Nasionalisme

Sejarah Nasionalisme

Alasan kemunculan nasionalisme pada abad ke 19 eropa yang meluas untuk merubah sejarah eropa adalah tidak sesulit definisi  nasionalisme itu sendiri. Penyebaran literatur dan bahasa nasional pada pembiayaan bahasa kekuasaan, alasan ekonomi, saat nasionalisme mampu menciptakan pasar yang lebih besar untuk bisnis, seperti di jerman dan itali, dan ambisi golongan nasional yang lebih rendah untuk menjatuhkan bisnis golongan menengah yang kebanyakan dioperasikan atau digerakkan oleh orang  asing, khususnya di eropa timur, adalah sedikit contoh dari meningkatnya perasaan nasionalis di eropa. bahkan manfaat nasionalisme setelah evolusi perancis untuk melawan orang asing yang telah disebutkan sebelumnya.

Tahun 1848 revolusi telah disebut musim semi orang-orang disamping fakta bahwa revolusi mereka gagal untuk merubah situasi nasional apapun atau yang lainnya kecuali emansipasi Serrfs di Kerajaan Habsburg  untuk kasus ini. Tahun 1848 muncul sebagai satu revolusi dalam sejarah modern Eropa yang mengkombinasikan janji terhebat, jangkauan terluas, dan keberhasilan yang pertama.

Bagaimanapun tahun itu bertindak baik sebagai pemutar titik dimasa itu setelah nasionalisme yang menjadi banyak kekuatan yang dihadapkan dengan kenyataan.  Ini merupakan terakhir kali seorang reaksioner memaksa keuntungan diatas nasionalisme.sejarah selanjutnya merupakan kemenangan nasionalisme di seluruh Eropa.

Pada revolusi tahun 1848, nasionalisme sangat berperan penting dalam revolussi, seperti di Hungaria.   Tetapi itu hanya satu decade setelah revolusi, kemudian nasionalisme  menyatakan diri dengan pengaruh besar. Pertama, sistem eropa tersebut (nasionalisme) berdampak di Italia, walaupun demikian ideology tersebut hanya untuk pendidikan, bukan rakyat jelata.

Nasionalisme

Konsep nasionalisme muncul ketika Ben Anderson mengungkapkan gagasannya mengenai masyarakat khayalan. Menurut Ben Anderson, nasionalisme adalah sebuah komunitas politik berbayang yang dibayangkan sebagai kesatuan yang terbatas dan kekuasaan yang tertinggi. Maksud dari berbayang adalah anggota suatu negara atau bangsa hanya mengetahui dan mampu membayangkan komunitasnya (negaranya), akan tetapi tidak semua dari mereka saling mengenal. Bangsa dibayangkan terbatas karena sekalipun bangsa tersebut besar tetap saja memiliki keterbatasan. Bangsa dibayangkan sebagai kekuasaan tertinggi karena hal tersebut matang di panggung sejarah manusia ketika kebebasan adalah suatu hal yang langka  dan secara idealis berharga. Bangsa dibayangkan sebagai komunitas karena dipahami sebagai sebuah persahabatan horizontal yang dalam.

Paham kebangsaan adalah paham yang menyatakan loyalitas tertinggi terhadap masalah duniawi dari setiap warga, yang ditujukan kepada negara dan bangsa.

Nasionalime berakar dari sistem budaya suatu kelompok masyarakat yang tidak saling mengenal satu sama lain. Kebersamaan mereka yang timbul karena konstuksi komunitas melalui khayalan menjadi dasar nasionalisme. Sebagai contoh pandangan Andersons adalah bangsa Indonesia. Bangsa Indonesia adalah bangsa yang merdeka dari jajahan kolonial dan mereka disatukan oleh bahasa Indonesia. Akan tetapi pernyataan tersebut kini kurang relevan. Kini adanya kesamaan bahasa tidak mampu dapat menjamin kesatuan nasionalisme suatu bangsa. Hal ini disebabkan banyaknya tantangan yang dihadapi oleh semangat kebangsaan.

Nasionalisme Pancasila

-          Nasionalisme Indoneesia Vs Kolonialisme

Kolonialisme dalam konteks sejarah Indonesia adalah perwujudan dari bentuk keserakahan, kebengisan, diskriminasi dan penafian atas hak asasi manusia. Bangunan Nasionalisme yang pernah ditegakkan oleh para pejjuang, pahlawan dan prndiri bangsa adalah nasionalisme yang anti terhadap koloniallisme, artinya nasionalisme yang terbangun untuk mewujudkan bagaimana bangsa ini merdeka dan bebas dari belenggu kolonialisme. Jadi, telah terbukti bahwa nasionalisme Indonesia yang terwujud dalam Pancasila adalah alat yang ampuh untuk mengusir penjajah atau kolonialisme.

