Hegemoni

Antonio Gramsci

Seorang penganut Marxisme dari Italia

  • Perjalanan Karier Gramsci

Tahun 1916 bekerja sebagai wartawan

Tahun 1921 menjadi anggota partai komunis Italia yang baru di bentuk dan ia terpilih sebagai pemimpinnya

Tahun 1924 kembali ke Moskow

Tahun 1926 dipenjarakan oleh Musholini, yang memperoleh kekuasaan pada tahun 1922

Gramsci tetap dipenjarakan sepanjang hidupnya.

  • Karya Antonio Gramsci

  1. Selection from prison notebooks (1971)

Tulisannya dibuat ketika ia dipenjara, karyanya telah diterbitkan dalam bahasa Inggris. Gramsci menulis karya ini ketika ia berada dalam masa-masa sulit akibat sensor penjara.

  1. (Journalistic variety)

Merupakan karya yang berbentuk variasi jurnalistik. Tulisan-tulisan ini dibuat sebelum ia dipenjarakan dan ketika pada saat Gramsci ikut serta dalam pendudukan oleh para pekerja terhadap pabrik-pabrik di Turin pada akhir 1920.

Pengalaman dengan berbagai dewan pekarja di Turin sangat bermanfaat untuk membentuk pandangan Gramsci yang muncul di kemudian hari tentang kepemimpinan partai dan hubungannya dengan massa, yaitu pandangan yang sangat berbeda dengan pandangan-pandangan pandangan yang menekankan pada sentralisme dan disiplin partai.

Gramsci sangat memperhatikan orang-orang yang memberikan persetujuan dan pemahaman yang penuh terhadap berbagai kebijakan para penguasa politik. Hal tersebut sangat kontras dengan orang-orang yang terutama menekankan pada anggota untuk mematuhi berbagai petunjuk dan perintah dari komite sentral.

Gramsci beragumen bahwa sangat penting untuk mengembangkan hubungan yang saling menguntungkan antara para pemimpin dan massa sebelu revolusi terjadi, karena jika tidak demikian sesudah revolusi apapun hubungan antara pemerintah dan masyarakat akan bersifat kediktatoran.

Konsep hegemoni yang dikembangkan oleh Gramsci berarti untuk sebagian masyarakat dari kelas-kelas yang tidak mengeksploitasi hendaknya memberikan persetujuan masyarakat apda filsafat praksis (philosophy of praxis), istilah Gramsci untuk Marxisme, sebgai bentuk pemahaman, bukan lewat berbagai proses manipulasi dan pembebanan oleh elite partai.

Gagasan Laten Hegemoni menurut Marx

Marx telah mengalami dampak regersif dari adanya penyensoran negara Prussia selama pekerjaannya sebagai seorang wartawan dan editor di majalah Jerman Rheinische Zeitung, larangan untuk terbit yang diberikan oleh badan sensor Prussia terhadap majalah tersebut dan menyebabkan Marx pindah ke Paris pada tahun 1843.

Menurut pandangan penganut Marxisme Athusserian, problematika hegemoni Gramasci dilihat sebagai bersih dari makalah-makalah yang bersifat non-ilmiah humanistis yang dipengaruhi hegellian yang dibuat oleh Marx muda.

Komentar-komentar Marx tentang negara dipahami oleh sebagian besar Marxis secara instrumen, berdasarkan pembedaan mekanistis dan ekonomistis antara landasan ekonomi dan superstruktur ideologis . negara hanya dilihat sebgai kepanjangan tantangan dari aturan kelas, bukan sebagai suatu wilayah yang otonom atau relatif otonom. Seperti yang diindikasikan oleh seorang penulis Prancis, C. Bucis Glucksmann.

Ilmu yang dikembangkan oleh Marx baru berberkembang setelah ia membuat pemutusan epistimologis dengan filsafat Hegel dan ekonomi politik Adam Smith dan para ekonom lain. Bentuk teori sosial yang menjadi fokus perhatian ini yaitu berpusat di sekitar ide hegemoni, tidak berusaha untuk menjadi “ilmiah” sepertihalnya yang dilakukan Althusser dimasa jayanya. Sebaliknya bentuk baru Marxisme tersebut berusaha mengembangkan teori sosial untuk analisis dan pemahaman terhadap berbagai bentuk kontemporer kapitalisme modern dengan kiteria penilaian yang kebih menekankan relevansi filosofis, kepemimpinan moral, dan politik dari aspek “ilmiah” murni yang terdapat pada perkembangan-perkembangan konseptualnya.

