Budaya POPuler

Kata kunci budaya merupakan hal yang sulit diubah. Hal-hal yang sulit diubah itu perlahan menjadi hal yang mudah untuk dimunculkan dan menjadi ajang persaingan budaya, hanya saja tarafnya yang berbeda-beda. Mulai penampilan, tingkah laku, cara berbicara, bahasa yang digunakan sampai dengan ideologi atau pedoman hidup yang kuat.

Budaya memang tidak ada yang baik dan buruk, semua budaya sama dan setara. Namun, secara normatif bila antara budaya yang dianut atau diterapkan dalam kehidupan seseorang tidak seimbang atau sampai bertolak belakang dengan kemampuan intern dan ekstern seseorang tersebut maka akan merugikan.

Adanya hal yang merugikan tersebut perlu dikaji mengenai budaya, terutama budaya massa dan populer agar masyarakat lebih bijak menghadapi fenomena dalam masyarakat.

Budaya Pop dann Budaya Massa

Budaya populer terdiri dari kata “budaya” dan “pop”. Menurut William (dalam[1]1983:90) mengenai “budaya” sebagai berikut : Pertama, budaya dapat diartikan suatu proses umum perkembangan intelektual, spiritual, dan estetis. Kedua, budaya berarti pandangan hidup tertentu dari masyarakat, periode, atau kelompok tertentu. Ketiga, budaya bisa merujuk pada karya dan praktik-praktik intelektual, terutama aktivitas artistik.

Kata “pop” diambil dari kata populer dan karakteristik budaya populer sebagai berikut :

a)      Banyak disukai orang
b)      Jenis kerja rendahan
c)      Karya yang dilakukan untuk menyenangkan orang
d)     Budaya yang memang dibuat oleh orang untuk dirinya sendiri

Menurut Ben Agger budaya populer dapat dikelompokan pada empat aliran :

Pertama, mendefinisikan budaya pop dengan mempertimbangkan budaya tertinggal (rendah). Budaya pop menurut definisi ini merupakan kategori residual untuk mengakomodasi praktik budaya yang tidak memenuhi persyaratan budaya tinggi. Dengan kata lain, budaya pop didefinisikkan sebagai budaya ”substandar”. Sebagai contoh, kita bisa berpegang pada kompleksitas formal sebuah budaya pop. Kita juga bisa mempertimbangkan kebermanfaatan moralnya sebagai metode untuk menerapkan pertimbangan nilai tersebut. Kritik budaya yang lain bisa juga menyatakan bahwa pada akhirnya semuanya akan dimasukkan ke dalam tinjauan kritis terhadap teks atau praktiknya. Namun untuk menentukan kebermanfaatan sesuatu cara budaya tidak semudah yang dipikirkan orang. Salah satu kesulitan besar yang dihadapi adalah bagaimana caranya menjaga ekslusivitas budaya tinggi. Secara harfiah, sangat sulit mengesampingkan ekslusivitas audiens suatu budaya tinggi (Storey, dalam[2] 2003: 11). Sosiolog Prancis, Pierre Bourdieau pernah mengatakan bahwa perbedaan budaya seringkali dimanfaatkan untuk memperlebar dan memelihara perbedaan kelas. ”Selera” misalnya, bisa disebut sebagai sebuah kategori ideologis yang difungsikan sebagai ciri ”kelas” (pemakaian istilah ”kelas” dalam hal ini diposisikan dalam aarti ganda, yaitu kategori sosial ekonomi dan tingkat kualitas tertentu). Bourdieu menyebut satu contoh ”konsumsi budaya”. Baginya konsumsi budaya sudah ditentukan, sadar dan disengaja, atau tidak untuk tujuan memenuhi fungsi sosial pengabsahan perbedaan sosial (Bourdieu, dalam[3] 1984: 5). Pembatasan ini didukung oleh pernyataan bahwa budaya pop adalah budaya komersial dampak dari produksi massal (produk industrialisasi), sedangkan budaya tinggi adalah kreasi hasil kreativitas individu. Oleh karena itu budaya tinggi adalah budaya yang mendapatkan penerimaan moral dan estetis yang lebih, sementara budaya pop malah mendapatkan pengawasan secara sosiologis untuk mengendalikan sedikit yang bisa diberikannya. Apapun metode yang digunakan oleh mereka yang ingin membedakan antara budaya tinggi dan pop, pada dasarnya mereka sama-sama bersikukuh bahwa perbedaan di antara keduanya memang sangatlah jelas (Storey, dalam[4] 2003: 12).