Untuk mengetahui nasionallisme Indonesia, sebelumnya perlu diketahui proses terwujudnya konsep nasionalisme. Secacra umum nasionalisme adalah suatu paham yang berpendapat bahwa kesetiaan tertinggi individu harus diserahkan kepada Negara kebangsaan. Perasaan sangat mendalam akan suatu ikatan yang erat dengan tanah tumpah darahnya, dengan tradisi – tradisi setempat dan penguasa – penguasa resmi di daerahnya selalu ada disepanjang sejarah dengan kekuatan yang berbeda – beda. Tetapi, pada akhir abad ke-18 M nasionalisme baru diakui secara umum.

Benedict Anderson, sebagaimana diungkapkan Sulfikar, melihat nasionalisme sebagai sebuah ide komunitas yang dibayangkan (imaged communities). Dibayangkan karena setiap anggota dari suatu bangsa, bahkan bangsa yang terkecil sekalipun, tidak mengenal seluruh anggota dari bangsa tersebut. nasionalisme hidup dari bayangan tentang komunitas yang senantiasa hadir dipikiran setiap angota bangsa yang menjadi referensi identitas sosial.

Fenomena nasionalisme baru, ketika munculnya konsep bangsa – bangsa di Eropa sekitar abad ke-18, yang merupakan gelombang revolusi kerakyatan dalam meruntuhkan hegemoni kelas aristokrat. Hal itu member indikasi asal-muasal nasionalisme sebagai anak modernitas yang lahir dari rahim “pencerahan”. Konsep nasionalisme tidak hanya meliputi aspek – aspek kegemilangan dari gagasan modernitas yang ditawarkan oleh pencerahan Eropa sebagai akibat dari pengkondisian modernitas bersamaan dengan transformasi sosial masyarakat Eropa saat itu.

Menurut Sartono, tidak dapat disangkal bahwa negera-negara di Asia pada zaman modern, nasionalisme merupakan hasil yang paling penting dari pengaruh kekuasaan Barat, sehingga tidak dapat disamakan dengan di Barat. Karena merupakan gejala historis yang telah berkembang sebagai jawaban terhadap kondisi politik, ekonomi, dan sosial khususnya yang ditimbulkan oleh situasi kolonial. Hal yang esensial bahwa nasionalisme dan kolonialisme itu tidak terlepas satu sama lain, dan terasa juga adanya pengaruh timbal balik antara nasionalisme yang sedang berkembang dan politik colonial dengan ideologinya, yang menganggap bahwa peradaban barat itu lebih tinggi dan berbeda sama sekali dengan kebudayaan timur.

Jadi, nasionallisme Indonesia, tidak bisa disamakan dengan nasionalisme barat, karena nasionalisme Indonesia adalah nasionalisme yang bersenyawa dengan keadilan sosial, anti kolonialisme, oleh Bung Karno disebut socio-nasionalism.Maksutnya nasionallisme yang menghendaki penghargaan, penghormatan, toleransi kepada bangsa atau sukubangsa lain. Dalam konteks Indonesia, pengalaman penderitaan bersama sebagai kaum terjajah melahirkan semangat solidaritas sebagai satu komunitas yang mesti bangkit dan hidup menjadi bangsa merdeka.

Berbeda dengan nasionalisme Indonesia, nasionalisme barat adalah nasionalisme yang mengarah ke solvinisme, nasionalisme sempit, yang membenci bangsa atau sukubangsa lain, menganggap bangsa sendirilah yang paling bagus, paling unggul sesuai dengan individualism barat. Nasionalisme Eropa yang yang pada kelahirannya menghasilkan deklarasi hak – hak manusia berubah menjadi kebijakakn yang didasarkan atas kekuatan dan self interest dan bukan atas kemanusiaan. Dalam perkembanngannya nasionallisme eropa berpidah haluan menjadi persaingan fanatisme nasional antar bangsa-bangsa eropa   yang melahirkan penjajahan terhadap negeri-negeri yang belum memiliki identitas kekbangsan (nasionalisme) dibenua Afrika, Amerika Latin, dan Asia termasuk Indonesia.

