Representasi

Kelompok yang memiliki dan menggunakan kekuasaan dalam masyarakat mempengaruhi apa yang direpresentasikan melalui media. Pesan-pesan tersebut bekerja secara kompleks. Pengetahuan dan kekuasaan saling bersaing. Isu kekuasaan tidak dapat dilepaskan dari pertanyaan representasi.

  • Representasi Dan Media Oleh Stuart Hall

Stuart Hall menganggap bahwa “ada yang salah “ dengan representasi kelompok minioritas dalam media. Media cenderung sensitif pada gaya hidup kelas menengah ke tas. Media semakkin mengagungkan institusi masyarakat, dimana masyarakat kulit hitam bermasalah dalam area kekuasan sensitif itu.

  • Representasi : Old View Vs New View

Representasi biasanya dipahami sebagai gambaran sesuatu yang akurat atau realita yang terdistori. Representasi adalah sebuah cara dimana memaknai apa yang diberikan pada benda yang digambarkan.

Hall menyebutkan “Representasi sebagai konstitutif”. Representasi adalah bagian dari objek itu sendiri, ai adalah konstitutif darinya.Konsep budaya mempunyai peran sentral dalam proses representasi.

  • Peta Konseptual-Mengklasifikasi Dunia

Budaya adalah sebuah sistem represntasi. Kebudayaan merupakan konsep yang sangat luas, kebudayaan menyangkut “pengalaman berbagi”.

Seseorang dikatakan berasal dari kebudayaan yang sama jika manusia-manusia itu membagi pengalaman yang sama, membagi kode-kode kebudayaan yang sama, berbicara dalam bahasa yang sama dan saling berbagi konsep yang sama.

  • Bahasa Dan Komunikasi

Konsep-konsep adalah representasi-representasi yang memperbolehkan kita untuk berpikir. Kita bisa saling berkomunikasi karena adanya keminculan bahasa-bahasa. Bahasa mengeksternalisasi makna yang kita buat.Representasi benar-benar mulai dan menutp sirkulasi representasi.

  • Realitas Dan Wacana

Hall menegaskan bahwa tanpa bahasa, makna tidak dapat dipertukarkan. Tanpa bahasa, tidak akan ada representasi, tanpa representasi tidak akan ada makna.

  • Praktek Signifikansi

Yang dimaksud Hall dengan praktek signifikansi adalah :

Pertanyaan mengenai sirkulasi makna secara otomatis melibatkan isu kekuasaan. Siapa yang mempunyai kekuasaan, di channel yang mana, untuk mensirkulasikan makna kepada siapa ?. Hall memahami bahwa komunikasi selalu berhubungan dengan kekuasaan. Kelompok yang memiliki dan menggunakan kekuasaan dalam masyarakat mempengaruhi apa yang direpresentasikan melalui media. Pesan-pesan tersebut bekerja secara kompleks. Pengetahuan dan kekuasaan saling bersilangan. Isu kekuasaan tidak dapat dilepaskan dari pertanyaan representasi.

  • Makna dan ketidakadaan (absence)

Makna secara manifest berhubungan dengan apa yang pertama kali kita harapkan untuk temukian, yang tampak tidak dimanapun didalam imaji, bahkan berlawanan dengan yang ada didalam imaji.

  • Identitas, identifikasi, dan penonton

Iklan bekerja atas dasar identifikasi, iklan hanya bekerja ketika kita mengidentifikasi apa yang direpresentasikan oleh imaji-imaji. Imaji-imaji itu mengkonstruksi kita, melalui hubungan kita dengan mereka.

  • Ideology dan kekuatan makna tetap

Makna dapat berubah jika makna tidak dapat ditetapkan. Kuasa terdiri atas satu makna diantara banyak makna yang cocok dengan interes tertentu. Tujuan dari kekuasaan yaitu ketika mengintervensi (mengganggu) bahasa adalah untuk memperbaiki secara absolute. Ambisi dari ideology adalah untuk memperbaiki makna tertentu untuk gambaran spesifik. Kekuasaan dalam proses signifikani selalu mempunyai tendensi untuk menutup bahasa, menutup makna, dan menghentikan aliran.

  • Menentang stereotip: gambaran positif

Stereotip menetapkan makna yang diberikan kepada kelompok-kelompok. Misalnya gambaran orang kulit hitam yang terbatas, memberikan efek padaapa yang dipahamimasyrakat mengenai orang kulit hitam dalam dunia nyata. Gambaran memproduksi pengetahuan tentang bgaimana kita melihatnya direpresentasikan. Sehingga perjuangan untuk membuka praktik stereotip kadang adalah sebuah perjuangan yang meningkatkan perbedaan, celakanya, semakin memperlihatkan identitas yang memungkinkan dari orang-orang yang belum direpresentasikan sebelu mnya.

  • Menantang stereotip : mengesampingkan imaji

Gambaran menaturalisasikan representasi itu sendiri melakukan naturalisasi representasi sampai tidak bisa melihat siapa yang memprosuksi mereka. Gambaran-gambaran ini telah menyembunyikan proses representasi.

  • Masa depan representasi

Representasi terbuka pada pengetahuan-pengetahuan baru untuk diproduksi dalam dunia, berbagai macam subyektifitas untuk dieksolor, dan dimensi baru makna yang tidak pernah menutup system kekuasaan yang sedang beroperasi.