Kedua, mendefinisikan budaya pop sebagai ”budaya massa”. Definisi tersebut sangat tergantung pada definisi sebelumnya. Mereka menyatakan budaya pop adalah ”budaya massa” dengan tujuan menegaskan bahwa budaya massa secara komersial tidak bisa diharapkan. Ia diproduksi massa untuk konsumsi massa. Audiaensnya adalah sosok-sosok konsumen yang tidak memilih. Budaya itu sendiri dianggap hanya sekedar rumusan, manipulatif (misalnya, politik kanan/kiri yang tergantung pada siapa yang meganalisisnya). Budaya ini dikonsumsi oleh tanpa dipikirkan panjang. John Fiske mengungkapkan ”antara 80-90% produk baru gagal walaupun diiklankan dengan kuat….beberapa film gagal kembali modal meskipun hanya biaya promosinya sangat besar (Fiske, dalam[5] 1989; 31). Simon Firth mengemukakan bahwa 80% album single mengalami kerugian. Statistik seperti ini seharusnya mengundang pertanyaan tentang gagasan ”konsumsi budaya” sebagai aktivitas yang pasif dan otomatis. Mereka yang bekerja dalam perspektif budaya massa biasanya akan memikirkan ”massa keemasan” manakala masalah budaya jauh berbeda dari apa yang difahami sebelumnya. Hal ini biasanya muncul dalam dua bentuk; (1) komunitas yang kehilangan organisasinya, atau (2) budaya yang kehilangan daerahnya. Namun seperti diungkapkan oleh Fiske; ”dalam masyarakat kapitalis tidak ada yang disebut sebagai budaya daerah yang otentik untuk mengukur ”ketidakotentikan” budaya massa, yang menyesalkan hilangnya otensitas sebagai akibat kegagalan nostalgia romantik (Fiske, dalam[6] 1989: 27). ”Hal ini juga berlaku pada komunitas organik ”yang hilang”. Mazhab Frankfurt, secara paradoks menempatkan masa keemasan yang hilang ini tidak pada masa lampau, tetapi masa depan.

Dalam beberapa kritik budaya yang ada dalam paradigma budaya massa, budaya massa bukan hanya sebagai budaya terapan untuk kaum miskin, tetapi juga bisa diidentifikasi sebagai budaya yang diimpor dari Amerika:”jika kita hendak menemukan budaya dalam bentuk modernnya…, lihatlah kota-kota besar Amerika terutama New York” (Malthy, dalam[7] 1989; 11). Pernyataan bahwa budaya pop merupakan budaya massa Amerika, mempunyai sejarah yang panjang dalam pemetaan teoretis budaya pop. Budaya massa ala Amerika ini seringkali muncul dalam istilah ”Amerikanisasi”. Pengkajian dalam hal ini termasuk merosotnya budaya Eropa Barat di bawah hegemonisasi budaya Amerika. Ada dua hal yang bisa kita katakan tentang kepercayaan diri Amerika dan budaya pop. Pertama, seperti diungkapkan oleh Andrew Ross ”budaya pop secara sosial dan kelembagaan telah berpusat di Amerika dengan jangka waktu yang lebih lama dan lebih signifikan dibanding di Eropa”. Kedua, pengaruh budaya Amerika di seluruh dunia sudah tidak diragukan lagi, tetapi hakikat pengaruh itu sangat kontradiktif. Yang benar adalah pada tahun 1950-an oleh pemuda Eropa Barat (khususnya Inggris), budaya Amerika dimenjaadi sarana liberalisasi menentang ketentuan kaku aturan kehidupan ala budaya Eropa Barat. Hal lain yang cukup jelas adalah bahwa ketakutan terhadap Amerikanisasi sangat erat kaitannya dengan ketidakpercayaan dalam munculnya berbagai bentuk budaya pop.

