebudayaan memalingkan orang kepada komoditas yang mengabdi kepada kepentingannya dan lebih suka mengeksplorasi bagaimana orang mengalihkan produk industri menjadi kebudayaan pop yang mengabdi kepada kepentingan.

Yang Pop Yang Bersifat Politis

Cultural studies berkerja dengan konsepsi kebudayaan pop yang positif yang dinilai dan dianalisis secara kritis. Cultural studies menolak pandangan elitis mengenai budaya tinggi – budaya rendah, atau kritik atas kebudayaan massa. Sebagaimana dikemukakan  Mc Guigan. Cultural studies memiliki bakat populis dimana “ populisme cultural merupakan asumsi intelektual, yang dibuat oleh para pengkaji kebudayaan pop, bahwa pengalaman dan praktik simbolis orang – orang biasa lebih penting secara analistis dan secara politis dibandingkan dengan kebudayaan dengan “K” kapital”. (Mc Guigan. 1992:4)

Kebudayaan pop terbentuk melalui produksi makna popular yang terbentuk pada saat konsumsi. Makna tersebut merupakan arena perselisihan nilai – nilai politis dan nilai – nilai cultural. Sebagaimana dikatakan Hall (1977, 1981, 1996c), kebudayaan pop adalah arena consensus dan resistensi dalam memperjuangkan makna cultural. Dia adalah tempat dimana hegemoni cultural diterima atau ditentang.

Hall mengembalikan kita pada konsepsi politis kebudayaan pop sebagai arena memperjuangkan makna. Penilaian atas kebudayaan pop terpusat pada pertanyaan yang tidak diarahkan kepada nilai estetis dan nilai cultural namun diarahkan pada kekuasaan dan tempat kebudayaan pop dalam formasi sosial yang lebih luas. Konsep tentang yang popular menentang bukan hanya pemisahan antara budaya tinggi dengan budaya rendah namun juga menentang aksi klasifikasi kebudayaan dengan dan melalui kekuasaan.

Konsumsi Kreatif

Cultural studies yang focus pada masalah konsumsi berpendapat bahwa  meskipun produksi music pop, film, televise dan pakaian ada di tangan  perusahaan kapitalis transnasional, makna selalu diproduksi, diubah dan diatur pada level konsumsi oleh orang yang merupakan produsen aktif makna. Ini berlaku khususnya dalam satu lingkungan “ekses semiotic” dimana persebaran sirkulasi tanda – tanda polisemik membuat segala makna dominan lebih sulit melekat. Penulis semacam Chambers (1987, 1990), Fiske (1989a, 1989b) dan Hebdidge (1988) telah mendiskusikan aktivitas produksi makna secara kreatif yang dilakukan konsumen yang menjadi bricoleur, menyeleksi dan menata elemen komoditas dan tanda – tanda yang penuh makna. Sebaliknya, Willis (1990) berpendapat bahwa alih – alih inheren di dalam komoditas, makna dan nilai dikonstruksi melalui pemakaian  produk secara sosial. Secara umum, diperdebatkan bahwa orang menjelajahi arena dan tempat makna yang meskipun bukan ciptaan mereka sendiri, tetap merupakan suatu yang didalamnya mereka dapat secara aktif memproduksi secara logika.

Konsumsi berhubungan satu banding satu dengan produksi secara rasional, ekspansionis dan pada saat yang sama terpusat, menggoda dan spektakuler. Konsumsi bersifat menipu, tercerai – berai namun  ia ada dimana – mana, secara sembunyi – sembunyi dan hampir tak terlihat. Karena ia tidak mewujudkan dirinya melalui produk sendiri, melainkan melalui cara pemanfaatan produk yang dipaksakan oleh tatanan ekoomi dominan.

Mengikuti de certeau, Fiske berpendapat bahwa kebudayaan pop dibentuk oleh makna  yang diciptakan orang ketimbang makna yang dapat diidentikan oleh teks. Meskipun jelas menganggap kebudayaan pop diproduksi secara besar – besaran oleh perusahaan kapitalis. Fiske lebih memfokuskan perhatiannya kepada  taktik popular dimana kekuatan – kekuatan ini ditangani, dihindari dan dipertahankan (Fiske, 1989a:8). Fiske memandang vitalitas dan kreatifitas popular mengarah pada kemungkinan perubahan sosial dan motivasi untuk mendorong terjadinya perubahan sosial  ( Fiske, 1989a:8). Lebih jauh lagi, ia berpendapat bahwa antara 80 hingga 90 persen produk baru gagal walau sedah dilakukan promosi besar – besaran. Yang dimaksud adalah bahwa industry kebudayaan harus bekerja keras untuk memaksa kita mengkonsumsi kebudayaan massa. Konsumen bukanlah orang dungu yang pasif melainkan secara aktif memproduksi makna dengan cara melakukan pemilahan. Patut dicatata bahwa jika para kritikus yang menekankan produksi menyebutnya “kebudayaan massa”, maka para penulis yang menekankan konsumsi lebih suka menyebutnya “ kebudayaan pop”. Istilah “kebudayaan massa” dan “kebudayaan pop” sama – sama bersifat evaluative dalam kaitannya dengan harga komoditas dan kapasitas konsumen.