Dalam sejarah bangsa Indonesia, ketika berbicara nasionalisme yang terbnagun atas sikap anti kolonialisme, tentu saj atidak dapat melupakan peran golongan intelektual. Sartono menyebutka sebagai dampak perkembangan pengajaran di Indonesia tumbbuhlah golokngan sosial baru yang mempunyai fungsi dan status baru sesuai dengan differensiasi serta spesialisasi dalam bidang sosial-ekonomi dan pemerintahan, juga tercipta golongan professional sebagai golongan sosial baru tidak mempunyai tempat pada strata menurut stratifikasi sosial masyararakat tradisional. Golongan professional (kaum intelektual) inilah yang posisi sosialnya memungkinkan mereka berfungsi protagonist modernisasi pada umumnya dan sebagai perintis nasionalisme khusunya sebgai generasi pertama yang menuntut pelajaran system barat, mereka tidak hanya menyerap pengetahuan dari textbook berbagai bidang pengetahuan tetapi juga mengalami pendidikan formal yang mementingkan sikap baru yang mencakup disiplin sosial, pemikiran rasional, gaya hidup menurut jadwal waktu dan nilai-nilainlainnya. Pendidikan barat mengakibatkan suatu kesadaran yang masuk ke dalam, terutama kaum pemuda/ intelektual. Pendidikan barat sangat menonjol sewaktu misalnya tahun 1925 perhimpunan Indonesia menjelaskan sendiri bahwa studi dari sejarah oleh pemuda Indonesia memperkenalkan perjuangan nasional daribeberapa wilayah dalam sejarah dan membuat kaum intelektual Indonesia berpikir mengenai masa depan Indonesia yang dijajah Belanda.

Dalam sejarah Indonesia, nasionalisme sangat penting. Misalnya sebagai ideology pemersatu untuk melawan penjajah Belanda atau Jepang. Pada akhirnya tinjauan sejarah politik sampai pada kesimpulan, bahwa dorongan nasionalisme yang sekian lama dippupuk dan diperjuangkan berhasil menciptakan sebuah bangsa, sebagai sebuah kesatuan yang membedakan diri dari kesatuan politik lain, dan sebuah Negara sebagai lembaga kekuasaan. Tinjauan sejarah sosio-kultural memperlihatkan bahwa kekuatan daya dorong nasionalisme yang dilahirkan dalam suasana kebudayaan bazaar dari komunitas orang-orang asing akhirnya menciptakan sebuah komunitas bangsa. Inilah komunitas yang dibayangkan oleh “para perantau” yang pernah secra konseptual menjadi penghunni “komunitas orang-orang asing”. Jadi proses pembentukakn bangsa dan Negara Indonesia adalah sebagai pergumulan munculnya nasionalisme yang lain membentuk sebuah bangsa dalam wadah Negara yang berdaulat. Selanjutnya nasionalilsme Indonesia melahirkan Pancasila sebagai ideology Negara.

-          Nasionalisme Pancasila

Secara nyata dapat dilihat bila berbicara Pancasila sebagai dasar negar,maka yang terjadi seharusnya adalah bagaimana Negara ini berusaha dengan berbagai upaya untuk menegakkan masyarakat yang berkeutuhan adil dan bermoral,mempunyai jiwa ukhuwah (persaudaraan) atau kebersamaan,demokrasi dan menciptakan kemakmuran masyarakat sesuai dengan cita-cita pendiri bangsa ini. Pertanyaannya adalah sudahkah semua itu terlaksana,atau adakah usaha penegakan terhadap terlaksananya nilai-nilai Pancasila dengan sebenar-benarnnya atau bahkan sebaliknya banyak kalangan baik itu para pejabat atau masyarakat secara umum menjadi orang yang “munafuk” dan berperilaku tidak sesuai dengan cita-cita para pendiri bangsa ini yang menjadi menusia yang mengingkari Pancasila.

Jadi,sudah menjadi suatu keharusan apabila bangunan nasionalisme yang ditegakkan ,baik sekarang maupun kedepan smapai waktu yang tidak terbatas,adalah tetap berpegang pada nilai-nilai nasionalisme yang telah diperjuangkan oleh para pendiri bangsa ini. Selanjutnya , perlu dikemukakan bahwa jika menengok kebelakang,nasionalisme yang digunakan sebagai alat pemersatu oleh para pendiri bangsa ini adalah nasionalisme yang mentauladani sifat-sifat Tuhan,cinta akan keadilan,egaliter dan menghargai hak asasi manusia. Inilah bentuk perwujudan dari nilai-niali Pancasila. Sekarang,sebagai kritik apa yang telah dilalukan oleh masyarakat bangsa ini,perlu dilihat apakah pengalaman nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila sudah tercapai,oleh karena itu sekedar pengingat tampaknya perlu diulas kembali makna sila-sila yang ada dalam Pancasila.