Terdapat versi lunak darui perspektif budaya massa ini. Teks dan praktik budaya pop lebih dilihat dari sebagai fantasi publik. Budaya pop dianggap sebagai dunia impian kolektif. Seperti diungkapkan oleh Richard Malthy, budaya pop memberi ruang bagi ”eskapisme yang bukan hanya lari dari, atau ke tempat tertentu, tetapi suatu pelarian dari utopia kita sendiri” (Maltby, dalam[8] 1989; 14). Dalam hal ini, praktik budaya seperti hari ini Raya Idul Fitri maupun liburan lainnya bisa dikatakan berfungsi layaknya sebuah mimpi. Mereka mengartikulasikan dalam bentuk yang tersamar secara kolektif (tetapi dalam relasi menekan dan tertekan, keinginan dan harapan). Inilah versi lunak dari kritik budaya massa. Maltby mengungkapkan:

Kalau hal ini disebut kejahatan buda pop karena merampas angan-angan kita kemudian mengemas dan menjualnya kembali kepada kita, maka ia juga adalah prestasi, budaya pop yang telah membawa kita pada berbagai angan-angan selain pada angan-angan yang sudah kita kenal (Maltby, dalam[9] 1989: 14).

Ketiga, menyatakan bahwa budaya pop adalah budaya yang berasal dari ”rakyat”. Ia mengangkat masalah ini melalui pendekatan yang beranggaapan bahwa budaya pop adalah sesuatu yang diterapkan pada ”rakyat” dari atas. Budaya pop adalah budaya otentik ”rakyat”. Budaya pop seperti halnya budaya daerah merupakan dari rakyat untuk rakyat. Definisi pop dalam hal ini seringkali dikait-kaitkan dengan konsep romantisme budaya kelas buruh yang kemudian ditafsirkan sebagai sumber utama protes simbolik dalam kapitalisme kontemporer (Benet, dalam[10] 1982; 27). Namun ada satu persoalan dengan pendekatan ini yakni pertanyaan tentang siapa yang termasuk dalam kategori ”rakyat”. Persoalan lainnya adalah hakikat wacana dari mana asal-usul budaya itu terbentuk. Tidak peduli berapa banyak kita memakai definisi ini, fakta membuktikan bahwa rakyat tidak secara spontan mampu menghasilkan budaya dari bahan-bahan material yang mereka buat sendiri. Apapun budaya pop itu, yang pasti bahan mentahnya disediakan selalu secara komersial. Pendekatan ini cenderung menghindar dari kesimpulan ini. Analisis kritis tentang musik pok dan rock sebagian hanya mengulang jenis analisis budaya pop seperti ini. Pada suatu konferensi, ada seorang peserta yang menyatakan bahwa Levi’s tidak pernah bisa menggunakan lagu dari Jam untuk mernjual jeans-nya. Faktanya, mereka malah terbiasa menggunakan lagu dari Clash yang tidak bertentangan dengan keyakinananya. Yang menjadi dasar keyakinannya adalah rasa perbedaan budaya yang kentara. TV komersial untuk jeans Levi’s adalah budaya massa, sementara musik Jam adalah budaya pop. Satu-satunya cara agar keduanya bisa bersatu adalah melalui penjualan Jam. Kalau hal ini tidak bisa dilakukan, maka jeans Levi’s-pun tidak akan bisa menggunakan lagu Jam untuk menjual produknya. Namun, hal ini sudah terjadi pada Clash suatu Band yang memiliki kecenderungan politiknya sendiri. Tukar menukar akan menghentikannya. Pemakaian konsep budaya hegemoni akan dibahas lebih lanjut.

Keempat, budaya pop berasal dari analisis politik tokoh Marxis Italia, Antonio Gramsci, khususnya tentang pengembangan konsep hegemoninya. Gramsci menggunakan istilah ”hegemoni” untuk mengacu pada cara di mana kelompok dominan dalam suatu masyarakat mendapatkan dukungan dari kelompok subordinasi melalui proses ”kepemimpinan” intelektual dan moral (Gramsci, dalam[11] 1971: 75). Mereka yang menggunakan pendekatan ini—kadang-kadang disebut teori hegemoni neo-Gramscian—menganggap budaya sebagai tempat terjadinya pergulatan antara usaha perlawanan kelompok subordinasi dan inkorporasi kelompok dominan dalam masyarakat. Dalam penggunaan ini budaya pop bukan merupakan budaya yang diberlakukan oleh teoretikus budaya massa ataupun muncul secara spontan dari bawah sebagai budaya oposisi seperti yang sudah ada dalam empat definisi budaya pop di atas. Namun sebagai suatu lingkup tukar-menukar, keduanya akan berkelindan dalam rupa perlawanan dan penyatuan (resistensi dan inkorporasi). Teks dan praktik budaya pop bergerak dalam apa yang disebut Gramsci sebagai ”kesimbangan kompromis” (Gramsci, dalam[12] 1971: 161). Proses ini selain bersifat historis (kadang disebut budaya pop ataupun kadang disebut budaya lain), juga bersifat budaya sinkronis (yang bergerak di antara resistensi dan kompromi). Misalnya liburan ke pantai, dahulu dianggap budaya para bangsawan, dan dalam tempo 100 tahun ia berubah menjadi budaya pop. Film Noir pada mulanya dilecehkan sebagai sinema pop, tetapi dalam waktu 30 tahun berubah menjadi film seni. Dalam bahasa umum, mereka melihat budaya pop dalam perspektif Neo-Gramscian cenderung melihatnya sebagai lingkup pertarungan ideologis antara kelas dominan dan subordinasi, budaya dominan dan budaya subordinasinya:

Budaya pop dibangun oleh kelas penguasa untuk memenangkan hegemoni, sembari membentuk oposisi. Dengan demikian ia terdiri bukan hanya dari pemberlakuan budaya massa yang sejalan dengan ideologi dominan ataupun budaya oposisional yang spontan, melainkan sebagai area negosiasi antara keduanya di mana—beberapa tipe budaya yang berbeda dari budaya pop—budaya dominan, subordinan dan oposisional dengan segenap nilai-nilai dan unsur-unsur ideologis ”tercampur” dalam suatu perubahan yang bersifat sekuensial (Benet, 1986: xv-xvi dalam[13] ).

Singkatnya, budaya populer adalah style, ide, perspektif, dan sikap yang benar-benar berbeda dengan budaya arus utama (mainstream). Banyak dipengaruhi oleh media massa dan dihidupkan terus-menerus oleh berbagai budaya bahasa setempat, kumpulan ide tersebut menembus dalam keseharian masyarakat.

IMPLEMENTASI DALAM MASYARAKAT

Pada tingkat rendah, kapitalisme global ala neo-liberal membentuk gaya hidup baru manusia yang diciptakan melalui trend. Kombinasi antara media massa, citra, dan belanja secara bersamaan membentuk gaya hidup konsumerisme. Konsumerisme adalah kecenderungan orang untuk mengidentifikasi dirinya dengan produk atau jasa yang mereka konsumsi, khususnya mereka dengan nama-nama merek komersial dan daya tarik meningkatkan status, misalnya sebuah mobil mahal. Ini adalah istilah peyoratif yang kebanyakan disangkal orang,  dengan memberi beberapa alasan yang lebih spesifik atau alasan untuk mengkonsumsi dibanding kan dengan mereka “dipaksa untuk mengkonsumsi. Gaya hidup sarat tanda dan makna tertentu yang diciptakan perbedaan antar kelompok. Masyarakat kepitalme global ala neo-liberal, dibangun di atas persainagn tinggi. persaiangan yang ketat antar perusahaan mendorong perusahaan membentuk pandangan baru dalam mengonsumsi suatu barang. Mereka menciptakan perbedaan sekaligus persaingan gaya hidup. Kondisi sosial kemudian dikonstruksikan di atas perbedaan. Konsumsi dalam masyarakat global kini bukan bukan lagi berurusan dengan nilai guna (use value), namun selalu berkaitan dengan gaya hidup. Hal belanja misalnya, lebih didorong untuk memenuhi hasrat daripada memenuhi kebutuhan, yang disuburkan melalui image dan diprovokasi melalui iklan.

Sifat produk-produk budaya popular sebagai berikut :

  1. Artificial, merujuk kepada sesuatu yang tidak alami, melainkan dibuat atau diproduksi oleh manusia. Artificial  memiliki makna dan konotasi meluas: pemanis buatan; bunga buatan.
  2. Sintetik, sering menyiratkan penggunaan proses kimia untuk menghasilkan suatu zat yang akan terlihat atau fungsi seperti yang asli, sering kali dengan keunggulan tertentu: karet sintetis, kain sintetis.
  3. Semu (ersatz) adalah imitasi transparan yang inferior: kopi ersatz, bulu ersat.
  4. Simulasi, sering merujuk kepada pengganti palsu atau imitasi dari suatu zat lebih mahal: berlian simulasi

Beberapa contoh istilah budaya populer :