  1. I. Don Quixote

Petualangan don Quixote pembentuk sebuah ambang batas: ia menandai kesaling keterpengaruhan lama antar kemiripan, tanda-tanda dan memuat permulaan hubungan baru. Don Quixote bukanlah manusia yang pemboros, tetapi seorang peziarah rajin yang menghentikan perjalannya dihadapan semua tanda kemiripan. Dia berpergian melinhtasi daratan dengan tiada henti-hentinya, tanpa melintasi batasan-batasan dan perbedaan yang telah dibatasi secara jelas, atau meraih inti identitas. Dia adalah seperti  tanda, graphisme yang panjang dan tipis, satu huruf yang dia ambil dari halaman terbuka sebuah buku. Seluruh wujudnya tidak ada apapun kecuali bahasa, teks, halaman-halaman yang tercetak cerita yang telah ditulis. Don Quixote adalah keserupaan yang benar dari tanda-tanda di mana dia telah meninggalkan jejak di dalam bukunya.

Tiap-tiap perbuatan yang berani harus menjadi sebuah bukti: ia teguh, bukan dalam kemenengan yang nyata- inilah kemenangan tidak begitu penting – tetapi dalam satu usaha untuk mengubah bentuk realitas menjadi sebuah tanda Don Quixote untuk membuktikan bukunya dan satu-satunya bukti yang dia berikan adalah refleksi kemiripan yang gemerlap.   Seluruh pencariannya bagi keserupaan: analogi yang paling ringan difungsikan sebagai tanda-tanda terbengkalai yang harus dibangkitkan kembali dan menjadikannya berbicara sekali lagi. Kawan, gadis-gadis, pelayan dan rumah penginapan, sekali lagi menjadi bahasa buku sampai pada tingkat yang tidak bisa dipahami di mana mereka menyerupai benteng, wanita dan tentara-yang tidak dapat dipertahankan yang mentransformasikan pencarian bukti menjadi ejekan dan membiarkan kata-kata dari buku-buku kosong untuk selama-lamanya. Tetapi non-keserupaan  itu sendiri juga memiliki modelnya seperti ditemukan dalam tranformasi yang dijalankan oleh tukang sihir.

Dalam novel yang kedua Don Quixote menemukan karakter orang-orang yang telah membaca mengakuinya sebagai manusia yang sesungguhnya seperti pahlawan buku. Don Quixote harus tetap setia kepada buku dimana sekarang dia menjadi realitas;  dia harus melindungi dirinya dari kesalahan, pemalsuan, dan persambungan yang meragukan; bila harus memelihara kebenarannya.

Don Quixote adalah karya sastra modern pertama, karena di dalamnya melihat alasan-alasan yang kejam tentang identitas dan perbedaan yang memperolokkan tanda-tanda dan kemiripan yang tidak pernah berakhir, karena di dalamnya bahasa memutuskan keluarganya dengan benda-benda dan masuk kedalam kedaulatan yang sunyi, dari keadaannya yang pisah, hanya sebagai sastra merupakan salah satu kegilaan dan imajinasinya. Dia mengambil benda-benda untuk kepentingan apa yang tidak dilakukan oleh orang lain, dan orang satu sama lain; dia memutuskan semua tali pertemanan dan mengakui hal-hal yang asing sama sekali, dia berfikir bahwa dia telah membuka kedok ketika kenyataan-kenyataannya menempatkan sebuah topeng. Dia membalikkan semua nilai dan semua proporsisi, karena secara konstan dia berada di bawah kesan bahwa baginya mahkota mencipitakan raja. Dia tidak menyadari akan perbedaan, dia tidak melihat apapun kecuali kemiripan dan tanda-tanda kemiripan dimana, bagi dia semua tanda saling menyerupai satu sama lain dan semua kemiripan memilki tanda-tanda.

Kemiripan ini adalah pertentangan puisi dan kegilaan dalam kebudayaan barat. Kegilaan yang di ilhamkan ini adalah tanda oengalaman bahasa bagi pengalaman bahasa baru dan benda-benda. Maka mereka membagi pada tepian luar pada kebudayaan kita dan pada titik yang paling dekat dengan pembagian esensialnya, situasi “perbatasan” itu-posisi marginal dan bayangan hitam kuno-dimana kata-kata mereka secara terus menerus memperbarui kekuatan keasingan dan kontestasi mereka.

  1. II. Tatanan

Diskontinuitas-fakta bahwa di dalam ruang waktu yang tidak begitu panjang, sebuah kebudayaan berhenti untuk berfikir sebagaimana ketika ia berfikir dulu dan mulai berfikir lagi tentang benda-benda dalam satu jalan yang baru-mungkin dimulai  dengan satu pengikisan dari luar, dari ruang tentang benda-benda dalam satu jalan yang baru-mungkin dimulai  dengan satu pengikisan dari luar, dari ruang, bagi pemikiran, merupakan sisi lain tetapi di mana ia tidak pernah berhenti berfikir dari permulaannya. Puncaknya problem yang menghadirkan dirinya adalah hbungan antara pemikiran dan budaya bagaimanakah pemikiran itu memiliki tempat dalam rung dunia, memiliki asal usul di sana, dan tidak pernah berhenti di tempat ini atau itu.

Kemiripan tidak lagi menjadi bentuk pengetahuan tetapi justru mendatangkan  kesalahan,  bahaya sampai mana seseorang menampilkan dirinya ketika dia tidak menguji wilayah kebingungan yang jelas. Ini adalah kebiasaan yang jarang dilakukan kata Destartes, ketika kita menemukan sejumlah kemiripan di antara dua benda, memberikan atribut secara sama kepada keduanya bahkan poin di mana mereka senyatanya berbeda, yang elah kita akui menjadi benar hanya satu di antara mereka.