Pertama, jika mengkaji dari sila “Ketuhanan Yang Maha Esa“ sila ini menunjukkan bahwa apa yang berlaku di Negara ini, baik yang mengenai kenegaraan,kemasyarakatan maupun perorangan harus sesuai dengan sifat-sifat Tuhan yang tak terbatas, misalnya Maha Besar, Maha Agung, Maha Pengasih, Maha Penyayang, Maha Mengetahui dan sebagainya. Azhar Basyir menyebutkan bahwa silamini merupakan dasar kerohanian,dasar moral bagi masyarakat Indonesia dalam penyelenggaraan wajib menghargai, memperhatikan dan menghormati petunjuk-petunjuk Tuhan Yang Maha Esa,dan tidak boleh menyimpangnya. Jadi jelas bahwa sila ini dapat menjadi unsur untuk memimpin ke jalan kebenaran,keadilan,dan persaudaraan sifat-sifat yang dimiliki Tuhan.

Kedua,sila”Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab” dapat diartikan bahwa bagaimana dengan sila ini masyarakat bangsa Indonesia menjadi manusia yang berpegang pada nilai adil dan berakhlak mulia. Cirri manusia yang adil dan beradab dapat ditunjukkan dalam perbuatan yang tidak hanya mementingkan kehidupan jasmaniyah dan lahiriyah saja, melainkan juga kehidupan rokhani.

Ketiga dari sila “Persatuan Indonesia” tampak bahwa para pendiri bangsa ini sadar bahwa tanpa persatuan dan kesatuan ,maka tujuan bersama yang pada waktu itu dijadikan alat untuk melepaskan dari cengkeraman kolonialisme,tidak akan terwujud. Mereka juga sadar bahwa masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang majemuk dan olural,yaitu masyarakat yang terdiri dari berbagai pulau,suku,bahasa,agama dan kepercayaan.

Keempat,dapat dikemukakan bahwa sila “ Kerakyatan Yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan” ini menunjukkan pada keharusan adanya kerakyatan atau demokrasi yang tentunya memperhatikan dan menghormati nilai ketuhanan dan agama. Kerakyatan atau demokrasi semacam ini berarti dalam menyelenggarakan kehidupan bernegara harus dilakukan dengan cara bermusyawarah yang secara moral dapat dipertanggungjawabkan kepada Tuhan misalnya dalam agama Islam sendiri menganjurkan agar selalu bermusyawarah untuk memecahkan apa pun permasalahannya.

Kelima,sila “Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia” pada umumnya dapat diartikan bahwa setiap orang memperoleh apa yang menjadi haknya dan setiap orang memperoleh apa yang menjadi haknya dan setiap orang memperoleh bagian yang sama dari kekayaan kita bersama,jadi membangun keadilan social berarti menciptakan struktur-struktur yang memungkinkan terlaksananya keadilan. Jelas,bahwa konsekuensi yang harus dijalankan adalah kepentingan individu dan kepentingan umum harus dalam suatu keseimbangan yang dinamis,yang harus sesuai dengan keadaan,waktu dan perkembangan zaman. Dalam prakteknya,keadilan social tercapai apabila dapat memelihara kepentingan umum Negara sebagai Negara,kepentingan umum para warga Negara bersama,kepentingan bersama dan kepentingan khusus dari para warga Negara secara perseorangan ,suku bangsa dan setiap golongan warga Negara.

Dalam hal ini ,nilai-nilai Pancasila harus benar-benar dijadikan spirit moralisme untuk merekonstruksi desain Negara bangsa yang penuh keadaan dan mertabat. Tampaknya ,sekarang ini konsep nasionalisme harus segera direka ulang sesuai dengan karakteristik kebangsaan Indonesia mutakhir dengan tetap berpegang pada nilai-nilai yang terkandung di dalam Pancasila. Desain isi nasionalisme Indonesia harus dimaknai bahwa nasionalisme Indonesia adalah nasionalisme yang menolak segala bentuk diskriminasi, kedholiman, penjajahan, penindasan, ketidak adilan, serta pengingkaran atas nilai-nilai ketuhanan, sebagaimana yang terkandung dalam Pancasila.

Globalisasi dan Memudarnya Semangat Kebangsaan

Adanya globalisasi telah menyatukan semua lapisan masyarakat di dunia menjadi global village. Ini berarti globalisasi dapat menjadi pengikis paham nasionalisme. Pada kenyataannya globalisasi telah menimbulkan problem terhadap eksistensi negara dan bangsa, di mana masyarakat telah merasakan dunia yang tanpa batas.