Tuisan Marx yang spesifik dalam perkembangan sentralis hegemoni marxisme gramscian adalah The Eighteenth Brumaire of Louis Bonaparte (1852. Edisi ke dua)dan The Class Struggle in France 1848-1850 yang nampaknya memiliki peran sentral.

Bagi Marx, dalam kedua teks tersebut, sosok Napoleon Bonaparte tidak mewakili kepentingan kaum borjuis secara langsung tetapi mewakili kepentingan kaum sejumlah besar para petani konservatif. Pengikut Napoleon telah mengklaim bahwa mereka berada di matas kepentingan kelas dan mewakili kepentingan “bangsa”. Namun birokrasi negara yang dibentuk oleh pegikut Npoleon , berdasarkan pajak terhadap para petani berenghasilan kecil, melayani berbagai kepentingan kapitalis . birokrasi tersebut memberikan pekerjaan terhadap populasi yang berlebih, mengembangkan represi-represi koersif kepada bagian-bagian tertentu dari populasi , dan membentuk kekuasaan eksekutif negra tanpa campur tangan parlemen. Dengan demikian wajah politik dapat dilihat sebagai relatif otonom, tetapi tetap terkait dengan kepentingan ekonomi para kapitalis.

Dalam buku The Eighteen Brumaire , Marx membedakan gagasan masyarakat sipil dalam teks tersebut:

Negara terlibat, mengontrol, mengatur dan menegelola masyarakat sipil dari berbagai ekspresinya yang mencakup dari semua bentuk eksistensinya yang paling umum sampai kehidupan pribadi individu-individual”.

Dalam dalil ini negara bertindak secara totaliter terhadap masyarakat sipil. Namun, secara konseptual keduanya terpisah sebelum negara mendominasi.

LENIN

Gagasan untuk hegemoni pertama kali diperkenalkan pada tahun 1885 oleh para marxis Rusia, terutama oleh Plekhanov pada 1883-1984. gagasan tersebut telah dikembangkan sebagai bagian dari strategi untuk menggulingkan Tsarisme. Istilah tersebut menunjukkan kepemimpinan hegemoni yang harus dibentuk oleh kaum proletar dan wakil-wakil politiknya, dalam suatu aliansi dengan kelompok-kelompok lain, termasuk beberapa kritikus borjuis, petani dan intelektual yang berusaha mengakhiri negara polisi Tsaris.

Kemajuan yang dicapai oleh Lenin dibandingkan pembahasan-pembahasan sebelumnya tentang gagasan hegemoni, adalah menekankan pada peran kepemimpinan teoretis. Lenin juga menyatakan bahwa peran pejuang barisan depan hanya dapat dipenuhi oleh suatu partai yang dibimbing oleh teori yang paling maju. Teori adalah esensial, menurut Lenin, jika kesadaran serikat pekerja diharapkan untuk lebih maju daripada keadaan diperbudak oleh ideologi borjuis.

Lenin melihat negara sebagai instrumen aturan kelas. Negara adalah produk dan manifestasi dari tidak dapat direkonsiliasikannya antagonisme-antagonisme kelas. Negara muncul, ketika pada tempat dan pada tahap yang didalamnya antagonisme-antagonisme kelas secara obyektif tidak dapat direkonsiliasikan.

GRAMSCI

Tujuan suatu perang posisi adalah mencapai hegemoni bagi kaum proletar dalam masyarakat sipil sebelum perebutan kekuasaan begara oleh partai komunis.

Perbedaan antara perang manuver dan perang posisi harus dipahami dilihat dari sudut pandang konsep-konsep teoretis Gramsci seperti : Gramsci menggunakan konsep hegemoni untuk mendeskripsikan dan menganalisis bagaimana masyarakat-masyarakat kapitalis modern diorganisasikan atau dimaksudkan untuk diorganisasikan dalam masa lalu dan masa kini.