Kritik kemiripan menurut Bacon

  1. Kritik Empiris yang memperhtikan, bukan hubungan tatanan dan kesamaan antara benda-benda, tetapi tipe-tipe pikiran dan bentuk-bentuk ilusi dimana mereka menjadi subyek.
  2. Bacon tidak menghilangkan kemiripan melalui sarana bukti dan hokum-hukum yang menyertainya. Dia menunjukannya berkilau di depan mata kita, menghilang seperti halnya orang mendekat, kemudian membentuk kembali satu masa berikutnya, yang sedikit lebih jauh.

Ada dua bentuk perbandingan yang eksis yaitu ukuran dan tatanan. Orang bisa mengukur ukuran yang tidak berkelanjutan , tetapi dalam kedua kasus itu penggunaan ukuran menegaskan bahwa tidak seperti kalkulasi, yang mendahului dari elemen-elemen menuju satu totalitas, mula-mula orang mempertimbangkan keseluruhan kemudian membaginya ke dalam berbagai bagian.

Tatanan dibangun tanpa perujukan kepada satu unit ekstur. Sementara perbandingan melalui ukuran menuntut dimulainya satu pembagian, kemudian penerapan unit umum, di sini, perbandingan dan tatanan adalah tindakan sederhana yang memungkinkan kita untuk melintas dari satu terma ke terma lainnya, kemudian kepada terma yang ketiga, dan begitu seterusnya, melalui sarana satu gerakan “yang secara absolute tidak dapat dihentikan”.

Semua ini merupakan konsekuensi yang paling besar bagi pemikiran Barat Kemiripan, yang untuk waktu yang panjang telah menjadi kategori fundamental pengetahuan-bentuk dan isi dari apa yang kita ketahui-menjadi dipisahkan dalam satu analisis yang berdasarkan kepada terma identitas dan perbedaan, lebih dari itu, apakah secara tidak langsung melalui perantara pengukuran atau secara lansung dan pada pijakan yang sama perbandingan menjadi fungsi tatanan, dan terakhir perbandingan berhenti untuk memenuhi fungsi penampakan, bagaimana dunia ditata karena sekarang ia disempurnakan menurut tatanan yang di tempatkan oleh pemikiran secara natural dari yang sederhana ke yang kompleks. . Modifikasi yang mempengaruhi pengetahuan itu sendiri pada level kuno yang memungkinkan pengetahuan itu sendiri dan mode wujud dari apa yang diketahui. Modifikasi merupakan penggantian analisis dengan hierarki analogi: pada abad ke-16 anggapan mendasar adalah tentang sistem korespondensi total (bumi dan langit, planet dan lapisan luar, mikrokosmose dan makrokosmos) masing-masing kemiripan particular kemudian ditempatkan dalam hubungan yang menyeluruh ini. Setiap kemiripan harus disubyekan kepada bukti melaui perbandingan, ia tidak akan pernah bisa diterima hingga identitas dan rangkaian perbedaannya tlah ditemukan melalui sarana pengukuran dengan unit umum atau lebih radikal lagi melalui posisinya dalam satu tatanan. Kesaling pengaruhan kemiripan itu sampai dengan hari ini tetap tidak terbatas.

  1. III. Representasi Tanda
    1. Tanda, selalu pasti atau mungkin akan menemukan wilayah wujudnya dalam pengetahuan. Pada abad ke-16 tanda-tanda diperkirakan untuk digantikan pada benda-benda sehingga manusia akan mampu untuk mengungkap rahasianya, hakikat atau kebijakannya. Sejak abad ke 17 dan seterusnya, seluruh domain tanda terbagi diantara yang pasti dan yang mungkin untuk mengatakan, tidak bisa lagi menjadi tanda yang tidak dikenal,  tanda yang diam. Ini bukan karena manusia memiliki semua tanda hingga ada kemungkinan yang diketahui tentang penggantian diantara dua elemen yang tidak diketahui. Tanda tidak menunggu dalam diam, kehadiran manusia yang mampu mengenalinya, ia bisa dibentuk hanya oleh satu tindakan mengetahui bagaimanapun juga mulai sekarang dan seterusnya adalah dalam pengetahuan bahwa tanda menjalankan fungsi penandaannya dari pengetahuan bahwa ia akan meminjam kepastian dan kemungkinannya.

Hubungan gagasan tidak menyatakan hubungan-hubungan antara sebab dan akibat, tetapi hanya satu angka atau tanda dengan benda benda yang ditandai. Contoh: api yang saya lihat bukanlah sebab kesakitan yang saya derita karena saya mendekatinya tetapi tanda yang memperingatkan saya tentangnya.

  1. Variabel tanda kedua, dengan kehadiran pemikiran klasik tanda bisa memliki salah satu dari dua posisi: baik, bisa diklaim demikian, sebagai elemen, menjadi bagian dari apa yang ia fungsikan untuk menandai atau yang lain benar-benar dari apa yang ia fungsikan untuk menandai. Agar tanda menjadi apa yang sebenarnya, ia harus ditampilkan sebagai objek pengetahuan pada saat bersamaan dengan yang ia tandai. Sebagaimana yang ditegaskan oleh Condillac, suara tidak pernah menjadi tanda verbal sesuatu bagi anak-anak hanya jika anak-anak mendengarnya paling tidak satu kali pada saat merasakan objek.

Tanda dalam pemikiran klasik tidak menghapuskan jarak atau menghhilangkan waktu, sebaliknya,ia memungkinkan seseorang untuk membentangkan mereka melintasi benda untuk menjadi khas, memelihara diri mereka dalam identitasnya sendiri, memisahkan mereka atau mengikat mereka bersama-sama.