  • Camp, mengacu ke suatu apresiasi ironis yang mungkin dapat dianggap aneh atau mengada-ada, seperti Carmen Miranda dengan topi es krim buah buahan nya. Istilah ini sering digunakan untuk kegiatan budaya populer yang khususnya tanggal atau tidak tepat yang serius, seperti film fiksi ilmiah rendah dari anggaran tahun 1950-an dan 1960-an dan budaya multi-genre pop tahun 1970-an dan 1980-an.
  • Kitsch adalah istilah bahasa Jerman yang telah digunakan untuk mengkategorikan seni yang dianggap sebagai salinan inferior dari gaya yang ada. Istilah ini juga digunakan lebih longgar dengan mengacu ke seni yang megah atau dalam cita rasa yang buruk, dan hal ini juga diproduksi secara komersial yang dianggap basi atau kasar.
  • Parodi adalah sebuah karya diciptakan untuk mengejek, mengomentari, atau mengolok-olok di sebuah karya asli, subyek, penulis, gaya, atau beberapa target lainnya, dengan cara humoris, menyindir imitasi atau ironis. Linda Hutcheon (2000: 7)[14] menyatakan, “parodi … adalah imitasi, tidak selalu dengan mengorbankan teks diparodikan.” Kritikus lainnya, Simon Dentith (2000: 9)[15], mendefinisikan parodi sebagai “setiap praktik budaya yang memberikan sindiran imitasi yang secara relatif polemik terhadap praktek atau produksi budaya.” Sering kali, unsur yang paling memuaskan dari sebuah parodi yang baik adalah melihat kesalahan lain dari artikel asli aslinya.
  • Musik Dangdut, identik dengan musiknya orang desa, seronok, porno, tidak bermutu. Namun, musik dangdut juga ditemui di diskotik dan acara-acara tertentu serta banyak radio yang khusus memutar lagu dangdut.
  • Cantik, identik dengan tinggi, putih, langsing, wajah oriental (indo Eropa), rambut pirang, berkarier dalam bidang publik misalnya menjadi sekretaris, guru, dokter, dosen, selebritis. Perubahan orientasi ini berubah ketika produk Barbie muncul pada tahun 1959 dan menjadi ikon wanita cantik.
  • Lawak, mengolok-olok atau bullying yang tidak disertai kekerasan fisiks seringkali dilakukan oleh anak-anak sampai orang dewasa sebagai bentuk menjalin keakraban. Berangkat dari perilaku masyarakat mengolok-olok menjadi salah satu poin penting dalam masyarakat.
  • Jilbab, Sebagai trend. Banyak model jilbab yang unik sehingga dianggap populer.
  • Softdrink dan Fastfood, makan karena keren bukan karena asupan gizi.

Simpulan

Budaya massa merupakan budaya yang ada dalam masyarakat dan sering disamakan dengan budaya populer. Budaya massa bersifat relaitif yaitu budaya rendah dan budaya tinggi. sedangkan buday populer lebih cenderung kebudaya rendah dengan karakteristik banyak disukai orang, jenis kerja rendahan, karya yang dilakukan untuk menyenangkan orang, budaya yang memang dibuat oleh orang untuk dirinya sendiri. Budaya pop adalah budaya komersial dampak dari produksi massal (produk industrialisasi) yang dikonstruksikan dengan bantuan media massa, sehingga menciptakan trend dan popularitas.

Kehidupan materialistik, hedonis, dan konsumtif, konsep martabat manusia telah mengalami pergeseran dari sesuatu yang bersifat inner menjadi sesuatu yang artifisial. Kebudayaan juga mengalami pergeseran sehingga yang menonjol dalam budaya pop adalah karakter instan, dangkal, egosentris, dan market oriented.

Daftar Pustaka

Mujibur Rohman. 2007. Belenggu Kapital dan Metamorfosa Pasar Bebas. Sosiologi Reflektif, 1(2).Hal 315-327
Bungin, Burhan.2006.Sosiologi Komunikasi.Jakarta:PT Kencana Prenada Media Group.  http://file.upi.edu/Direktori/FPIPS/JUR._PEND._SEJARAH/195704081984031-DADANG_SUPARDAN/BUDAYA_POPULER.pdf
http://images.menangistuktersenyum.multiply.multiplycontent.com/attachment/0/Trn-tgooCpgAAE5gL081/Budaya%20Pop.pptx?key=menangistuktersenyum:journal:40&nmid=497710866

disusun oleh: Azmi, Dyah Arie, Ilyas & Indra


About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s