Gramsci membedakan negara dengan masyarakat sipil. Negara didefinisikan sebagai sumber kekuasaan koersif dalam suatu masyarakat. sedang masyarakat sipil didefinisikan sebagai lokasi kepemimpinan hegemoni. Dari dua definisi tersebut kemudian Gramsci menghubungkan kedua konsep ini untuk mendefinisikan apa yang disebut sebagai “negara integral” sebagai kombinasi hegemoni yang dilengkapi dengan kekuasaan koersif. Negara integral adalah masyarakat politik plus masyarakat sipil. Dengan kata lain hegemoni dilindungi oleh kekuasaan koersif. Negara integral yang dikonseptualisasikan oleh Gramsci memiliki dua aspek : sarana pemaksaan (polisi, militer), dan sarana untuk membentuk kepemimpinan hegemoni dalam masyarakat sipil (pendidikan, penyiaran). Gramsci berusaha memperlihatkan bahwa “hubungan sosial dalam masyarakat sipil adalah hubungan kekuasaan tepat seperti halnya hubungan koersif dalam negara.

Konsep “negara integral” dibedakan dengan konsep totalitarianisme :

  • Tidak terdapat unsur kesepakatan sukarela dalam totalitarianisme seperti yang terdapat dalam suatu negara integral.

  • Dalam negara integral, kesepakatan tentang tujuan-tujuan dasar didasarkan pada seperangkat gagasan dan nilai, suatu falsafah bersama yang dimiliki oleh sebagian besar orang berdasarkan persetujuan yang aktif dan diberikan secara bebas.

  • Dalam suatu negara integral, persetujuan tidak dimanipulasi dan tidak dihasilkan oleh ketakutan terhadap kekuatan koersif, negara tidak berfungsi dengan institusi-institusi masyarakat sipil.

  • Suatu negara integral tidak akan memenjarakan lawan-lawan yang berargumen menentangnya.

Tiga model hegemoni menurut Gramsci :

  1. Model pertama

Dalam pengertian budaya dan moral, hegemoni dilihat diterapkan dalam masyarakat sipil. Negara merupakan lokasi kekuasaan koersif dalam bentuk polisi dan militer; dan ekonomi merupakan lokasi dari berbagai bidang pekerjaan, keterkaitan dengan uang tunai, dan kontrol moneter.

Anderson menjelaskan permasalahan dalam model ini adalah bahwa hegemoni benar-benar dijalankan dalam negara di berbagai negara demokrasi borjuis barat dalam bentuk demokrasi parlementer. Sebagian besar kelas pekerja percaya bahwa mereka memang memilih para para penguasa dengan memberikan suara lewat pemilihan umum.

  1. Model kedua

Dalam model ini, hegemoni dilihat sebagai sesuatu yang dijalankan dalam negara serta dalam masyarakat sipil. Gramsci melihat bahwa lembaga-lembaga pendidikan dan hukum adalah sangat penting dalam menjalankan hegemoni tersebut. Pendidikan dan pembuatan kebijakan adalah aktivitas-aktivitas yang amat penting dalam pembentukan hegemoni di Eropa Barat selama periode awal abad ke dua puluh; namun keduanya adalah merupakan aktivitas-aktivitas negara bukan aktivitas-aktivitas masyarakat.

  1. Model ketiga

Dalam model ini tidak memiliki pembedaan antara negara dan masyarakat sipil, karena Gramsci kadang-kadang mendefinisikan negara sebagai “masyarakat politik” dan “masyarakat sipil”.

Seperti dalam kutipan : negara tidak hanya dipahami sebagai aparat pemerintah, tetapi juga aparat “swasta” dari “hegemoni” atau masyarakat sipil.