Globalisasi merupakan proses transformasi berbagai dimensi kehidupan manusia yang mengarah kepada suatu pusat budaya kosmopolitan. Arus globalisasi menuju penyeragaman secara universal. Ini berarti akan mengikis batas – batas identitas negara dan individu secara hampir bersamaan.

Diamond dan Mc Donald memetakan hal tersebut dalam dua gerakan. Gerakan yang pertama adalah gerakan yang mengarah pada keseragaman di mana batasan Negara menjadi semakin kabur dan dunia seolah – olah diproyeksikan menjadi global village. Gerakan kedua yakni gerakan yang mengarah pada keberagaman, yakni bertemunya beragam identitas lokal masing – masing negara.

Di Indonesia, globalisme telah menjadi ancaman disintegrasi dan hilangnya loyalitas bangsa. Hal lain yang merupakan faktor dari dalam adalah adanya gerakan separatis, konflik antaretnis, dan antaragama. Menurut Myron Weiner, integrasi di Indonesia sangat rendah, ini dibuktikan dengan lepasnya Timor Timur dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Pada era globalisasi, persaingan ekonomi mempertemukan warga asli dan warga asing. Adanya warga pendatang yang merugikan warga asli sering kali menjadi pemicu konflik. Dalam keadaan seperti ini, nasionalisme menjadi kendaraan bagi prasangka rasial. George Simmel berpendapat bahwa:

“Kelompok – kelompok dan khususnya minoritas – minoritas yang hidup dalam konflik, sering kali menolak pendekatan atau toleransi dari ‘lawan’ mereka. Sifat penolakan mereka yang tertutup, yang tanpa itu mereka tidak dapat berjuang terus akan pudar. Di dalam kelompok – kelompok tertentu, mungkin merupakan semacam kebijakan publik untuk musuh – musuh demi efektifnya kesatuan para anggotanya demi menyadarkan kelompok bahwa kesatuan ini merupakan kepentingan yang vital.”

Akibat pertarungan dua arus besar tersebut yaitu nasionalisme versus globalisasi akan memunculkan skenario universalisme versus partikularisme. Skenario pertama, arus pertama (universalisme) menjadi pemenang, artinya proses globalisasi akan berjalan mulus sehingga “world as a global village” akan menjadi kenyataan maka loyalitas indivdu praktis akan berada dalam konteks keterikatan global. Snyder meramalkan “kiamat” bagi nation-state atas beberapa kecenderungan, yaitu:

  1. Meningkatnya komunikasi lintas budaya akan memudarkan konsep identitas.
  2. Mergernya isu-isu domestik dan internasional akan mendorong proses internasionalisme.
  3. Kegagalan negara bangsa dalam mengatasi masalah-masalah global seperti lingkungan hidup, produksi pangan, wabah penyakit, dll.
  4. Ketidakmampuan negara bangsa untuk memberikan perlindungan secara menyeluruh bagi warga negaranya di era nuklir ini.
  5. Nasionalisme mempunyai cacat sejarah sebagai pemicu konflik.
  6. Perusahaan mulnasional (MNC) dan economic interdependence telah mengakhiri ide economic nationalism.

Skenario kedua (partikularisme) yakni:

  1. Kecenderungan rekonseptualisasi globalisasi. Arus universalisme mulai dilihat tidak lagi sebagai suatu keharusan sejarah dunia, melainkan suatu proses pembaratan.
  2. Kesalahan kapitalisme di negara-negara dunia yang tidak sejalan dengan proses nation building turut memberikan kontribusi bagi menguatnya arus globalisasi.
  3. Tersendat-sendatnya proses pembentukan Uni Eropa yang sebenarnya merupakan test case bagi proses integrasi global, menyiratkan keengganan penyerahan kedaulatan pada batas-batas tertent yang bahkan masih terdapat di negara-negara maju.

Di Indonesia, kecenderungan mengarah pada universalisme, di mana pancasila yang dijadikan sebagai filter tidak mampu lagi menyaring arus modernisasi yang terjadi di era globalisasi ini. Ini dibuktikan oleh adanya pembangkangan dan keinginan untuk melepaskan diri dari kesatuan Indonesia. Dengan demikian, globalisasi telah menjadi mata tombak pengikis nasionalisme di Indonesia.

About these ads

One response to “Nasionalisme

  1. Pingback: Nasionalisme #2 | SosiologiBudaya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s