Sekarang ini menjadi mungkin untuk membatasi instrumen yang terdapat bagi penggunaan pemikiran klassik, melalui sistem tanda. Sistem tanda inilah yang mengenalkan kedalam pengetahuan probabilitas, analisis, dan kombinasi sistem.

  1. IV. Representasi Tiruan

Hubungan tanda dengan yang ditandai sekarang ini terletak pada satu ruang dimana tidak ada lagi figur perantara untuk menghubungkan mereka. Apa yang menghubungkan mereka adalah ikatan yang telah terbangun, didalam pengetahuan, diantara gagasan tentang satu benda dan gagasan tentang benda lain.

Dalam kenyataannya elemen elemen penanda tidak memilik isi, fungsi, dan tidak memiliki determinasi lain kecuali apa yang ia bayangkan, ia sepenuhnya ditata dan transparan kepadanya. Tetapi kandungan ini hanya  ditunjukkan hanya dalam satu representasi yang menempatkan dirinya sendiri sedemikian rupa, dan dimana hal-hal yang ditandai terletak, tanpa residium dan opacity.

Konsekuensi konsekuensi mengenai representasi :

Konsekuensi Pertama, pentingnya tanda dalam pemikiran klasik, Kapanpun satu representasi dihubungkan satu sama lain dan merepresentasikan hal-hal yang menghubungkannya dengan dirinya sendiri

Konsekuensi Kedua, adalah perluasan universal pada tanda dalam bidang representasi ini mendahului kemungkinan satu teori penandaan. Sistem tidak memberikan satu keistimewaan tertentu, namun akan diberikan dalam tabel tanda yang sempurna. Tabel tanda akan menjadi representasi dari benda-benda. Meskipun makna itu sendiri seluruhnya berada pada sisi tanda, pemfungsian seluruhnya berada pada siapa yang ditandai.

Konsekuensi ketiga, jika tanda dalam murni dan hubungan sederhana antara apa yang menandai dan apa yang ditandai, maka hubungan hanya bisa dibangun dalam elemen representasi yang umum : elemen-elemen penanda dan elemen-elemen yang ditandai dihubungkan hanya sejauh mereka ada direpresentasikan dan sejauh orang benar-benar merepresentasikan yang lain.

  1. V. Imajinasi Kemiripan

Kemiripan masih merupakan batasan pengetahuan yang tidak bisa dihindari. Karena tidak ada persamaan atau hubungan tatanan yang bisa di bangun di antara dua benda kecuali jika kemiripan mereka, paling tidak , telah menghadirkan perbandingan mereka.

Kemiripan adalah bentuk yang baru disketsakan, di mana relasi yang belum sempurna yang harus dilapisi oleh pengetahuan pada tingkatnya yang paling sempurna. Melalui kemiripan representasi itu bisa diketahu, yaitu, dibandingkan dengan representasi lain yang mungkin mirip dengannya, dianalisis ke dalam elemen-elemen, digabungkan dengan representasi lainnya.

Jika representasi tidak memiliki kekuatan yang jelas untuk menjadikan kesan masa lalu hadir sekali lagi, maka tidak ada kesan yang akan muncul sebagai serupa atau tidak serupa dengan yang terdahulu. Tanpa imajinasini tidak akan ada kemiripan di antara benda-benda.

Persoalan pertama yang berhubungan secara kasar dengan analisis imajinasi, sebagai kekuatan positif untuk mentransformasikan waktu representasi yang linear ke dalam satu ruang simultan yang memuat elemen-elemen virtual; yang kedua berhubungan dengan analisis alam termasuk lacunae, kekacauan yang membingungkan tabulasi wujud dan meyebarkannya ke dalam satu rangkaian representasi yang secara samar-samar, dan dari kejauhan, saling menyerupai satu sama lain.

VI. Mathesis dan Taksinomia

Ketika penglihatan pada buku hanya merupakan satu kasus partikular representasi secara umum, orang bisa mengatakan dengan sama baiknya bahwa mathesis adalah hanya satu kasus partikular tasksinomia.

Susunan mengenai ilmu umum tentang tatanan :

ILMU UMUM TENTANG TATANAN

Alam Sederhana Representasi Kompleks
Mathesis Taksinomia
Aljabar Tanda

Taksinomia juga menyatakan cintinuum tertentu dari benda-benda dan kekuatan imajinasi tertentu menjadikan jelas apa yang tidak jelas, tetapi memungkinkan melalui fakta ini, penampakan  kontinuitas itu.

Mathesis sebagai ilmu tentang tatanan yang bisa dikalkulasikan dengan genesis sebagai analisis pembentukan tatanan pada basis rangkaian empiris.Di antara mathesis dan genesis terdapa perluasan wilayah tanda-tanda yang meliputi seluruh domain representasi empiris, tetapi tidak pernah diperluas di luarnya.

Representasi harus diartikulasikan sebagai satu kesatuan ke dalam subwilayah yang khas, semua terpisah satu sama lain oleh karakteristik yang bisa diberikan, dengan jalan ini maka pada pembangunan sistem simultan berdasarkan pada hal mana representasi mengungkapkan kedekatan dan kejauhannya.

Batasan pengetahuan akan menjadi transparasi yang sempurna dari representasi menjadi tanda dengan mana mereka ditata.