Gramsci

Menurut Gramsci, unsure paling esensial filsafat paling modern tentang praksis (menghubungkan pemikiran dan tindakan) adalah konsep filsafat sejarah tentang hegemoni. Gramsci mendefinisikan hegemoni sebagai kepemimpinan cultural yang dilaksanakan oleh kelas penguasa

Terdapat tiga istilah berbeda dalam formasi yang membentuk landasan bagi konsep hegemoni, yaitu perekonomian, Negara, dan masyarakat sipil. “Perekonomian” merupakan istilah yang digunakan untuk mendefinisikan bentuk dominan produksi dalam suaru wilayah pada suatu waktu. Perekonimian ini terdiri dari sarana teknis produksi dan hubungan-hubungan social produksi yang dibangun berdasarkan suatu pembedaan yang di dalamnya kelas-kelas dikaitkan dengan kepemilikan sarana produksi, baik sebagai pemilik substansial atau sebagai bukan pemilik yang di pekerjakan dalam organisasi yang berkaitan dengan produksi.

“Negara” terdiri atas sarana kekerasan (polisi dan militer) dan suatu wilayah tertentu, bersama dengan berbagai birokrasi yang didanai oleh Negara (pamong praja/lembaga pemerintah. Berbagai lembaga hukum, kesejahteraan dan pendidikan).

“Masyarakat sipil” dapat didefinisikan sebagai wilayah-wilayah kehidupan social yang terorganissi dan diantaranya bercirikan kesukarelaan, keswasembadaan, keswadayaan, kemandirian tinggi berhadapan dengan Negara, dan keterkaitan dengan norma-norma atau nilai-nilai hokum yang diikuti warganya. Dari definisi ini masyarakt sipil berwujud dalm berbagai organisasi yang dibuat oleh masyarakat di luar pengaruh Negara. Lembaga swadaya masyarakat,

organiasi social keagamaan, paguyuban dan juga kelompok-kelompok kepentingan merupakan wujud dari kelembagaan masyarakat sipil.

Sangat sulit menemukan cara yang memuaskan untuk mengungkapkan hubungan antara ketiga unsur tersebut, perdebatan-perdebatan telah bergeser dari deerminisme ekonomi yang kaku pada salah satu ujung rangkaian kemungkinan tersebut, yang di dalamnya landasan ekonomi dilihat menentukan superstruktur ideologis yang didefinisikan terdiri atas Negara dan masyarakat sipil,

konsepsi bahwa ketiga unsur tersebut adalah variable independen atau benar-benar otonom terhadap satu sama lain. Usaha untuk mengembangkan suatu posisi yang berada di tengah-tengah, yaitu posisi yang menspesifikasikan bahwa perekonomian bagaiamanapun bersifat menentukan tetapi terdapat suatu tingkat otonomi relative. Negara dan masyarakat sipil dari perekonomian, tidaklah mudah dipertahankan karena posisi tersebut cenderung untuk bergeser kearah salah satu kutub rangakaian tersebut atau kutub yang lainnya.

Unsur perekonomian tersebut memang beroperasi secara menentukan dan spesifik untuk mempengaruhi aktivitas-aktivitas Negara dan organisasi-organisasi masyarakat sipil, dan atau komponen-komponen masyarakat sipil dapat menghasilkan perubahan–perubahan dalam bidang perekonomian. Orisinalitas konsep Gramsci tentang hegemoni terutma berasal dari keterpisahannya dari pendekatan marxisme yang dogmatis, suatu pendekatan yang melihat marxisme hanya sebagai suatu teori tentang kelas-kelas yang ditentukan secara ekonomi dan tindakan-tindakan mereka. menurut Gramsci, usaha kelompok dogmatis untuk mengubah marxisme menjadi suatu skema ilmiah yang mekanistis, deterministis, dan positivistis menyebabkan suatu penekanan yang berlebihan terhadap bidang ekonomi dan analisis kelas yang diderivasi dalam bidang tersebut yang berkaitan dngan “hubungan dengan sarana produksi”.

Bentuk marxisme ini mengasumsikan bahwa begitu perubahan dalam kepemilikan sarana ekonomi bagi produksi, distribusi dn pertukaran telah tercapai, tidak akan ada lagi hambatan-hambatan yang berat bagi suatu masyarakat yang benar-benar dmokratis dan bebas. Namun menurut Gramsci asumsi ini keliru, karena hal itu mengabaikan bidang-bidang pokok lainnya dalam masyarakat, yaitu Negara dan lembaga-lembaga masyarakat.