PENUTUP

Budaya populer-lebih sering disebut dengan budaya pop adalah apapun yang terjadi di sekeliling kita setiap harinya. Apakah itu pakaian, film, musik, makanan, semuanya termasuk dalam bagian dari kebudayaan populer Definisi dari popular atau populer adalah diterima oleh banyak orang, disukai atau disetujui oleh masyarakat banyak. Sedangkan definisi budaya adalah satu pola yang merupakan kesatuan dari pengetahuan, kepercayaan serta kebiasaan yang tergantung kepada kemampuan manusia untuk belajar dan menyebarkannya ke generasi selanjutnya. Selain itu, budaya juga dapat diartikan sebagai kebiasaan dari kepercayaan, tatanan sosial dan kebiasaan dari kelompok ras, kepercayaan atau kelompok sosial.

Sehinga dari pernyataan di atas dapat disimpulkan  bahwa Budaya populer (biasa disingkat sebagai budaya pop dalam bahasa Inggris popular culture atau disingkat pop culture) adalah gaya, style, ide, perspektif, dan sikap yang benar-benar berbeda dengan budaya arus utama ‘mainstream’ (yang preferensinya dipertimbangkan di antara konsensus informal).

alah satu varian dari pandangan yang memisahkan budaya tinggi dengan budaya rendah, yang membuat kebudaayaan pop merasa “inferior”, adalah pandangan yang menganggap kebudayaan berbasis komuditas yang sebagai sesuatu yang tidak autentik, manipulative, dan tidak memuaskan. Argumennya adalah bahwa “kebudayaan massa” kapitalis yang termodifikasi tidak autentik karena tidak dihasilkan oleh masyarakat, manipulative karena tujuan untamanya adalah agar di beli, dan tidak memuaskan karena selain mudah di konsumsi, iapun tidak mensyaratkan terlalu banyak kerja dan gagal memperkaya batin konsumennya. Pandangan ini di pegang teguh oleh kritikus konserfatif seperti Leavis dan oleh mahzab Franfurt yang terihami gagasan Marxian. Jadi, Adorno dan

Produk cultural adalah komoditas yang dihasilkan oleh industri kebudayaan yang meski demokratis, individualistis, dan beragam, namum pada keyataannya otriter, konformis, dan sangat terstandardisasi. Jadi kebudayaan membubuhkan stempel yang sama atas berbagai hal. Film radio dan majalah menciptakan suatu system yang seragam secara keseluruhan untuk semua bagian (Adorno dan Horkheimer, 1979:120). Keragaman produk industri kebudayaan adalah suatu ilusi untuk sesuatu yang disediakan bagi semua orang sehingga tak seorangpun bisa lari darinya  (Adorno dan Horkheimer, 1979:123).

Kebudayaan pop terutama adalah kebudayaan yang diproduksi secara komersial dan tidak ada alasan untuk berfikir bahwa tampaknya ia kaan berubah di masa yang akan datang. Namun, dinyatakannya bahwa audien pop menciptakan makna mereka sendiri melalui teks kebudayaan pop dan melahirkan kompetensi cultural dan sumber daya diskursif mereka sendir

Cultural studies berkerja dengan konsepsi kebudayaan pop yang positif yang dinilai dan dianalisis secara kritis. Cultural studies menolak pandangan elitis mengenai budaya tinggi – budaya rendah, atau kritik atas kebudayaan massa.

Cultural studies yang focus pada masalah konsumsi berpendapat bahwa  meskipun produksi music pop, film, televise dan pakaian ada di tangan  perusahaan kapitalis transnasional, makna selalu diproduksi, diubah dan diatur pada level konsumsi oleh orang yang merupakan produsen aktif makna.

DAFTAR PUSTAKA

Barker, chris. 2009. Cultural Studies. Yogyakarta: Kreasi Wacana.

http://first-things-first.blogspot.com/2005/01/menyimak-budaya-populer.html pada tanggal 27 April 2011 jam 14:32

http://www.antaranews.com/berita/1279205517/media-massa-banyak-terjebak-dalam-budaya-pop pada tanggal 27 April 2011 jam 14:32

http://pestabuku.info/products-page/sosial/berhala-itu-bernama-budaya-pop/

http://www.antaranews.com/berita/1279205517/media-massa-banyak-terjebak-dalam-budaya-pop pada tanggal 27 April 2011 jam 14:32

http://www.docstoc.com/docs/24817003/Sosialisasi-sebagai-proses-pembentukan-kepribadian pada tanggal 27 April 2011 jam 14:32

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s