Sumber :

http://yolagani.wordpress.com/2007/11/18/representasi-dan-media-oleh-stuart-hall/ diakses 03 Maret 2011

Faucault, Michel, 2007, Order of Things. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

 

Kelompok yang memiliki dan menggunakan kekuasaan dalam masyarakat mempengaruhi apa yang direpresentasikan melalui media. Pesan-pesan tersebut bekerja secara kompleks. Pengetahuan dan kekuasaan saling bersaing. Isu kekuasaan tidak dapat dilepaskan dari pertanyaan representasi.

· Representasi Dan Media Oleh Stuart Hall

Stuart Hall menganggap bahwa “ada yang salah “ dengan representasi kelompok minioritas dalam media. Media cenderung sensitif pada gaya hidup kelas menengah ke tas. Media semakkin mengagungkan institusi masyarakat, dimana masyarakat kulit hitam bermasalah dalam area kekuasan sensitif itu.

· Representasi : Old View Vs New View

Representasi biasanya dipahami sebagai gambaran sesuatu yang akurat atau realita yang terdistori. Representasi adalah sebuah cara dimana memaknai apa yang diberikan pada benda yang digambarkan.

Hall menyebutkan “Representasi sebagai konstitutif”. Representasi adalah bagian dari objek itu sendiri, ai adalah konstitutif darinya.Konsep budaya mempunyai peran sentral dalam proses representasi.

· Peta Konseptual-Mengklasifikasi Dunia

Budaya adalah sebuah sistem represntasi. Kebudayaan merupakan konsep yang sangat luas, kebudayaan menyangkut “pengalaman berbagi”.

Seseorang dikatakan berasal dari kebudayaan yang sama jika manusia-manusia itu membagi pengalaman yang sama, membagi kode-kode kebudayaan yang sama, berbicara dalam bahasa yang sama dan saling berbagi konsep yang sama.

· Bahasa Dan Komunikasi

Konsep-konsep adalah representasi-representasi yang memperbolehkan kita untuk berpikir. Kita bisa saling berkomunikasi karena adanya keminculan bahasa-bahasa. Bahasa mengeksternalisasi makna yang kita buat.Representasi benar-benar mulai dan menutp sirkulasi representasi.

· Realitas Dan Wacana

Hall menegaskan bahwa tanpa bahasa, makna tidak dapat dipertukarkan. Tanpa bahasa, tidak akan ada representasi, tanpa representasi tidak akan ada makna.

· Praktek Signifikansi

Yang dimaksud Hall dengan praktek signifikansi adalah :

Pertanyaan mengenai sirkulasi makna secara otomatis melibatkan isu kekuasaan. Siapa yang mempunyai kekuasaan, di channel yang mana, untuk mensirkulasikan makna kepada siapa ?. Hall memahami bahwa komunikasi selalu berhubungan dengan kekuasaan. Kelompok yang memiliki dan menggunakan kekuasaan dalam masyarakat mempengaruhi apa yang direpresentasikan melalui media. Pesan-pesan tersebut bekerja secara kompleks. Pengetahuan dan kekuasaan saling bersilangan. Isu kekuasaan tidak dapat dilepaskan dari pertanyaan representasi.

· Makna dan ketidakadaan (absence)

Makna secara manifest berhubungan dengan apa yang pertama kali kita harapkan untuk temukian, yang tampak tidak dimanapun didalam imaji, bahkan berlawanan dengan yang ada didalam imaji.

· Identitas, identifikasi, dan penonton

Iklan bekerja atas dasar identifikasi, iklan hanya bekerja ketika kita mengidentifikasi apa yang direpresentasikan oleh imaji-imaji. Imaji-imaji itu mengkonstruksi kita, melalui hubungan kita dengan mereka.

· Ideology dan kekuatan makna tetap

Makna dapat berubah jika makna tidak dapat ditetapkan. Kuasa terdiri atas satu makna diantara banyak makna yang cocok dengan interes tertentu. Tujuan dari kekuasaan yaitu ketika mengintervensi (mengganggu) bahasa adalah untuk memperbaiki secara absolute. Ambisi dari ideology adalah untuk memperbaiki makna tertentu untuk gambaran spesifik. Kekuasaan dalam proses signifikani selalu mempunyai tendensi untuk menutup bahasa, menutup makna, dan menghentikan aliran.

· Menentang stereotip: gambaran positif

Stereotip menetapkan makna yang diberikan kepada kelompok-kelompok. Misalnya gambaran orang kulit hitam yang terbatas, memberikan efek padaapa yang dipahamimasyrakat mengenai orang kulit hitam dalam dunia nyata. Gambaran memproduksi pengetahuan tentang bgaimana kita melihatnya direpresentasikan. Sehingga perjuangan untuk membuka praktik stereotip kadang adalah sebuah perjuangan yang meningkatkan perbedaan, celakanya, semakin memperlihatkan identitas yang memungkinkan dari orang-orang yang belum direpresentasikan sebelu mnya.

· Menantang stereotip : mengesampingkan imaji

Gambaran menaturalisasikan representasi itu sendiri melakukan naturalisasi representasi sampai tidak bisa melihat siapa yang memprosuksi mereka. Gambaran-gambaran ini telah menyembunyikan proses representasi.

· Masa depan representasi

Representasi terbuka pada pengetahuan-pengetahuan baru untuk diproduksi dalam dunia, berbagai macam subyektifitas untuk dieksolor, dan dimensi baru makna yang tidak pernah menutup system kekuasaan yang sedang beroperasi.