Gramsci berusaha menekankan aspek politik dari marxisme. Sikap ini bermaksud untuk menentang bidang ekonomi atau kelas-kelas ekonomi, tetapi memasukkan Negara dan masyarakat sipil sebagai wilayah-wilayah yang didalamnya kekuasaan diterapkan dan hakikat dibentuk. Suatu konsep sentral dalam hal perjuangan untuk mendapatkan hegemoni adalah konsep bangsa-hegemoni berarti kepemimpinan orang-orang dari semua kelas dalam Negara-bangsa tertentu.

Menurut Gramsci hegemoni tidak akan tercapai oleh tindakan-tindakan korporasi ekonomi yang sempit dari orang-orng yang berkuasa dari system tersebut. Identitas etnis untuk sebagian dibentuk oleh para pemimpin religious, yang membantu menciptakan kelompok-kelompok etnis religious yang dapat berpikir dan merasa bahwa mereka terpiah dari kelompok-kelompok lain dalam wilayah Negara yang sama. Juga terdapat unsure sekuler dalam konstruksi identitas seperti itu, yang sering diungkapkan dari tarian, adat istiadat, sastra dan lain sebagainya. Perbatasan-perbatasan dari kelompok-kelompok etnis dapat atu dapat tidak berimpitan dengan bats-batas suatu Negara modern.

Pemikiran tentang “Negara-bangsa” memadukan dua konsep yng berbeda dan kurang menekankan masalah-masalah yang ada dalam mencocokkan batas-batas kelompok-kelompok etnis yang diciptakan sendiri dengan batas-batas wilayah suatu negra. Negara dan banga mrupakan dua konsep yang berbeda secara analitis yang sering merupakan dua entitas yang juga berbeda dalam politik dunia. Menurut terminology Gramsci, bangsa dan identitas-identitas etnis yng lain, dibentuk dalam masyarakat sipil, masyarakat sebagian dibentuk dalam system pendidikan, seperti dalam pengajarn bahasa khusus, sastra, geografi, sejarah “Negara” kita atu “masyarakat” kita. Negara sebagai suatu aparat koersif, mengontrol hokum dan admistrasi “keadilan” dalam wilayah tertentu, lembaga hukum tersebut membantu membentuk “suatu masyarakat” yang tunduk terhadapnya.

System pendidikan Negara dapat berusaha menerapkan suatu pemahaman kolektif sebagai anggota-anggota dari suatu “masyarakat” yang berkontraiksi dengan pemikiran-pemikiran tentang identitas nasional yang telah didapatkan oleh anak-anak dalam budaya kelompok etnis mereka dalam masyarakat sipil.

Dalam pembentukan identitas-identitas nasional oleh berbagai Negara, dan pembentukan identitas-identitas etnis di antara masyarakat-masyarakat, para intelektual yang didefinisikan dalam suatu pemahamanan yang luas sehingga mencakup dokter, guru, pendeta, hakim, pengacara, penulis, politis, seniman, filsuf, wartawan dan penyiar dapat mmainkan peran yang sangat penting.

Kepemimpinan hegemonic mencakup tindakan mengembangkan persetujuan intelektual, moral, dan filosofis dari semua kelompok utama dalam suatu bangsa. Hal itu pun mencakup suatu dimensi emosional, karena para pemimpin politik yang berusaha mencapai kepemimpinan hegemoni harus memperhatikan sentiment-sentimen dari masyarakat bangsa dan tidak boleh tampak sebagai makhluk asing yang terpisah dari massa.

DAFTAR PUSTAKA

Sunarso, dkk. 2008. Pendidikan Kewarganegaraan untuk Perguruan Tinggi. Yogyakarta: UNY Press.

Ritzer, George dan Douglas J. Goodman. 2008. Modern Sociological Theory, Alimandan (Terj.). sJakarta: Kencana Prenada Media Group.

disusun oleh: Ruliah Kurniasari, Riyani, Rhoma Triatun

2 responses to “Hegemoni

  1. kayaknya konsep ini udah kayak endemik… hohoho.
    jgn2 kesetaraan gender juga sebuah alih2 lg…

  2. Pingback: Hegemoni ‘kekuasaan’ Negara | SosiologiBudaya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s