I. Don Quixote

Petualangan don Quixote pembentuk sebuah ambang batas: ia menandai kesaling keterpengaruhan lama antar kemiripan, tanda-tanda dan memuat permulaan hubungan baru. Don Quixote bukanlah manusia yang pemboros, tetapi seorang peziarah rajin yang menghentikan perjalannya dihadapan semua tanda kemiripan. Dia berpergian melinhtasi daratan dengan tiada henti-hentinya, tanpa melintasi batasan-batasan dan perbedaan yang telah dibatasi secara jelas, atau meraih inti identitas. Dia adalah seperti tanda, graphisme yang panjang dan tipis, satu huruf yang dia ambil dari halaman terbuka sebuah buku. Seluruh wujudnya tidak ada apapun kecuali bahasa, teks, halaman-halaman yang tercetak cerita yang telah ditulis. Don Quixote adalah keserupaan yang benar dari tanda-tanda di mana dia telah meninggalkan jejak di dalam bukunya.

Tiap-tiap perbuatan yang berani harus menjadi sebuah bukti: ia teguh, bukan dalam kemenengan yang nyata- inilah kemenangan tidak begitu penting – tetapi dalam satu usaha untuk mengubah bentuk realitas menjadi sebuah tanda Don Quixote untuk membuktikan bukunya dan satu-satunya bukti yang dia berikan adalah refleksi kemiripan yang gemerlap. Seluruh pencariannya bagi keserupaan: analogi yang paling ringan difungsikan sebagai tanda-tanda terbengkalai yang harus dibangkitkan kembali dan menjadikannya berbicara sekali lagi. Kawan, gadis-gadis, pelayan dan rumah penginapan, sekali lagi menjadi bahasa buku sampai pada tingkat yang tidak bisa dipahami di mana mereka menyerupai benteng, wanita dan tentara-yang tidak dapat dipertahankan yang mentransformasikan pencarian bukti menjadi ejekan dan membiarkan kata-kata dari buku-buku kosong untuk selama-lamanya. Tetapi non-keserupaan itu sendiri juga memiliki modelnya seperti ditemukan dalam tranformasi yang dijalankan oleh tukang sihir.

Dalam novel yang kedua Don Quixote menemukan karakter orang-orang yang telah membaca mengakuinya sebagai manusia yang sesungguhnya seperti pahlawan buku. Don Quixote harus tetap setia kepada buku dimana sekarang dia menjadi realitas; dia harus melindungi dirinya dari kesalahan, pemalsuan, dan persambungan yang meragukan; bila harus memelihara kebenarannya.

Don Quixote adalah karya sastra modern pertama, karena di dalamnya melihat alasan-alasan yang kejam tentang identitas dan perbedaan yang memperolokkan tanda-tanda dan kemiripan yang tidak pernah berakhir, karena di dalamnya bahasa memutuskan keluarganya dengan benda-benda dan masuk kedalam kedaulatan yang sunyi, dari keadaannya yang pisah, hanya sebagai sastra merupakan salah satu kegilaan dan imajinasinya. Dia mengambil benda-benda untuk kepentingan apa yang tidak dilakukan oleh orang lain, dan orang satu sama lain; dia memutuskan semua tali pertemanan dan mengakui hal-hal yang asing sama sekali, dia berfikir bahwa dia telah membuka kedok ketika kenyataan-kenyataannya menempatkan sebuah topeng. Dia membalikkan semua nilai dan semua proporsisi, karena secara konstan dia berada di bawah kesan bahwa baginya mahkota mencipitakan raja. Dia tidak menyadari akan perbedaan, dia tidak melihat apapun kecuali kemiripan dan tanda-tanda kemiripan dimana, bagi dia semua tanda saling menyerupai satu sama lain dan semua kemiripan memilki tanda-tanda.

Kemiripan ini adalah pertentangan puisi dan kegilaan dalam kebudayaan barat. Kegilaan yang di ilhamkan ini adalah tanda oengalaman bahasa bagi pengalaman bahasa baru dan benda-benda. Maka mereka membagi pada tepian luar pada kebudayaan kita dan pada titik yang paling dekat dengan pembagian esensialnya, situasi “perbatasan” itu-posisi marginal dan bayangan hitam kuno-dimana kata-kata mereka secara terus menerus memperbarui kekuatan keasingan dan kontestasi mereka.

II. Tatanan

Diskontinuitas-fakta bahwa di dalam ruang waktu yang tidak begitu panjang, sebuah kebudayaan berhenti untuk berfikir sebagaimana ketika ia berfikir dulu dan mulai berfikir lagi tentang benda-benda dalam satu jalan yang baru-mungkin dimulai dengan satu pengikisan dari luar, dari ruang tentang benda-benda dalam satu jalan yang baru-mungkin dimulai dengan satu pengikisan dari luar, dari ruang, bagi pemikiran, merupakan sisi lain tetapi di mana ia tidak pernah berhenti berfikir dari permulaannya. Puncaknya problem yang menghadirkan dirinya adalah hbungan antara pemikiran dan budaya bagaimanakah pemikiran itu memiliki tempat dalam rung dunia, memiliki asal usul di sana, dan tidak pernah berhenti di tempat ini atau itu.

Kemiripan tidak lagi menjadi bentuk pengetahuan tetapi justru mendatangkan kesalahan, bahaya sampai mana seseorang menampilkan dirinya ketika dia tidak menguji wilayah kebingungan yang jelas. Ini adalah kebiasaan yang jarang dilakukan kata Destartes, ketika kita menemukan sejumlah kemiripan di antara dua benda, memberikan atribut secara sama kepada keduanya bahkan poin di mana mereka senyatanya berbeda, yang elah kita akui menjadi benar hanya satu di antara mereka.

Kritik kemiripan menurut Bacon

1. Kritik Empiris yang memperhtikan, bukan hubungan tatanan dan kesamaan antara benda-benda, tetapi tipe-tipe pikiran dan bentuk-bentuk ilusi dimana mereka menjadi subyek.

2. Bacon tidak menghilangkan kemiripan melalui sarana bukti dan hokum-hukum yang menyertainya. Dia menunjukannya berkilau di depan mata kita, menghilang seperti halnya orang mendekat, kemudian membentuk kembali satu masa berikutnya, yang sedikit lebih jauh.

Ada dua bentuk perbandingan yang eksis yaitu ukuran dan tatanan. Orang bisa mengukur ukuran yang tidak berkelanjutan , tetapi dalam kedua kasus itu penggunaan ukuran menegaskan bahwa tidak seperti kalkulasi, yang mendahului dari elemen-elemen menuju satu totalitas, mula-mula orang mempertimbangkan keseluruhan kemudian membaginya ke dalam berbagai bagian.

Tatanan dibangun tanpa perujukan kepada satu unit ekstur. Sementara perbandingan melalui ukuran menuntut dimulainya satu pembagian, kemudian penerapan unit umum, di sini, perbandingan dan tatanan adalah tindakan sederhana yang memungkinkan kita untuk melintas dari satu terma ke terma lainnya, kemudian kepada terma yang ketiga, dan begitu seterusnya, melalui sarana satu gerakan “yang secara absolute tidak dapat dihentikan”.

Semua ini merupakan konsekuensi yang paling besar bagi pemikiran Barat Kemiripan, yang untuk waktu yang panjang telah menjadi kategori fundamental pengetahuan-bentuk dan isi dari apa yang kita ketahui-menjadi dipisahkan dalam satu analisis yang berdasarkan kepada terma identitas dan perbedaan, lebih dari itu, apakah secara tidak langsung melalui perantara pengukuran atau secara lansung dan pada pijakan yang sama perbandingan menjadi fungsi tatanan, dan terakhir perbandingan berhenti untuk memenuhi fungsi penampakan, bagaimana dunia ditata karena sekarang ia disempurnakan menurut tatanan yang di tempatkan oleh pemikiran secara natural dari yang sederhana ke yang kompleks. . Modifikasi yang mempengaruhi pengetahuan itu sendiri pada level kuno yang memungkinkan pengetahuan itu sendiri dan mode wujud dari apa yang diketahui. Modifikasi merupakan penggantian analisis dengan hierarki analogi: pada abad ke-16 anggapan mendasar adalah tentang sistem korespondensi total (bumi dan langit, planet dan lapisan luar, mikrokosmose dan makrokosmos) masing-masing kemiripan particular kemudian ditempatkan dalam hubungan yang menyeluruh ini. Setiap kemiripan harus disubyekan kepada bukti melaui perbandingan, ia tidak akan pernah bisa diterima hingga identitas dan rangkaian perbedaannya tlah ditemukan melalui sarana pengukuran dengan unit umum atau lebih radikal lagi melalui posisinya dalam satu tatanan. Kesaling pengaruhan kemiripan itu sampai dengan hari ini tetap tidak terbatas.

III. Representasi Tanda

1. Tanda, selalu pasti atau mungkin akan menemukan wilayah wujudnya dalam pengetahuan. Pada abad ke-16 tanda-tanda diperkirakan untuk digantikan pada benda-benda sehingga manusia akan mampu untuk mengungkap rahasianya, hakikat atau kebijakannya. Sejak abad ke 17 dan seterusnya, seluruh domain tanda terbagi diantara yang pasti dan yang mungkin untuk mengatakan, tidak bisa lagi menjadi tanda yang tidak dikenal, tanda yang diam. Ini bukan karena manusia memiliki semua tanda hingga ada kemungkinan yang diketahui tentang penggantian diantara dua elemen yang tidak diketahui. Tanda tidak menunggu dalam diam, kehadiran manusia yang mampu mengenalinya, ia bisa dibentuk hanya oleh satu tindakan mengetahui bagaimanapun juga mulai sekarang dan seterusnya adalah dalam pengetahuan bahwa tanda menjalankan fungsi penandaannya dari pengetahuan bahwa ia akan meminjam kepastian dan kemungkinannya.

Hubungan gagasan tidak menyatakan hubungan-hubungan antara sebab dan akibat, tetapi hanya satu angka atau tanda dengan benda benda yang ditandai. Contoh: api yang saya lihat bukanlah sebab kesakitan yang saya derita karena saya mendekatinya tetapi tanda yang memperingatkan saya tentangnya.

2. Variabel tanda kedua, dengan kehadiran pemikiran klasik tanda bisa memliki salah satu dari dua posisi: baik, bisa diklaim demikian, sebagai elemen, menjadi bagian dari apa yang ia fungsikan untuk menandai atau yang lain benar-benar dari apa yang ia fungsikan untuk menandai. Agar tanda menjadi apa yang sebenarnya, ia harus ditampilkan sebagai objek pengetahuan pada saat bersamaan dengan yang ia tandai. Sebagaimana yang ditegaskan oleh Condillac, suara tidak pernah menjadi tanda verbal sesuatu bagi anak-anak hanya jika anak-anak mendengarnya paling tidak satu kali pada saat merasakan objek.

Tanda dalam pemikiran klasik tidak menghapuskan jarak atau menghhilangkan waktu, sebaliknya,ia memungkinkan seseorang untuk membentangkan mereka melintasi benda untuk menjadi khas, memelihara diri mereka dalam identitasnya sendiri, memisahkan mereka atau mengikat mereka bersama-sama.

Sekarang ini menjadi mungkin untuk membatasi instrumen yang terdapat bagi penggunaan pemikiran klassik, melalui sistem tanda. Sistem tanda inilah yang mengenalkan kedalam pengetahuan probabilitas, analisis, dan kombinasi sistem.

IV. Representasi Tiruan

Hubungan tanda dengan yang ditandai sekarang ini terletak pada satu ruang dimana tidak ada lagi figur perantara untuk menghubungkan mereka. Apa yang menghubungkan mereka adalah ikatan yang telah terbangun, didalam pengetahuan, diantara gagasan tentang satu benda dan gagasan tentang benda lain.

Dalam kenyataannya elemen elemen penanda tidak memilik isi, fungsi, dan tidak memiliki determinasi lain kecuali apa yang ia bayangkan, ia sepenuhnya ditata dan transparan kepadanya. Tetapi kandungan ini hanya ditunjukkan hanya dalam satu representasi yang menempatkan dirinya sendiri sedemikian rupa, dan dimana hal-hal yang ditandai terletak, tanpa residium dan opacity.

Konsekuensi konsekuensi mengenai representasi :

Konsekuensi Pertama, pentingnya tanda dalam pemikiran klasik, Kapanpun satu representasi dihubungkan satu sama lain dan merepresentasikan hal-hal yang menghubungkannya dengan dirinya sendiri

Konsekuensi Kedua, adalah perluasan universal pada tanda dalam bidang representasi ini mendahului kemungkinan satu teori penandaan. Sistem tidak memberikan satu keistimewaan tertentu, namun akan diberikan dalam tabel tanda yang sempurna. Tabel tanda akan menjadi representasi dari benda-benda. Meskipun makna itu sendiri seluruhnya berada pada sisi tanda, pemfungsian seluruhnya berada pada siapa yang ditandai.

Konsekuensi ketiga, jika tanda dalam murni dan hubungan sederhana antara apa yang menandai dan apa yang ditandai, maka hubungan hanya bisa dibangun dalam elemen representasi yang umum : elemen-elemen penanda dan elemen-elemen yang ditandai dihubungkan hanya sejauh mereka ada direpresentasikan dan sejauh orang benar-benar merepresentasikan yang lain.

V. Imajinasi Kemiripan

Kemiripan masih merupakan batasan pengetahuan yang tidak bisa dihindari. Karena tidak ada persamaan atau hubungan tatanan yang bisa di bangun di antara dua benda kecuali jika kemiripan mereka, paling tidak , telah menghadirkan perbandingan mereka.

Kemiripan adalah bentuk yang baru disketsakan, di mana relasi yang belum sempurna yang harus dilapisi oleh pengetahuan pada tingkatnya yang paling sempurna. Melalui kemiripan representasi itu bisa diketahu, yaitu, dibandingkan dengan representasi lain yang mungkin mirip dengannya, dianalisis ke dalam elemen-elemen, digabungkan dengan representasi lainnya.

Jika representasi tidak memiliki kekuatan yang jelas untuk menjadikan kesan masa lalu hadir sekali lagi, maka tidak ada kesan yang akan muncul sebagai serupa atau tidak serupa dengan yang terdahulu. Tanpa imajinasini tidak akan ada kemiripan di antara benda-benda.

Persoalan pertama yang berhubungan secara kasar dengan analisis imajinasi, sebagai kekuatan positif untuk mentransformasikan waktu representasi yang linear ke dalam satu ruang simultan yang memuat elemen-elemen virtual; yang kedua berhubungan dengan analisis alam termasuk lacunae, kekacauan yang membingungkan tabulasi wujud dan meyebarkannya ke dalam satu rangkaian representasi yang secara samar-samar, dan dari kejauhan, saling menyerupai satu sama lain.

VI. Mathesis dan Taksinomia

Ketika penglihatan pada buku hanya merupakan satu kasus partikular representasi secara umum, orang bisa mengatakan dengan sama baiknya bahwa mathesis adalah hanya satu kasus partikular tasksinomia.

Susunan mengenai ilmu umum tentang tatanan :

ILMU UMUM TENTANG TATANAN

Alam Sederhana

Representasi Kompleks

Mathesis

Taksinomia

Aljabar

Tanda

Taksinomia juga menyatakan cintinuum tertentu dari benda-benda dan kekuatan imajinasi tertentu menjadikan jelas apa yang tidak jelas, tetapi memungkinkan melalui fakta ini, penampakan  kontinuitas itu.

Mathesis sebagai ilmu tentang tatanan yang bisa dikalkulasikan dengan genesis sebagai analisis pembentukan tatanan pada basis rangkaian empiris.Di antara mathesis dan genesis terdapa perluasan wilayah tanda-tanda yang meliputi seluruh domain representasi empiris, tetapi tidak pernah diperluas di luarnya.

Representasi harus diartikulasikan sebagai satu kesatuan ke dalam subwilayah yang khas, semua terpisah satu sama lain oleh karakteristik yang bisa diberikan, dengan jalan ini maka pada pembangunan sistem simultan berdasarkan pada hal mana representasi mengungkapkan kedekatan dan kejauhannya.

Batasan pengetahuan akan menjadi transparasi yang sempurna dari representasi menjadi tanda dengan mana mereka ditata.

Sumber :

http://yolagani.wordpress.com/2007/11/18/representasi-dan-media-oleh-stuart-hall/ diakses 03 Maret 2011

Faucault, Michel, 2007, Order of Things. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s